ARE YOU EATING WELL?
(2013) Korean Drama
Shin Sang-kyung, gadis manis yang tinggal berdua bersama kakak tirinya(peremuan). Ibunya telah meninggal dan ayahnya meninggalkannya entah kemana. Sangkyung tidak punya daya untuk mencari keberadaan ayahnya. Dia hidup apa adanya dibawah tekanan kakak tiri yang selalu membuatnya sakit.
Siang itu Sangkyung menunggu temannya, Yura yang menemui kakaknya yang baru pulang dari luar kota di stasiun kereta. Sangkyung duduk sendiri di bangku tanpa seorang teman karena dia juga tidak punya ponsel. Tiba-tiba ada suara ponsel berdering. Di dekat tempat dia duduk tergeletak sebuah tas yang tidak ada seorang pun menyentuhnya. Sangkyung pun mengangkat telphon dari dalam tas itu.
Pemilik tas: -Hello, namanku Kim Hyojun. Bisakah kau menyimpan tasku? Kirim saja alamatmu dengan ponselku, besok aku akan menemuimu. Terima kasih.-
Belum sempat berbicara, orang itu menutup telphonnya.
Pemilik tas itu meminta Sangkyung untuk menyimpan tasnya dan meminta alamat untuk bertemu Sangyung. Ketika Yura datang bersama kakaknya, Sangkyung menceritakan kejadian tas itu. Mereka pun melaporkan ke petugas keamanan dan Sangkyung diperbolehkan membawa tas itu. Tasnya juga telah digeledah oleh petugas dan isinya aman.
Tiba di rumah, Sangkyung penasaran dengan isi tasnya. Ia pun mengintip foto di dompet yang ada dalam tas.
"Apa ini yang bernama Kim Hyojun? Tampan juga ternyata."
Kesesokan harinya, orang itu menemui Sangkyung di restoran tempat Sangkyung bekerja.
Hyojun datang bersama kakaknya.
"Injun hyung tidak mau masuk?"
"Tidak mau. Cepat sana ambil tasmu lalu pergi dari tempat ini", ucap Injun tidak suka tempat alamat yang diberkan Sangkyung.
Hyojun masuk dan mencari Sangkyung.
"Apa benar alamat yang tertulis ini adalah restoran ini?", tanya Hyojun kepada kasir dengan menunjukkan pesan di ponselnya.
"Oh iya benar."
"Apa ada gadis yang bernama Shin Sangkyung?"
"Itu orangnya. Biar aku panggilkan."
Sangkyung datang membawa piring kotor dari meja pelanggan.
"Sangkyung, ini aku Hyojun. Aku mau mengambil tasku", sapa Hyojun.
"Oh iya tunggu sebentar ya?"
Sangkyung pun masuk ke dapur dan mengambil tas Hyojun.
"Ini tasmu. Kau bisa pergi sekarang."
"Terima kasih Sangkyung. Tapi aku ingin makan dulu sebelum pergi. Bolehkan?"
"Tentu saja. Silahkan duduk! Kau mau pesan apa? Ini menu kami", kata kasir teman Sangkyung ramah kepada Hyojun.
Hyojun pun menikmati makan siangnya. Ia memperhatikan Sangkyung yang sedang bekerja melayani pelanggan. Hyojun bahkan melupakan Injun yang menunggunya di dalam mobil. Injun masuk dan mengajak Hyojun pergi.
"Aish!! Kenapa lama sekali?! Ayo pulang!!", ajak Injun memaksa Hyojun pergi.
"Tunggu sebentar hyung, makanku belum habis."
"Hah!! Sudah cepat ayo!!"
Karena terburu-buru, Hyojun pun meminta Sangkyung untuk membayarkan makanannya.
"Aish!! Kenapa lama sekali?! Ayo pulang!!", ajak Injun memaksa Hyojun pergi.
"Tunggu sebentar hyung, makanku belum habis."
"Hah!! Sudah cepat ayo!!"
Karena terburu-buru, Hyojun pun meminta Sangkyung untuk membayarkan makanannya.
"Aku akan kembali besok, Sangkyung!"
"Huh? Dia yang makan kenapa harus aku yang membayarkannya?!!", Sangkyung sedikit kesal.
Setelah kejadian itu, seorang teman Sangkyung juga makan tanpa membayar dengan alasan dompetnya tertinggal di rumah. Temannya itu pun meminta Sangkyung untuk membayarkannya dulu. Sangkyung sangat kesal atas kedua kejadian itu karena gajinya dipotong.
"Sangkyung, kali ini saja ya? Aku harus segera pergi, nanti aku akan menggantinya!", kata teman Sangkyung(laki-laki) yang segera pergi.
"Apa??!!! Kali ini saja? Yaa!! Kau sudah berulang kali melakukan ini padaku!!", ucap Sangkyung kesal kepada temannya itu.
"Ada apa ini ribut-ribut?", tanya pemilik restoran.
Seorang kasir menjawab, "Teman Sangkyung makan tanpa membayar lagi. Dia bilang dompetnya tertinggal di kantor."
"Kalau begitu gaji Sangkyung akan aku potong lagi."
Sangkyung kesal tapi tidak bisa membela dirinya sendiri.
"Sangkyung, kali ini saja ya? Aku harus segera pergi, nanti aku akan menggantinya!", kata teman Sangkyung(laki-laki) yang segera pergi.
"Apa??!!! Kali ini saja? Yaa!! Kau sudah berulang kali melakukan ini padaku!!", ucap Sangkyung kesal kepada temannya itu.
"Ada apa ini ribut-ribut?", tanya pemilik restoran.
Seorang kasir menjawab, "Teman Sangkyung makan tanpa membayar lagi. Dia bilang dompetnya tertinggal di kantor."
"Kalau begitu gaji Sangkyung akan aku potong lagi."
Sangkyung kesal tapi tidak bisa membela dirinya sendiri.
Hari itu juga Sangkyung meyatakan mengundurkan diri karena pemilik restoran (bibinya) selalu memotong gajinya tiap kali Sangkyung melakukan kesalahan kecil, padahal gajinya juga tidak seberapa sebagai pelayan. Sangkyung pergi dengan sangat kesal dan sedih. Temannya ada yang mencegahnya pergi tapi Sangkyung tetap pada pendiriannya untuk pergi meninggalkan pekerjaan yang telah bertahun-tahun menjadi kegiatan sehari-harinya.
Hari berikutnya Hyojun datang ke restoran untuk membayar uang makannya kemarin kepada Sangkyung tapi seorang kasir memberitahukannya bahwa Sangkyung telah mengundurkan diri.
"Aku mau membayar makanku kemarin. Apa Sangkyung ada?"
"Sangkyung sudah tidak bekerja disini. Kemarin dia mengundurkan diri."
Belum sempat menanyakan rumah Sangkyung, Hyojun sudah ditelphon Injun.
Injun: Kau dimana? Cepata ke studio!!
Hyojun: Iya!
"Aku mau membayar makanku kemarin. Apa Sangkyung ada?"
"Sangkyung sudah tidak bekerja disini. Kemarin dia mengundurkan diri."
Belum sempat menanyakan rumah Sangkyung, Hyojun sudah ditelphon Injun.
Injun: Kau dimana? Cepata ke studio!!
Hyojun: Iya!
Hari itu Sangkyung berusaha mencari lowongan pekejaan. Tapi sejak pagi hingga malam, tidak ada pekerjaan yang ia dapatkan.
Sangkyung menangis berjalan gontai dengan rintikan hujan yang mulai membasahi tubuhnya. Ia bahkan tidak memperdulikan orang-orang yang menyuruhnya untuk berteduh.
Hyojun baru saja pulang dari studio musik dan di jalan ia melihat seorang gadis yang hujan-hujanan di pinggir jalan. Menyadari bahwa gadis itu adalah Sangkyung, ia segera meminggirkan mobilnya dan turun membawakan payung.
"Kau Sangkyung kan? Kenapa kau hujan-hujan begini? Pakailah payung ini."
Sangkyung menolak payung dari Hyojun dan menyuruhnya untuk tidak mengikutinya. Hyojun melihat Sangkyung sedang sedih.
Tanpa Sangkyung ketahui, ia diam-diam mengikuti Sangkyung hingga Sangkyung tiba di depan sebuah rumah. Sangkyung mengetuk-ketuk pintu tapi tidak ada seorang pun yang membukakan pintu gerbang.
Hyojun ingin mendekatinya tapi ia tidak mau membuat Sangkyung kesal. Ia mencoba mengerti keadaan Sangkyung. Dengan berat hari Hyojun meninggalkan Sangkyung yang duduk di depan pintu gerbang rumahnya.
Malam itu Hyojun memikirkan Sangkyung. Apakah Sangkyung masih hujan-hujanan atau sudah berselimut di kamarnya? Karena semakin larut malam, hujan sempat deras.
Pagi yang cerah setelah semalaman turun hujan. Injun membangunkan Hyojun.
"Hey bangunlah!! Hari ini kan ada latihan vocal. Cepat bangun!!"
"Nanti dulu kak, aku masih mengantuk."
"Tadi malam kemana saja kau? Kenapa pulang terlambat?"
Hyojun langsung terbangun karena teringat Sangkyung seketika itu. Ia pun langsung bersiap-siap ke studio.
"Ayo kak berangkat! Aku sudah selesai", Hyojun siap pergi.
"Rotimu belum kau makan. Sarapan dulu!"
"Makan saja di mobil. Oh ya kak, bisa antar aku dulu ke suatu tempat sebelum ke studio?"
Hyojun mengajak Injun ke tempat terakhir ia melihat Sangkyung semalam. Injun tidak suka diajak masuk ke gang-gang perumahan.
"Kenapa mengajakku ke tempat seperti ini? Ayo pergi saja! Kau mngintip siapa?"
Hyojun terkejut melihat Sangkyung masih tertidur duduk di depan pintu dengan bajunya yang basah.
"Lihat itu kak!", Hyojun menunjukkan seorang gadis yang duduk di depan pintu gernag.
"Ha? Bukankah itu gadis yang menemukan tasmu? Kenapa dia tidur disana?"
"Semalam aku mengikutinya sampai sini. Ternyata belum ada orang yang membukakan pintu. Ayo kesana!"
"Hey kau mau kemana?"
Hyojun mendekati Sangkyung.
Sangkyung terbangun dan terkejut melihat dua orang di depannya.
"Kenapa kalian bisa ada disini???"
"Ah kami kebetulan lewat sini dan aku melihatmu. Kenapa kau tidur diluar?" , tanya Hyojun.
"Ah a.. aku.."
Seorang wanita membukakan pintu gerbang dan langsung memarahi Sangkyung.
"Rupanya kau disini. Cepat masuk!! Buatkan sarapan untukku!!"
Sangkyung ditariknya masuk ke dalam. Hyojun dan Injun hanya terdiam kaku melihat kejadian itu.
"Galak sekali wanita itu. Apa kau mengenalnya juga?", tanya Injun.
Hyojun hanya menggelengkan kepalanya.
Di studio tempat Hyojun latihan musik, ia tidak fokus latihan karena memikirkan Sangkyung. Ia ingin sekali betemu dengannya.
"Injun hyung, Hyojun tidak serius menyanyi. Apa yang sedang dia pikirkan?", tanya Jaehyuk yang memainkan bass.
"Hey Hyojun, apa kau masih memikirkan gadis itu?"
"Ah tidak. Aku hanya lapar saja. Tadi kan aku belum sarapan."
Bebrapa hari kemudian, Hyojun bertemu Sangkyung sedang menangis di pinggir sungai Han duduk di bangku tempat biasanya Hyojun menikmati angin malam. Ia sedikit mendengar Sangkyung mengeluh merindukan ayahnya.
"Apa aku boleh duduk disini?", tanya Hyojun yang tiba-tiba menghampiri Sangkung. Tanpa menjawab, Sangkyung beranjak meninggalkan bangku itu.
"Tunggu, aku ingin bicara kepadamu.. Sang..kyung?!"
Sangkyung tetap pergi tanpa menghiraukan Hyojun yang terus memanggil namanya.
"Dingin sekali gadis itu!"
Sangkyung masih berusaha mencari pekerjaaan tapi sudah beberapa hari tidak juga membuahkan hasil. Di rumah, Sangkyung juga terus dimarahi kakaknya karena tidak mendapat pekerjaan. Bibinya juga tidak mau mempekerjakannya lagi di restoran walau Sooae yang memintanya.
Hyojun mencari tahu tentang Sangkyung dari temannya di restoran tempat pertama kali ia menemui Sangkyung.
Hyojun mencertakan kisah Sangkyung kepada kakaknya.
Injun pun bersedia membantu dengan menawarkan Sangkyung menjadi pembantu di rumah mereka untuk membersihkan rumah.
Siang itu Hyojun mencari Sangkyung ke rumahnya tapi tidak ketemu lalu ia bertemu Sangkyung sedang duduk di taman.
"Rupanya kau disini."
Sangkyung kaget mendengar suara Hyojun.
"Kenapa kau lagi? Kau mengikutiku ya?"
"Jangan pergi!", kata Hyojun menarik tangan Sangkyung yang hendak meninggalkan Hyojun.
"Kau sedang mencari pekerjaan kan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku minta maaf atas kejadian di restoran dan aku mengikutimu hanya untuk membayar hutangku. Ku mohon duduklah!"
Sangkyung pun kembali duduk.
"Kalau kau mau bekerjalah di rumah kakakku. Hanya membersihkan rumah saja. Kami tinggal berdua dan kau bisa bekerja dari pukul 7 sampai selesai. Aku dan kakakku tidak pernah di rumah setiap pagi sampai sore karena kami bekerja di studio musik. Kakak juga punya pekerjaan kantor jadi kami tidak pernah sempat membersihkan rumah. Kami di rumah hanya setiap hari libur. Kalau kau bersedia, ini alamat rumahku. Silahkan datang besok pagi. Aku tunggu dan aku akan membayar hutangku karena uangku ada di mobil. Sampai jumpa, Sangkyung." :)
Setelah Hyojun pergi, Sangkyung mengambil kertas kecil bertuliskan alamat rumah yang diberikan Hyojun.
Hari berikutnya, Sangkyung mendatangi rumah itu dengan menggayuh sepeda. Sekitar 30 menit perjalanan dari rumah Sangkyung ke perumahan elit rumah Hyojun.
"Hey Sangkyung. Silahkan masuk."
"Terima kasih."
Injun baru selesai mandi.
"Jadi kau yang bernama Sangkyung. Inilah rumah kami. Berantakan bukan? Aku dan Hyojun sama-sama sibuk dan sering meninggalkan rumah jadi tidak sempat membersihkan rumah. Apa kau bersedia bekerja disini? Tugasmu hanya membersihkan rumah dan merapikan ruangan."
"..Baik, aku bersedia. Terima kasih atas bantuannya."
"Ah tidah perlu berterima kasih justru kami yang berterima kasih karena kau mau membantu kami. Jadi kapan Sangkyung bisa memulai pekerjaannya hyung?"
"Hari ini juga boleh. Aku sudah menulis daftar pekerjaan yang harus kau kerjakan. Bagaimana Sangkyung?"
"Baik, aku bisa mulai hari ini."
Injun bergegas berangkat ke kantor, jadi Hyojun yang menjelaskan pekerjaan untuk Sangkyung serta menjelaskan ruangan-ruangan di rumah mereka.
"Ini daftar pekerjaanmu hari ini dan kalau tidak bisa selesai hari ini tidak apa-apa. Beristirahatlah kalau kau sudah lelah. Tunggu saja kami pulang jam 4 sore sebelum kau pulang. Tidak usah mengerjakan apa-apa. Kau boleh menonton TV atau pun mendengarkan musik. Ini lemari musik kami. Aku punya koleksi Ledapple. Musik apa yang kau suka?
"Oh aku juga suka Ledapple."
"Wah kebetulan sekali. Sambil membersihkan rumah kau bisa mendengarkan musik dari sini. Silahkan ganti sendiri kalau kau bosan."
Hyojun pun meninggalkan Sangkyung sendiri dengan musik yang menyala keras untuk menemani Sangkyung.
Sangkyung bersemangat memulai pekerjaannya. Diiringi musik-musik dari Ledapple ia merapikan ruangan-ruangan di rumah itu.
Rumahnya cukup besar karena hanya ditinggali Hyojun dan Injun. Sangkyung merapikan ruangan dami ruangan dan merapikan kedua kamar mereka.
Setelah jam 4 sore, Sangkyung beristirahat duduk di lantai depan TV.
Hyojun menelphon dan bilang bahwa ia akan pulang sedikit terlambat dan ia meminta Sangkyung untuk menunggu sebentar.
Sekitar jam 5, Hyojun dan Injun baru pulang.
"Woah! rapi sekali rumah kita. Terima kasih Sangkyung", ucap Hyojun.
Injun memeriksa kamarnya.
"Sangkyung, ini uang untuk hari pertamamu dan sebagai ganti uang makan Hyojun di restoran. Maaf atas kejadian hari itu."
"Ah tidak apa-apa. Terima kasih oppa. Aku pulang dulu."
"Iya, hati-hati di jalan. Besok datang lagi ya?!"
Hyojun mengantar Sangkyung sampai depan gerbang. Sangkyung menuntun sepedanya sampai keluar gerbang. Tiba-tiba Sangkyung jatuh tak sadarkan diri saat ia hendak menaiki sepedanya. Hyojun panik dan berteriak memanggil Injun.
"Eh Sangkyung kau kenapa? Hey kau kenapa? Injun hyung.. Hyung!! hyung!"
"Kenapa berteriak? Eh Sangkyung.."
Hyojun menelphon dokter.
Sangkyung pingsan karena kecapekan dan perutnya kosong.
Hyojun merasa bersalah karena ia lupa untuk menyuruh Sangkyung makan.
"Maaf kak, aku lupa untuk menyuruh Sangkyung makan tadi siang. Aku benar-benar tidak ingat pesan kakak."
"Kau ini.. bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak ini?"
"Tapi aku heran, dia bisa bekerja seharian padahal dia tidak makan apa-apa. Makanan di dapur juga tidak ada yang berkurang. Apa dia benar-benar menahan lapar dan tidak meninggalkan rumah saat bekerja?"
Sekitar jam 8 malam Sangkyung baru sadar dari pingsannya. Ia kaget karena ia tidak di rumah pada jam segitu.
"Aku harus segera pulang!", ucap Sangkyung panik.
"Aduh.. kepalaku.." Sangkyung merasa pusing.
"Makan dulu sebelum pulang. Aku akan mengatarmu pulang", kata Hyojun.
"Sangkyung, maaf tadi aku lupa menyuruhmu untuk makan makanan yang ada di dapur. Kenapa juga kau tidak makan?"
Setelah sedikit makan, Sangkyung pun pulang diantar Hyojun.
Sangkyung terlihat gelisah. Hyojun mengantarnya hingga depan rumah.
"Ini sedikit makanan untuk kau dan kakakmu."
Kakak Sangkyung membukakan pintu dan langsung marah-marah karena Sangkyung terlambat pulang dan belum menyiapkan makan malam. Hyojun memberiakan makanan kepadanya.
Hyojun tidak tega melihat Sangkyung dimarahi kakaknya.
Setelah beberapa hari bekerja, Sangkyung pun mulai akrap dengan Hyojun tapi tidak dengan Injun karena Injun memang orang yang sedikit jutek. Sangkyung juga telah akrap dengan teman-teman band Hyojun yang bernama .Apple Boys.
Hyojun - vocal
Jinwon - gitar & keyboard
Songjae - drum
Jaehyuk - bass
Injun yang menjadi pengatur setiap mereka ada pertunjukan. Mereka berlima hanya band anak sekolah tapi mereka berlatih keras agar bisa debut menjadi idola. Sebenarnya ibu Hyojun tidak setuju Hyojun tinggal bersama Injun dan menjadi anak band tapi ayah Hyojun berusaha melindungi Hyojun tinggal bersama Injun.
Terkadang Hyojun mengajak Sangkyung ke studio dan bermain musik dengan teman-teman. Diam-diam Jinwon mulai mengagumi Sangkyung.
Ketika mereka bermain musik dan Jinwon memegang gitar, Sangkyung memainkan keyboard bersama mereka. Sangkyung juga bernyanyi dengan mereka. Keceriaan selalu tercipa saat Sangkyung bersama mereka.
Mereka juga sering jalan-jalan bersama. Ke pantai atau ke taman untuk bersantai sambil bermain musik. Bersama-sama menonton film di bioskop atau menonton drama di rumah Injun. Ke tempat karoke dan makan di kafe.
Beberapa bulan kemudian, Hyojun benar-benar jatuh cinta kepada Sangkyung.
Suatu hari Hyojun mengajak Sangkyung menghabiskan waktu berdua untuk jalan-jalan. Sore setelah seharian jalan-jalan dan makan siang, Hyojun membeli kopi sebelum mereka berangkat untuk menonton movie.
"Kau tunggu disini sebentar, aku belikan kopi dulu."
"Oke!" :)
Saat Hyojun keluar dari coffee shop, ia meihat Sangkyung dipeluk oleh seorang laki-laki yang tidak Hyojun kenal sebelumnya. Ia pun melangkah mundur meninggalkan Sangkyung yang berjalan bersama laki-laki itu.
Seketika itu Hyojun merasa kecewa dan cemburu kepada Sangkyung.
Hyojun duduk di bangku taman.
"Kenapa tadi aku tidak bertanya siapa laki-laki itu? Dia kan tidak punya saudara laki-laki... Ahh~~~ sudahlah.. mungkin Sangkyung memang sudah punya seseorang di hatinya. Sepertinya mereka saling menncintai...", Hyojun menggegam erat gelas kopi di tangannya. Ia merasa sangat kecewa.
Hyojun pun jalan-jalan melihat musisi jalanan yang bernyanyi sambil bermain gitar. Hyojun teringat saat ia melakukan itu bersama Sangkyung. Injun menelphon Hyojun karena sudah hampir larut malam Hyojun belum pulang.
Injun: Kau dimana? Sudah jam segini kenapa belum pulang? Apa Sangkyung masih bersamamu?
Hyojun: Tidak. Aku sendiri di sudut taman.
Injun: Jangan kemana-mana, aku akan menjemputmu.
Saat Injun datang menjemput Hyojun, Injun merasa Hyojun sedang kesal. Hyojun terdiam dan tak bicara apa pun saat di mobil hingga tiba di rumah. Injun sempat bertanya tapi Hyojun tidak menjawab.
"Kau tidak akan makan dulu?"
"Tidak kak, aku ingin tidur."
"Ada apa dengan anak itu?", batin Injun melihat Hyojun murung masuk ke kamarnya.
Malam itu Hyojun tertidur karena memang sedang lelah.
Sangkyung bertengkar dengan kakaknya.
"Rumah ini sudah aku jual dan malam ini juga kau harus meninggalkan rumah ini!! Pemilik rumah akan datang besok pagi. Sekarang bawa pergi semua barang-barangmu!!!"
Sangkyung sudah melawan kakaknya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun pasrah dan meninggalkan rumah.
Ia meminta bantuan kepada Yura tapi Yura sedang tidak di rumahnya. Ia pun ke rumah Nana...
"Bolehkan aku menginap malam ini saja, bibi(ibu Nana)?"
"Tidak boleh!! Menjauhlah dari rumahku!!", ibu Nana tidak menyukai kehadiran Sangkyung karena ibu mereka pernah berseteru.
Nana tidak bisa berbuat apa-apa untuk meluluhkan hati ibunya. Telphon Nana diambil ibunnya, jadi Nana tidak bisa menghubungi siapa pun untuk membantu Sangkyung.
Malam yang dingin... Sangkyung berjalan sendirian membawa koper dan tasnya. Ia tak tahu harus kemana lagi. Karena tidak mau merepotkan teman-temannya, ia pun memutuskan untuk berteduh di teras pintu belakang restoran bibinya. Sangkyung tertidur hingga matahari hampir terbit. Ia pun bergegas meninggalkan restoran sebelum para pekerja datang.
Sangkyung datang ke rumah Injun dan menyatakan bahwa ia ingin mengundurkan diri. Injun sempat mencegahnya tapi Hyojun malah tidak peduli karena sedang kecewa kepada Sangkyung.
"Eh Sangkyung. Kenapa sepagi ini kau datang?"
"Oppa, aku ingin mengundurkan diri dan terima kasih Injun oppa dan Hyojun selalu baik kepadaku selama ini. Maaf apabila selama ini aku punya salah saat bekerja."
"Tunggu, apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali. Ayo masuk dulu?!"
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku permisi.."
"Eh tunggu sebentar. Kenapa tiba-tiba ingin mengundurkan diri? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman disini?"
"Aaa.. tidak.. bukan begitu. Aku hanya... aku..."
"Hyojun!!", Injun memanggil Hyojun.
"Ada apa kak?!!", jawab Hyojun tanpa menoleh ke pintu.
"Sangkyung akan berhenti bekerja. Bagaimana?'
"Kau kan yang mempekerjakannya jadi terserah kau saja!"
Sangkyung mengerti kalau Hyojun pasti marah kepadanya karena kejadian kemarin.
"Oh, tunngu sebentar Sangkyung. Jangan pergi dulu."
Injun mengambil uang dan ponsel untuk Sangkyung.
Ini untukmu. Terima kasih kau sudah bekerja dengan baik disini. Kalau kau butuh apa-apa telphon saja aku. Ponsel ini untukmu supaya aku bisa mendengar suarau kalau kita tidak berjumpa lagi.
"Maaf kak, aku tidak bisa menerima ponsel itu. Sekali lagi terima kasih."
Sangkyung pun pamit pergi. Hyojun melihatnya dari jendela kamarnya di lantai dua. Ia meihat Sangkyung membawa koper dan tas.
"Mau kemana anak itu?"
Hyojun berpikir kalau Sangkyung akan pergi dengan laki-laki kemarin.
Sehari kemudian Nana mencari Sangkyung ke rumah Hyojun.
Injun yang membukakan pintu.
"Apa?!! Sangkyung tidak pulang sejak kemarin?", Injun terkejut.
"Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada dimana pun tempat biasanya Sangkyung kunjungi. Ku pikir dia menginap disini. Aduuhh kemana Sangkyung?", ujar Nana sahabat yang juga tetangga Sangkyung.
"Umm.. silahkan masuk dulu. Mungkin aku bisa membantu mencari dimana Sangkyung."
"Terima kasih."
Hyojun baru saja bangun karena tertidur di sofa saat menonton TV semalam.
"Eh kak Nana. Silahkan duduk kak."
"Maaf aku jadi membangunkanmu."
"Hyojun, apa kau tahu dimana Sangkyung berada?", tanya Injun.
"Mana ku tahu. Bukankah dia mengundurkan diri kemarin dan dia kan tidak punya ponsel jadi aku tidak berhubungan dengannya."
"Sudah dua hari Sangkyung tidak pulang ke rumah. Aku dan adik sepupunya sedang mencarinya", terang Nana.
"Kemarin dia meninggalkan rumah karena rumahnya telah dijual oleh kakak tirinya. Karena ada masalah keluarga, ibuku mengusir Sangkyung dari rumahku malam itu dan aku tidak tahu kemana Sangkyung pergi..."
"Jadi Sooae itu hanya kakak tiri? Pantas saja dia tidak pernah baik kepada Sangkyung", Injun.
Hyojun bersikap biasa dan seakan dia tidak peduli kepada Sangkyung karena ia masih kecewa. Hyojun tidak menceritakan tentang laki-laki yang ditemui Sangkyung di depan coffee shop.
Mereka bertiga pun mencari Sangkyung di tempat-tempat yang Hyojun ketahui mungkin didatangi oleh Sangkyung.
Setelah seharian mencari, tidak seorang pun yang tahu keberadaan Sangkyung. Hyojun mulai mengkhawatirkannya tapi justru Injun yang mulai bersikap seperti saat pertama kali bertemu Sangkyung karena ia mengetahui siapa Sangkyung sebenarnya dari adik sepupu Sangkyun yang bernama Jiseok.
Jiseok menangis sedih karena tidak bisa menemukan Sangkyung. Kakak sepupu yang sangat ia sanyangi. Jiseok baru pulang dari Japan dan langsung pergi ke rumah Sangkyung sebelum pulang ke rumah orang tuanya demi ingin bertemu Sangkyung.
Nana berusaha menenangkan Jiseok yang menangis tersedu mengkhawatirkan keadaan Sangkyung. Mereka juga sudah melaporkan ke kantor polisi.
"Sooae sudah keterlaluan. Setelah dia menjual rumah ayah Sangkyung, dia pergi begitu saja meninggalkan Sangkyung bahkan dia tidak peduli dengan keadaan Sangkyung", Nana.
LED Apple (레드애플)-밥은 제때 먹는지
(Are You Eating Well)
Hyojun sangat sedih telah pergi meninggalkan Sangkyung tanpa bertanya siapa laki-laki itu dan tidak menyapa Sangkyung di hari terakhir Sangkyung mengundurkan diri. Hyojun benar-benar menyesal. Ia mengkhawatirkan keadaan Sangkyung.
"Sangkyung, kau dimana? Apa kau makan dengan baik? Tidur dengan baik? Ku mohon kembalilah.. Aku sangat merindukanmu.."
Hyojun teringat pertama kali mendengar suara Sangkyung di telphon dan pertama kali bertemu dengannya di restoran. Lalu saat Sangkyung kehujanan, menangis di sungai Han dan taman... Hyojun juga mengenang saat-saat terakhir mereka jalan bersama.
Hyojun bahkan jatuh sakit karena memikirkan Sangkyung dan tidak nafsu makan. Injun mendapat masalah karena ibu Hyojun menjadi sangat marah kepadanya. Mereka kira, Injun tidak bertanggung jawab dan dia melarang Hyojun untuk bernyanyi menjadi anak band lagi. Hyojun pun dilarang berkomunikasi dengan Injun atau pun teman-temannya. Hyojun juga dijaga ketat oleh pengawal dari orang tuanya.
Suatu malam Injun berhasil kabur dari rumahnya tapi yahhh~ ketahuan oleh seorang pengawal yang bernama Lee tapi ternyata pengawal itu justru membantu Hyojun meninggalkan rumah untuk menemui Injun di rumah Nana.
"Tuan mau pergi kemana?"
"Aishhhh!! Kenapa kau bisa melihatku? Bukankah CCTV sudah aku matikan? Ahh kenapa kau mengikutiku??!!", ucap Hyojun lemas.
"Apa tuan mau menemui nona Sangkyung?"
"Iya! Ah lalu kenapa?!!"
"Saya akan membantu tuan untuk meninggalkan rumah. Ijinkan saya bersama tuan."
Hyojun pun tertawa kecil. "Hah ha"
Hyojun menemi Injun yang sedang bersama Nana dan Jiseok di rumah Yura.
"Tuan mau pergi kemana?"
"Aishhhh!! Kenapa kau bisa melihatku? Bukankah CCTV sudah aku matikan? Ahh kenapa kau mengikutiku??!!", ucap Hyojun lemas.
"Apa tuan mau menemui nona Sangkyung?"
"Iya! Ah lalu kenapa?!!"
"Saya akan membantu tuan untuk meninggalkan rumah. Ijinkan saya bersama tuan."
Hyojun pun tertawa kecil. "Hah ha"
Hyojun menemi Injun yang sedang bersama Nana dan Jiseok di rumah Yura.
Hyojun menceritakan kejadian terakhir dia bersama Sangkyung dan ternyata Jiseok mengenal laki-laki itu.
"Ini kah orangnya?", tanya Jiseok menunjukkan foto Hyunjun di ponselnya.
"Dia teman kak Sangkyung sejak kecil. Aku akan coba mencari tahu nomor telphonnya."
Jiseok pun mencari tahu nomer telphon Hyunjun.
Setelah berjuang semalaman, akhirnya Jiseok mendapatkannya. Segera ia menelphon Hyunjun dan Hyunjun mengatakan bahwa ia tidak tahu dimana Sangkyung.
"Bagaimana?", tanya semuanya kepada Jiseok.
Jiseok menggelengkan kepalanya dengan raut wajah kecewa.
Jiseok menangis. Injun pun merangkul bahunya.
Ponsel Hyojun berdering, ada pesan masuk dari nomer baru.
Ponsel Hyojun berdering, ada pesan masuk dari nomer baru.
"Hyojun, ponselmu berbunyi."
"Itu pasti umma yang menyuruhku untuk pulang."
Injun mengambil ponsel Hyojun di atas meja. Ia pun membuka pesannya.
"Sangkyung?!!"
[[ Hyojun, ini aku Sangkyung. Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian di depan coffee shop. Hyunjun adalah teman kecilku dan sudah lama sekali kita tidak bertemu. Maaf jika aku meninggalkanmu. Aku tidak bermaksud begitu, Hyunjun benar-benar merindukanku. Dan jiika dua hari lagi aku tidak pulang, tolong jemput aku di Busan. Terima kasih. -Sangkyung ]]
Sangkyung dikawal oleh pengawal Hyunjun saat masuk ke restoran di hotel.
Hyunjun berencana menikahi Sangkyung demi warisan orang tuanya yang jika ia tidak segera menikah maka warisan itu akan didonasikan. Tapi Hyunjun juga mencintai Sangkyung sejak mereka berteman di masa kecil dulu. Sangkyung seakan disekap oleh Hyunjun demi pernikahan itu. Sangkyung sangat ketakutan karena diancam jika kabur dari Hyunjun. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, pengawal Hyunjun sangat kuat dan Hyunjun akan berbuat apa saja jika Sangkyung kabur termasuk mencelakai Hyojun atau pun Injun dan teman-temannya.
"Kak, kenapa kakak melakukan ini dan ku mohon jangan kak!! Selama ini kau sudah ku anggap sebagai kakakku dan..", Sangkyung menangis memohon-mohon kepada Hyunjun untuk melepaskannya tapi Hyunjun tidak peduli sama sekali.
Sangkyung dikurung dalam sebuah kamar hotel dan dijaga ketat oleh pengawal.
Ia sangat ketakutan dan berharap semua akan baik-baik saja.
"Ibu.. apa ibu melihatku disini? Aku takut ibu.."
Sementara itu Hyojun kembali di kurung di kamarnya oleh orang tuanya, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Sangkyung.
Hyojun bermain gitar dan menyanyikan lagu Ledapple berjudul Babeun jeddae meokneunji (Are you eating well).
"Sangkyung semoga kau baik-baik saja.."
Injun dan lainnya berusaha menghubungi nomor Sangyung mengirim pesan itu.
Setelah berhasil menghubungi nomor itu, wanita pemilik nomor itu meminta imbalan untuk memberitahukan keberadaan Sangkyung.
Setelah wanita itu mendapatkan apa yang dia syaratkan, dia menceritakan kejadian saat Sangkyung dikawal masuk ke toilet dan Sangkyung sangat katakutan saat meminjam ponsel itu. Wanita itu pun diam-diam mengikuti Sangkyung hingga keluar dari restoran dan memotret mobil yang digunakan Hyunjun membawa Sangkyung pergi. Tapi lagi-lagi wanita itu meminta syarat sebelum menunjukkan foto nomer mobil yang membawa Sangkyung. Ia meminta Injun mengirim guru piano untuk mengajari adiknya bermain piano demi kompetisi di sekolah adiknya. Salah satu member Apple Boys pun bersedia mengajari adik wanita itu bermain piano.
--Anak yang diajarkan piano itu sangat mengidolakan singer Junwon (kakak Jinwon). Tapi mereka tidak tahu kalau Jinwon adalah adik idolanya. Anak itu menitipkan salam untuk Junwon jika Jinwon bertemu dengannya di Seoul. Jinwon merasakan betapa senangnya menjadi kakaknya yang digemari banyak orang. Jinwon pun memberikan tiket fanmeeting "Junwon" kepada anak itu dan kakaknya.--
--Anak yang diajarkan piano itu sangat mengidolakan singer Junwon (kakak Jinwon). Tapi mereka tidak tahu kalau Jinwon adalah adik idolanya. Anak itu menitipkan salam untuk Junwon jika Jinwon bertemu dengannya di Seoul. Jinwon merasakan betapa senangnya menjadi kakaknya yang digemari banyak orang. Jinwon pun memberikan tiket fanmeeting "Junwon" kepada anak itu dan kakaknya.--
Mereka segera bergerak mencari keberadaan Sangkyung tanpa bantuan polisi karena Hyunjun telah mengancam mereka.
Jiseok bekerjasama dengan ayahnya yang kebetulan bekerja di hotel tempat Hyunjun menyembunyikan Sangkyung. (Busan)
Sangkyung behasil dibawa kabur oleh ayah Jiseok dan teman Jiseok ke stasiun kereta. Pengawal Hyunjun yang menggejar mereka juga telah tertangkap polisi tapi Sangkyung masih dalam bahaya saat tiba di stasiun. Jiseok telah berjaga menanti kepulangan Sangkyung. Gawat, hampir saja mereka tertangkap setelah Jiseok berusaha melindungi Sangkyung dan berkelahi dengan para pengawal Hyunjun. Polisi segera datang saat mereka terkepung.
Sangkyug jatuh pingsan lalu diiarikan ke rumah sakit.
Semua menunggu Sangkyung sadarkan diri. Jiseok masih merasa sangat lelah.
Ketika Sangkyung membuka kedua matanya, ia mencari Hyojun diantara teman-teman yang mengelilinginya. Sangkyung tidak bisa berkata apa-apa karena ia masih sangat lemas.
"Kau tidak perlu takut, sekarang kau aman bersama kami semua", Injun.
Sangkyung menangis tersedu-sedu. Ia sedih dan cukup bahagia bertemu ayahnya. Suasana menjadi sangat haru.
Ketegangan tidak berakhir disitu karena Hyunjun belum tertangkap dan ia telah menahan Jinwoo yang mengajar piano. Mereka tidak bisa melibatkan polisi karena Hyunjun akan berbuat apa saja demi mendapatkan Sangkyung.
[[ Kembalikan Sangkyung atau anak ini akan pulang tanpa nyawa?!! ]]
Sehari kemudian, Hyojun berhasil keluar dari rumah karena orang tuanya pergi ke luar negri. Saat tiba di rumah sakit, tidak ada yang menjawab sapanya bahkan Injun seolah tidak menganggap Hyojun ada karena ia mengkhawatirkan Jinwon. Hyojun tidak berani masuk ke kamar Sangkyung dirawat. Ia hanya melihat dari luar Sangkyung sedang disuapi ayahnya.
"Aku belum siap menemuimu Sangkyung. Maaf karena aku tidak bisa menolongmu. Aku lega melihat kau baik-baik saja dan sudah makan bersama ayahmu. Ku harap kau tidak kecewa padaku."
Hyojun pulang tanpa pamit kepada Injun yang sedang sibuk menelphon.
Tiba di rumah, Hyojun tiduran di sofa dan terlihat sedikit kesal dengan sikap Injun. Ia pun mengurung diri di kamar dan tidak mau diganggu oleh siapa pun.
"Tuan, sejak kemarin kau belum makan. Apa kau sakit?"
"Aku kan sudah bilang, jangan ganggu aku!!!! Kalau aku lapar aku akan minta makanan!! Keluar sana!!", Hyojun kesal pada Lee pengawalnya.
Telphon Hyojun berbunyi.
"Ada telphon tuan Hyojun."
"Siapa?", tanya Hyojun yang berbaring di tempat tidurnya.
"Nomer baru, tuan."
"Tidak usah diangkat! Tinggalkan saja."
Beberapa kali panggilan masuk, Lee pun mengangkat telphonnya.
Lee: Hello..
Sangkyung: Hyojun ini aku Sangkyung.
"Tuan, ini nona Sangkyung."
"Aku kan sudah bilang tidak usah diangkat!!"
Sangkyung mendengar suara Hyojun berteriak.
Hyojun merebut ponselnya lalu melepar ponsel itu ke kaca lemari.
Lee terkejut dan terdiam sesaat. Tampaknya Hyojun benar-benar sedang kesal.
Sangkyung: Hello.. Hyojun...
Sangkyung merasa ada yang aneh dengan Hyojun.
"Kenapa dia tidak mau berbicara denganku? Apa dia masih marah padaku?"
beberapa hari kemudian, Injun berusaha menyelamatkan Jinwon. Bersama teman-temannya termasuk Jiseok, Injun mengatur rencana untuk menyergap Hyunjun. Sangkyung menjadi khawatir sepulang ia dari rumah sakit ia baru tahu tentang itu. Junwon kakak Jinwon marah kepada Injun mengetahui keadaan adiknya yang telah hilang beberapa hari.
Hyojun menyuruh pengawalnya Lee untuk mencari tahu yang terjadi, ternyata Injun sengaja tidak memberitahu Hyojun karena ia anggap Hyojun tidak akan bisa membantu.
"Kenapa kak Injun menyepelekanku begitu? Lee, ada berapa pengawal yang ditugaskan ibu di rumah ini?"
"Totalnya sepuluh dengan aku dan Shin."
"Kerahkan tujuh orang untuk menyelamatkan Jinwon termasuk kalian berdua dan sisakan tiga untuk tetap di rumah. Pergilah!!"
"Baik tuan"
Pengawal Hyojun pun bergabung dengan Injun untuk menyelamatkan Jinwon.
Hyojun jatuh sakit namun tidak ada seorang pun yang tahu jika dia demam.
Siang itu Hyojun ingin ke studio untuk menghilangkan penat. Ia ingin bernyanyi. Tidak ada pengawal yang berjaga di dalam rumah. Para pembantu dan pelayan juga sedang beristirahat di dapur. Ketika menuruni tangga Hyojun merasa pusing dan hilang keseimbangan, ia pun terjatuh di tangga. Seorang pengawal yang baru saja masuk melihat Hyojun terjatuh. Hyojun pun dilarikan ke rumah sakit. Lee mendapat kabar itu saat mereka sedang mengepung rumah tempat Jinwon disekap oleh Hyunjun.
Setelah penyelamatan yang menegangkan, Jinwon pun berhasil diselamatkan dan Hyunjun telah ditahan oleh para pengawal Hyojun.
Jinwon mengalami luka-luka karena dipukuli Hyunjun untuk melampiaskan kekesalannya.
Jinwon mengalami luka-luka karena dipukuli Hyunjun untuk melampiaskan kekesalannya.
Lee bergegas ke rumah sakit.
"Kenapa kau gelisah seperti itu?", tanya Injun melihat Lee terburu-buru.
"Tuan Hyojun masuk ruamah sakit dan pasti nyonya akan marah kepadaku karena telah meninggalkan tuan Hyojun. Belakangan ini tuan terlihat murung dan sensitif. Dia tidak mau makan dan tidak keluar dari kamar. Bahkan tidak mau menerima telphon dari nona Sangkyung."
Setibanya di rumah sakit, Jinwon pun mendapat perawatan dan Lee mencari Hyojun.
"Kenapa bisa terjatuh?", tanya Lee kepada pengawal lain.
"Tadi aku melihat tuan turun dari tangga tapi saat aku datang untuk mengawalnya, tuan sudah terjatuh. Aku terlambat. Maafkan aku"
"Kalau nyonya tahu, kita semua pasti akan dipecat. Bagaimana keadaan tuan Hyojun?"
Injun melihat Hyojun yang terbaring tak sadarkan diri dengan bebrapa perban luka di tubuhnya.
"Apa kau marah kepadaku? Kalau kau begini pasti ibumu juga akan memarahiku. Dan debut kalain tidak akan pernah terjadi. Ada apa denganmu?"
Hyojun telah sadar dari pingsannya.
"Maaf kak, aku hanya lapar jadi kepalaku tiba-tiba sakit."
"Hah kau ini.." @_@ Injun tertawa kecil.
Sangkyung datang untuk menjenguk Jinwon dan dia pun menjenguk Hyojun.
"Hyojun, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah makan?"
Hyojun tersenyum kepada Sangkyung.
"Apa kau juga sudah makan?"
Tiba-tiba ibu Hyojun datang dan langsung marah melihat Sangkyung dan Injun. Mereka berdua pun diusir keluar. ibu Hyojun juga marah kepada Lee dan Shin.
"Injun hyung, bagaimana keadaan Hyojun?", tanya Songjae sang drummer.
"Hyojun baik-baik saja. Tapi tidak ada kemungkinan ibunya akan membiarkan kita menemuinya."
"Lalu bagaimana dengan band kita?", tanya Jaehyuk bass.
"Sangkyung saja yang menjadi vocal", sahut Songjae.
"Hah? Aku? Aku kan tidak bisa menyanyi."
Jiseok menemani Jinwon.
"Hyung sudah sadar?"
"Apa kakakku sudah kemari?"
"Kakakmu masih ada fanmeeting di luar kota jadi nanti malam baru akan kesini. Oh ya, pasti kau haus dan lapar. Ini aku bantu kau minum dulu."
"Terima kasih Jiseok."
"Aku minta maaf karena telah membuat kak Jinwon celaka. Aku benar-benar ketakutan."
"Jiseok, aku mengerti kau sangat menyanyangi kakakmu. Aku baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir."
"Terima kasih hyung. Kak Hyunjun sudah ditahan di kantor polisi dan ku harap semuanya akan baik-baik saja. Paman Shin sedang mencari keberadaan kak Sooaee dan mungkin kak Sangkyung akan tinggal bersama ayahnya."
"Umm.. bagaimana keadaan Hyojun?"
"Hyojun hyung juga sedang dirawat disini karena semalam dia terjatuh. Tapi teman-teman kak Jinwon sedang menjenguknya bersama kak Injun."
Injun, Sangkyung dan lainnya datang ke ruangan Jinwon.
"Jinwon, bagaimana keadaanmu? Terima kasih atas bantuanmu."
"Aku baik-baik Sangkyung. Kau sendiri bagaimana?"
"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku tidak menyangka kak Hyunjun akan sejahat itu."
"Sudah tidak usah membahas itu lagi. Jinwon kalau kau sudah bertenaga ayo kita kembali latihan ke studio!"
"Fighting!!", kata Jinwon.
"Fighting!!!!!", seruan bersam-sama.
Jinwon senang Sangkyung mengakhawatirkanya karena diam-diam Jinwon telah lama menyukai Sangkyung.
Ayah Sangkyung ingin menjenguk Hyojun tapi Hyojun mendapat penjagaan ketat.
"Maaf tuan, anda siapa?"
"Aku ayah Sangkyung. Apa aku boleh menjenguk Hyojun?"
"Mohon tunggu sebentar."
Sebelum penjaga masuk untuk meminta izin ibu Hyojun, ibu Hyojun keluar.
Ia tercenga bertemu ayah Sangkyung. Ternyata mereka telah saling mengenal di masa muda. Ibu dan ayah Sangkyung adalah sahabat ibu Hyojun.
Ibu Hyojun menjadi tidak enak hati karena telah menghina Sangkyung dan menjauhkannya dari Hyojun.
"Jadi, ibu dan paman sudah saling mengenal?"
"Paman ini dan istrinya adalah sahabat ibu waktu di sekolah dulu dan sudah lama sekali kami tidak bertemu."
Injun merasa senang karena akhirnya ibu Hyojun mengizinkan Hyojun untuk tetap bermain musik dan Sangkyung boleh berteman dengannya. Ia juga senang meihat Sangkyung bahagia telah bersama ayahnya. Injun pun pergi ke makam orang tuanya ditemani Jaehyuk yang mengunjungi makam kakek neneknya.
"Ayah.. Ibu.. kakak.. aku sangat merindukan kalian..Sudah sejauh ini aku bertahan tanpa kalian dan entah sampai kapan aku akan bertahan..."
Jaehyuk tidak tega melihat Injun menangis merindukan keluarganya.
Hyojun memikirkan cerita Injun tentang ayahnya(Injun) dan keluarga Sangkyung.
**Hari itu bibi Sangkyung meminta ayah Sangkyung untuk mengantarkannya ke rumah sakit karna anaknya (sepupu Sangkyung) jatuh sakit. Ayah Sangkyung tidak mau mengantar karena sedang sibuk bekerja, padahal itu sudah larut malam. Akhirnya Ayah Injun mau mengantatkan mereka ditemani ibu Sangkyung. Kakak Injun yang masih berusia 7 tahun terbangun dan ingin ikut ayahnya. Mereka pun berangkat ke rumah sakit. Di tengah jalan tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Terjadi kecelakaan dan mobil yang dikendarai ayah Injun menjadi korban kecelakaan itu. Ayah, kakak Injun, ibu Sangkyung dan bibinya meninggal di tempat kejadian. Sedangkan anak bibi itu selamat setelah kritis beberapa hari di rumah sakit. Anak kecil itu adalah Jiseok.
Sejak kejadian itu, ibu Injun sangat shock dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa suami dan anak pertamanya telah tiada. Ibu Injun pun jatuh sakit dan meninggal karena penyakitnya. Injun menjadi yatim piatu. Ayah Hyojun adalah adik ayah Injun. Injun pun diasuh oleh ayah Injun walau pun ibu Hyojun tidak pernah suka akan kehadirannya karena ia selalu berpikir kalau Injun hanya akan menjadi beban keluarganya dan menghabiskan banyak biaya. Hyojun dan Injun pun tumbuh dewasa bersama sampai akhirnya Injun sukses dan ayah Hyojun memberikannya rumah sendiri. Hyojun ingin bermain musik bersama Injun tapi ibu Hyojun tidak pernah setuju. Ia ingin Hyojun menjadi pewaris perusahaan ayahnya. Ayah Hyojun tidak pernah bisa berbuat apa-apa karena ibu Hyojun sangat berkuasa. Saat mulai beranjak dewasa Injun mulai mengerti kajadian yang merengut nyawa ayah dan kakaknya. Saat itu lah ia mulai membenci ayah Sangkyung.**
Dan cerita lain, **ibu Hyojun adalah sahabat orang tua Sangkyung. Saat di sekolah dulu, ibu Sangkyung sering membantu ibu Hyojun karena ibu Hyojun adalah orang miskin. Ayah Sangkyung yang membuatnya bersatu dan menikah dengan ayah Hyojun. Kedua orang tua Sangkyung sangat berjasa bagi ibu Hyojun**
Hyojun merasa terharu dengan keadaan Injun. Dulu dia pernah cemburu dan marah kepada Injun karena ia selalu merasa kalau ayahnya lebih menyayangi Injun. Tapi kenyataannya tanpa ayah Injun, ayah Hyojun tidak akan sesukses saat ini. Jadi ayah Hyojun membalas budi kepada orang tua Injun. Hyojun ingin menemui Injun tapi ia masih terbaring lemah di rumah sakit.
Jinwon pulih lebih dahulu dan meninggalkan rumah sakit.
Jinwon berpisah dengan orang tuanya karena orang tuanya tinggal di luar negri. Ia hanya tinggal bersama kakaknya(Junwon) yang seorang artis/singer. Kakaknya sibuk menjadi artis, jadi Jinwon sering kesepian di rumah. Ia sangat senang jika bisa menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Setelah Hyojun membaik, ia pun keluar dari rumah sakit. Hari itu ia tidak melihat Sangkyung. Hyojun meminta Injun menemaninya ke rumah Sangkyung. Lee mengantar mereka berdua.
Tiba di rumah Sangkyung, Jiseok bilang..
"Kak Sangkyung baru saja pergi dengan paman."
"Lalu kau sedang apa disini?"
"Aku juga sedang bersiap-siap pulang ke Gwangju, tempat tinggal nenekku."
Hyojun pun mengejar Sangkyung ke stasuin kereta.
LEDApple - LET THE WIND BLOW
Hyojun berusaha mengejar Sangkyung. Tiba di stasiun kereta ia berlarian mencari Sangkyung dan ayahnya. Celaka, kereta menuju Incheon telah berangkat.
"Sangkyung!!"
Lee kecapekan mengejar Hyojun.
"...Tuan... nona Sangkyung ada disana. Ia tidak jadi pergi..."
Hyojun pun duduk di kursi.
"Ini minumlah!"
Sangkyung memberikan minuman kaleng kepada Hyojun.
"Ku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi."
"Ayah bilang kak Sooae sudah dihukum dan rumah itu adalah milikku. Jadi aku memutuskan untuk tetap tinggal."
Terdengar ponsel berdering. Di salah satu kursi dekat mereka, ada tas perempuan yang tidak ada pemilikya.
Sangkyung dan Hyojun terdiam melihat tas itu.
"Hahahaha..." :D
Yeah~~~ Awal pertemuan mereka dari ponsel dalam tas.
Sekian.
레드애플 - 밥은 제때 먹는지
밥은 제때 먹는지
잠은 안설치는지
혹시 감기라도 혼자 앓고 있는지
보고 싶은 영화 보고플땐 어떡하는지
나는 늘 니 걱정뿐인데
나는 밥도 못먹어 잠도 잘 못자고
니가 보고 싶은 병에 걸려 매일 난 울어
아직 니 사진을 보면 자꾸 눈물이나
나 이러다가 죽을까봐 걱정안되니
널 사랑해 너 아니면 안돼
잠은 안설치는지
혹시 감기라도 혼자 앓고 있는지
보고 싶은 영화 보고플땐 어떡하는지
나는 늘 니 걱정뿐인데
나는 밥도 못먹어 잠도 잘 못자고
니가 보고 싶은 병에 걸려 매일 난 울어
아직 니 사진을 보면 자꾸 눈물이나
나 이러다가 죽을까봐 걱정안되니
널 사랑해 너 아니면 안돼
너 때문에 물한잔도 넘기지 못해
난 어떡해 혹시 너올까봐 죽지도 못해
제발 나 상처주지 마라
미련인줄 알지만
참 바보같지만 소주 한잔에 너 따위 전부 잊고 싶지만
그게 맘처럼 잘 안되는게 사랑이야
나이래도 돌아올수 없는게 너야
널 사랑해 너 아니면 안돼
너 때문에 물한잔도 넘기지 못해
난 어떡해 혹시 너올까봐 죽지도 못해
제발 나 상처주지 마라
이별 노래가 흐르면
노래 가사가 다 내얘기 같아
정말 죽을 것 같아 숨도 못쉴것 같아
이럴거면 왜 날 사랑했니
널 사랑해 너 없이 난 안돼
니 발소리 오늘도 기다려
니 목소리 듣고 싶어서 미치겠어
니 빈자리 이렇게 허전할 줄은 몰랐어
제발 내게 돌아와 주겠니
난 어떡해 혹시 너올까봐 죽지도 못해
제발 나 상처주지 마라
미련인줄 알지만
참 바보같지만 소주 한잔에 너 따위 전부 잊고 싶지만
그게 맘처럼 잘 안되는게 사랑이야
나이래도 돌아올수 없는게 너야
널 사랑해 너 아니면 안돼
너 때문에 물한잔도 넘기지 못해
난 어떡해 혹시 너올까봐 죽지도 못해
제발 나 상처주지 마라
이별 노래가 흐르면
노래 가사가 다 내얘기 같아
정말 죽을 것 같아 숨도 못쉴것 같아
이럴거면 왜 날 사랑했니
널 사랑해 너 없이 난 안돼
니 발소리 오늘도 기다려
니 목소리 듣고 싶어서 미치겠어
니 빈자리 이렇게 허전할 줄은 몰랐어
제발 내게 돌아와 주겠니
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.