RUN TO YOU (런투유)
2015.06.13
Good boys ; Bad boys ;
성재 : Best student/ his dad diploma. 대성 : His dad is gangster.
종석 : Protected family. 동호 : Life with his older sister.
지민 : Life with his dad (His parents divorced). 태형 : Life with his mom (his dad is actor).
민석 : Transfer student/ Life alone. 효석 : Life with his brother. (Yeonsuk)
Parents of Minsuk and Hyosuk : pass away since they are 9y old.
Sungjae: His mom is reporter sio Sungjae hav
Sungjae: His mom is reporter sio Sungjae hav
- Sungjae
- Jongseok
- Jimin
- Minsuk
- Daesung
- Dongho
- Taehyung
- Hyosuk
- Nami, Eunyong, Danbi etc.
- Yeonsuk (Hyosuk bro')
- Teacher Hwang
- Teacher Shi
- Edison Choi (bully student)
- Lee ahjussi (mini market owner)
- Police Kwon and family.
- Daesung dad & mom. Daesung step father & sister (4)
-
- Sungjae mom (Sungjae dad & elder sister) (3)
- Minkyu (Jongseok friend in elementary school - Minsuk friend in market)
- Jongseok mom & dad , Jongmi (Jongseok younger siter) & Jonghoon
(Jongseok brother) (4)
- Jimin dan & Jimin mom (Song Jihui) (2)
- Taehyung mom & dad (2)
RUN TO YOU '런투유'
- Jongseok
- Jimin
- Minsuk
- Daesung
- Dongho
- Taehyung
- Hyosuk
- Nami, Eunyong, Danbi etc.
- Yeonsuk (Hyosuk bro')
- Teacher Hwang
- Teacher Shi
- Edison Choi (bully student)
- Lee ahjussi (mini market owner)
- Police Kwon and family.
- Daesung dad & mom. Daesung step father & sister (4)
-
- Sungjae mom (Sungjae dad & elder sister) (3)
- Minkyu (Jongseok friend in elementary school - Minsuk friend in market)
- Jongseok mom & dad , Jongmi (Jongseok younger siter) & Jonghoon
(Jongseok brother) (4)
- Jimin dan & Jimin mom (Song Jihui) (2)
- Taehyung mom & dad (2)
RUN TO YOU '런투유'
Daesung bersama Dongho dan Taehyuug sedang memalak seorang siswa.
"Serahkan uang sakumu!!", kata Dongho memaksa anak itu.
Anak yang dipalak hanya bisa pasrah karena tidak berani melawan.
Minsuk yang tidak sengaja melihat mencoba menolong anak itu.
Minsuk mendapat satu pukulan di perutnya dari Taehyung.
"Kau tidak apa-apa?", tanya Minsuk kepada anak itu.
"Iya, terima kasih."
"Ah tunggu sebentar! Siapa namamu?"
"Aku Edison Choi", kata Choi mengulurkan tangannya.
"Oh, aku Minsuk."
Sepulang sekolah, Minuk telah dihadang di depan gerbang oleh Taehyung dan Dongho. Meraka membawa paksa Minseok. Saat Minuk ditarik oleh Dongho, Jimin dan Sungjae melihatnya. Mereka berdua pun diam-diam mengikuti Minsuk. Ketika Minsuk telah dikepung oleh Dongho, Taehyung dan Daesung, Jimin dan Sungjae berusaha menyelamatkankan.
"Ya! Ya! Ya!! Apa yang akan kalian lakukan kepada Minsuk?!! Aku akan laporkan kalian kepada guru Hwang!!", teriak Jimin mengancam.
Daesung CS pun memilih untuk meninggalkan Minsuk.
"Aigoo.. apa kau ingin menjadi jagoan?!! Lihatlah dirimu!!", kata Jimin kepada Minsuk sambil memegang dagu Minsuk.
Sungjaepun merangkul bahu Minsuk.
"Aish!! Lain kali jangan ikut campur urusan mereka!", Sungjae bercanda.
"Terima kasih..", Minsuk.
"Oh iya siswa pindahan, apa tadi mereka memukulmu?", Jimin.
"Um hampir.."
"Karena hari ini kami menyelamatkanmu dari mereka, kau harus traktir kami makan!"
"Ha, harus!!", Sungjae.
"Kalau kau tidak punya uang ya sudah, besok saja!", Jimin.
"Ah iya besok saja. Aku harus segera bekerja. Terima kasih! Sampai jumpa."
Minsuk pun bergegas ke sebuah mini market tempatnya bekerja sebagai kasir.
Karena terburu-buru masuk, Minsuk menabrak seseorang yang baru keluar dari pintu.
"Aduh, maaf.."
"Hey, kau kan Minsuk?"
"Ah ye"
"Kita kan belum berkenalan tadi. Namaku Jongseok. Kenapa kau terburu-buru?"
"Aku bekerja disini setelah pulang sekolah. Aku masuk dulu."
"Oke, selamat bekerja!" :)
Jongseok baru saja membeli mie instant lalu memakannya di depan mini market. Ia memperhatikan Minsuk dari luar.
"Sepertinya dia anak yang rajin bekerja", pikir Jongseok.
Hari berikutya, Minsuk terkejut bertemu seorang siswa yang ia kenal sebelumnya. Minsuk pun mengikuti siswa itu. Ia terkejut saat melihat siswa itu duduk bersama Daesung cs. Minsuk tidak semangat masuk kelas. Ketika ia hendak melangkah mundur, Jimin mengagetkannya.
"Yaa!! Kenapa kau mundur?"
"Tidak apa-apa.."
"Ayo masuk!!", ajak Sungjae dan Jongseok.
Siswa yang tadi diperhatikan oleh Minsuk tidak melihat Minsuk duduk di samping tempat duduknya. Siswa itu duduk di pojok belakang dekat jendela.
Minsuk masih memperhatikannya, (Kemarin siswa itu tidak masuk).
(Jimin, Sungjae dan Jongseok duduk di depan.)
Guru Hwang masuk lalu memulai pelajarannya. Saat pelajaran Matematika/ Math, Minsuk sangat suka saat guru menyuruhnya mengerjakan di papan tulis.
Ketika guru menyuruh siswa yang Minsuk perhatikan bernama Hyosuk, ia tidak bisa mengerjakannya.
"Hyosuk!! Berdiri di depan!"
Siswa yang bernama Hyosuk itu belum menyadari Minsuk yang terus memperhatiannya walau ia berdiri di depan kelas.
Waktunya jam istirahat, guru menyuruh Hyosuk untuk duduk.
Saat Hyosuk berjalan menuju tempat duduknya, ia terkejut melihat wajah Minsuk yang sedang sibuk mengerjakan soal di bukunya.
"Baiklah anak-anak, jangan lupa kerjakan PR kalian. Besok harus mengerjakan semua!! Mengerti?!!"
"Baik guru!!"
Minsuk masih asyik dengan soal di bukunya. Guru memperhatikan Minsuk saat keluar dari kelas. Karena terlalu asyik sendri, ia malas untuk keluar dari kelas saat semua temannya sedang beristirahat keluar.
Jimin, Sungjae dan Jongseok menghampiri Minsuk di kelas.
"Kenapa kau tidak keluar?", tanya Sungjae.
"Aku mengantuk", jawab Minsuk sambil mengusap kedua matanya.
"Apa semalam kau kurang tidur?", Jimin.
"Aku mengejar beberapa pelajaran yang tertinggal. Karena aku siswa pindahan, aku meminta guru Hwang untuk membimbingku pelajaran yang terlewatkan."
"Woah, hebat! Sepertiya Minsuk adalah sainganmu Sungae!!", Jongseok.
"Yaa kitakan bukan bertanding. Kita sama-sama sedang belajar, iya kan Minsuk?"
"Oh, yeah~"
Pulang sekolah Dongho dan Taehyung kembali menghadang Minsuk. Minsuk bersusaha melawan dan menghajar mereka. Daesung pun membalas Minsuk karena telah menghajar temannya. Hyosuk sedang sibuk dengan ponselnya. Setelah selesai, ia cukup terkejut melihat Minsuk. Daesung menyuruh Hyosuk untuk menghajar Minsuk. (Sebelumnya Minsuk dan Hyosuk sudah saling mengenal baik). Tanpa menghiraukan wajah Minsuk, Hyosuk menghajar perut Minsuk dengan rasa kesal. Minsuk tidak bisa melawan karena ditahan oleh Dongho dan Taehyung. Ia pun terkapar kesakitan.
"Ternyata kau masih membenciku..", gumam Minsuk setelah mereka pergi.
Jongseok sedang menikmati mie-nya di depan mini market. Ia kaget melihat Minsuk datang berjalan pincang dengan sebam di mukanya.
"OMO, Minsuk, apa yang terjadi? Kenapa dengan mukamu?"
"Tidak apa-apa, tadi aku terjatuh di tangga."
"Aaa~ Lain kali hati-hati kalau berjalan."
Jongseok membantu mengobati luka Minsuk. Minsuk menahan sakit di perutnya.
"Terima kasih."
"Yaa, apa perutmu sakit? Coba aku lihat! Apa ada yang terluka di perutmu?"
"Ahh tidak, aku lapar!" :D Minsuk menyembunyikan sakitnya.
"Ahha~ tadi kau belum makan.
Jongseok ditelphon ibunya.
"Aish~ umma. Aku pergi dulu ya? Kalau perutmu ada yang terluka, segera ke dokter! Okay?" :)
"Hemm" :)
Minsuk senang atas perhatian Jongseok, teman yang baru ia kenal tapi sudah seperti sangat akrap. Ia teringat masa kecilnya bersama seorang sahabat yang selalu perhatian padanya.
Hari berikutnya di kelas. Ada tugas bahasa Korea kelomok. Masing-masing dua orang.
Eunyong yang duduk di depan dekat Sungjae merayunya.
"Sungjae, apa kau mau mengerjakan tugas Bahasa denganku?"
"Tidak mau. Aku akan berpasangan dengan Jongseok."
Jimin mendekati Eunyong. (Jimin menyukai Eunyong tapi Eunyong menyukai Sungjae.)
"Eunyong denganku saja bagaimana?", tanya Jimin.
" :) Tidak mau!!!!", Eunyong menolak.
Jimin kecewa, ia berjalan ke belakang. :(
"Minsuk, kau mau denganku?"
"Oh, tentu saja!" :)
"Terima kasih." :)
Hyosuk sedang berbicara dengan Taehyung.
Dari depan Sungjae bertanya kepada Minsuk.
"Minsuk, kenapa dengan dahimu?"
Sesekali Minsuk melihat Hyosuk.
"Tidak apa-apa."
Jimin memperhatikan kepala Minsuk.
"Coba aku periksa! Apa benar kau baik-baik saja?"
"Terima kasih atas perhatianmu!" :D
Jimin tersenyum kepada Minsuk. Jongseok memperhatikan Minsuk dan Hyosuk.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?", Minsuk.
"Kau anak yang baik", jawab Jimin sambil menunjuk Minsuk dengan jari telunjuknya. "Tidak seperti dia!", lanjut Jimin menunjuk Hyosuk.
"Mwo?", Hyosuk menatap tajam Jimin.
Waktunya istirahat makan siang.
Saat Hyosuk hendak masuk ke ruang makan, Minsuk menarik lengannya.
"Hyosuk, sebentar saja. Aku ingin bicara padamu?"
"Lepaskan aku!!", tolak Hyosuk menyingkirkan tangan Minsuk.
Minsuk jatuh tersungkur.
Jimin berteriak kepada Hyosuk.
Jimin berteriak kepada Hyosuk.
"Kyaaa!! Hyosuk!!!", Jimin tidak berani melawan Hyosuk. Ia pun membantu Minsuk berdiri.
"Gwaenchanha?", Jimin.
"Hemm"
Hyosuk membawa makannya, duduk bersama Daesung, Taehyung dan Dongho.
"Apa yang dia lakukan?", tanya Daesung tentang Minsuk.
"Molla."
"Oh iya, kau kan tidak suka tauge, sini biar aku yang makan!", kata Taehyung.
"Gomawo."
"Apa kau pernah mengenalnya?", tanya Dongho.
"Ani. Wae?"
"Tapi dia memperhatikanmu terus. Apa jangan-jangan dia fansmu?", Taehyung.
"Aish~~ Makanlah!!", Hyosuk sedikit kesal.
Daesung mulai penasaran tentang Minsuk. Ia pun menyuruh Dongho dan Taehyung untuk mencari tahu tentang Minsuk.
Setelah Daesung tahu tentang Minsuk di sekolahnya sebelum pindah, ia pun bekerjasama dengan orangorang yang membenci Minsuk untuk menghajar Minsuk. Tersebar gosip di sekolah bahwa Minsuk dikeluarkan dari sekolahnya karena sering mencuri, secara Minsuk hidup sendiri tanpa siapa pun.
Suatu hari Minsuk dituduh mencuri uang seorang teman sekelasnya. Itu ulah Daesung cs. Minsuk mulai dikucilkan tapi Jimin, Sungjae dan Jongseok tetap mau berteman dengan Minsuk.
Karena tidak ada bukti bahwa itu bukan Minsuk yang melakukannya, ia pun dihukum membersihkan lapangan dan ruang olah raga selama seminggu.
Ketika jam olah raga di lapangan, Daesung cs berulah mengotori lapangan.
Minsuk hanya bisa bersabar dan tetap berusaha mendekati Hyosuk.
Setelah lelah membersihkan lapangan, Minsuk duduk di pinggir lapangan.
Rasanya Minsuk ingin meneteskan air mata tapi ia berusaha untuk kuat.
Ada seorang teman sekelas yang menghampirinya. Nami.
"Minumlah!!" :) , kata Nami sambil memberikan sebotol air putih.
"Kamsahamida." :)
Nami pun meninggalkan Minsuk.
Dari kaca jendela di kelas, Hyosuk memperhatikan Minsuk.
Tengah malam setelah Minsuk bekerja, ia dihadang oleh Taehyung dan Dongho.
Jikwon (Orang yang selalu membully Minsuk di sekolahnya yang dulu, telah dikeluarkan dari sekolah gara-gara Minsuk dan ia hendak membalas dendam kepada Minsuk dengan bantuan Daesung)
Minsuk sedang ditelphon Jimin. Jimin dan Sungjae sedang menunggu Minsuk di depan rumahnya.
Jimin: Apa kau sudah selesai?
Minsuk: Ne, aku sedang berjalan menuju rumah. Ada apa?
Jimin: Aku dan Sungjae kedinginan di depan rumahmu. Cepat pulang!
Minsuk: Apa kalian ingin memakan sesuatu? AKu belikan di jalan..
Tiba-tiba Minsuk ditarik oleh Dongho dan Taehyung. Ponselnya terjatuh.
Jimin: Hello.. Minsuk!! Hello..
Daesung menendang ponselnya.
Jimin mulai khawatir.
"Ada apa?"
"Sepertinya terjadi sesuatu pada Minsuk. Ayo kita cari dia!!", Jimin.
Minsuk berusaha melindungi dirinya.
"Lepaskan aku!! Apa yang kalian inginkan? Lepaskan!!"
Minsuk sangat terkejut bertemu Jikwon. Ia pun mulai merasa gelisah.
"Lepaskan!! Lepaskan aku!!"
"Minsuk, sudah lama kita tidak jumpa?", Jikwon melayangkan pukulannya di pipi Minsuk.
Minsuk berusaha melawan tapi apalah daya, teman-teman Jikwon sangat kuat. Minsuk benar-benar kesakitan karena dikeroyok. Hyosuk tidak tega melihat Minsuk yang telah tidak berdaya, ia hanya berpura-pura ikut memukul. Minsuk pun berusaha berlari dan menghindari mereka. Ia bersembunyi di bawah tangga. Semuanya masih mengejar Minsuk.
Minsuk ingin menghubungi Jimin tapi ponselnya tidak ada.
Hyosuk orang pertama yang melhatnya. Minsuk sudah benar-benar tidak berdaya. Ia ketakutan setengah mati melihat Hyosuk mendekatinya.
"Ja..jangan.. Jangan Hyosuk.. Jangan! ..ku mohon jangan...", nafas Minsuk sudah sangat lemas. Penglihatan matanya mulai kabur.
Daesung melihat Hyosuk.
"Dimana anak itu?"
"Oh, dia tidak ada disini."
Hyosuk pun mengalihkan perhatian Daesung dan kawan-kawannya. Ia berusaha melindungi Minsuk.
Setelah Minsuk tidak ditemukan dan Jikwon menyuruh mereka untuk pulang, Hyosuk diam-diam kembali ke tempat ia meihat Minsuk.
Minsuk masih bersembunyi dan ketakutan. Ia tidak berani untuk keluar dan ia kembali sangat ketakutan ketika melihat Hyosuk kembali.
"..Jangan.. Ku mohon jangan Hyo... Ja...", dengan sisa tenaganya Minsuk berusaha menjauhi Hyosuk.
Hyosuk pun segera menuntun Minsuk masuk ke taksi lalu dibawa pulang ke rumahnya. Minsuk pun pinsang saat di perjalanan.
Minsuk dibaringkan di rumah Hyosuk. Hyosuk mengobati luka-luka Minsuk.
Hyosuk sangat menyesal karena tidak melindungi Minsuk dari awal.
Di sofa ruang tamu, Minsuk masih terpejam.. Hyosuk duduk di kursi depan Minsuk. Ia tidak tega melihat wajah Minsuk yang penuh luka sebam. Hyosuk teringat ponsel Minsuk yang ia ambil sebelum menemui Minsuk.
Hyosuk terharu melihat beberapa foto di ponsel Minsuk. Foto dirinya bersama Minsuk 9th yang lalu saat mereka masih SD. Bahkan ada foto Hyosuk saat di kelas yang duduk di samping Minsuk.
Hingga hari hampir subuh, Hyosuk masih menunggu Minsuk terbangun.
Ketika Hyosuk mulai mengantuk, Minsuk terbangun. Ia kembali ketakutan melihat Hyosuk. Hyosuk tersadar dan berusaha menenangkan Minsuk. Minsuk berusaha menghindari Hyosuk sampai ia terjatuh karena mersakan sakit di perutnya. "Aaaahh.. A-aaa..", Minsuk kesakitan.
"Minsuk, ada apa? Apa yang sakit? Minsuk, katakan sesuatu?!", Hyosuk gelisah.
"Minsuk.. Yaaa Minsuk, buka matamu.. Ada apa? Apa yang sakit? Minsuk!!"
Hyosuk pun membawa Minsuk ke Rumah Sakit.
Dokter mngatakan ada penyakit di perut Minsuk dan ia harus segera diopersi. Hyosuk mangeluarkan tabunganya untuk biaya opersi Minsuk.
Hyosuk menghubungi Jimin. Karena ponsel Minsuk mati, ia memakai ponselnya sendiri.
Jimin dan Sungjae masih menunggu Minsuk di depan rumah setelah semalam tidak menemukan dan tidak bisa menghubungi Minsuk.
Jimin: Hello.. Hyosok? Kau Hyoseok kan? Katakan dimana Minsuk!!!!
Hyosuk: Cepat datang ke rumah sakit!
Jimin dan Sungjae bergegas ke RS. Begitu tiba di RS, Jimin langsung marah kepada Hyosuk.
Jimin dan Sungjae bergegas ke RS. Begitu tiba di RS, Jimin langsung marah kepada Hyosuk.
"Apa? Apa yang kau lakukan kepada Minsuk?!! Huh?!!"
Sungjae berusaha menenangkan Jimin.
"Jimin tenaglah! Ini rumah sakit, jangan membuat keributan."
Hyosuk menyerahkan ponsel Minsuk lalu pergi meninggalkan RS.
Jimin jatuh lemas.. "Minsuk.. apa yang terjadi?.. Kenapa kau disini?.."
Jimin sangat mengkhawatirkan keadaan Minsuk. Jongseok menelphon Sungjae setelah matahari hampir terbit.
Jongseok: Apa Minsuk sudah kalian temukan?
Sugjae: Dia masih di ruang ICU.
Jongseok: Mwo??? Apa yang terjadi?
Sungjae: Aku juga belum tahu. Nanti kita bertemu di sekolah.
Jongseok: Bagaimana Jimin?
Sungjae: Dia sedang duduk di depan ruang ICU menunggu Minsuk.
Sungaje pun berangkat sekolah setelah operasi selesai dan Minsuk di pindahkan ke ruang perawatan. Jimin memilih untuk menemani Minsuk.
"Ijinkan guru Hwang, aku menemani Minsuk disini."
"Baiklah. Aku pergi dulu. Nanti aku kembali setelah sekolah."
Di kelas Hyosuk meletakkan kepalanya di meja menghadap jendela. Ia masih mengkhawatirkan Minsuk.
Guru Hwang datang dan pelajarannya.
"Apa ada yang tahu kenapa Jimin dan Minsuk tidak berangkat?'
Sungjae menjawab, "Minsuk baru saja dioperasi tadi pagi dan Jimin menemaninya di rumah sakit."
"Ha? Minsuk sakit? Anak-anak kalian harus menjenguk Minsuk!"
"Oh tidak perlu guru. Nanti aku dan Sungjae akan ke rumah sakit. Minsuk baik-baik saja." Jongseok. :)
Daesung, Dongho dan Taehyung cukup terkejut mendengar Sungjae mengatakan bahwa Minsuk baru saja menjalani operasi.
Setelah guru meninggalkan kelas jam istirahat, Jongseok menghampiri Hyosuk.
Sambil merenggut kerah baju Hyosuk, Jongseok meluapkan kekesalannya
"Katakan!! Kau apakan Minsuk?!! Katakan!! Kenapa kau menyakiti Minsuk?!! Jawab aku!! Jawab!! Apa sekarang kau merasa bersalah?!! Huh? Jawab aku!!!"
"Jongseok sudahlah.. Ini sekolah, jangan membuat keributan!", Sungjae melerai.
Taehyung memukul Jongseok.
"Aish!! Lepaskan tanganmu dari Hyosuk!!"
Sebelum terjadi perkelahian, Sungjae mengajak Jongseok pergi.
Daesung, Dongho, Taehyung dan Hyosuk berkumpul di lantai atap.
"Ada apa denganmu Hyosuk?", Daesung.
"...Sudah dua hari kakakku tidak bisa dihubungi. Aku sedang mengkhawatirkannya. Kalian mengerti kan, dia satu-satunya keluargaku?"
"Kakakmu namja, kenapa kau harus mengkhawatirkannya?", Dongho.
"Karena dia satu-satunya keluargaku!!!!"
"Ah maaf, iya aku mengerti."
"Apa kau sudah mencarinya ke tempat dia bekerja?", Taehyung.
"Semalam saat kau telphon, aku sedang di club mencari Yeonsuk hyung. Temannya bilang sudah dua hari kakak tidak bekerja. Ponselnya tidak aktif dan.."
"Kalau begitu kita akan membantumu mencari Yeonsuk hyung", Daesung.
"Tidak perlu.." "Aish!! Mungkin hyung sedang ingin sendiri." Hyosuk pun pergi ke kelas.
Sebelum masuk kelas Nami memberi tahunya kalau guru Hwang menyuruh Hyosuk untuk ke kantor guru.
"Guru Hwang memanggilmu. Pergilah ke kantor!" Nami
"Hmm.."
Hyosuk pergi ke kantor.
"Hyosuk!! Kau tidak mengerjakan tugas Math lagi? Sebelum pulang kau harus sudah menyelesaikannya. Mengerti?!!" guru Hwang.
"Ne"
"Kembalilah ke kelas"
Di kelas Taehyung duduk di kursi Hyosuk.
"Kau dari kantor?"
"Aku belum mengerjakan tugas Math. Nanti aku akan pulang setelah aku menyelesaikannya."
"Kalau begitu aku akan menemanimu! Bagaimana?"
"Tidak perlu, guru Hwang pasti akan mengawasiku. Aahhh~~"
Sepulang sekolah, Hyosuk telah ditunggu guru Hwang di perustakaan. Ia harus mengerjakan tugas Math sebelum meninggalkan sekolah.
Sungjae dan Jongseok segera pergi ke RS.
Minsuk baru saja makan setelah beberapa saat tersadar.
"Hay, kau sudah lebih baik?", Sungjae.
"Hmm" :)
"Semalam aku ingin keluar dari rumah tapi umma mengunci kamarku. Umma benar-benar mengawasiku", Jongseok. :(
"Karena kalian sudah disini, aku ingin keluar dulu untuk makan", Jimin.
"Oke, makanlah!", Sungjae. :D
Jimin pun keluar dan mengambil segelas kopi. Ia duduk untuk meminum kopinya. Karena mengantuk, Jimin pun tertidur di kursi itu.
Sungjae menanyakan apa yang terjadi semalam kepada Minsuk.
"Semalam Hyosuk yang menelphon Jimin. Apa dia yang membawamu kemari?"
"Aku tidak ingat apa-apa saat bangun tadi. Tapi sepertinya semalam aku tidur di sofa dan Hyosuk duduk di hadapanku. Ku pikir itu hanya mimpi.."
"Apa yang terjadi semalam? Kau kemana saja?", Jongseok.
Minsuk menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, ini aku bawakan jeruk. Kau suka jeruk kan?", Sungjae.
"Gomawo." :)
"Jongseok, kau juga suka kan? Ini makanlah!" :D
"Gomawo." :)
"Aku ambikan kopi dulu ya?"
"Okay!"
Sungjae pun keluar untuk mencari kopi. Ia tertawa kecil melihat Jimin yang tertidur duduk di kursi.
"Jimin, bangunlah! Ayo pindah ke kamar Hyosuk!"
Sungjae menuntun Jimin yang mengantuk untuk berbaring di ranjang kamar Hyosuk dirawat.
"Haha.. Jimin sangat mencemaskanmu tadi malam. Dia pasti tidak bisa tidur saat kau belum bangun", Sungjae.
"Maaf, aku jadi merepotkan kalian."
"Ahh tidak. Kau kan teman kami jadi kalau kau ada masalah katakan saja!"
"Kami pasti akan membantumu", sambung Jongseok.
06.20
Malam.. Jongsuk telah pulang karena harus tepat waktu di kamarnya. Sungjae menelpon ibunya kalau dia di RS menemani temannya. Jimin pulang untuk ganti baju dan akan kembali lagi.
"Minsuk, apa kau sungguh baik-baik saja? Apa lukamu ada yang sakit?", Sungjae bertanya keadaan Minsuk.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskanku."
"Apa teradi sesuatu? Hmm? Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya?"
"Kau pasti sudah dengar dari dokter kan? Perutku memang sakit tapi sekarang sudah tidak apa-apa seteah operasi."
"Ahh bukan itu maksudku.. Apa kau berkelahi dengan seseorang? Seorang suster bilang kau habis dipukuli orang. Siapa?", Sungjae sangat penasaran.
"Apa Hyosuk dan teman-temannya?"
"Ah, itu tidak benar. Kau tidak mengantuk?", Minsuk mengalihkan pembicaraan.
"Aish~ Baiklah, aku akan tidur kalau kau tidak mau bercerita."
Sungjae pun rebahan di tempat tidur sebelah.
"Sebelum tidur, umma selalu mengirim pesan kepadaku. 'Apa Sungjae sudah tidur? Selamat malam..' Walau umma sibuk, umma tetap perhatian keadaku. Bisa melihat wajah umma saat sarapan atau saat umma pulang kerja, itu sudah membuatku tenang. Eh tunggu sebentar, Jimin sms."
[Jimin: Aku akan terlambat ke RS. Aku harus menunggu ayah pulang dulu. Apa Hyosuk sudah tidur?]
[Sugjae: Hampir tidur.]
[Jimin: Kau juga harus segera tidur! Besok kan sekolah.]
[Sungjae: Ne :) ]
Sungjae pun melanjutkan ceritanya.
"Jimin sedang menunggu ayahnya pulang."
"..Aku dan Jimin berteman sejak aku pindah sekolah saat SD. Kami selalu bersama-sama kemana pun. Belajar bersama dan berpetualangan bersama. Dulu ada noona(kakak perempuan) yang menjadi guru kami saat belajar bersama, tapi setelah kakak pergi ke luar negri, aku dan Jimin tidak lagi belajar bersama."
"Kenapa?"
"Jimin harus merawat rumahnya karena orang tuanya berpisah. Sekarang Jimin tinggal bersama ayahnya. Dia anak tunggal."
"Ayahmu?"
"Ayah seorang diploma dan sekarang ayahku sedang bekerja di Japan."
"Apa ibumu sangat sibuk?"
"Umma sangat mencintai pekerjaanya sebagai seorang reporter. Bahkan ayah tidak bisa membujuk umma untuk ikut dengannya. Saat masuk SMA dan berteman dengan Jongseok, aku bersyukur, karena aku masih bisa bebas walau umma mengawasiku. Jongseok tidak bisa bebas bermain-main seperti aku dan Jimin. Dia sering dikurung di kamar jika ketahuan bermain sampai malam dengan aku dan Jimin. Tapi dia tidak pernah bosan dihukum oleh ibunya."
"Apa Jongseok punya saudara?"
"Jongseok punya adik perempuan dan (hyung)kakak laki-laki. Karena kakaknya sudah bekerja, dia bebas dari peraturan, itu kata Jongseok. Yaah itulah kami bertiga dan kami senang kau menjadi teman kami."
"Umm.. Orang tuaku meninggal saat aku berusia 9 tahun dan aku tinggal di Panti Asuhan sampai lulus SMP. Aku kembai kesini karena aku sangat merindukan orang tuaku. Aku bertemu paman pemilik mini market tempatku bekerja. Paman itu memberiku pekerjaan serta rumah di atap. Paman Seo menganggap semua karyawan sebagai anaknya sendiri. Dia sangat baik kepada kami semua."
Ketika Minsuk menceritakan kehidupannya, Hyosuk sedang ada di luar dan jadi mendengarkannya.
"Emm.. lalu kenapa.."
"Kenapa?"
"Ah tidak jadi. Aku lupa mau bertanya apa."
"Kenapa aku dikeluarkan dari sekolah? Aku sudah biasa mendapat perlakuan kasar dari kakak kelas saat di panti.. dan aku tidak menyangka kalau perlakuan itu berlanjut di SMA. Aku selalu meyakinkan diriku kalau aku akan baik-baik saja tapi akhirnya aku dikeluarkan dari sekolah. Ku pikir Daesung akan menjadi waspadaku tapi terima kasih karena kau Jimin dan Jongseok mau manjadi temanku. Ku rasa aku sungguh baik-baik saja.."
"Apa.. benar Daesung yang memukulimu?"
"Oh tidak. Bukan mereka."
"Ahh baiklah~ Jalja~~(Selamat malam)." (-_-)
Hyosuk masih di luar. Dia menunggu hampir sejam sebelum masuk untuk menjenguk Minsuk.
Hyosuk merapikan selimut dan menyelimuti tangan Minsuk. Ia memperhatkan wajah Minsuk beberapa saat. Ketika Hyosuk membuka pintu untuk keluar, Minsuk terbangun dan memanggil Hyosuk.
"Hyosuk.."
Hyosuk segera keluar. Jimin baru saja datang. Ia kesal melihat kehadiran Hyosuk.
"Apa yang kau lakukan disini?!! Huh?!! Kau yang telah membuat Minsuk celaka bukan??? Sedang apa kau disini huh?!!", Jimin hampir melayangan kepalan tangannya tapi Sungjae mencegahnya.
"Jimin, ini rumah sakit. Jangan membuat keributan disini. Hyosuk!! Sedang apa kau disini? Kalau mau menjenguk Minsuk, jangan masuk diam-diam."
Hyosuk pun bergegas pergi.
"Hei!! Kau mau kemana?!! Kau belum menjawabku!!", Jimin masih kesal.
"Jimin, cukup! Ayo masuklah~"
"Apa Hyosuk sudah pergi?", tanya Minsuk.
"Hemm", Sungjae.
"Anak itu sangat mencurigakan", Jimin.
Pagi harinya Jongseok tiba di kelas paling awal. Karena masih sepi, ia pun belajar sampai mengantuk. Jongseok menyandarkan kepadalanya dengan tangan dan matanya terpejam. Ia hampir jatuh ke belakang saat Nami masuk ke kelas. Nami membantunya.
"Aigoo.. Kenapa aku ngantuk begini.."
"Apa semalam kau kurang tidur?'
"Aku tidak bisa tidur nyenyak karena adikku sakit dan terus menangis. Tapi dia sudah baik-baik saja tadi pagi."
"Umm.. bagaimana keadaan Minsuk?"
"Oh, nanti malam dia sudah bisa tidur di rumah. Kalau kau ingin menjenguknya, nanti sepulang sekolah kau bisa pergi denganku dan Jimin Sungjae."
Taehyung dan Hyosuk baru datang.
"Baik, nanti sepulang sekolah aku ikut kalian menjenguk Minsuk." :)
"Okay!" :)
"Hyosuk!", Nami memanggil Hyosuk yang baru saja duduk.
"Apa?'
"Kau belum mengumpulkan tugas bahasa dan guru Shi menyuruhmu untuk menyelesaikannya nanti siang."
Hyosuk mulai kesal dengan tugasnya.
Jam istirahat siang, Hyosuk pergi ke perpustakaan utk menyelesaikan tugas bahasanya. Daesung, Dongho dan Taehyung menghampirinya.
Daesung memberikan contekan untuk tugas bahasa Hyosuk.
"Terima kasih", Hyosuk. :|
"Belakangan ini kau mulai berubah.. Apa terjdi sesuatu dengan kakakmu?"
Hyosuk terdiam.
"Kenapa kau diam saja?", Dongho.
"Kakakku masih belum ada kabarnya.."
Ketika jam makan siang, Hyosuk mendapat sms dari kakakknya (Yeonsuk).
[Yeonsuk: Aku ada di rumah. Jam berapa kau pulang sekolah?]
Hyosuk langsung berlari pulang meninggakan sekolah.
Setelah mengetuk pintu, Yeonsuk membukakan pintunya tapi ia terjatuh karena sedang sakit. Ada beberapa luka lebam di wajahnya.
"Hyung.. apa yang terjadi? Hyung.. Hyung..?"
Yeonsuk sangat lemas dan tidak bisa menjawab Hyosuk.
"Hyung.. kenapa kau jadi begini? Siapa... Hyung.."
Hyosuk pun membawa kakaknya ke Rumah Sakit yang sama dengan Minsuk dirawat.
06.22
"Hyung, apa yang terjadi?"
"..Aku menyaksikan sebuah pembunuhan.."
"Apa??"
"Mereka pasti sedang memburuku.."
"Hyung, aku akan mengantarmu ke kantor polisi. Bagaimana?"
"Tidak perlu.. Jangan khawtir."
Sepulang sekolah Nami ikut Jimin dkk menjenguk Minsuk di RS.
Ketika masuk ke RS, Hyosuk bertemu Nami di meja regristasi.
"Hey Hyosuk, kau sedang apa disini? Apa kau juga menjenguk Minsuk?"
"Tidak", jawab Hyosuk berlalu.
Nami pun ke ruang Minsuk dirawat. Hyosuk kembali ke ruang kakaknya.
Hyosuk ditelphon oleh guru Hwang.
Guru Hwang: Hyosuk, kau dimana? Kenapa membolos?
Hyosuk: Aku di Rumah Sakit.
Guru Hwang: Apa sama dengan Minsuk dirawat?
Hyosuk: Ne..
Guru Hwang: Baiklah, aku akan segera kesana!
Hyosuk: Guru.. guru!! (Guru Hwang telah menutup telphonnya.) Aish~~
Nami membawa jeruk untuk Minsuk.
"Ku dengar dari Jimin, kau suka buah jeruk. Jadi aku bawakan jeruk untukmu."
"Terima kasih."
"Apa kau sudah membaik?"
"Iya. Nanti malam aku sudah bisa pulang."
"Baguslah kalau begitu. Umm.. aku membawa tugas bahasa dari guru Shi dan aku akan membantumu mengerjakannya.."
"Terima kasih." :)
Nami tersenyum kepada Minsuk. Jongseok memperhatikan Nami dan Minsuk.
Nami mengelupas kulit jeruk untuk Minsuk. Ia juga memberikan jeruknya kepada Jongseok.
"Jongseok, apa kau sedang melamun?"
"Oh tidak.."
"Aaa kau melamun. Ini jeruk untukmu!"
"Terima kasih.."
Guru Hwang datang ke RS untuk menjenguk Minsuk tapi dia juga ingin bertemu Hyosuk terlebih dahulu.
"Hyosuk, apa kau sakit?"
"Tidak."
"Lalu, siapa yang sakit?"
"Umm.. kakakku."
Guru Hwang pun meminta Hyosuk mengantarnya bertemu kakak Hyosuk.
Yongsuk sedang tidur ketika guru Hwang menjenguknya.
"..Kalau kau butuh bantuan katakan saja!"
"Guru, apa anda bisa meminjami uang untuk membayar biaya perawatan kakakku? Aku pasti akan segera menggantinya."
"Tentu saja bisa. Apa.. terjadi sesuatu dengan kakakmu?"
"Aku tidak tahu.."
"Semua muridku adalah anakku dan kakakmu pernah menjadi muridku. Kalau ada apa-apa katakan saja padaku, aku akan pasti akan membantu kalian. Jangan sungkan." :)
"Terima kasih, guru."
Guru Hwang pun menjenguk Minsuk. Nami sudah pulang.
"Minsuk, bagaimana kabarmu?"
"Guru Hwang, aku baik-baik saja."
"Nanti malam, Minsuk sudah bisa pulang. Sekarang tinggal menghabiskan infusnya", terang Jimin.
"Baguslah kalau begitu. Tapi.. wajahmu tidak baik-baik saja. Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Ahh.. tidak, tidak apa-apa."
Setelah Guru Hwang pergi, Edison Choi yang pernah ditolong Minsuk dari Daesung datang menjenguk Minsuk. Dia senang karena Minsuk mau menjadi temannya.
Daesung sedang bersiap untuk pergi. Ketika hendak meninggalkan kamarnya, ia mendengar percakapan ayahnya dengan para pengawal.
"Cepat cari rumah orang itu dan tangkap dia sesegera mungkin!!!"
"Baik bos!!"
Setelah ayah dan para pengawal meninggalkan ruang tamu, Daesung pun keluar dari kamanya. Ia melihat sebuah foto di meja. Daesung sangat tercenga karena foto itu adalah kakak Hyosuk.
"Yeonsuk hyung?", batin Daesung.
Daesung pun mengirim sms kepada Hyosuk.
[Daesung: Kau diaman?]
[Hyosuk: Kenapa?]
[Daeung: Kau dimana?!!]
[Hyosuk: Aku menemani Yeonsuk hyung di Rumah Sakit. Ada apa?]
[Daeung: Ya sudah.]
"Ada apa dengan anak ini?", pikir Hyosuk.
Nami bertemu Eunyong di sebuah kafe. Dia sedang duduk sendirian menikmati secangkir kopi.
"Nami!!"
"Eunyong, ada apa?"
"Apa Sungjae masih di rumah sakit?"
"Hemm.. kenapa?"
"Ah tidak.. Dia hanya tidak membalas smsku."
"Sungjae.. Sepertinya dia tidak membawa ponsel. Tadi ku dengar ponselnya tertinggal di perpustakaan. Lalu Jimin menghubungi petugas perpustakaan."
"Ohh..begitu rupanya."
"Kau tidak menanyakan keadaan Minsuk yang sakit?"
"Aku kan tidak mengenalnya~"
"Aigoo.."
Guru Hwang memikirkan keadaan Minsuk dan Yeonsuk.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengan Yeonsuk tapi apa...? Dia anak yang baik dan rajin. Sangat berbeda dengan Hyosuk yang pemalas.. Minsuk.. aku harus mencari tahu tentang dia.."
Guru Hwang mencari tahu tentang Minsuk di sekolahnya yang dulu.
Malam itu juga Yeonsuk meninggalkan RS. Saat keluar dari RS, Yeonsuk dan Hyosuk berpapasan dengan Sungjae dan Minsuk di depan RS. Hyosuk bertatapan sesaat dengan Minsuk dan Sungjae.
"Hyosuk, seragam anak itu sama denganmu. Apa kau mengenalnya?"
"Tidak."
Hyosuk dan Yeonsuk masuk ke dalam taksi.
Minsuk memperhatikan mereka berdua.
"Yeonsuk hyung.."
"Apa?"
"Ahh tidak.."
Jimin dan Jongseok keluar.
"Kalian lama sekali!", Sungjae.
"Tadi antri dulu di toilet.", Jimin.
Mereka pun mengantar Hyosuk pulang dengan naik bus bersama-sama.
Untuk pertaman kalianya mereka masuk rumah Hyosuk.
"Rumahmu rapi sekali..", Jimin.
"Kau benar-benar tinggal sendiri?", jongseok.
"Sejak keluar dari panti, aku tinggal sendiri disini."
Paman Lee pemilik toko datang membawa makanan untuk Minsuk dan teman-temannya.
"Maaf, paman tidak sempat menjengukmu di rumah sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku sudah lebih baik setelah operasi. Terima kasih paman."
"Ya sudah, makanlah. Paman pergi dulu."
"Terima kasih atas makan malamnya paman!!!", Jimin, Sungjae dan Jongseok.
"Terima kasih paman!"
"Wah.. pama itu benar-benar baik. Aku percaya dengan ceritamu", Sungjae.
"Yaaa cerita apa?", Jimin.
"Paman itu pemilik toko tempat kau bekerja?", tanya Jongseok.
"Iya. Dia yang memberiku rumah atap ini. Dulu rumah ini ditinggali oleh karyawan sebelum aku. Karyawan itu pergi setelah dia lulus kuliahnya."
Jongseok ditelphon ibunya.
"Aish~~ aku belum selesai makan~ Umma pasti menyuruhku pulang."
'Umma: Jongseok!! Kau dimana?!! Cepat pulang!!'
'Jongseok: Aku massih di perpustakaan dengan Sungjae. Baik umma, aku akan segera pulang.'
"Kenapa kau berbohong?", Sungjae.
"Umma akan menghukumku jika aku bermain-main. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok."
"Hati-hati di jalan", Jimin.
"Terima kasih Jongseok", Minsuk.
"Hemm.. Aku pulang dulu."
Sungjae, Jimin dan Minsuk makan malam bersama. Usai makan malam, Sungjae mendapat sms dari ibunya. Ia menunjukkan sms-nya kepada Jimin dan Minsuk.
[Sungjae umma: Sungjae, apa kau sudah makan? Kau dimana? Umma menunggumu di ruang security. Cepat pulang!]
"Kau tidak akan dihukum ibumu bukan?", Minsuk.
"Tidak. Setelah kakakku pergi ke luar negri, umma sangat memperhatikanku walau dia sangat sibuk. Umma membiarkan aku bermain keluar karena umma tahu aku kesepian jika di rumah sendirian."
"Aku juga harus pulang sekarang. Ayah pasti menungguku. Ayo Sungjae!", Jimin.
Sungjae berkata seperti itu untuk mendapat perhatian dari Jimin.
"Terima kasih guys! Sampai jumpa besok di sekolah!", Minsuk.
Hyosuk dan kakaknya baru saja selesai makan malam dengan mie ramen.
"Hyosuk, kita harus segera pindah dari rumah ini. Paman Jang akan pulang dari Eropa dan rumah ini akan ditempati olehnya bersama istri dan anaknya. Temanku sedang mencarikan pekerjaan untukku. Kalau aku sudah mendapat pekerjaan, kita akan pindah di tempat kos temanku."
"Terserah hyung, asal jangan pernah tinggalkan aku lagi!" :)
Yeonsuk mengusap kepala Hyosuk.
"Maaf, aku hanya sedang berpetualang~~" "Oh iya, tadi temanmu di rumah sakit, sepertinya dia tidak asing. Apa aku pernah bertemu dengannya?"
Hyosuk berpikir itu Minsuk.
"Ah banyak orang yang satu sekolah denganku sering lewat di depan rumah kita, tentu saja tidak asing."
"Mungkin. Ayo tidur!"
Esok harinya Daesung, Dongho dan Taehyung memalak seorang siswa di depan sekolah. Hyosuk baru saja datang tapi dia berlalu walau melihat Daesung.
"Ada apa dengan anak itu?", Dongho.
"Ayo pergi!", Daesung teringat foto kakak Hyosuk.
Di kelas Nami duduk di kursi Taehyung untuk menanyakan tugas kepada Hyosuk.
"Pasti kau tidak mengerjakannya lagi kan? Iya kan?"
"Aishhhh~~~ Pergilah!!", Hyosuk kesal.
"Tapi.. kau harus mengerjakannya!", Nami terus memaksa Hyosuk untuk mengerjakan tugasnya.
"Hah!! Pergilah!!", Hyosuk menyentak Nami.
Taehyung datang lalu melerai.
"Hey Nami, ada apa ini?'
"Hyosuk belum mengerjakan tugasnya dan guru Shi menyuruhku untuk mengingatkannya." Nami pun kembali duduk di kursinya.
Hyosuk menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Taehyung mendekatkan mukanya di muka Hyosuk.
"Oh! Kenapa??"
"Kalau kau butuh bantuan, aku siap membantumu! ?"
Daeusng mendekati Hyosuk.
"Apa kakakmu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kemarin kau membawa kakakmu ke rumah sakit?", Taehyung.
"Darimana kau tahu?"
"Guru Hwang menghubungimu kan?", Taehyung.
"Yeon hyung baik-baik saja. Sekarang dia sedang istirahat di rumah."
Minsuk dan Jimin baru saja datang. Nami mendekati Minsuk.
"Minsuk, kau sudah mengerjakan tugasmu?', tanya Nami.
"Ada apa dengan gadis itu?", gumam Taehyung yang duduk di depan Hyosuk.
"Eung.. Semalam aku sudah mengerjakannya tapi belum selesai. Apa harus diselesaikan hari ini?", Minsuk.
"Tentu saja! Cepat selesaikan!" :)
"Oh.. baiklah.."
Minsuk tampak tidak semangat untuk mengerjakan tugasnya.
Usai waktu pulang sekolah, Hyosuk dan Minsuk dipanggil guru Shi untuk menyeelsaikan tugas mereka. Hyosuk dan Minsuk pun berada di satu ruang bersama untuk mengerjakan tugas mereka.
Hari sudah sore dan hampir gelap, Minsuk dan Hyosuk telah selesai.
Diam-diam Minsuk mengikuti Hyosuk pulang. Hyosuk menyadari ada seseorang yang mengikutinya saat dia berhenti di halte bus. Di sebuah tikungan, Hyosuk melihat Minsuk di belakangnya dari kaca spion sudut jalan. Saat dia menoleh ke belakang, Minsuk bersembunyi.
"Ya!!! Berhenti mengikutiku!!"
Hyosuk melanjutkan langkahnya. Minsuk kembali mengikutinya. Saat tiba di tangga, Hyosuk mendengar suara ramai di depan rumahnya. Ada beberapa orang yang menggedor-gedor pintu rumah Hyosuk. Hyosuk bersembunyi untuk memperhatikan mereka.
"Kenapa kau bersembunyi?", Minsuk muncul di belakang Hyosuk.
"Aish~ Kau mengagetkanku! Ayo pergi dari sini!", ajak Hyosuk menarik tangan Minsuk.
Hyosuk mengajak Minsuk menjauh dari rumahnya.
"Pulanglah!!", suruh Hyosuk kepada Minsuk.
Hyosuk berjalan membelakangi Minsuk, ia menghubungi kakaknya.
Hyosuk: Hyung, ada orang yang mencarimu di depan rumah. Apa mereka yang kau maksud?
Yeonsuk: Apa??? Kau diamana sekarang?
Hyosuk: Aku di jalan.
Yeonsuk: Kau jangan pulang dulu. Tunggulah di playground, aku akan segera kesana.
"Apa terjadi sesuatu?", tanya Minsuk. (Hyosuk terkejut.)
"Aahhh!!! Kau belum pergi? Kenapa kau mengikutiku?!!", Hyosuk sangat kesal kepada Minsuk. Ia pun langsung berlari menjauh dari Minsuk.
Minsuk sempat mengejar tapi dia kehilangan jejak karena Hyosuk telah bersembunyi.
"Hyosuk!!! Hyosuk kau dimana?!! Kenapa kau masih marah kepadaku?!! Sampai kapan kau akan menyalahkanku seperti ini?!!"
Hyosuk mendengar Minsuk karena dia ada di belakang Minsuk.
Minsuk pun pergi dari tempat itu.
Secara tidak sadar mata Hyosuk meneteskan air mata ketika ia melihat Minsuk pergi.
Hyosuk menunggu kakaknya di playground. Ia duduk di tempat bermain pasir.
Hyosuk mengingat kejadian masa lalunya saat dia marah kepada Minsuk karena orang tuanya meninggal.
/ Orang tua Hyosuk meninggal karena kecelakaan saat mereka kembali dari bandara setelah menjemput orang tua Minsuk. Saat itu usia Hyosuk dan Minsuk baru 9 tahun. Hyosuk menyalahkan Minsuk, karena jika orang tuanya tidak menjemput orang tua Minsuk, pasti mereka tidak akan mengalami kecelakaan. Sejak kejadian itu Hyosuk sangat mebenci Minsuk. Hyosuk dan kakaknya diasuh oleh paman dan bibi mereka. Sedangkan Hyosuk tinggal di panti asuhan karena tidak punya keluarga lain. Hyosuk bahkan tidak peduli kepada Minsuk yang selalu menunggu Hyosuk di depan rumahnya selama beberapa hari setelah orang tua mereka meninggal. \
"Hyosuk! Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak."
"Ayo pulang!"
"Begaimana kalau mereka masih di depan rumah?"
"Malam ini jangan ada cahaya di rumah. Kita pakai senter. Apa kau sudah makan?"
"Belum."
"Aku akan membautkan ramen untukmu. Ayo pulang!"
Ketika memasak ramen, Yeonsuk teringat seseorang yang ia lihat di mini market tempat dia membeli ramennya. (Hyosuk)
"Sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya. Dimana..?", pikir Yeonsuk.
"Aa!! Di rumah sakit! Apa Minsuk sungguh tidak mengenalnya?"
Hyosuk pergi ke dapur dengan senter ponselnya.
"Hyung, apa sudah matang? Aku lapar."
"Oh, sudah. Ambil mangkuknya, ayo makan!"
Minsuk sedang bekerja di toko.
"Yeonsuk hyung.. Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Aaah kenapa aku tidak menyapanya tadi? Pabo.."
Sungjae sedang sibuk menghitung uang tabungannya yang dia tabung di tabungan Kitty-nya. Besok adalah hati spesial untuknya. :D
"Aaa~~ syukurlah, tabungan tahun ini cukup banyak. Besok tambah Minsuk. Apa perlu aku mengajak Eunyong dan Nami juga? Umm.. tidak bisa! Ini adalah hari untuk namja! Sungaje, Jimin, Jongseok dan Minsuk.. Ya cukup kita berempat saja~"
Pagi harinya, umma menyiapkan soup rumput laut dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Sungjae dengan secarik kertas berwarna ungu. Umma juga meninggalkan sejumah uang di atas meja makan.
'Selamat ulang tahun Sungjae sayang~~ Hari ini bersenang-senanglah dengan teman-temanmu. Umma tinggalkan uang untukmu. Sebelum berangkat, nikamti dulu sarapanmu. Sampai jumpa nanti malam. \^o^/ '
Sungjae pun memakan sarapan yang telah disiapkan ibunya.
06.23
Disekolah tidak ada temannya yang mengngat hari ulang tahun Sungjae, dia juga bersikap biasa saja.
Kebetulan hari itu banyak tugas pelajaran karena sebulan lagi ada ujian dan mereka meninggalkan sekolah pada sore menjelang malam.
"Haaaahh~~ lelah sekali rasanya~", keluh Jimin saat keluar dari gerbang sekolah.
Jongseok disms ibunya karena belum pulang.
[Umma, aku masih di sekolah karena banyak tugas untuk pesiapan ujian. Aku akan terlambat pulang.]
"Apa kau mengirim pesan untuk ibumu?", tanya Minsuk.
"Hemm.. Aku ingin makan dengan kalian."
"Malam ini, aku akan traktir kalian! Ayo makan!", ajak Sungjae merangkul bahu Minsuk dan Jongseok.
Minsuk merangkul bahu Jimin yang berdiri di sampingnya.
"Let's go~!!", ucap Minsuk dan Jongseok bersama.
-Jimin-Minsuk-Sungjae-Jongseok pun pergi makan malam bersama. Mereka bercanda di jalan memilih makanan yang ingin mereka makan.
Ketika mereka makan malam di sebuah warung makan di luar, Minsuk melihat Hyosuk sedang duduk sendiri dengan memegang sekaleng kopi. Dia sibuk dengan ponselnya.
Hyosuk mendapat sms dari kakaknya kalau dia tidak boleh pulang. Orang-orang itu yang mencari Yeonsuk sedang berada di depan rumah mereka.
[Yeonsuk: Jangan pulang dulu, mereka masih di depan rumah kita. Kau dimana? Carilah tempat yang hangat dan belilah makan malam.]
Hyosuk mulai kedinginan dan kakinya telah gemetaran.
Minsuk masih menikmati makan malamnya dan Jimin telah membeli kue ulang tahun untuk Sungjae. Mereka pun merayakan ulang tahun Sungjae disana.
Minsuk tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada Hyosuk.
Minuman kaleng Hyosuk sudah habis dan ia pun menelphon kakaknya karena sudah mengantuk.
Hyosuk: Hyung, apa mereka masih..
Yeonsuk: Mereka masih disini. Apa kau sudah makan? Tidurlah di rumah temanmu. Jangan pulang malam ini. Aku akan tidur di rumah temanku. Kau jangan pulang!! (Yeonsuk menyuruh Hyosuk untuk tidak pulang malam ini.)
Hyosuk: Yaa!!!!! Aku tidur mana?!! (Hyosuk sudah sangat mengantuk.)
Ia menghubungi Dongho dan Taehyung tapi Taehyung tidak menjawab sedangkan Dongho tidak bisa memberi tumpangan pada Hyosuk. Hyosuk pun kembali menghubungi kakaknya.
Minsuk menghampiri Hyosuk.
Hyosuk: Hyung!! Yaaa!! Aku... Hyung!!!!!
"Hyosuk.."
"Aah!! Kau lagi!!", Hyosuk kesal bertemu Minsuk, ia pun memukul Minsuk hingga jatuh tersungkur .
Jimin berlari membalas Hyosuk. Jimin kesal karena Hyosuk telah menyakiti Minsuk. Sungjae membantu Minsuk bangun dan Jongseok melerai Jimin.
"Yaa!! Kau pikir kau siapa?!! Kenapa kau memukul Minsuk huh?!!"
Jimin memukul Hyosuk hingga Hyosuk jatuh tersungkur karena dia sudah sangat lelah dan mengantuk. Kepala Hyosuk berdarah karena terkena batu kecil saat tersungkur.
Telapak tangan Hyosuk berdarah setelah memegang kepalanya di dahi kiri.
"Aish!!", Hyosuk kesal tapi dia malas untuk membalas Jimin.
Hyosuk memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Dengan langkah sempoyongan Hyosuk berjalan menjauh.
"Ya kau kemana?!! Urusan kita belum selesai!!!", Jimin.
"Jimin, sudah hentikan!!", Jongseok menenangkan Jimin.
Minsuk mengejar Hyosuk.
"Ya Hyosuk kau mau kemana?!", teriak Jimin memanggil Hyosuk yang berlari.
"Jimin, jaga emosimu!", kata Sungjae.
Mereka bertiga pun mengejar Minsuk.
Setelah berlari beberapa saat, Hyosuk pun terjatuh dan duduk di jalan. Selain mengantuk dia juga pusing karena lapar.
"Apa kau sakit?", tanya Minsuk sangat mengkhawatirkan Hyosuk.
"Pergilah!", ucap Hyosuk lemas.
"Tidak. Kepalamu berdarah, ayo aku obati dulu!"
"Pergilah!", ucap Hyosuk berusaha bangkit tapi dia tidak kuat untuk berdiri.
Sungjae pun membantu Hyosuk berdiri.
"Minsuk hanya ingin mengobati lukamu. Hari ini ulang tahunku dan aku akan membelikanmu makan malam. Sepertinya kau lesu."
Hyosuk tidak bisa menolak ajakan Sungjae. Ia dibawa ke rumah Minsuk dan diobati lukanya. Jimin masih tidak suka melihat Hyosuk.
"Ayah menyuruhku untuk pulang, aku pergi dulu! Kau! Awas kalau kau macam-macam dengan Minsuk!!", Jimin.
"Aku juga harus segera pulang. Ini sudah sangat terlambat. Ayo Jimin!!", Jongseok.
"Selamat malam!!", ucap Sungjae kepada Jimin dan Jongseok yang keluar dari rumah Minsuk.
Sungjae sudah membelikan makan malam untuk Hyosuk ketika Minsuk mengobati luka Hyosuk tadi.
"Makanlah! Kau passti lapar kan?"
Hyosuk pun menikmati makan malamnya.
"Belakangan ini, kau tidak bersama Daesung. Apa kau punya masalah dengannya? Mmm.. malam-malam begini kenapa kau tidak pulang? Apa di rumahmu terjadi sesuatu?"
"Sungjae, sudahlah!", Minsuk menghentikan Sungjae terus bertanya.
Sungaje membaca sms dari ibunya. [Sungjae pulang!]
"Aku harus pulang dulu. Hyosuk! Awas jika terjadi sesuatu pada Minsuk."
"Aa sudah pualanglah!", Minsuk mengantar Sungjae keluar dari rumah Minsuk.
"Sampai juma besok di sekolah!", kata Minsuk lalu menutup pintu.
"Ya!! Minsuk~ hati-hati dengan orang itu!! Segera telphon aku jika dia menyakitimu!!!"
Hyosuk terdiam sesaat ketika hanya dia dan Minsuk di rumah Minsuk.
"..Apa aku boleh menginap untuk malam ini saja?"
"Oh denga senang hati. Aku akan siapkan selimut untukmu."
Hyosuk tidur di depan TV.
Minsuk ingin sekali mengobrol dengan Hyosuk tapi Hyosuk sudah berselimut dan memejamkan kedua matanya.
Pagi sebelum berangkat sekolah, Hyosuk pulang ke rumahnya. Ia melihat kakaknya tidur di depan rumah tetangganya.
"Hyung, kau tidur disini?"
"Ooh iya. Semalam aku malas untuk jalan jadi aku tertidur disini."
"Ayo pulang!"
Minsuk tiba di sekolah lebih dulu karena dia mengkhawatirkan Hyosuk.
"Kenapa dia belum berangkat?", pikir Minsuk.
Jimin dan Jongseok datang bersama-sama (rumah mereka bertetangga).
"Minsuk, apa anak itu belum berangat?"
"Aku tidak tahu."
Sungjae datang dan bertanya kepada Minsuk.
"Apa Hyosuk menginap di rumahmu?"
Ketika Sungjae bertanya itu, Daesung dan Dongho baru masuk kelas.
"Umm.. iya. Tapi dia pergi sebelum aku bangun."
"Apa ada barang yang hilang?", Jongseok bertanya secara spontan.
"Tidak."
Hyosuk datang, Dongho menyuruhnya untuk keluar menemui Daesung.
Daesung melihat bercak darah di kerah lengan kiri Hyosuk.
"Apa yang terjadi semalam? Apa benar kau menginap di rumah Minsuk?", Daesung.
"Aku terluka dan Minsuk menolongku. Aku sudah menghubungi Taehyung tapi dia tidak menjawabku. Dongho tidak bisa memeri tumpangan untukku tidur. Kau tidak boleh dihubungi jika malam sudah di rumah."
Tanpa berkata apa-apa Daesung pergi meninggalkan Hyosuk.
Taehyung menyibak poni yang menutupi kepala Hyosuk.
"Yaa, apa kepalamu sakit?"
"Aku tidak apa-apa", jawab Hyosuk menyingkirkan tangan Taehyung dari kepalanya.
Selama pelajaran berlangsung, Hyosuk melamun memikirkan kakaknya. Guru Hwang memperhatikannya. Usai pelajaran dan semua siswa meninggalkan kelas, guru Hwang menghampiri Hyosuk yang duduk sendiri di kelas. Guru Hwang melihat peban di kepala Hyosuk saat Hyosuk menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Aduh.. aku pusing.."
Guru Hwang duduk di kursi depan Hyosuk.
"Apa kau sakit?" (Guru Hwang melihat bercak darah di lengan baju Hyosuk.)
"Ada apa dengan bajumu? Apa ini darah?" (Hyosuk langsung menyembungikan tangan kirinya.)
"Umm.. aku baik-baik saja. Sungguh!" :)
"Bagaimana kabar Yeonsuk?"
"Oh Yeonsuk hyung baik-baik saja."
Daesung menguping dari luar saat dia tidak sengaja melihat guru Hwang masuk ke kelas. Ia teringat foto Yeonsuk di meja rumahnya waktu itu.
Daesung berpapasan dengan guru Hwang di pintu.
"Oh Daesung, apa kabar?"
Daesung hanya menundukkan kepalanya.
"Hyosuk, kau tidak makan siang?"
"Aku baru mau ke kantin."
"Tunggu sebentar! Apa kau yakin.. kakakmu baik-baik saja?"
Hyosuk sudah berada di daun pintu membelakangi Daesung.
"Hemm.."
Malam~ Hyosuk melihat orang-orang itu di depan rumahnya lagi. Yeonsuk tidak membalas sms dan tidak menjawab telphonnya. Hyosuk pun berjalan mencari kakaknya.
Daesung selesai makan malam di sebuah warung makan pinggir jalan. Dia melihat seseorang berlari karena dikejar beberapa orang. Daesung baru menyadari orang yang dikejar itu adalah Yeonsuk saat dia baru naik bus. Daesung pun berlari turun dari bus dan mencari Yeonsuk yang tadi dikejar-kejar. Daesung berlari kesana-kemari mencari Yeonsuk.
Celaka! Daesung melihat Yeonsuk yang sudah babak belur dibawa paksa oleh orang-orang itu masuk ke dalam mobil.
Daesung berlari berusaha mengejar mobil itu "Hey!! Tunggu!! Berhenti!!!" tapi dia kehabisan tenaga dan tidak sanggup mengejar lagi.
Nafasnya tersengal-sengal usai berlari mengejar Yeonsuk yang dibawa pergi orang-orang suruhan ayahnya. "Yeonsuk hyung, bertahanlah!"
Daesung pun berjalan melewati tempat dimana Yeonsuk dipukuli. Dia melihat ponsel yang tergeletak di rumput.
Daesung mangambil ponsel itu lalu menghidupkannya. Ia pun membawa ponsel itu sampai di rumahnya.
Hyosuk lelah mencari kakaknya. Ia tidak bisa masuk rumah karena kuncinya dibawa Yeonsuk. Hyosuk pun pergi ke rumah Minsuk. Minsuk belum pulang karena masih bekerja di toko. Hyosuk menunggu di depan rumahnya hingga menggigil kedinginan. "Kenapa dia lama sekali~~"
Ketika Minsuk pulang, Hyosuk sudah duduk tertidur.
"OMO, Hyosuk, bangunlah! Kenapa kau disini? Aaa tanganmu dingin sekali. Kau menggigil. Ayo masuk!", Minsuk membantu Hyosuk berjalan masuk rumah.
Hyosuk dihangatkan dengan selimut oleh Minsuk, lalu Minsuk membuatkan teh coklat untuk Hyosuk.
"Kenapa kau lama sekali..", ucap Hyosuk yang masih kedinginan.
"Aku kan tidak tahu kalau kau menungguku. Ini minumlah!", Minsuk meletakkan kedua telapak tangan Hyosuk di cangkir supaya badannya lebih hangat.
"Aku tidak bisa masuk rumah karena kuncinya dibawa kakakku. Dan aku tidak punya tempat untuk tidur malam ini. Jadi aku kesini untuk menginap lagi."
"Silakan. Kau bisa tidur disini lagi. Aku mau mandi dulu."
"Hey.. aku lapar!"
"Aahh~ baiklah, kau bisa menyeduh mie ramen ini sendiri kan?. Aku sudah mengantuk. Hari ini aku sangat lelah."
Selesai mandi, Minsuk melihat Hyosuk sedang makan sambil nonton TV. Dia suka menonton drama sebelum tidur. Sampai-sampai Hyosuk terlelap dengan TVnya mash menyala. Minsuk sudah tidur sebelumnya.
Tengah malam Daesung belum bisa tidur karena memikirkan keadaan Yeonsuk. Ayahnya juga belum pulang.
Hyosuk terbangun karena dia bermimpi kakakknya. Dia pun bangun dan menganmbil minum di dapur. Minsuk terbangun mendengar suara Hyosuk menggonta-ganti channel TV. Minsuk tidak berangjak dari tempat tidurnya, dia hanya memperhatikan Hyosuk yang tampak gelisah. Hyosuk kembali menguhungi kakaknya.
Daesung baru saja mengaktifkan ponsel Yeonsuk.
"Umma?" (panggilan masuk dari Hyosuk)
Hyosuk: Hyung, angkat telphonnya..
Daesung teringat percakapan saat Hyosuk mendapat telphon dari ayahnya.
/ "Abeoji?", tanya Taahyung meihat layar ponsel Hyosuk.
"Kau bilang ayahmu sudah meninggal", Daesung.
"Ini kakakku. Yeonsuk hyung memakai nomor ayahku dan aku memakai nomor ibuku." \
Daesung ragu menjawab panggilan Hyosuk. Ia tak tahu harus berkata apa.
Daesung kembali me-nonaktif-kan ponsel Yeonsuk.
Pagi ketika Hyosuk sedang di kamar mandi, Minsuk melihat ponseol Hyosuk bergetar. Panggilan masuk dari 'Abeoji' (ayah).
"Abeoji?"
Minsuk: Hello.. Hello..
Daesung menyadari itu bukan suara Hyosuk. Ia pun memutuskan panggilannya.
Hyosuk keluar dari kamar mandi, Minsuk memberi tahunya bahwa ada telphon.
"Hyosuk, tadi ada yang menelphon tapi saat ku angkat, dimatikan."
Hyosuk segera mengecek ponselnya. Ia pun menelphon balik kakaknya.
Nomor Yeonsuk tidak aktif. Hyosuk tampak kecewa.
"Aku berangat dulu!", Hyosuk pamit pergi dahulu.
"Ne!"
Daesung ragu untuk berangkat sekolah. Ia ingin mencari dimana Yeonsuk.
Hyosuk memikirkan panggilan di ponsel Minsuk selama di dalam bus sampai tiba di sekolah.
"Ayah? Apa Hyosuk sudah punya ayah angkat? Baguslah kalau begitu..Tapi dimana Yeonsuk hyung? Apa yang ssebenarnya terjadi?"
Saat tiba di sekolah, Hyosuk juga baru saja tiba.
"Bukankah kau sudah berangkat dari tadi?", Minsuk manyapa Hyosuk.
Hyosuk berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Minsuk.
Dongho masuk kelas sendirian.
"Taehyung, Daesung belum berangkat?"
"Belum. Apa kau tidak menghampirinya?"
"Tadi aku sudah ke rumahnya, tapi tidak ada. Ku pikir dia sudah berangkat."
Hyosuk masuk dibelakangi Minsuk.
Taehyung dan Dongho menatapnya.
"Kenapa?" 왜??
"Apa kau berangkat dengan anak itu?", tanya Dongho menunjuk Minsuk.
"Tidak." 아나.
Sesekali Minsuk menatap Taehyung dan Dongho.
"Kenapa", ucap Dongho kepada Minsuk.
"Apa Daesung tidak berangkat?", tanya Hyosuk melihat bangku Daesung yang kosong.
"Dia tidak menjawab telphonku", Dongho.
"Kemana anak itu..?", pikir Taehyung.
Hingga pelajaran berlalu, Daesung tidak juga berangkat.
Hyosuk mencari kakaknya sepulang sekolah. Ia benar-benar tidak bisa masuk ke rumahnya karena tidak ada jalan lain untuk masuk.
Daesung merasa lapar dan ia pun menghubingi Dongho. Ia meminta Dongo untuk membelikannya makan malam.
Taehyung dan Dongho pun menemani Daesung makan malam di warung pnggir jalan.
"Kau kemana saja hari ini? Kenapa tidak berangkat sekolah?", Dongho.
"Aku malas mengerjakan tugas sekolah jadi aku memilih untuk jalan-jalan."
"Kau pasti sangat lapar. Makanlah yang banyak!", Taehyung.
"Kenapa kau tidak pulang?", Dongho.
"Aku sedang mencari seseorang.."
"Apa???", Taehyung dan Dongho.
"..dan aku tidak akan pulang sebelum aku menemukan orang itu."
"Siapa? Siapa yang kau cari?", Dongho dan Taehyung penasaran.
".. Ayahku.."
Dongho dan Taehyung terdiam sesaat.
"Apa kau mau menerima bantuan kami?", Dongho.
"Iya, kami akan membantumu mencari ayahmu. Bagaimana?"
"Tidak perlu. Aku sudah selesai makan. Aku akan pergi ke rumah ibuku.. mungkin ibu tahu dimana ayahku. Aku pergi dulu. Terima kasih makannya."
Dongho pun pergi ke rumah ibunya. (Orang tua Dongho telah bercerai dan ibunya telah memiliki suami dan anak-anaknya yang masih kecil.)
Ketika Daesung hendak menghampiri rumah ibunya, ia melihat ibunya bersama keluarganya turun dari mobil. Mereka terlihat keluarga yang bahagia.
"Oh Daesung!! Apa yang membuatmu kemari?"
"Oppa! :) ", sapa anak kecil saudara tiri Daesung.
Daesung pergi meninggalkan ibunya tanpa sepatah kata pun.
"Daesung! Ada apa? Ayo bicara sebentar!"
Daesung tetap pergi tanpa menghiraukan ibunya.
06.24
Hyosuk mulai lelah karena tidak menemukan kakaknya. Ia pun duduk melamun sendirian.
Nami dan ibunya sedang belanja di mini market tempat Minsuk bekerja.
"Annyeong Minsuk. Kau bekerja disini?"
"Hemm.."
"Siapa dia?", tanya ibu Nami.
"Dia Minsuk, teman sekelasku."
"Tapi dia tidak ada di album fotomu?"
"Dia siswa pindahan dan aku belum punya fotonya. Hehe.."
"Ya sudah, ambilkan snack untuk adikmu. Jangan lupa pesanan kakakmu! Ibu ambilkan keranjangnya dulu."
"Baik, umma."
Minsuk memperhatikan Nami dan ibunya yang sedang berbelanja. Minsuk merasa iri melihat senyum Nami dan senyum ibunya saat memilih-milih barang yang perlu dibeli.
Minsuk teringat masa kecilnya saat berbelanja di sebuah supermarket dengan Hyosuk dan ibunya. Minsuk merasa iri karena Hyosuk memiliki ibu yang selalu memberinya apa pun yang dia inginkan.
Nami sudah selesai berbelanja.
"Aku pergi dulu. Sampai jumpa di sekolah!" :)
Keluar dari mini market, Nami melihat Hyosuk di sebrang jalan sedang duduk sendri.
"Umma, umma pulang duluan. Aku ada perlu sebentar."
Nami kembali masuk ke dalam mini market untuk membeli rooti dan susu.
"Oh, apa ada yang tertinggal?"
"Tidak. Aku ingin membeli roti dan susu untuk Hyosuk", jawab Nami sambil berjalam mengambil rotinya.
"Ini. Berapa?"
Minsuk pun menghitung harganya.
"Untuk Hyosuk?"
"Hemm.. Itu dia orangnya", kata Nami sambil menunjuk Hyosuk di sebrang jalan.
"Oh tunngu sebentar."
Minsuk memberikan sekantong makanan dan minuman untuk Hyosuk.
"Ini, berikan ini untuknya juga. Jangan beri tahu dia kalau ini dariku."
"Oh, baiklah."
Nami menghampiri Hyosuk.
"Ini untukmu!"
"Oh Nami, sedang apa kau disini?"
Nami pun membukakan susu kotak untuk Hyosuk.
"Ini minumlah!"
"Terima kasih."
"Kenapa kau belum pulang?" (Hyosuk masih mengenakan seragam sekolah.)
"Aku baru saja jalan-jalan."
Nami duduk di samping Hyosuk. Ia membukakan roti untuk Hyosuk.
"Ini, makanlah!"
"Iya, terima kasih."
"Kalau kau ada masalah, jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain. Berlari bersama teman itu jauh lebih menyenangkan!" :)
"Pulanglah! Seduh mie ramen itu dan makanlah! Oh iya, Minsuk bekerja di mini market itu. (Nami menunjuk mini market) Aku pergi dulu." :)
Nami meninggalkan Hyosuk. Sesekali Hyosuk menatap Nami pergi. Hyosuk melihat isi kantong plastik yang diberikan Nami. Ada minuman dan snack kesukaannya.
"Dia masih ingat apa yang aku sukai.."
Minsuk berdiri di belakang Hyosuk ketika Hyosuk hendak meninggalkan tempat itu.
"Apa kau masih belum bisa masuk rumahmu?", Minsuk.
"..Ini, terima kasih. Ayo kita makan bersama!"
:D "Ayo!!", ucap Misnuk girang merangkul bahu Hyosuk.
Dari kejauhan Daesung melihat Hyosuk berjalan dengan Minsuk.
"Ku harap kakakmu akan baik-baik saja."
Daesung menunggu ayahnya di depan pintu rumah. Karena lama menunggu tidak jelas, Daesung tertidur bersandar pintu. Sekitar pukul 2 pagi dini hari, Daesung terbangun karena mendengar suara mobil masuk melewati gerbang.
Daesung segera bersembunyi.
Yeonsuk dibawa keluar dari mobil.
"Cepat kurung dia di gudang!", perintah ayah Daesung kepada anak buahnya.
Daesung tidak tega melihat keadaan Yeonsuk yang sudah tak berdaya.
Setelah ayahnya masuk rumah, Daesung memikirkan cara membebakan Yeonsuk. Beberapa menit memata-matai penjaga yang menjaga pintu gudang belakang rumah, Daesung pun beraksi melumpuhkan dua penjaga itu. Kunci gudang telah disapatkannya. Daesung membantu Yeosuk keluar dari gudang. Celaka! Ada penjaga lain yang mengetahui Yeonsuk akan kabur. Terjadilan perlawanan. Yeonsuk berusaha melawan para penjaga itu sampai ayah Daesung ikut memukulnya. Daesung berlari menolong dan ia pun tertendang kaki ayahnya saat mendekap Yeonsuk.
"Ayah.. ku mohon hentkan!" Daeung menghalau pengawal.
"Yeonsuk hyung.. kau tidak apa-apa?? Yeonsuk hyung.." 연석형 괜찮아?
"Singkirkan anak itu!", ayah menyuruh pengawal menyingkirkan Daeesung.
Daesung menggenggam erat tangan Yeonsuk.
"Ayah.. ku mohon hentikan! Aku.. Aku akan melaporkan ayah jika ayah masih menyakitinya!" Daesung berusaha membujuk ayahnya untuk melepaskan Yeonsuk. 제발 그만해!! ㅠ.ㅠ
Beberapa saat kemudian ayah Daesung melepaskan Yeonsuk.
"Lepaskan anak itu!"
Daesung pun membawa keluar Yeonsuk dari rumah. Yeonsuk bernafas lega karena bisa terlepas dari ayah Daesung.
"Kau teman Hyosuk? Terima kasih! 효석 친구? 김사해요!
"Hemm..Hyung pasti lapar, kita duduk disini dulu."
Tubuh Yeonsuk sudah sangat lemas, Daesung pun mengajaknya duduk. Sudah tidak ada restoran atau warung makan yang buka di sekitar situ. Yeonsuk tidur di tempat mereka duduk. Daesung ingin menghubungi Hyosuk tapi dia ragu-ragu. Sesaat kemudian, ada seorang petugas tanpa seragam yang sedang patroli melihat mereka berdua.
"Ya, apa kalian baru saja berkelahi?"
"Ah tidak!"
"Temanmu, dia penuh luka. Ayo ke ikut denganku, biar ku obati lukanya."
Petugas itu pun menolong Yeonsuk dan Daesung.
Petugas itu membawa mereka ke rumahnya. Yeonsuk dibaringkan di kamar anaknya. Luka Yeonsuk dibersihkan dan diobati.
"Ini kamar anakku. Istri dan anakku sedang pergi jadi kalian bisa tidur disini malam ini. Beristirahatlah!"
"Terima kasih paman." 감사합니다 아저씨.
Daesung menyelimuti Yeonsuk lalu tidur di sampingnya.
Hyosuk terbangun lalu menghangatkan tubuhnya dengan secangkir teh panas.
Minsuk juga terbangun karena ingin buang air kecil.
"Oh, kau terbangun lagi?"
Minsuk pun berbaring di dekat Hyosuk.
"Yaa!! Menjauhlah dariku!!", Hyosuk tidak suka Minsuk dekat dengannya.
Minsuk tetap tidur di dekat Hyosuk dengan membelakanginya.
/ Kejadian sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua Hyosuk dan Minsuk. Sembilan tahun yang lalu.
"Ayah mau kemana?", tanya Hyosuk yang tengah bermain dengan Minsuk.
"Ayah dan ibu akan menjemput orang tua Minsuk di bandara. Mereka pasti sudah sangat lelah setelah perjalan jauh."
(Orang tua Minsuk baru pulang dari Australia.)
"Tapi.. ayah dan ibukku kan bisa naik bus?", kata Minsuk.
"Sebenarnya mereka ingin naik bus tapi bibi tidak sabar untuk bertemu orang tuamu. Bibi sangat merindukan ibumu.
"Sampai jumpa anak-anak! Yeonsuk, jaga adik-adikmu, ayah dan ibu pergi dulu."
"Baik bu!" 네 엄마
Setelah dua jam orang tua mereka belum kembali, mereka mendapat kabar bahwa orang tua mereka mengalami kecelakaan sepulang dari bandara.
Begitu tiba di rumah sakit, kedua orang tua Hyosuk dan Minsuk sudah meninggal semua. Hyosuk pun kesal dan menyalahkan Minsuk.
"Pergi kau dari sini!! Jika saja umma dan appa tidak menjemput orang tuamu, mereka tidak akan kecelakaan!! Pergi kau!!", Hyosuk mengusir Minsuk. Ia tidak suka melihat wajah Minsuk.
Minsuk menangis sendirian di depan rumah sakit.
"Umm.. Appa..." T.T :'( \
"Kau terus saja menyalahkan aku dan kau tidak mau melihatku sekali pun setelah kejadian itu. Beberapa hari aku datang ke rumahmu tapi kau tidak mau bertemu denganku, kau juga melarang kakakmu menemuiku. Aku terus-terusan menunggumu di depan rumahmu tapi kau sama sekali tidak peduli.
/Hyosuk kedinginan di musim salju, menunggu Hyosuk keluar dari rumahnya untuk menemui Minsuk. Minsuk merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf. Terakhir Minsuk melihat Hyosuk dan Yeonsuk pergi dengan paman mereka, Hyosuk tetap tidak mau melihat Minsuk yang berlari mengejarnya.
"Hyosuk!! Kau mau kemana?!! Maafkan aku!!" (Hyosuk telah pergi dengan mobil yang dikendarai pamannya.) 효석아 어디가는거야? 미안해요!! 미안해.. :(
Minsuk menangis sendiri dan merasa sangat kesepian setelah Hyosuk pergi bersama kakaknya. Di rumah Minsuk hanya sendiri dan tidak punya keluarga selain Hyosuk dan Yeonsuk. Akirnya Minsuk dikirim ke sebuah panti asuhan oleh guru sekolahnya. \
"Di rumah aku hanya sorang diri. Tidak ada satu pun yang menemaniku menangis.. Aku melihat sekellingku dan aku berharap itu hanya mimpi buruk sesaat. Hampir setahun aku tidak bertemu ayah dan ibuku, aku tinggal sendiri. Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada orang tuanmu yang telah merawatku, selama orang tuaku pergi. Dan.. aku tidak mendapat kesempatan untuk melihat seyum orang tuaku seperti senyum orang tuamu kepadaku.. Apa aku pantas menyalahkan orang tuamu yang menjemput orang tuaku? Jika saja orang tuaku naik bus, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.."
Hyosuk merasa sangat bersalah dan ia pun meneteskan air matanya.
Minsuk pun memejamkan kedua matanya dan kembali tidur.
Hyosuk menyelimuti Minsuk lalu kembali tidur juga.
Pagi di sekolah.
"Daesung tidak ada di rumahnya kata seorang penjaga disana", Dongho.
"Lalu apa ayahnya sudah pulang?", Taehyung.
"Tadi aku melihat ada mobil paman Kwon di dalam. Kalau ayahnya sudah pulang kenapa Daesung tidak pulang ya?"
"Dia tidak menjawab telphonku." Taehyung.
"Aku juga tidak menjawab telphonku. SMS juga tidak dibaca."
"Kita harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Hyosuk dan Minsuk masuk kelas dengan berangkulan. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Yaa, sejak kapan kalian berteman?", Eunyong.
(Taehyung cemburu melihat Hyosuk sangat dekat dengan Minsuk.)
Nami tersenyum kepada Hyosuk. Hyosuk pun membalas senyumnya. :)
Taehyung menatap tajam ke mata Hyosuk.
"Apa sebelumnya kau sudah mengenal anak itu?"
Dongho mendekat.
"Hyosuk, aku ingin bicara denganmu sebentar. Ayo keluar!" 나와!
Hyosuk mengikuti Dongho. Taehyung menyusul di belakang mereka.
"Kenapa?" 왜?
"Kemarin Daesung tidak berangkat sekolah dan kau sama sekali tidak menanyakannya."
"Lalu kenapa?" 그래서 뭐?
"Apa kau sudah gila? Kau tidak peduli dengan temanmu dan kau berteman dengan.. anak pindahan itu?!" 미쳤어?
"Daesung bukan anak kecil dan dia bisa menjaga dirinya sendiri", ujar Hyosuk lalu pergi.
"Yaa!! Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!!" Dongho kesal.
Taehyung hanya melihat mereka berdua tanpa ikut campur.
"Ayo masuk kelas!", ajak Taehyung. 클래스에 가자! :)
Jimin, Sungjae dan Jongseok mengelilingi Hyosuk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?", Jimin. 무슨야?
"Apa terjadi sesuatu pada kalian berdua?", Jongseok.
Minsuk melihat Sungjae yang tidak tahu mau beratanya apa.
"Apa?", Sungjae. 뭐?
Hyosuk kembali. Mata Jimin, Jongseok dan Sungjae mengikuti langkah Hyosuk.
Hyosuk bersikap biasa saja tanpa mempedulikan mereka bertiga.
"Aigoo..", Jimin.
Paman yang menolong Daesung adalah seorang polisi.
"Panggil saja aku paman Kang. Jika di rumah aku bukan siapa-siapa. Umm.. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?"
"Umm.. bukan apa-apa."
"Aku harus pergi bekerja. Tinggallah dulu disini. Aku sudah siapkan sarapan untuk kalian. Bantu temanmu untuk makan. Ini aku tinggalkan uang kalau kau ingin membeli makanan ringan. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Nomorku ada meja telphon."
"Tunggu.." 잠깐만..
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara sebentar." 잠깐 얘기하고 싶어.
Mereka pun duduk berdua.
"Apa yang ingin kau katakan?"
. . "Ayahku dan anak buahnya yang telah memukuli Yeonsuk hyung. Aku tidak tahu kenapa ayah menyekap Yeonsuk hyung tapi aku ingin melaporkan ayahku atas tindakan kekerasan. Aku mohon tolong aku!" 제발 도와주세요!
Paman Kim menepuk pundak Daesung.
"Aku melihat ada rasa takut di wajahmu. Baiklah, aku akan membantumu. Tetaplah disini sampai kau siap untuk melaporkan ayahmu dan Yeonsuk juga."
Polisi Kang menyuruh satpam untuk mengawasi CCTV pintu rumahnya.
"Jangan sampai ada orang yang masuk ke rumahku! Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Baik, pak."
"Aku titip mereka berdua kepadamu."
Di sekolah, istirahat siang.
Nami diberi tahu oleh guru Hwang bahwa ayahnya masuk rumah sakit.
Nami pun bersiap untuk pulang.
"Nami, apa yang terjadi?", tanya Minji yang duduk di belakang Nami.
"Ayahku masuk rumah sakit dan aku harus pulang menjemput adikku."
"Semoga ayahmu baik-baik saja.."
"Iya, terima kasih."
Nami melihat Hyosuk tersenyum kepadanya. (Senyum menyemangati.) Minsuk melihat itu.
"Nami, aku akan mengantarmu pulang."
"Terima kasih guru."
Guru Hwang mengantar Nami pulang karena Nami harus menunggu adiknya pulang sekolah sebelum pergi ke RS.
Daesung keluar untuk membeli makanan ringan. Satpam yang mengawasi CCTV, siaga menjaga pintu rumah polisi Kang. (Ada Yeonsuk sendiri di rumah)
Daesung bertemu guru Hwang saat keluar dari toko.
"Daesung! Sudah dua hari kau tidak berangkat sekolah. Kau juga tidak pamit."
"Guru Hwang.. aku.."
"Apa kau sakit?"
"Tidak.."
"Hei, aku melihat jalanmu pincang. Ayo kita bicara dulu!"
Guru Hwang membelikan kopi hangat dan mengajak Daesung untuk bicara.
"Minumlah!"
"Terima kasih."
Guru Hwang menatap Daesung dari kaki hingga kepala.
"Aku sungguh baik-baik saja." 난 진짜 괜찮아.
"Sungguh?" 진짜로?
"Hemm.."
"Wajahmu pucat, apa kau kurang tidur?"
Daesung terdiam.
"Hei, kenapa kau diam saja?"
"Semalam, ibumu menelphonku dan dia menanyakan kabarmu. Apa benar semalam kau menemui ibumu? Kenapa kau tidak bicara dengannya?"
Daesung menatap guru Hwang.
"Jangan menjadi gangster! Belajarlah yang baik dan bahagiakan orang tuamu. Walau mereka sudah berpisah, kau juga harus baik kepada ibumu. Besok kau harus berangkat ke sekolah!"
"Besok hari Minggu, guru."
"Oh iya. Ya sudah, aku harus kembali ke sekolah. AKu pergi dulu!"
Daesung ingin sekali menceritakan masalahnya kepada guru Hwang tapi dia bimbang. Daesung pun mengejar guru Hwang ketika guru Hwang pergi ke tempat memarkirkan mobilnya.
"Huh.. huh.. huh.. ", nafas Daesung ngos-ngosan mengejar guru Hwang.
"Oh Daesung, ada apa lagi?" Guru Hwang turun dari mobilnya.
"Tolong aku.." 도와주세요..
Daesung menceritakan apa yang terjadi selama dia tidak berangkat sekolah.
"Yeonsuk?"
"Guru mengenal kakak Hyosuk?"
"Iya. Dia muridku lima tahun yang lalu. Lalu bagaimana keadaannya?"
"Guru ikutlah denganku!" 선생님, 나와 함께!
Guru Hwang pun mengantar Daesung ke rumah polisi Kang. Sebelum masuk, seorang satpam menghentikan merkea.
"Tunggu sebentar. Siapa anda?'
"Hello, saya guru Hwang. Guru sekolah Daesung."
"Iya paman, dia guru kelasku."
(Saat Daesung keluar, ada orang yang berusaha masuk rumah polisi Kwon tapi berhasil dihalau oleh petugas.)
Yeonsuk sedang duduk di sofa dengan TV yang menyala. Ia bimbang mengaktifkan ponselnya.
"Yeonsuk, bagamana kabarmu?" 연석아, 어떻게 지내세요?
"Guru Hwang? Aku baik-baik saja."
"Ah lihatlah dirimu. Lagi-lagi kau penuh luka seperti ini. Apa kau berlarian kesana-kemari sendiri?"
Guru Hwang mengusap kepala Yeonsuk.
"Adikmu.. Apa kau sudah menghubungi Hyosuk?"
Yeonsuk menggelengkan kepalanya.
"Apa perlu aku menelphonnya?", Daesung.
"Jangan!! Aku tidak ingin memlihat dia mengkhawatirkanku dengan keadaanku yang begini."
"Tadi aku melihat Hyosuk berangkat dengan Minsuk, siswa pindahan. Dan.. Hyosuk tampak semangat belajar hari ini. "
"Kim Minsuk?", Yeonsuk.
"Hemm.. kau mengenalnya?"
"Aku belum pernah mendengar dia punya teman bernama Minsuk."
Guru Hwang menghubungi polisi Kang dan memberitahunya bahwa dia sedang di rumahnya untuk menjenguk kedua muridnya.
"Kalau kau tidak keberatan, masaklah makan siang untuk mereka berdua!"
"Oh, tentu saja!"
Guru Hwang pun menyiapkan makan siang untuk Dasung dan Yeonsuk.
"Terima kasih atas makannya~", Daesung.
"Maaf sudah merepotkan guru", Yeonsuk.
Setelah makan siang, guru Hwang pun pamit pulang. Sebelum pulang guru Hwang berbicara berdua dengan Yeonsuk. Daesung menguping dari pintu.
Daesung menceritakan alasan ayah Daesung menangkapnya.
"Aku tidak sengaja malihat ayah Daesung membunuh seseorang. Sebelumnya aku melihat orang itu berlari dikejar-kejar oleh sekelompok orang yang memakai masker. Sungguh aku tidak tahu kalau orang itu adalah ayah Daesung. Aku baru tahu saat Daesung menyelamatkanku dari ayahnya.."
Daesung terjatuh lemas. Ia berlari keluar dan menangis di taman depan apartemen.
Polisi Kwon sedang bertugas mencari tersangka pembunuhan. Ketika mengerebek rumah tersangka, ia terkejut melihat foto Daesung di kamarnya. Polisi Kwon pun bergegas pulang untuk menemui Daesung.
Guru Hwang sudah selesai bicara dengan Yeonsuk.
"Daesung, aku pergi dulu.. Daesung?.. Kemana anak itu?"
Pintu keluar terbuka.
"Ada apa guru?"
"Sepertinya Daesung sedang keluar. Aku pergi dulu!"
Guru Hwang melihat Daesung sedang duduk sendiri.
"Daesung!! Daesung!!"
Daesung menutup telinganya dengan telapak tangannya saat guru Hwang memanggilnya. Daesung tidak bisa menghentkan air matanya yang terus menetes.
Ketika hendak menghampiri Daesung, ada seorang pria yang duduk di samping Daesung (Polisi Kwon).
Polisi Kwon pun mendekap Daesung. Ia memahami perasaan Daesung atas kasus yang menimpa ayahnya.
Guru Hwang bertanya siapa yang disamping Daesung kepada seorang satpam. Tahu itu polisi Kwon, guru Hwang pun kembali ke sekolah.
Di sekolah, Hyosuk sedang duduk sendiri memandangi ponselnya.
"Hyung.. kau dimana sekarang? Aku ingin sekali melihatmu.."
형, 지금 어디있어? 난 정말 보고싶어요.. ㅠㅅㅠ
Hyosuk tiduran di tempat duduknya. Guru Hwang teringat Yeonsuk saat tiduran di sofa tadi.
"Hei, sedang apa kau disini?" 여기서 뭐하는거야?
"Aku mengantuk." 나는 졸려입니다.
"Hyung.. kau dimana?", keluh Hyosuk bercampur kantuk. 형.. 어디..???
Hyosuk pun memejamkan matanya dan tidur.
Guru Hwang meninggalkannya dan pergi ke kantor.
Daesung dan guru Kwon sedang mengejar orang yang membawa Yeonsuk pergi. (Ketika guru Hwang keluar, ada seseorang yang sudah siaga di luar untuk menyelinap dan membawa Yeonsuk pergi. Penjaga CCTV sedang berusaha mengejarnya karena satpam yang bertugas diluar sedang mengejar Daesung yang tadi berlari keluar. Satpam itu pun memberi tahukan polisi Kwon bahwa Yeonsuk diculik orang setelah itu mengecek ruang CCTV.)
Beberapa petugas dikerahkan untuk membantu polisi Kwon mengejar pelaku.
Terjadi pertarungan sengit saat satpam yeng mengejar tadi berhasil menangkap dua pelaku yang membawa Yeonsuk pergi. Daesung berusaha melindungi Yeonsuk sampai lengannya terluka karena seorang pelaku yang berusaha merebut Yeonsuk. Petugas tiba di tempat kejadian dan dua pelaku berhasil di amankan. Yeonsuk dan Daesung dilarikan ke rumah sakit.
Yeonsuk terbaring tak sadarkan diri. Daesung menunggunya di depan kamar dia dirawat.
Hyosuk masih tertidur di luar melewatkan pelajaran terakhir sebelum pulang.
"Kemana anak itu? Kenapa tidak masuk kelas?", pikir Taehyung.
Dongho dan Taehyung mencari Hyosuk di tempat biasanya mereka nongkrong.
"Kalian mencari Hyosuk?", tanya guru Hwang yang baru saja keluar dari kantor.
"Iya guru. Tadi dia tidak ikut pelajaran terakhir dan dia meninggalkan tasnya", Dongho.
Guru Hwang pun menunjukkan dimana Hyosuk tadi tidur. Dongho dan Taehyung berlari ke taman sekolah dimana Hyosuk tidur.
"Aigoo.. kenapa dia tidur disini?", Taheyung.
Dongho dan Taehyung pun berteriak mengageti Hyosuk.
"KIM HYO-SUK!!!!"
Hyosuk terbangun kaget sampai terjatuh dari tempatnya tidur.
"Hahaha.. ", Dongho dan Taehyung menertawakan Hyosuk.
"Auu.. Aduh.. pinggangku..", Hyosuk mengeluh kesakitan.
Mereka berdua pun membantu Hyosuk duduk.
(Minsuk sedang mencari Hyosuk dan melihat mereka bertiga sedang duduk bercanda bersama.)
"Aish~~ kenapa membangunkanku begitu?"
"Ya!! Ini sudah waktunya pulang, kenapa tadi kau tidak masuk kelas?", Dongho.
"Ahh~~ kenapa guru Hwang tidak membangunkanku?"
"Ya! Apa kau mau makan dengan kami?", ajak Taehyung.
"Aku tidak punya uang.."
"Taehyung yang akan membayarnya! Semalam aku sudah membayarnya."
"Apa maskudmu?", Hyosuk.
"Semalam Daesung menelphon Dongho dan meminta dia membelikan makan malam. Jadi kami bertiga makan bersama karena Dongho sedang di rumahku."
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Daesung?", tanya Hyosuk pelan.
"Dia bilang, dia sedang mencari ayahnya", ujar Dongho.
"Ayo kita makan?!!", Taehyung merangkul bahu Dongho dan Hyosuk.
Beberapa langkah kemudian, Daesung menelphon Hyosuk menggunakan pnsel Yeonsuk.
"Abeoji?", Taehyung melihat layar ponsel Hyosuk.
Hyosuk: Hyung? Kau dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telphonku.. Hyung.. Hello.. Hello.. ? 여보세요?
Daasung: Datanglah bersama guru Hwang!
Hyosuk: .. Daesung? Hello..? Dasung kau dimana? Daesung!!
Hyosuk melepas tangan Taehyung yang merangkul bahunya lalu dia berlari ke kantor mencari guru Hwang.
Guru Hwang sudah berada di tempat parkir. Dia mendapat kabar dari Daesung kalau Yeonsuk sedang dirawat di RS.
[Guru, aku dan Yeonsuk hyung ada di rumah sakit. Datanglah bersama Hyosuk. Aku tidak bisa menjelaskan kepadanya.]
Minsuk menyapa Hyosuk saat Hyosuk keluar dari gedung sekolah.
"Ya! Hyosuk! Jangan pulang dulu, masih ada tugas yang harus kau selesaikan bersamaku!!"
Hyosuk melangkah mundur dan menarik lengan Minsuk. Ia mengajaknya berlari ke tempat parkir. "Ya!! Kau mau kemana?!!"
Taehyung kesal melihat Hyosuk berlarik mengajak Minsuk. Dia pun melampiaskan kekesalannya kepada Edison Choi yang baru turun dari tangga.
"Choi!! Berikan uangmu kepadaku!!!"
"Uangku sudah habis. Aku tidak punya uang lagi..", Choi ketakutan.
Taehyung pun melayangkan kepalannya kepada Choi.
"Taehyung!! Apa yang kau lakukan?", Dongho berusaha menghentikan Taehyung. Ia pun menahan Taehyung.
"Cepat pergi dari sini!! Pergilah!!", Dongho menyuruh Choi untuk pergi.
Choi pun berlari menjauh.
Taehyung terjatuh dan masih merasa kesal.
"Aish!!!"
"Ya! Ada apa denganmu? Apa kau kesal karena Hyosuk pergi dengan Minsuk?"
"Tidak."
"Ah pasti iya! Ayo kita pulang!"
Hyosuk dan Minsuk pergi ke rumah sakit bersama guru Hwang.
-Hyosuk teringat ucapan Daesung beberapa hari yang lalu.-
/ "Apa kakakmu sungguh baik-baik saja?" Daesung. \
/ "Aku tidak sengaja melihat pembunuhan dan .." Yeonsuk. \
/ "Dia bilang, dia sedang mencari ayahnya", ujar Dongho. \
Tiba di rumah sakit, Hyosuk marah kepada Daesung yang sedang duduk di depan kamar Yeonsuk.
"Apa yang kau lakukan kepada kakakku?!! Huh?!!"
Guru Hwang melerai mereka.
"Hyosuk hentikan! Ayo kita masuk!"
Minsuk hanya terdiam menyaksikan karena tidak tahu apa-apa.
Hyosuk dan guru Hwang masuk ke ruang Yeonsuk dirawat.
Minsuk melihat Daesung berjalan pincang masuk ke ruang sebelah.
Minsuk ingin melihat keadaan Yeonsuk tapi dia merasa kasihan dengan Daesung yang sedirian di ruang sebelah. Minsuk pun memilih untuk menjenguk Daesung.
Daesung sedang duduk di ranjang dan memijat kakinya.
"Apa sangat sakit?" 많이 아파?
Sesekali Daesung menatap Hyosuk dan memalingkan mukanya.
"Pergilah!!" 가!!
Minsuk keluar dan kembali mambawakan segelas kopi panas untuk Daesung.
"Ini minumah!", Minsuk menaruh gelasnya di meja.
"Apa perlu aku panggilkan dokter? Sepertinya itu sakit."
"Pergilah!!", Daesung mengusir Minsuk.
Minsuk pun meninggalkan Daesung. Dia memanggil suster untuk mengecek keadaan Daesung.
Yeonsuk belum sadarkan diri. Hyosuk terdiam menatap wajah kakaknya yang penuh luka.
"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa kau berlari tanpa mengajakku? Hyung.. bangunlah!! Hyung..?"
Minsuk masuk untuk melihat Yeonsuk.
"Guru, bagaimana keadaan Yeonsuk hyung?", tanya Minsuk.
"Kau mengenalnya?"
/ "Kim Minsuk?", tanya Yeonsuk kepada guru Hwang saat di rumah polisi Kwon.\
"Hemm.."
"Kata dokter dia baik-baik saja."
"Hyosuk, kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku! Aku pulang dulu."
"Iya, pulanglah. Terima kasih."
Minsuk pamit kepada guru Hwang.
Minsuk melewati ruang Daesung. Ia melihat Daesung sudah tidur. Minsuk pun masuk sebentar untuk menyelimuti Daesung.
Guru Hwang melihat Minsuk keluar dari ruang sebelah. Ia pun mengecek ruang itu. Ternyata ada Daesung sendirian.
"Daesung.. kau sudah tidur?"
Daesung masih terjaga hanya saja dia malas membuka matanya jadi dia berpura-pura tidur. Seorang petugas datang untuk menjaga Daesung dan Yeonsuk. Guru Hwang pun pulang. Begitu tiba di tempat parkir apartemen, guru Hwang mendapat sms dari Daesung.
[Daesung: Guru, jangan beri tahu siapa pun kalau aku di rumah sakit.]
Taehyung adalah tetangga guru Hwang, dia baru saja pulang dari belajar di rumah Dongho.
"Oh Taehyung, kau darimana?", tanya guru Hwang di pintu masuk apartemen.
"Guru juga darimana?"
"Ya kenapa kau balik bertanya kepada gurumu?"
"Maaf, aku dari rumah Dongho. Aku dan Dongho sudah mnyelesaikan tugas Math besok. Ku harap tidak banyak yang salah seperti kemarin."
Mereka pun bicara sambil jalan.
"Benarkah? Coba ku lihat?!"
"Besok saja di kelas. Guru darimana? Kenapa pulang semalam ini?"
"Umm.. aku ada urusan di luar."
Guru Hwang tiba di depan rumahnya.
"Guru..", Tahyung memanggil guru Hwang yang hendak masuk rumah.
"Ada apa?"
"Daesung.."
"Ada apa dengan Daesung?"
"Apa guru bisa menghubungi ayahnya? Daesung, sedang mencari ayahnya karena itu dia tidak berangkat sekolah."
Ibu Taehyung berteriak memanggil Taehyung.
"Taehyung!!!"
"Eh, guru Hwang.. Taehyung kenapa baru pulang?"
"Dia baru saja mengerjakan tugas pelajaranku dengan Dongho", terang guru Hwang.
"Oh begitu.. Cepat pulang!"
Ibu Taehyung memukulnya dengan sapu setelah Taehyung masuk kamarnya.
"Jangan pernah berteman dengan Dongho dan Dasung lagi!!"
"Kenapa ibu memukulku?"
"Ayah Daesung sedang menjadi buronan polisi. Jangan pernah berteman dengan anak gangster itu lagi!!"
Taehyung terkejut mendengar perkataaan ibunya. Ia pun berlari keluar dan ingin mencari Daesung tapi rumahnya telah di kunci dan dia tidak bisa membujuk ibunya untuk membiarkannya keluar. Tahyung tidak bisa berbuat apa-apa. Ponselnya juga disita oleh ibunya.
Hari Minggu pagi. Minsuk pergi ke rumah sakit.
Yeonsuk sedang sarapan ditemani Minsuk dan polisi Kwon.
Yeonsuk terdiam menatap wajah Minsuk ketika Minsuk datang.
"Kim Minsuk?'
"Ne hyung.."
Yeonsuk pun mendekap Minsuk.
"Maaf Minsuk ya? Maafkan aku.."
"Tidak apa-apa hyung. Aku baik-baik saja."
"Hyosuk, sejak kapan kau bertemu Minsuk?"
"Umm.."
"Hyung, Hyosuk sangat mencemaskanmu. Aku senang bisa bertemu kalian lagi. Aku sangat merindukan kalian." :)
Polisi Kwon pun keluar untuk menemui Daesung.
Daesung sedang melamun menatap ponselnya.
"Kau tidak menghubungi temanmu atau ibumu?"
"Aku tidak ingin merepotkan mereka."
"Wartawan pasti akan mencarimu. Kau bisa ke rumahku untuk sementara waktu setelah kau membaik nanti."
"Terima kasih."
Yeonsuk senang bisa melihat adiknya kembali akrap dengan Hyosuk. Mereka bertiga bercanda seakan tidak terjadi apa-apa di masa lalu.
"Nami yang bilang kau sering tidur di kelas..", Minsuk mengejek Hyosuk.
"Ya!! Aku hanya tidak suka dengan pelajarannya~~"
"Sudah-sudah.. Aku tidak menyangka kalau kita bisa berkumpul kembali."
:)
"Oh iya, Bagaimana keadaan Daesung?"
"Dokter bilang kakinya terkilir, tapi tidak ada luka yang serius. Daesung akan baik-baik saja", Minsuk.
"Hyosuk! Kau harus menjenguknya! Dia pasti sedang sedih dan membutuhkan teman untuk bercerita. Walau ayahnya bersalah, Daesung yang telah menyelamatkanku. "
Saat makan siang, Hyosuk pun menjenguk Daesung.
"Kenapa kau baru datang? Silahkan pukul aku, jika kau marah kepada ayahku!"
Hyosuk terdiam.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku membenci ayahku.."
Hyosuk pun mendekap Daesung. Daesung tak sanggup membendung air matanya.
"Dongho dan Taehyung sangat mencemaskanmu. Aku akan menghubungi mereka."
"Jangan! Aku tidak ingin bertemu siapa pun."
"Bagaimana dengan ibumu? Ibumu pasti mengkhawatirkan keadaanmu."
"Sakit yang saat ini aku rasakan tidak lebih sakit dibandingkan aku melihat ibuku dengan kelaurga kecilnya yang bahagia. Bagaimana keadaan Yeonsuk hyung?"
"Terima kasih kau telah menyelamatkannya."
Minsuk kembali bekerja di mini market. Sungjae dan Jongseok menghampirinya.
"Sepertinya kau sedang sibuk?",ucap Jongseok melihat Minsuk yang sedang menata minuman di kulkas.
"Eh kalian, silahkan duduk."
"Sebentar, aku mau beli minuman kaleng dulu. Aku beli tiga kaleng. Berapa?", Sungjae.
Minsuk pun menghitungnya di meja kasir.
Sungjae dan Jongseok duduk di tempat duduk dalam toko dekat meja kasir.
"Dimana temanmu yang biasanya membersihkan gudang?", Jongseok.
Minsuk kembali menata minuman di kulkas.
"Oh, dia sedang merapikan gudang. Kenapa?"
"Dia temanku saat sekolah dasar. Haha.."
"Apa dia teman baikmu?", tanya Sungjae.
"Umm.. tidak. Tapi dia sering juara kelas."
"Siapa namanya?", tanya Sungaje lagi.
"Yaa!! Jangan menjadi wartawan kepadaku!!"
06.25
Taehyung bebas hari itu karena ibu sedang keluar kota ke rumah neneknya.
Dongho dan Taehyung bermain berdua di playground. Mereka berayun-ayunan.
"Dimana ya Daesung sekarang?", Dongho. (Dongho tahu rumah Daesung telah dipasangi garis polisi.)
"Dia pasti sedang sedih.", Taehyung.
"Ponselnya tidak aktif."
"Bagaimana kalau kita cari di rumah ibunya?"
Dongho dan Taehyung pun mancari Dasung ke rumah ibunya.
Sore, Sungjae dan Jongseok masih di mini market. Mereka bahkan membantu Minsuk melayani pembeli.
"Yaa mau sampai kapan kalian disini?", Minsuk.
"Aku sedang menikmati udara bebas karena keluargaku sedang pergi piknik. Aku dan Sungjae tidak ada tempat untuk bermain jadi kami kesini."
"Aku sudah selesai bekerja dan aku harus pergi ke suatu tempat", Minsuk.
"Kami tidak boleh iku?", Sungjae.
"Tidak boleh!"
"Kau mau kemana? Apa ke rumah Hyosuk? Sepertinya kau sudah sangat dekat dengan Hyosuk", Sungjae.
"Ya Sungjae! Ayo kita ke rumah Jimin! Kenapa anak itu tidak keluar(?)", Jongseok.
"Ah iya. Kami pergi dulu!", Sungaje pamit kepada Minsuk.
Minsuk berencana kembali ke RS tapi sebelumnya dia menanyakan makanan kesukan Daesung kepada Hyosuk.
[Hyosuk: Daesung suka kentang goreng.]
Minusk pun membawa kentang goreng untuk Daesung. Hari mulai gelap.
Tiba di RS, Daesung tidak ada di kamarnya.
"Suster, dimana Dasung?"
"Dia sedang keluar untuk jalan-jalan. Katanya bosan di dalam kamar."
Minsuk pun berlari keluar mencari Daesung.
Daesung sedang duduk melihat kolam ikan di taman.
"Disini kau rupanya. Ini aku bawakan kentang goreng. Makanlah!"
"Oh, terima kasih."
Minsuk duduk di samping Daesung.
"Tadi aku bertemu Dongho dan Taehyung di bus. Ku dengar mereka mau mencarimu ke rumah ibumu. Kau punya sahabat yang sangat menyayangimu, jangan sembunyikan rasa sedihmu dari sahabatmu. Sejauh mana pun kau menghindar, mereka akan terus berlari kepadamu."
"Hyosuk.. apa dia sahabat lamamu?"
"Hyosuk.. dia kakak sepupuku. Ayahku anak tunggal dan ibuku adik dari ibu Hyosuk. Kita berpisah setelah orang tua kita meninggal. Saat kau menyuruhnya untuk memukulku, dia benar-benar memukulku karena rasa dendam di masa lalu. Ah~ Apa kau perlu sesuatu?", Minsuk mengganti pembicaraan.
"Kau memberikanku makanan tapi tidak memberiku minuman. Belikan aku minuman."
"Aaa~ iya aku lupa. Tunggu sebentar, biar aku belikan."
"Aku tunggu kau di dalam."
Daesung masuk ke RS dan Minsuk pergi membeli minum.
Ketika membeli minum, Minsuk menyaksikan berita ayah Daesung di TV.
**Dongho dan Taehyung baru saja ke rumah ibu Daesung tapi ibunya tidak tahu keberadaan Daesung.
Mereka berdua tidak sengaja menonton berita ayah Daesung saat sebuah toko yang menyalakan TV menhadap luar. Para wartawan berusaha mewawancarai Daesung di RS.**
Minsuk berlari meninggalkan minuman pesanannya untuk menolong Daesung dari para reporter.
Kantong kentang goreng yang dibawa Daesung terjatuh ketika Daesung dikerumuni para wartawan.
Minsuk langsung berusaha membawa Daesung menjauhi reporter.
Mendengar suara ramai, Hyosuk melihat keluar. Ia melihat Minsuk menolong Daesung. *Ada kentang goreng berserakan di lantai dan terinjak-injak*
Dongho dan Taehyung bergegas ke RS. Tiba di RS, Daesung sudah pergi bersama Minsuk.
"Oh Hyosuk, kenapa kau disini?", Jongseok. 왜 여기에?
"Apa kau juga mencari Daesung?", Sungjae.
"Iya. Umm.. Daesung dibawa Minsuk saat reporter mengejarnya."
"Minsuk??!"
Dongho menelphon Jongseok dan menanyakan alamat rumah Minsuk.
Dongho, Taehyung, Jongseok dan Sungjae pergi ke rumah Minsuk.
Ibu Daesung mencarinya ke RS.
Kaki Daesung sakit usai berlari. Dia dan Minsuk beristirahat di taman.
"Apa kau sudah gila? Kenapa menarikku seprti itu?" 미쳤어?
"Maaf?" 죄송해요?
Minsuk melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Daesung.
"Antar aku ke rumah polisi Kwon."
"Baiklah."
Tiba di rumah polisi Kwon. Seorang anak lelaki sebaya dengan Daesung yang membukakan pintu.
"Kau mencari siapa?"
"Umm.."
"Siapa nak? Kau siapa?", tanya istri polisi Kwon kepada Daesung.
"Oh tidak, sepertinya aku salah rumah. Maaf."
Anak polisi Kwon mengangan-angan Daesung.
Setelah Daesung pergi, anak polisi Kwon menyadari wajah Daesung.
"Umma, bukankah tadi anak tersangka dari kasus yang sedang ayah tangani?"
"Oh, maksudmu anak yang menginap disini saat kita pergi?"
"Hemm.."
Anak polisi Kwano pun berlari mengejar Daseung. Tapi begitu di depan apartemen, sudah tidak terlihat.
"Aigoo.. aku lua siapa namanya~"
Dongho, Tahyung, Jongseok dan Dongho sedang menunggu Minusk di depan rumahnya.
"Apa dia tidak masih tidak mengangkat telphonnya?", tanya Taehyung.
"Hemm..", Sungjae.
"Kemana Minsuk? Kenapa belum pulang?", Jongseok.
Minsuk pulang dengan memapah Daesung. Dongho membantu Daesung menaiki naik tangga.
"Bukakan pintunya, ini kuncinya di kantongku. Ada di ponsel!", Minsuk.
Setelah masuk rumah Daesung duduk bersandar dengan meluruskan kakinya.
Sungjae segera membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.
"Ini minumlah!"
Daesung menggigil kedinginan.
Taehyung pun membantu Daesung meminum tehnya.
Minsuk menyelimuti kaki Daesung dengan sselimu.
Dongho melepas jaketnya untuk menghangatkan Daesung.
"Daesung, apa kau masih kedinginan?", tanya Jongseok.
Daesung menggelengkan kepalanya.
Dongho menyuruh Minsuk untuk keluar, dia ingin bicara kepadanya.
"Ya!! Kenapa tidak memberi tahukanku kalau kau tahu Daesung di rumah sakit?!!", tanya Dongho menarik kerah baju Minsuk.
*Jimin menyadari Minsuk dan Dongho tidak ada. Dia pun mencari mereka di luar.*
/ Melihat Dongho kesal pada Minsuk, dia teringat saat kesal kepada Hyosuk waktu Minsuk sakit. \
Taehyung datang melerai.
"Dongho hentikan! Sudahlah.."
Guru Hwang sedang di RS bersama ibu Daesung dan ayah tirinya.
Hyosuk menelphon Minsuk. Karena ponselnya di dalam rumah, Sungjae pun yang mengangkat telphonnya.
Sungjae: Hello.. Hyosuk? Ada apa?
Hyosuk: Apa Daesung di rumah Minsuk?
Sungjae: Kenapa?
Hyosuk: Guru Hwang dan polisi Kwon mencarinya.
Sungjae pun bertanya kepada Daesung.
"Daesung, apa boleh aku beritahu kepada guru Hwang kalau kau disini?"
Daesung menganggukkan kepalanya. "Hemm"
Hyosuk: Hello..
Sungjae: Iya, dia ada disini.
Hyosuk: Beritahu dia kalau guru Hwang akan kesana.
"Guru Hwang akan segera kesini."
"Ah~ Kenapa mereka semua keluar?", Sungjae.
"Apa kau sudah merasa lebih baik? Di sekolah Dongho dan Taehyung sangat mencemaskanmu. Oh iya, apa kakak Hyosuk di rumah sakit?"
"Iya", jawab Daesung singkat.
Guru Hwang, polisi Kwon dan ibu Daesung tiba di rumah Minsuk.
"Sedang apa kalian disini?", tanya guru Kwon bertemu Dongho dan lainnya di luar.
"Eh guru. Daesung ada di dalam", jawab Dongho.
Ibu Daesung melihat Daesung sedang berbicara dengan Sungjae.
".. Aku baik-baik saja."
"Sungguh? Wajahmu pucat, kau harus kembali ke rumah sakit untuk menghabiskan obatmu."
"Dasung..", ibu.
"Anda siapa?", Sungjae.
"Umma..", Daesung melihat ibunya datang.
"Umma? Oh, bibi silahkan duduk." Sungjae pun meninggalkan mereka berdua.
"Taehyung, sudah malam kenapa kau belum pulang?", tanya guru Hwang.
"Guru kan tahu aku.."
"Iya aku mengerti. Ayo ku antar kalian semua pulang?!"
"Rumahku tidak searah dengan guru", Dongho.
"Rumahku tidak jauh dari sini", Jongseok.
Ayah Daesung datang membawa makan malam.
"Sebelum pulang, ini makan bersama dulu?"
"Paman ini siapa?", Sungjae.
"Ayah Daesung", Taehyung menjawab.
"Ayah tiri..hehe", sahut Dongho.
"Terima kasih paman!", Dongho menerima makanannya.
Ayah Daesung dan polisi Kwano pun masuk ke dalam.
Guru Kwon menemani murid-muridnya makan malam di luar.
"Ya pelan-palan makannya!", guru Hwang memberikan minum kepada Sungjae yang tersedak.
Polisi Kwon menemui Daesung.
"Apa tad kau ke rumahku? Anakku mencarimu setelah kau pergi. Kenapa kau tidak masuk dan menungguku?"
"Tidak apa-apa paman."
"Sekarang lebih baik kau tinggal di rumah ibumu. Ayahmu masih menjadi buronan. Kau akan lebih aman bila bersama ayahmu yang ini."
"Nak, pulanglah bersama ibu.. Huh?"
"Adikmu pasti senang jika kau datang", ayah tiri Daesung.
"Iya, dia terus menanyakanmu seteah kemarin dia bertemu denganmu."
"Guru, bagaimana kedaan kakak Hyosuk?", tanya Taehyung.
"Oh baik-baik saja."
"Minsuk sangat dekat dengannya belakangan ini", ujar Taehyung.
Minsuk berhenti menguyah makannya sesaat.
"Kenapa?"
"Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?", Dongho.
"Saat kakaknya menghilang, Hyosuk tidur di rumah Minsuk", ujar Sungjae.
Minsuk menatap Sungjae.
"Aku benar kan?"
"Ya!! Apa berteman harus dengan orang yang dikenal lama saja?", Jongseok membela Minsuk.
"Kim Minsuk.. Kim Hyosuk.. Apa kalian saudara?", Dongho.
"Hyosuk.. ibu Hyosuk, kakak dari ibuku.."
"Apa? Berati dia sepupumu?", Sungjae.
"Hemm.."
Semua terdiam dan suasanya senyap sesaat.
Daesung keluar bersama ibunya. Dia memakai jaket ayahnya.
"Oh Daeung..", guru Hwang.
"Dongho..", Daesung mengembalikan jaketnya kepada Dongho.
"Minsuk, jaketmu ada di dalam. Aku pergi dulu."
Semua mata tertuju pada Dasung yang pergi bersama ibu dan ayah tirinya.
"Aku yakin, mereka adalah keluarga yang bahagia", Sungjae.
Dongho dan Taehyung pun bergegas pergi tanpa pamit.
"Minsuk, terima kasih telah membantu Daesung. Kalian berdua tidak pulang?"
Sungjae dan jongseok pun pamint pulang. Minsuk massuk ke rumahnya.
"Tadi kalian kemana saja sebelum kesini?", tanya guru Hwang.
"Seharian tadi kami bermain di toko tempat Minsuk bekerja. Kami juga membantunya melayani pembeli. Hari ini sangat menyenangkan! Sangat sangat menyenangkan~~", jelas Sungjae. :)
"Apa kalian sangat dekat dengan Minsuk?"
"Tentu saja. Sejak hari pertama Minsuk datang, kami yang menjadi teman pertamanya di sekolah", cerita Jongseok.
"Nah, kenapa Jimin tidak bersama kalian?"
"Jimin bilang dia ingin tidur di rumah jadi malas untuk keluar", Jongseok.
Taehyung berdiri di dekat mobil guru Hwang.
"Oh Taehyung, kau belum pulang?"
"Guru, apa aku boleh pulang denganmu? Uangku habis jadi aku tidak bisa naik bus."
"Apa hunbungan guru dengan Taehyung?", tanya Sungjae.
"Oh.. dia tetanggaku."
"Ya! Jangan bertanya kepada guru seperti itu!", Jongseok.
Taehyung pun pulang bersama guru Hwang. Jongseok dan Sungjae berpisah di jalan karena arah rumah mereka berlawanan.
Di perjalanan Sungjae memikirkan Daesung bersama keluarganya.
"Melihat Daesung bersama keluarganya mungkin Minsuk lebih merasa iri daripada aku. Kapan aku bisa hidup berempat lagi..? Setiap pagi umma menyiapkan sarapan untukku, unnie dan appa.."
Ibu Sungjae menunggunya di depan rumah.
"Apa kau bersenang-senang hari ini?"
Sungjae melepas jaketnya dan mengenakannya untuk umma.
"Kenapa menungguku di luar? Umma jadi kedinginan kan? Ayo masuk!"
"Terima kasih nak." :)
"Umma.. bisakah kita tinggal bersama ayah?"
"Kakakmu akan pergi ke Japan dan tinggal bersama ayah. Kalau kau juga ingin tinggal di Japan, umma akan mengundurkan diri. Bagaimana?"
"Tapi.. aku kan belum ujian kenaikan kelas."
"Umma mengerti. Oh iya, kau sudah makan?"
"Sudah, ayah temanku membelikan makan malam untuk kami di rumah Minsuk. Sayangnya Jimin tidak ikut karena dia tidak keluar hari ini."
"Kau tidak menghampiri ke rumahnya?"
"Jimin bilang dia malas keluar dan ingin tidur di rumah."
"Ya sudah, masuklah ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. Selamat tidur."
Jongseok tidak bisa masuk rumahnya karna keluarganya belum pulang.
Jongseok: Umma, kenapa belum pulang?
Umma: Malam ini tidurlah di rumah temanmu, umma akan tiba di rumah besok pagi. Jangan terlambat pulang ke rumah sebelum berangkat sekolah.
Jongseok: Kenapa tidak meninggalkan kunci rumahnya kepadaku?
Jongseok pun menghubungi Minsuk.
Jongseok: Minsuk, apa kau sudah tidur?
Minsuk: Baru mau tidur, kenapa?
Jongseok: Aku tidak bisa masuk rumah kaarena keluargaku belum pulang..
Jongseok pun kembali ke rumah Minsuk.
"Masuklah!"
"Huh.. kakiku lelah sekali. Aku berlari kesini karena di luar dingin."
"Lagi-lagi rumahku menjadi rumah singgah karena alasan yang sama.."
"Apa? Kau bilang apa?"
"Ahh tidak, bukan apa-apa."
"Yaa aku mendengarmu."
"Kau mau tidur di sampingku atau depan TV?"
"Depan TV saja."
Minsuk memberikan selimut dan alas tidur kepada Jongseok.
06.26
Bertemu pagi di sekolah~~
Minsuk berpapasan dengan Jimin dan Sungjae setelah turun dari bus.
"Apa kalian tidur nyenyak?", tanya Minsuk menengahi Jimin dan Sungjae.
"Kau ini bicara apa?", Sungjae.
"Aku bermimpi kau berangkat sekolah dengan Hyosuk", Jimin.
Hyosuk lewat di samping mereka. Sungjae dan Minsuk melihatnya berlalu.
"Woah.. mimpimu benar-benar terjadi. Daebak~", Sungjae.
"Ah Jimin, kau ketinggalan makan bersama tadi malam. Apa kau tahu berita tentang ayah Daesung?", Sungjae.
"Aku tahu. Aku juga melihat Minsuk di TV. Kau keren sekali!", Jimin memberikan tanda thumb kepada Minsuk.
**Ada beberapa reporter yang datang mencari Daesung di depan sekolah.**
Jimin menghentikan seorang siswa.
"Eh tunggu tunggu tunggu!!"
"Ne?"
"Siapa orang-orang itu?"
"Reporter"
"Woah.. Apa ada super idol di sekolah kita?", Sungjae.
"Mereka mencari Daesung."
Jimin dan Sungae bertukar pandang.
"Minsuk, dimana Daesung sekarang?", tanya Jimin.
"Daesung di rumah ibunya."
Taehyung ada di kantor guru. Ibu Edison telah melaporkan tindakan Taehyung yang memukul anaknya. Dia meminta agar Taehyung dihukum.
"..Besok, orang tuamu harus datang ke sekolah dan kau akan mendapatkan sangksi atas perbuatanmu", guru Hwang.
Ibu Taehyung datang ke sekolah pagi itu juga karena dihubungi oleh ibu Edison.
"Umma?"
"Ikut denganku!!"
Ibu Taehyung melayangkan tamparannya kepada Taehyung.
Taehyung hanya bisa pasrah saat ibu marah dan memukulnya.
"Dasar anak nakal!! Kenapa tidak mendengarkanku!! Jangan bermain dengan anak itu lagi!! Kenapa kau memukul anak orang?!!"
Minsuk tidak sengaja melihat Taehyung bersama ibunya dari bawah. (luar gedung sekolah)
Edison meminta maaf kepada Taehyung.
"Maakan aku.. aku tidak bermaksud mangadu tapi ibuku terus bertanya dan..", Edison berlutut di samping Taehyung duduk.
"Ya!! Menjauhlah dariku!", gertak Taehyung mendorong Edison hingga dia meja dibelakangnya tergeser. (meja depan tempat duduk Minsuk.)
Minsuk baru masuk kelas. Dia membantu Edison berdiri.
"Kau tidak apa-apa?", tanya Minsuk kepada Edison.
Edison menundukkan kepalanya.
"Duduklah." Minsuk mengantar Edison ke tempat duduknya.
(Edison duduk di belakang Sungjae.)
Sungjae menghadap ke belakang.
"Ya! apa yang terjadi? Apa kau dipukul Taehyung?", tanya Sungjae pada Edison.
Edison menggelengkan kepalang.
"Aaa kau hanya mengangguk dan menggelengkan kepalamu. Oh iya, kemarin kau bilang ada pelajaran yang ingin kau tanyakan. Nanti kita ketemu di perpustakaan, bagaimana?"
"Terima kasih." :)
"Oke." :)
Jimin dan Jongseok hanya menyaksikan pembicaraan mereka berdua.
"Kenapa?", tanya Sungjae pada Jongseok dan Jimin.
"Tidak.."
Guru Hwang pun tiba di kelas dan memulai pelajarannya.
Beberapa menit kemudian Daesung datang terlambat.
"Oh Daesung, kenapa kau datang terlambat? Lain kali jangan terlambat lagi!"
"Iya." 네
Jam istirahat setelah olah raga, ssemua siswa meninggalkan lapangan. Guru Hwang menyapa Hyosuk.
"Hyosuk, bagaimana keadaan kakakmu?"
"Yeonsuk hyung baik. Dia di rumah bersama pamanku."
Setelah guru Hwang pergi, Hyousk melihat Minsuk merangkul bahu Jimin, Jongseok dan Sungjae.
"Ya, aku kan punya hutang dengan kalian. Bagaimana kalau aku belikan minuman dan snack? Kita makan di taman."
"Hutang?", Sungjae.
"Ahh sudah ayo ke kantin!"
Taehyung dihukum membersihkan toilet selama 10 hari karena telah memukul Edison. Dongho membantunya dengan suka rela.
"Sedang apa kau disini?", Taehyung.
"Aku akan membantumu." :) Dongho tersenyum kepada Taehyung.
Minsuk, Jimin, Sungjae dan Jongseok bersantai di taman sekolah.
Hyosuk baru saja ganti baju dan hendak cuci tangan di luar. Ketika dia keluar dari gedung sekolah, dia ditabrak oleh seorang wanita yang membawa kopi cup.
Baju Hyosuk pun terkena kopi yang tumpah.
"Aish~!!", Hyosuk kesal.
"Maaf.. aku tidak sengaja. Maaf..", ucap wanita itu lalu pergi bersama temannya.
Ketika berjalan hendak menuruni tangga, Taehyung sengaja menjegal kakinya. Hyosuk pun terjatuh. (sebelum turun di tangga). Hyosuk tidak mau menanggapi Taehyung.
Minsuk dan lainnya melihat kejadian itu.
"Ya, ada apa dengan mereka?", Sungjae.
"Minsuk, apa sebenarnya hubunganmu dengan Hyosuk?", tanya Jimin.
Sungjae dan Jongseok menjawabnya. "Sepupu!" 남성 사촌.
"Sungguh?" 진짜?
"Hemm..", Minsuk.
*Hyosuk mencuci tangan dan membersihkan bajunya yang terkena tumpahan kopi. Ia sedikit kesal tapi berusaha untuk tetap tenang.*
Edison datang menghampiri Sungjae.
"Ah, sorry sorry sorry.. Ayo!", Sungaje mengajak Edison ke perpustakaan.
"Kau mau kemana?!!", Jimin.
"Aku mau ke perpustakaan!!", jawab Sungjae yang sudah berjalan menjauh.
Sungjae belajar dengan Edison di perpustakaan. Guru Hwang melihat mereka berdua ketika masuk perpus. (Sungjae siswa terpintar dan Edison siswa dengan nilai terendah di kelas.)
"Yaa kau salah disini.. Harusnya begini.." Sungjae dengan senang hati mengajari Edison.
Eunyong mendekat menyapa Sungjae.
"Sungjae, apa kau mau mengajariku juga?"
"Umm.. lain kali ya? Aku sedang belajar dengan Edison."
Eunyong pun pergi dengan rasa kecewa dan kesal.
Jimin berpapsan dengan Eunyong.
"Eunyong, apa kau bisa menemaniku mencari buku untuk ujian nanti?"
"Tidak mau!!"
"Ah menyebalkan!" Jimin pun masuk ke perpus.
Jimin melihat keseruan Sungjae dan Edison beajar bersama. Dia jadi teringat masa lalunya. / Belajar bersama Sungjae bersama kakak perempuan Sungjae. \
"Yaaa!! Ini salah lagi. Kau harus mengisinya dengan rumus yang ini.."
"Hehe maaf.."
Sungjae melihat Jimin sedang memilih buku di rak buku.
"Jimin!! Sedang apa kau disana? Kemarilah!!"
Jimin pun bergabung dengan Sungjae dan Edison.
"7 menit lagi sudah masuk. Cepat kerjakan yang ini", :) Sungjae menyuruh Edison untuk menyelesaikan soalnya.
Minsuk dan Jongseok sedang bermain bola di lapangan. (Hyosuk duduk sendiri sambil mendengarkan musik dengan headset. Dia melihat mereka berdua bermain.) Nami datang memberikan minum untuk Minsuk dan Jongseok.
"Hei, sudah hampir masuk. Berhentilah bermain! Ini aku bawakan minum!"
"Terima kasih", ucap Minsuk dan Jongseok.
Nami meninggalkan merekakemudia memberikan minum kepada Hyosuk.
"Ini untukmu!" 이거 가지세요.
Hyosuk melepas headset-nya.
"Kau baik-baik saja?" 괜찮아?
"Oh iya. Terima kasih." 오 괜찮아요, 고마워.
Nami pun duduk di samping Hyosuk.
"Sepertinya kau memang sudah baik-baik saja. Tapi kenapa kau tidak bermain dengan Minsuk?"
"Umm.. memang kenapa?'
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Ah, sudah waktunya kembali ke kelas. Ayo masuk!!", ajak Nami menarik tangan Hyosuk.
((Ada rasa di hatinya Hyosuk~~ hahaha))
Di kelas Minsuk dan Jongseok sedang merenggangkan otot-otot mereka.
"Perasaan kita bermain hanya 10 menit saja tapi kenapa rasanya pegal sekali..", Jongseok.
Jimin dan Sungjae datang berdua.
"Kalian bermain apa?", tanya Sungjae melepas tangan Jimin yang merangkul bahunya lalu duduk.
"Hanya sepak bola", Jongseok.
Hyosuk datang bersama Nami.
"Woah ada couple baru di kelas kita~~", ucap Sungjae melihat Nami yang masih menggandeng tangan Hyosuk.
Hyosuk pun melepas tangan Nami dan beranjak ke tampat duduknya.
Hyosuk melihat Minsuk sedang memijat-mijat kakinya.
"Ya, kenapa dengan kakimu?"
"Tidak, aku hanya lelah saja."
"Sepulang sekolah kau ingin bicara denganmu."
"Oh oke!"
Jimin menguap. Jongseok memasukan sedotan di mulutnya. (minuman dari Nami.)
"Hei apa kau mengantuk?"
"Hemm.", jawab Jimin sambil menyedot minumannya.
"Ya! Kenapa kau membawa minum di kelas? Hari ini aku yang bertugas membersihkan kelas!!", Jimin.
Jongseok pun menggoda Jimin.. :D
Seorang siswa mengumumlan bahwa hari ini seluruh dewan dan guru akan rapat mengenai sekolah. Para siswa pun pulang lebih awal.
Hyosuk dan Minsuk pulang bersama. Mereka mampir ke sebuah kafe.
"Minumlah!", Minsuk memberikan segelas kopi kepada Hyosuk.
"Kita kan bisa bicara di luar, kenapa kesini?"
"Sudah lama sekali kita tidak bermain bersama. Dulu aku berharap jika aku sudah sekolah tinggi aku ingin menikmati kopi di kafe bersamamu dan Yeonsuk hyung. Jadi, kau mau bicara apa?"
".. Yeonsuk hyung akan pergi militer dan rumahku akan ditinggali oleh paman bersama keluarganya lagi. Umm.. "
"Lalu?"
"Apa aku boleh tinggal denganmu?"
"Apa?!!"
"Ahh aku akan bekerja dan membayarnya.."
Minsuk terdiam berpikir. (Dia berpura-pura seperti menolak.)
"Aku tidak tahu harus kemana.. karena aku tidak mungkin tinggal dengan bibi yang tidak menyukaiku dan kakakku.."
"Kenapa kau tidak minta bantuan teman-temanmu?"
"Ya!! Baiklah kalau kau tidak mau!", Hyosuk beranjak dari tempat duduknya.
Minsuk mengejar Hyosuk yang keluar dari kafe.
"Aku hanya bercanda. Kapan kau akan mulai tinggal di rumahku?"
"Malam ini?"
"Oke. Kau bisa tidur di depan TV tapi kalau kau banyak menonton TV kau juga harus membayar listrik!"
"Iya iya~~"
"Aku ingin makan bersama Yeossuk hyung."
"Nanti malam aku akan ke rumahmu dengan Yeonsuk hyung, jadi kau siapkan makan malam untuk kami."
"Aish~ Oke!"
Sungjae dan Jimin belajar bersama di taman. Mereka menghabiskan sore bersama sambil belajar untuk persiapan ujian.
"Jimin, seandainya tanpa aku apa kau tetap mau belajar?"
"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku akan tetap belajar. Aku akan tunjukkan pada ayahku kalau aku anak yang pintar. Haha"
"Kau.. tidak merindukan ibumu?", tanya Sungjae sedikit ragu.
"Tidak."
"Ayah dan ibumu hanya berpisah tapi mereka masih suami istri kan? Harusnya kau menyatukan mereka..Kau kan anak satu-satunya."
"Aku bersyukur adikku kembali ke surga. Jika dia hidup, dia pasti tidak akan bahagia."
"Yaa kau ini bicara apa?"
"Aku tidak mengerti kenapa ibuku meninggalkan ayahku dan aku tapi aku akan bersama ayahku apa pun yang terjadi. Ah~ ayo kita lanjutkan belajarnya!!"
"Kita sudah menyelesaikan soal terakhir di bab ini."
"Ya kita lanjutkan pelajaran yang lain!!" Jimin membuka buku pelajaran yang lain.
"Orang tua Daesung sudah bercerai dan kemarin ibu Daesung datang bersama ayah tiri. Daesung telah melewati waktunya yang sulit ketika ayahnya menjadi buronan polis.i."
"Yaa!! Apa kau berharap ayahku menjadi buronan polisi juga?!!"
"Bukan begitu.. Aku salut Daesung tetap menerima keluarga barunya. Ku dengar dia punya adik tiri yang sangat menyukainya. Apa kau tidak peduli seandainya ibumu juga mempunyai keluarga baru? Huh? Kau bahkan tidak pernah menjawab telphon dari ibumu."
"Hentikan!! Kalau kau masih membicarakan keluargaku, aku akan pulang sekarang!!"
"Yaa!! kau janji akan mentraktirku makam malam setelah aku mengajarimu soal-soal yang tadi!!"
Jongseok disuruh ibunya untuk membeli beberapa makanan ringan karena akan ada tamu yang datang.
"Jongseok, kau belikan ini (ibu Jongseok memberinya catatan di kertas). Nanti ada teman umma yang mau datang."
Jongseok pun pergi ke mini market tempat Minsuk bekerja.
"Eh Jongseok, kau tidak belajar dengan Sungjae dan Jimin?"
"Tidak. Umma menyuruhku untuk tetap di rumah karena akan ada tamu. Teman umma. Hei, tolong aku. Ini yang mana?", tanya Jongseok menunjukkan tulisan di kertas catatan ibunya.
"Oh ini, ada di sebelah sana."
Makan malam.
Hyosuk datang ke rumah Minsuk bersama Yeonsuk. Mereka pun menikmati makan mlam bersama yang telah disiapkan oleh Minsuk. Suasana begitu menyenangkan.
Sungjae dan Jimin berencana makan malam di warung pinggir jalan tapi..
"Aduuh, dompetku tertinggal di toko dekat sekolah saat kita membeli snack sebelum belajar tadi", keluh Jimin.
"Yaaa aku tidak membawa uang. Ya sudah kita pulang saja."
Eunyong tiba-tiba menghampiri mereka.
"Apa kalian sudah makan?"
"Belum", jawab Sungjae.
Jimin menatap Sungjae.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama. Biar aku yang membayarnya!"
Eunyong pun membayarkan makan malam mereka berdua.
Eunyong senang bisa duduk di hadapan Sungjae. Dia senyum-senyum menatap Sungjae yang sedang makan. (Jimin cemburu.)
"Kenapa kau tidak makan? Berhentilah melihatku seperti itu!", Sungjae menegur Eunyong. "Jimin, ini makanlah, kau suka ini kan?!"
Yeonsuk berterima kasih karena Minsuk mau menerima Hyosuk di rumahnya.
"Terima kasih Minsuk ya? Aku tidak tahu harus bagaimana jika meninggalkan Hyosuk sendiri. Malam ini aku akan tidur di rumah temanku dan besok aku akan berangkat ke asrama. Hyosuk, kau harus ikuti peraturan Minsuk di rumahnya, dan jaga kebersihan!" :)
"Hyung, sering-seringlah mengirim kabar agar Hyosuk tidak kesepian", Minsuk.
"Baiklah!" :)
06.27
Sungjae dan Jimin selesai makan.
"Eunyong, terima kasih atas makannya", Jimin.
"Terima kasih", Sungjae menyambung.
"Iya."
"Apa perlu kamu mengantarmu pulang?", Jimin.
"Tidak perlu. Ayahku ada di warung makan ini dan aku bisa pulang dengan ayahku."
"Oh iyakah? Dimana ayahmu?", Jimin penasaran.
"Umm.."
Ayah Eunyong datang membawa barang belanjaan.
"Eunyong, bantu ayah membawa memindahkan kardus di mobil. Oh kalian teman Eunyong?"
"Iya ayah, mereka teman sekelasku dan ini Sungjae teman beprestasi."
"Jadi kamu yang juara kelas? Mohon bantu Eunyong untuk mempersiapkan ujiannya!" :)
"Oh baik paman."
((Jimin cemburu lagi.. hehe))
"Kami permisi dulu. Selamat malam", Sungjae.
Sungjae dan Jimin pun meninggalkan warung makan milik ayah Eunyong.
Mereka berdua berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah mereka berbeda. Rumah Sungjae masuk gang dan Jimin melanjutkan perjalanan.
"Tidurlah yang nyenyak, sampai jumpa besok!", Sungjae.
"Kau juga!", Jimin.
Sungjae berhenti dan kembali untuk melihat Jimin berjalan. Tiba-tiba dia melihat dua orang yang mencurigakan mengikuti Jimin.
"Siapa orang itu?", pikir Sungjae.
Ia pun berlari menyusul Jimin yang sudah berbelok arah.
Ketika di pertigaan sebuah gang, Sungjae menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul dan hendak berjalan ke arah yang sama dengan Sungjae.
"Taehyung?"
"Auu.. sedang apa kau disini?"
"Aduh maaf. Ah, Jimin dalam bahaya!", Sungjae bergegas mengejar Jimin.
"Yaa!! Apa maksudmu?!!", teriak Taehyung.
Taehyung pun mengikuti Sungjae yang berlari ke arah rumah Jimin.
Di sebuah gang kecil yang sepi, Jimin sedang dihadang oleh kedua orang tadi.
"Katakan dimana ayahmu sekarang?!!"
"Aku tidak tahu", Jimin tidak bisa meawan.
Salah seorang dari mereka memukul Jimin.
"Apa kau mau mati?!!" 죽을래?
"Yaa!! Cepat hubungi ayahmu dan tanyakan dimana dia sekarang!!!"
"Aku tidak tahu.." 몰라..정말..
Jimin pun mendapat pukulan lagi. Jimin berusaha melawan tapi dia tetap kalah.
Sungjae kebingungan melihat Jimin dipukuli.
"Aduh.. bagaimana ini.." 아야.. 어떻게?"
Sungjae pun menghubungi Minsuk.
Yeonsuk baru saja berpamitan dan Minsuk hendak masuk rumah.
Minsuk: Hello.. Sungae?
Sungjae: Minsuk! jimin dipukuli orang.. Cepat kesini!!..
Taehyung menolong Sungjae (yang hendak menolong Jimin) dan Jimin.
Taehyung mendapat pukulan dari dua orang itu. Mereka pergi setelah Jimin tidak memberi tahu dimana ayahnya.
Jimin, Sungjae dan Taehyung bernafas lega dan cukup kesakitan.
Sungjae membantu Jimin berdiri lalu membantu Taehyung.
Mereka bertiga duduk di pinggir jalan.
"Terima kasih telah membantuku", ucap Jimin.
"Aku suka mumukul orang karena aku sering mendapat perlakuan kasar dari orang di rumahku, jika aku melakukan kesalahan walau hanya kecil..", ujar Taheyung.
"Kau tidak apa-apa? Apa ada sangat sakit? Bagaimana kalau ibumu marah?"
"Tidak perlu khawatir! Kalau ibuku datang ke sekolah, kalian tinggal menjelaskan padanya. Jangan meminta maaf seperti Edison! Aku pergi dulu."
Taehyung pergi, Minsuk datang dengna nafas ngos-ngosan.
"Huh huh huh.. Apa kalian baik-baik saja?"
"Hemm..", Sungjae.
Minsuk pun duduk di samping Jimin.
"Ada apa lagi ini?"
"Kita sedang beranjak dewasa. Berlari.. dan berlari..", ucap Jimin memandang langit.
"Yaa, kau ini bicara apa?", Sungjae.
"Ayahku meninggalkan rumah sejak malam Minggu dan aku malas mencarinya. Ayah tidak membawa ponsel jadi aku tidak bisa menghubunginya. Ayahku punya hutang kepada orang-orang tadi dan aku baru tahu setelah menemukan bukti pembayaran pengobatan ayah dari rumah sakit. Ayahku sakit.."
Sungjae merangkul bahu Jimin. Minsuk pun demikian.
"Kalau kau tidak keberatan, aku akan membantumu. Aku bisa mminta bantuan kepada ayahku. Bagaimana?", Sungjae.
"Terima kasih Sungjae."
"Malam ini tidurlah di rumahku. Bagaiamana?", Minsuk.
"Hei lain kali, aku juga ingin tidur di rumahmu!", Sungjae.
"Jimin, menginaplah di rumah Minsuk."
Tiba di rumah Minsuk, Jimin terkejut dengan Hyosuk yang membukakan pintu. Dia baru selesai mandi dan mengenakan kaos dalam (singlet).
"OMO! Sedang apa kau disini?" 여기서 뭐하는거야?!
"Aaaish~~ Kenapa tidak bilang kalu kau membawa teman?", Hyosuk.
Minsuk menepuk dahinya.
"Aku lupa kalau ada kau di rumah. Ayo masuk Jimin!"
Hyosuk pun memakai jaketnya dan menata tempat tidurnya di depan TV.
Minsuk menyiapkan tempat tidur untuk Jimin.
"Kau tidur disini denganku. Umm.. mulai malam ini Hyosuk tinggal disini."
Hyosuk berkata pada Jimin. "Kau sudah tahu kan kalau aku sepupunya?!!"
Hyosuk menyalakan TV dan duduk bersandar meja.
Jimin pun rebahan dan memjamkan matanya. "Selamat malam." 잘자
"Hyosuk, kecilkan volume TVnya!", Minsuk.
Pagi bangun tidur, Sungjae merasa haus lalu dia beranjak ke dapur.
Sungjae membaca memo dari ibunya di meja makan.
"Sungjae, ayo kita ke Japan dan tinggal bersama ayah dan kakakmu?!"
Sungjae megacak-acak rambutnya.
"Ahhh~~~ Aku kan belum kenaikan kelas? Aduh, apa yang harus aku lakukan? Argh~~~~"
Sungjae pun tidak semangat berangkat sekolah.
Hyosuk membangunkan Minsuk.
"Minsuk bangunlah!!"
"Hmm.. Dimana Jimin?", tanya Minsuk begitu membuka matanya.
"Dia pulang. Katanya harus mengambil buku pelajaran hari ini."
Jongseok datang lebih awal. Sungjae kemudian dan Jimin datang sebelum Hyosuk dan Minsuk.
"Sungjae, kenapa dengan wajamu? Apa tidurmu tidak nynyak?", tanya Jongseok duduk di meja Sungjae.
Sungjae hanya menjawab "Ah" lalu meletakkan kepalanya di meja.
"Apa kau sakit?"
"Tidak."
"Apa kau sudah sarapan?"
"Tidak!!!", Sungjae menyentak Jongseok.
"Ah, maaf aku hanya sedang.. Ah sudahlah~", Sungjae.
Nami dan Eunyong kaget mendengar Sungjae terdengar marah.
"Woah.. ternyata Sungjae bisa marah?", Nami.
"Apa dia sedaang kesal dengan seseorang?", Eunyong.
Jimin datang.
"Yaa Jimin! Kenapa denganmu?", tanya Jongseok melihat sebam di mata Jimin.
"Tidak apa-apa."
Sungjae bangun dan melhat Jimin sejenak, lalu kembali tidur.
"Kenapa dengan anak ini?", tanya Jimin duduk di tempat duduknya.
"Tidak tahu." 몰라 :/
Hyosuk sedang tertawa terbahak saat dia masuk bersama Minsuk. Semua mata terheran melihatnya.
"Yaa Hyosuk! Sekarang kau bisa tertawa?", Eunyong.
Hyosuk terdiam lalu duduk.
Minsuk mendekati Sungjae.
"Sungjae, kau baik-baik saja?"
Sungjae bangun mendengar Minsuk bertanya kepadanya.
"Yaa~ nanti malam aku ingin tidur di rumahmu bersama Jimin!"
Jongseok bertanya pada Jimin.
"Kau menginap di rumah Minsuk? Apa ada masalah di rumahmu?"
"Nanti saja aku jelaskan."
Eunyong dan Nami mendengar pembicaraan mereka berempat.
"Woah kalian sudah seperti keluarga saja~", Eunyong.
"Hyosuk dan Minsuk, mereka saudara sepupu", terang Jongseok.
Ketika Jongseok mengatakan itu, Daesung baru masuk kelas bersama Dongho.
(Nami cukup terkejut karena sebenarnya dia menyukai Hyosuk dan Minsuk.)
"Hei Dongdo, Taehyung tidak berangkat dengan kalian?", tanya Minsuk.
"Kenapa?"
Tahyung datang dengan rambut acak-acakan. Dia baru saja menyelesaikan hukumannya merapikan buku di perpustakaan.
"Huft.."
"Kau darimana?", tanya Dongho.
"Hukuman."
Guru Shi datang dan memulai pelajarannya.
Sungjae tampak lesu dan tidak semangat belajar. Ia bahkan tertidur di tengah pelajaran. Guru Shi mengetuk mejanya.
Tok tok tok .. "Sungjae!! Sungjae!!
Sungjae tidak peduli guru Shi memarahinya karena tidur saat pelajaran.
"Bangunlah!! Kalau kau tidur, keluar!!"
Jimin merasa ada masalah pada Sungjae.
Jam istirahat, Sungjae meninggalkan kantin sebelum memakan makan siangnya. Dia pergi ke lapangan untuk menonton siswa-siswa yang sedang bermain sepak bola.
Minsuk, Jongseok dan Jimin sedang makan siang.
"Kenapa Sungjae tidak makan?", Jongseok.
"Ku rasa dia sedang memikirkan sesuatu. Biarkan dia sendiri dulu", Jimin.
"Jimin, kau kan teman dekatnya, bicaralah dengannya!", Minsuk.
"Iya, baru kali ini aku melihat Sungjae menjadi pendiam", Jongseok.
Suasanya sunyi di meja makan Hyosuk, Daesung, Dongho dan Taehyung.
"Kenapa kalian tidak ada yang bicara?", Dongho.
Semua diam tidak ada yang menjawab Dongho.
"Baiklah kalau kalian tidak mau bicara!", Dongho pun membawa makannya dan pindah ke meja lain.
"Yaa", mereka bertiga memulai bicara secara bersamaan setelah Dongho pindah.
Dongho mendengarnya.
06.28
"Hyosuk, bagaimana keadaan kakakmu?", tanya Daesung.
"Yeonsuk hyung pergi ke asrama dan dia akan wajib militer."
"Jadi benar kau tinggal di rumah Minsuk?", Taehyung.
"Hemm.."
"Kau mau bicara apa?", tanya Daesung kepada Minsuk.
"Daesung, bagaimana denganmu? Pasti menyenangkan tinggal bersama adikmu?"
"Oh iya. Dia anak yang rajin belajar jadi aku harus menemaninya saat belajar."
Dongho pergi ke lapangan. Dia pun duduk di di belakang Sungjae menyaksikan sepak bola.
Eunyong mendekati Sungjae dan memberinya sekotak kue.
"Ini dari ayahku. Ayah berterima kasih kalau kau mau mengajariku untuk ujian nanti."
"oh iya", ucap Sungjae tanpa menatap Eunyong. Dia asyik menyaksikan sepak bola.
"Goal!! Hampir.. Aish~ kiper itu oke juga!"
Eunyong merasa kesal karena dianggurkan.
"Lalu kapan kita akan belajar bersama?"
"Nanti aku sms kalau aku sudah menentukan waktunya. Kau bisa pergi sekarang."
Eunyong pergi meninggalkan Sungjae dengan raut kecewa atas sikap cuwek Sungjae.
Ada seorang adik kelas yang menyapa Sungjae.
"Sungjae oppa?!!"
"Oh Soae. Duduklah!"
Soae merangkul bahu Sungjae. "Oppa, tidak biasanya kau sendirian. Kemana teman-temanmu?"
"Mm.. mereka sedang makan. Apa kau sudah makan?"
"Sudah."
(Donho melihat Eunyong yang kesal dengan adik kelas yang dekat dengan Sungjae.) "Hiiih menyebalkan!!"
"Ini makanlah."
"Terima kasih. Oppa, kata Sungah unnie, oppa mau ke Japan. Apa itu benar?"
"Entahlah~" "Sudah, makanlah!", kata Sungjae menyuapi Soae kuenya. (Eunyong semakin cemburu melihatnya.)
Hyosuk memberikan sebotol minuman jeruk kepada Dongho.
"Sedang apa kau disini?"
"Melihat romance drama. Apa kau hanya membeli satu botol?"
"Daesung yang membelinya untukmu."
Hyosuk melihat Sungaje bersama adik kelas.
"Bukankah itu Sungjae? Siapa gadis itu?"
"Romance Drama", ujar Dongho menunjukkan Eunyong di atas.
Hyosuk pun menertawakan sikap Eunyong. Haha..
"Yaa apa kau menertawakan Eunyong?" "Comedy Romance Drama!"
Ketika Soae pergi, Minsuk mendekati Sungjae.
"Hei, apa gadis itu pacarmu?"
"Kenapa? Dia cantik kan?"
"Hemm.." :)
"Malam ini umma tidak pulang karena ada tugas di luar kota. Jadi aku ingin menginap di rumahmu."
"Yaa, aku juga ingin!!", sahut Jongseok yang baru datang.
"Kau harus izin ibumu dulu", Sungjae.
"Aku ingin kabur untuk semalam saja."
"Yaaa!! Bagaimana kalau ibumu menghukummu? Kau jagan menyusahkan dirimu sendiri", Sungjae telah menjadi dirinya kembali.
"Yaa~ kau sudah kembali reporter Sungjae!"
"Hahaha.. kalian lucu sekali..", Minsuk.
Mereka pun bercanda dan kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Di kelas saat pelajaran, Sungjae menulis pesan untuk Eunyong di bukunya.
{Kalau kau mau belajar denganku, temui aku di perpustakaan sepulang sekolah.}
Eunyong senang membaca pesan Sungjae di secarik kertas.
Pelajaran terakhir telah usai dan bel tanda pulang sudah berbunyi.
Jimin mengajak Sungjae pulang bersama.
"Ayo pulang?!"
"Yaa hari ini kita belajar dulu seperti kemarin. Ayo!"
Jongseok merasa diabaikan. Dia pun pulang bersama Minsuk.
"Hei!! Kalaian berdua mau kemana?", tanya Sungjae kepada Jongseok dan Minsuk.
"Aku? Bekrja di toko", jawab Minsuk.
"Aku mau pulang ke rumah. Kenapa?", Jongseok.
"Aku dan Jimin akan belajar di perpustakaan sebelum pulang. Apa kalian mau bergabung?"
"Aku harus bekerja. Kau saja Jongseok!!"
"Aku? Umm.. baiklah!"
Minsuk pun pulang dan Jongseok ikut Sungjae belajar bersama.
Jimin dan Edison telah berada di perpus. Sungjae dan Jongseok pun tiba.
"Minsuk?", Edison.
"Dia harus bekerja. Nah, sekarang kita bisa mulai belajar. Kalau belajar disini kita bisa mengambil buku yang kita butuhkan."
Semuanya membuka buku pelajaran masing-masing.
Nami datang bersama teman sekelasnya (Danbi). Mereka berapasan dengan Eunyong sebelum masuk perpustakaan.
"Eunyong, kenapa kau masih disini?", Nami.
"Kalian juga kenapa disini?"
"Kami akan belajar bersama Sungjae dan teman-teman."
"Apa?!! Sungjae"
"Hemm.. Kenapa kau terkejut?"
"Ah tidak, masuklah!"
Nami dan Danbi pun masuk.
"Kami datang. Apa kami terlambat?"
"Tidak, baru mau mulai", jawab Edison.
*Sebelumnya Eunyong sudah berdandan cantik demi belajar bersama Sungjae. Tapi ternyata mereka tidak berdua.*
Eunyong pun masuk dan bergabung dengan mereka. Belajar bersama yang menyenangkan pun berlangsung.
Beberapa menit berlalu, tiga teman sekelas Sungjae (2 perempuan & 1 laki-laki) pun datang.
Sungjae mengajari temannya satu persatu tapi dia juga meminta bentuan temannya di soal yang dia tidak bisa dikerjakannya.
"Edison, kau salah lagi yang ini. Yaa! kau harus mengingat rumusnya~", Sungjae.
"Ah iya aku lupa. Yang ini bukan?"
"Hemm.."
"Sungjae, yang ini bagaimana?", tanya Eunyong cari perhatian.
"Oh ini mudah sekali. Kau ini bagaimana sih? Rumusnya yang ini."
"Ah baiklah."
"Jimin, kau sedang apa? Kerjakan yang ini!!", suruh Sungjae melihat Jimin hanya memainkan pensilnya.
"Sungjae yang ini bagaimana?"
"Sungjae!"
"Sungjae ini benar atau tidak?"
Teman-teman bertanya satu persatu keppada Sungjae.
"Danbi, kau sealu benar di soal yang ini. Ajari aku yang ini!" :)
"Ah ini soal yang paling sulit tapi aku berhasil menghafal rumusnya. Sini!"
Eunyong kesal melihat kedekatan Danbi dan Sungjae. Jimin memerhatikan Eunyong yang duduk di sampingnya.
"Jimin, yang ini bagaimna?", tanya Jongseok. (Duduk di depan Jimin.)
"Oh, yang mana?"
Mereka belajar sambil bercanda dan suasana menjadi sangat menyenangkan dengan penuh tawa dan senyum.
70 menit berlalu, ada soal yang belum dipahami Sungjae dan teman-tamannya. Dia pun menghubungi guru Hwang untuk meminta bantuan.
Sungjae: Guru, apa guru masih di sekolah?"
Guru Hwang: Aku baru saja keluar dari kantor. Kenapa?
Sungjae: Bisa kah guru mengajari kami sebentar di perpustakaan?
Guru Hwang pun ke perpus dan mengajari murid-muridnya.
10 menit kemudian Sungjae mulai merasa mengantuk. Ia pun tertidur sampai guru Hwang selesai menerangkan pelajarannya.
"Anak-anak, kalian bisa pulanglah. Guru ingin berbicara pada Sungjae dulu."
Teman-teman Sungjae meninggalkan sekolah termasuk Jimin. Eunyong menunggu Sungjae di luar. Guru HWang membangunkan Sungjae.
"Sungjae! Bangunlah!"
Sungjae bingung ketika terbangun teman-temannya sudah pergi semua.
"Aa kemana teman-teman?"
"Mereka baru saja pulang. Kenapa kau tidur?"
"Umm.. maaf guru, aku benar-benar ngantuk."
"Tadi di kelas kau juga tidur kan? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Guru ini bicara apa? Aku pulang dulu guru."
"Hey, katakan dulu ada masalah apa?"
"Guru, sepertinya aku tidak bisa mengikuti ujian."
"Apa kau ingin ke Japan?", tanya guru Hwang saat Sungjae hendak keluar.
"Bagaimana guru tahu tentang itu?", jawab Sungjae membalikkan badannya.
"Ibumu sudah membicarakannya kepadaku. Kau tidak bisa mengikuti ujian karena akan pindah ke Japan?"
(Eunyong mendengar pembicaraan mereka dari luar.)
"Aku.. tidak ingin pindah", kata Sungjae membungkukkan bahunya (pamit).
Keluar dari gedung sekolah, Eunyong menhadang Sungjae.
"Sungjae!!" :)
"Kenapa kau masih disini?"
"Aku menunggumu. Ayo aku traktir makan malam!"
Sungjae ingin menolak tapi dia sudah merasa lapar.
"Baiklah. Ayo!'
Eunyong senang bisa jalan berdua dengan Sungjae.
(Jimin telah menunggu Sungjae di kafe. Ia mengirim pesan kepada Sungjae saat tadi Sungjae masih bersama guru Hwang.)
Sungjae makan malam dengan Eunyong di restoran kecil.
"Enak kan?", Eunyong.
"Hemm..Cepat habiskan makanmu. Ayahmu pasti sudah menunggumu."
"..Dulu aku sering kesini bersama ibuku. Hari ini hari meninggalnya ibuku dan hari lahirku."
"Ha? Kau ulang tahun? Umm.. selamat ulang tahun!", ucap Sungjae mengulurkan tangannya. (salaberjabat tangan)
"Oh terima kasih." :)
"Aku tidak bisa memberimu hadiah. Bagaimana?"
"Bisa bersamamu itu sudah cukup untukku."
*Jimin mengirim sms kepada Sungjae lagi. Dia telah berada di warung makan milik ayah Eunyong.*
Saat Sungjae hendak membuka pesan dari Eunyong, Eunyong bertanya.. "Apa benar kau akan ke Japan?" Sungjae pun tidak jadi membaca sms-nya.
"Huh? Tidak. Itu tidak benar. Sudah, makanlah!":)
Selesai makan, Sungjae mengantar Eunyong ke warng makan ayahnya.
Ayah Eunyong menyapa Jimin.
"Kau teman Eunyong, kan?"
"Oh iya paman. Saya sedang menunggu teman."
"Masuklah! Minum penghangat biar badanmu hangat."
Jimin pun masuk dan ayah Eunyong memberinya minuman hangat.
"Terima kasih paman."
"Eunyong belum kemari. Apa kau menunggu teman yang bernama Sungjae itu?"
"Oh? Iya." (Jimin merasa sedikit kecewa karena ayah Eunyong hanya mengingat nama Sungjae.)
Karena Sungjae tidak membalas sms-nya, Jimn pun keluar dari warung. Jimin melihat Sungjae bersama Eunyong.
"Sungjae!", panggil Eunyong menarik lengan Sungjae dari belakang.
"Ada apa? Kau sudah sampai. Aku akan pulang."
"Sungjae.. aku.. menyukaimu!" 내가.. 좋아해!
Jimin sangat terkejut mendengarnya. (Jimin bersembunyi di balik pintu.)
"Ahh~ terima kassih kau sudah menjadi fans-ku" :) , Sungjae tidak menanggapi ucapan Eunyong dengan serius.
"Yaa!! Aku.. sungguh menyukaimu sejak tahun lalu." 난 정말 좋아해..
Jimin pun keluar.
"Oh Jimin, kau makan disini?", tanya Sungjae.
"Apa kau sudah makan?"
"Hemm sudah."
"Baguslah kalau begitu." 좋아.
Jimin pun pergi berlalu.
"Hei!! Kau mau kemana?" 야 어미가?!!
"Aku akan ke toko Minsuk!", kata Jimin lalu berlari.
"Yaa!! tunggu aku Jimin!!!" 지민아 기다려!!
"Eunyong, aku pergi dulu. Sampai jumpa!" :)
Eunyong kesal karena Sungjae tidak menanggapi ungkapan perasaan dia kepadanya.
Sungjae teringat akan tidur di rumah Minsuk, dia pun pulang untuk ganti baju dan membawa keperluan untuk sekolah besok.
Jimin sedang di toko Minsuk.
"Kau belum pulang? Dimana Sungae?"
"Tadi aku keluar lebh dulu. Minsuk, bisakah kau membelikanku makan malam?"
"Oke. Jam kerjaku sudah selesai jadi aku bisa bersantai."
"Kalau begitu kita masak di rumahmu saja. Apa Hyosuk sudah makan?"
"Ah iya. Ayo!"
Sungjae menelphon Minsuk.
Sungjae: Kau sudah pulang?
Minsuk: Aku sedang berjalan pulang dengan Jimin.
Sungjae: Aku akan ke rumahmu sekarang.
Sungjae membuka sms dari Jimin.
[Jimin: Sungjae aku tunggu kau di kafe. Kau harus minum kopi kalau mau tidur di rumah Minsuk. Pasti kau akan meng-interview Minsuk.]
[Jimin: Sungjae!!]
[Jimin: Aigoo~~ kenapa belum kesini? Aku tunggu kau di warung makan ayah Eunyong! Cepat balas pesanku!!]
"Huft~~" Sungjae merasa bersalah karena tidak membuka pesan Jimin.
*Sungjae membawa kotak berisi memo/catatan-catatan kecil dari ibunya.*
Sungjae keluar dari rumahnya lalu berlari ke rumah Minsuk.
Sungjae mengatur nafasnya sebelum emngetuk pintu.
Hyosuk hendak keluar mengambil handuk yang dia jemur di luar.
Hyosuk terdiam menatap Sungjae yang kecapekan setelah berlari.
"Huft.. huh huh huh.. Minsuk sudah pulang?"
"Oh Minsuk sedang makan dengan Jimin. Masuklah!"
Sungjae hampir terjatuh lalu Hyosuk membentunya berdiri.
"Yaa ada apa dengan?"
"Berlari itu melelahkan!", jawab Sungjae menepuk bahu Hyosuk.
Sungjae masuk dan mengucap "Aku datang!"
Karena masih lelah, Sungjae tersandung setelah melepas sepatunya. Kotak yang dia bawa terjatuh dan isinya berserakan.
Jimin dan Minsuk membantunya duduk.
"Kau ini kenapa?", tanya Jimin.
"Aku merindukanmu, jadi aku berlari."
"Aish~~ kau ini~~"
Minsuk memberekan isi kotak yang dibawa Sungjae.
"Ini apa?", tanya minsuk menyerahkan kotaknya kepada Sungjae.
"Memo. Hampir setiap hari umma menulisnya untukku, tapi sering malas membacanya. kalian mau membantuku membacanya?"
Hyosuk tersenyum teringat Yeonsuk yang pernah menulis memo seperti itu saat Yeonsuk pergi dari rumah.
"Yaa Hyosuk! Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa kau juga mau membacanya?"
"Oh.."
Sementara Minsuk, Jimin dan Sungjae sibuk membaca memo dari ibu Sungae, Hyosuk menata tempat tidurnya di depan TV lalu menyalakan TV.
Sungjae pun duduk di samping Hyosuk. (Bersandar meja.)
"Hei, kau suka menonton drama? Aku juga menonton drama kalau menunggumu ibuku pulang larut malam."
Hyosuk hanya diam saja.
"Aigoo.. kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?"
"Diamlah! Aku sedang menonton."
Jimin membaca memo yang lucu lalu tertawa sendiri.
"Hahaha.. Ahjumma lucu sekali.."
Minsuk membaca satu memo dengan bersuara.
"Sungjae, ayo ke Japan?!!"
Sungjae merebut memo yang dibaca oleh Minsuk.
"Yaa! Kau akan ke Japan?", tanya Jimin.
"Tidak!!! Maksudku, ibu hanya mengajakku berlibur ke Japan."
"Woah~ itu pasti akan sangat menyenangkan!", Minsuk. :)
(Jimin mulai curiga dengan sikap Sungjae.)
Sungae mengeluarkan selimut dari tasnya.
"Minsuk, apa ada bantal? Aku ingin tidur disini."
"Yaaa kau tidak bisa tidur disini. Sana ke tempat Minsuk!"
"Tidak mau!"
Sungjae menaruh beberapa memo yang dia pegang di meja. Lalu berbaring di depan Hyosuk.
"Hyosuk.."
"Jangan banyak bertanya padaku. Tidurlah!!"
"Aah aku kan hanya memanggil namamu. Selamat tidur!"
Jimin dan Minsuk masih asyik membaca memo ibu Sungjae.
'Sungjae,good luck!'
'Hari ini umma akan pulang terlambat jadi jangan menunggu umma. Tidurlah di kamarmu.'
'Bagaimana hari ini di sekolah? Maaf, umma tidak bisa menyiapkan makan malam'
'Selamat menikmati sarapanmu. Fighting!!'
'Happy Birthday Sungjae ya~~ Hari ini bersenang-senanglah dengan teman-temanmu..'
'Sungjae, kalau kau kesepian di rumah tidurlah di rumah temanmu. Jangan lupa telphon umma. :) '
'Sungjae, hari ini ulang tahun ayah. Jangan lupa mengucapkan selamat kepada ayahmu.'
'Sungjae, ajaklah Minsuk belajar di rumah!!"
'Sungjae, selamat makan! Jika kau ingin makan sesuatu, sms umma. Besok umma akan memasaknya untukmu!
'Sungjae Umma mencintamu ~~'
Minsuk meneteskan air mata. Tiba-tiba dia merindukan ibunya.
"Minsuk, apa kau menangis?"
"Sungjae pernah bilang padaku kalau dia sanat menyayangi ibunya. Walau ibunya sangat sibuk tapi tetap perhatian kepada Sungjae.."
"Aku sudah berteman dengan Sungjae sejak SD. Dulu kami sering belajar bersama dengan kakaknya tapi aku tidak pernah mengenal orang tua Sungjae. Aku tidak pernah berpikir kalau Sungjae kesepian setelah kakaknya pergi ke luar negri, karena Sungjae anak yang ceria. Dia perhatian dan banyak bertanya tentang apa pun kepada siapa pun di sekitarnya, tapi aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dan.. dia selalu menjadi siswa juara di kelas kita."
"Sungjae pernah bercerita kepadaku, tentang persahabatannya denganmu dan Jongseok. Dia merindukan saat-saat kalian berdua belajar bersama."
Teringat di benak Jimin.. / "..Jika tanpa aku, apa kau masih tetap belajar?', tanya Sungja waktu itu. \
Hyosuk membaca memo yang ada di atas meja.
'Umma sudah siapkan makan malam. Setelah makan, belajarlah lalu tidur. Jangan tidur arut malam!'
'Hari ini umma akan pulang sore jadi kita bisa makan malam bersama'
'Sungjae, sms umma kalau kau ada masalah di sekolah.'
'Jangan lupa matikan TV sebelum tidur!'
'Sungjae, katakan I Love You kepada umma!!!!!'
'Sungjae, Ayo ke Japan?!!"
06.29
Jimin dan Minsuk sudah tetidur dngan memonya yang masih berserakan di lantai. Hyosuk pun merapikannya sebeum tidur. Ia menaruh kotak memo itu di atas meja (depan TV) lalu membacanya beberapa sambil tiduran.
Alarm di ponesel Sungjae berbunyi pukul 05:30, Sungjae terbangun memanggil ibunya.
"Umma!", ucap Sungjae duduk lalu membuka matanya.
"Oh.. aku tidak di rumah.."
Sungjae melihat Hyosuk yang tidur di belakangnya, masih menggenggam memo di tangannya. Sungjae mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam kotak.
Minsuk duduk membawa buku (mengantuk) di samping Jimin yang masih tidur.
*Minsuk berpura-pura tidur melihat Sungjae terbangun memanggil ibunya.*
Minsuk terbangun mendengar Sungjae masuk ke kamar mandi.
"Aduh.. kenapa aku masih ngantuk?"
Minsuk pun ke dapur untuk membuat kopi.
Sungjae keluar dari kamar mandi.
"Oh Sungjae, kau sudah bangun?"
"Hemm.."
"Tidak tidur lagi?"
Sungjae duduk di kursi.
"Buatkan aku kopi juga."
"Oh baiklah~ Ini!"
"Aku sering tebangun mendengar alarm berbunyi. Menunggu umma di ruang tamu sampai tertidur."
"Kau selalu memanggil ibumu saat terbangun?"
"Ha? Kau mendengarku tadi?"
"Hemm.."
"Aku ingin bangun pagi, supaya aku bisa sarapan dengan umma. Tapi umma hanya menyiapkan sarapan lalu pergi bekerja. Umma bekerja bukan karena uang tapi karena sangat menyukai pekerjaannya."
"Kau beruntung, masih ada orang yang selalu kau tunggu di rumah. Sejak orang tuaku meninggal tidak pernah ada yang bisa ku tunggu di panti asuhan. Saat aku kesini, aku berharap bisa bertemu Hyosuk dan Yeonsuk hyung. Tapi ternyata alamat yang diberikan Yeonsuk hyung adalah alamat rumah kosong. Saat itu juga aku berhenti berharap dan berhenti berlari mencari mereka. Aku pikir lebih baik takdir yang mempertemukan kami kelak. Tidak ku sangka, sekarang aku tinggal bersama Hyosuk." :)
"Hyosuk yang tinggal bersamamu."
"Sama saja. Ayo bersiap ke sekolah!"
"Kalau kau yang tinggal bersama Hyosuk itu artinya kau di rumah Hyosuk..", kata Sungjae yang terhenti melihat Hyosuk berdiri di hadapannya.
"Kau sudah bangun?"
"Kau sedang membicarakan aku?"
"Umm.."
Hyosuk pun masuk ke kamar mandi.
Jimin masih berselimut rapat. Sungjae tidur di depannya lalu membangunkannya.
"Jimin! Sudah pagi, ayo sekolah!! Jimin, bangunlah!"
Jimin malas-malasan untuk bangun.
Sungjae pun membangunkan Jimin dengan memeluknya dari belakang lalu mendudukkannya. "Cepat bangun!!"
"Yaa lepaskan aku!"
Mereka pun perang bantal.
Minsuk (sedang menyiapkan buku di tasnya) tersenyum melihat mereka berdua bercanda di pagi hari.
Hyosuk keluar dari kamar mandi. Bantal yang Jimin lempar mengenai muka Hyosuk.
"Upps. Maaf Hyosuk.."
"Bangunlah! Apa kau sudah menyiapkan buku pelajaran hari ini?"
"Ahh sudah!"
Jimin pun merapikan selimutnya.
Jongseok berangkat lebih awal. Dia pun meletakan kepalanya di meja dan memejamkan kedua matanya.
Danbi menaruh susu kotak di meja Jongseok.
"Kau sendirian?" 너 혼자?
"Kenapa?" 왜?
"Sepertinya kau kesepian?"
"Tidak", jawab Jongseok membuka matanya. 아니요.
"Ini apa?" 이게 뭐야?
"Minumlah!"
"Terima kasih!", Jongseok mengambil susu kotak dari Danbi lalau keluar dari kelas.
Jongseok melihat Jimin bersama Sungjae, Minsuk dan Hyoseok berangkat bersama-sama. Mereka sedang bercanda dan tertawa.
"Aku sendirian. Sendiri.." 혼자
Hyoseok melihat Jngseok di atas.
"Hei!! Ada Jongseok diatas!", kata Hyosuk.
"Dimana?", tanya Jimin.
Mereka pun melambaikan tangan kepada Jongseok.
"Jongseok!! Hey!!" 안녕!! Jimin, Sungjae dan Minsuk melambaikan tangan kepada Jongseok. Sesekali Hyosuk juga melambaikan tangannya.
Jongseok membalas dengan senyuman kepada mereka.
Edison melihat Jongseok yang tersenyum sendiri, lalu dia melihat ke bawah dan melihat Jimin dkk.
"Jongseok!"
"Ada apa?"
"Ini penghapusmu. Kemarin tertinggal di perpustakaan ssaat belajar bersama. Aku mau memberikannya kepadamu tapi kau berlari setelah keluar dari perpus. Sepertinya kau sedang terburu-buru."
"Oh, terima kasih."
Edison pun meninggalkan Jongseok. "Penghapus.."
*Jimin berlari menghampiri Jongseok.*
"Jongseok! Oo apa itu?"
"Penghapus."
"Yaa!! Katanya kau ingin tidur di rumah Minsuk. Kapan?", tanya Jimin merangkul bahu Jongseok.
"Umm.. malam Minggu saja. Jadi kita bisa menghabiskan malam sambil berbagi certia dan.. foto-foto."
"Aha, ide yang bagus!"
Mereka pun berjalan ke kelas.
"Jongseok!", Minsuk duduk di tempat Jimin.
"Ada apa?"
"Kemarin aku bertemu ibumu di toko. Aku bilang padanya kalau kau sedang belajar bersama di sekolah, jadi kau terlambat pulang."
"Pantas saja ibu tidak marah padaku. Terima kasih. Tapi bagaimana kau tahu ibuku?"
"Dia menyapa teman SDmu. Minwook mengatakan pada ibumu kalau aku teman sekelasmu. Kata ibumu kau belum pulang sore itu. Oh iya, adikmu lucu sekali."
"Jongmi?", tanya Sungjae.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu adikmu", Jimin.
"Berapa usinya?", tanya Minsuk.
"7 tahun."
"Pertama kita bertemu Jongmi saat dia pertama kali masuk sekolah dan dia menceritakan hari pertamanya di sekolah", kenang Jimin.
"Jongmi menggemaskan dan dia mirip oppa-nya saat tersenyum", Sungjae.
"Manis..", Jimin.
"Itu artinya senyumku juga manis?", Jongseok. :)
"Aigoo~~ kau ini~~", Jimin.
Minsuk kembali ke tempat duduknya. Taehyung sengaja menjegal Minsuk saat dia lewat di samping tempat dudknya. "Aduh.."
Hyosuk sedang membaca buku pelajaran.
"Taehyung!!? Apa maumu?!!", Hyosuk marah melihat Minsuk terjatuh.
Hyosuk hendak memukul Taehyung.
Jimin mencegah Hyosuk dan Jongseok mencegah Taehyung. Sungjae membantu Minsuk berdiri. Daesung yang baru datang pun ikut mencegah Taehyung.
Daesung membawa Taehyung keluar.
"Yaa apa yang kau lakukan?", tanya Daesung kepada Taehyung.
"Apa kau masih kesal karena Hyosuk bersama Minsuk?", Dongho.
Daesung pun duduk di samping Taehyung lalu memerangkul bahunya.
"Hari ini makan malamlah di rumahku. Dongho, kau juga!"
"Sepertinya kau hidup dengan baik bersama ibumu", Taehyung.
"Tentu saja! Hari ini adikku ulang tahun dan dia ingin aku membelikannya hadiah. Jadi kalian harus menemaniku membeli hadiah. Bagaimana?"
"Oke!! Taehyung, kau juga kan?", Dongho menyetujui.
"Oh..?"
"Sudah ikut saja! Ayo kembali ke kelas!", Daesung merangkul Dongho dan Taehyung.
06.30
Di kelas, Daesung mengirim pesan kepada Hyosuk, mengajaknya jalan.
[Daesung: Nanti sepulang sekolah ikutlah hang put denganku, Dongho dan Teahyung. Sudah lama kita tidak jalan bersama. kau harus datang!]
[Hyosuk: Ne.]
Sepulang sekolah, Minsuk mengajak Hyosuk ke toko.
"Aku sudah bicara dengan paman Lee. Sekarang ikutlah denganku, kalau kau ingin bekerja di mini market."
"Baiklah!"
"Minsuk!", Jimin mendekati Minsuk yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Kenapa?"
"Apa.. aku.. boleh tinggal di rumahmu?"
"Kenapa?!", Hyosuk.
"Yaa aku bicara dengan Minsuk bukan denganmu!"
"Umm.. oke. Apa ayahmu belum pulang?"
"Ayah ada di rumah sakit dan aku tidak boleh menjenguknya."
*Daesung yang duduk di depan Minsuk mendengar pembicaraan mereka.*
"Kenapa tidak boleh?", tanya Hyosuk.
"Kata ayah, dia akan segera pulang. Ya sudah aku pulang dulu. Nanti malam aku akan ke rumahmu. Sampai jumpa!"
"Oh, makanlah di rumahku. Sampai jumpa nanti malam!"
Jimin pun pulang.
(Sungjae kembali ke perpustakaan untuk belajar bersama lagi. Jongseok ikut bersamanya.)
"Kau tahu ayahnya sakit apa?"
"Aku tidak tahu. Ayo pergi!"
*Taehyung teringat malam saat dia menolong Jimin.*
Hyosuk dan Minsuk pergi ke toko bersama.
Saat turun dari bus, Minsuk merasakan sakit perut.
"Aduh.. perutku.."
"Kau kenapa?", tanya Hyosuk khawatir.
"Aku tidak apa-apa."
"Apa perutmu sakit lagi?"
"Aku tiidak apa-apa.."
"Ayo ku antar kau ke rumah sakit!"
Awalnya Minsuk menolak tapi karena perutnya benar-benar sakit, dia pun bersedia diantar Hyosuk ke rumah sakit.
Sementara menunggu Minsuk diperiksa dokter, Hyosuk jalan-jalan sebentar. Dia melihat seorang pria yang dibawa ke ruang ICU. (Hyosuk teringat terakhir kalianya melihat orang tuanya di ruang ICU.) Beberapa saat kemudian Hyosuk melihat Jimin di meja pendataran.
"Apa ada orang yang bernama..?" (Jimin sedang mencari ayahnya.)
"Mohon tunggu sebentar.."
"Adakah?"
"..Maaf, tidak ada."
"Oh, terima kasih."
Saat Hyosuk hendak mengejar Jimin, Daesung menelphonnya.
Daesung: Kau dimana? Cepat kesini!!
Hyosuk: Oh, tunggu sebentar.
Minsuk berbaring setelah dokter memeriksanya. Hyosuk menemuinya.
"Bagaimana? Kau sudah baik-baik saja?"
"Hemm.. terima kasih."
"Kau harus menjaga kesehatanmu dan kata dokter kau harus menjaga pola makanmu. Jangan sakit lagi!!"
"Hyosuk, aku masih berhutang padamu.." (Biaya operasi Minsuk waktu itu.)
"Lupakan! Ayo pulang?"
Hyosuk pulang dengan Minsuk. Setelah ganti baju, Hyosuk keluar untuk menemui Daesung. "Aku akan pergi bersama Daesung dan lainnya. Kau istirahat saja di rumah dan telphon paman Lee kalau kau tidak bisa bekerja. Aku pergi dulu!"
Minsuk tersenyum mendengar Hyosuk akan pergi bersama teman-temannya.
Daesung, Dongho dan Taehyung sedang minum kopi di kafe mall. Hyosuk pun tiba. Taehyung tidak menyangka kalau Hyosuk akan datang.
"Maaf aku terlambat!", Hyosuk. :)
"Kau sudah datang, ayo kita mencari kado untuk adikku!"
Mereka berempat pun jalan-jalan dan memilih kado untuk adik Daesung.
Moment yang sangat menyenangkan karena sudah lama mereka tidak jalan-jalan seperti itu. Usai mendapatkan kado yang dicari, Dasung mengajak bermain bowling. Mereka berempat telah bersenang-senang.
Waktunya makan malam~ Daesung mengajak Dongho, Taehyung dan Hyosuk ke rumahnya makan malam bersama keluarganya untuk merayakan ulang tahun adik Daesung ke-7.
"Adik, ini hadiah dari kakak-kakak(oppadeul)! Kau pasti menyukainya!"
"Hello Kitty?", tanya adik Daesung sebelum membuka hadiah yang dibuskus kotak besar.
"Hemm.." :)
"Terima kasih Daesung oppa, Taehyung opa, Donghoo opa dan.. Hyosuk oppa."
"Oh kau sudah menghafal nama kami?", Dongho.
"Daesung oppa sering bercerita tentang teman-temannya."
"Ya sudah, ayo kita makan!?" ibu Daesung.
Ayah Daesung berterima kasih atas kehadiran teman-teman Daesung.
"Terima kasih, kalian sudah meluangkan waktu untuk datang di ulang tahun adik Daesung."
"Iya paman."
Minsuk sedang menyiapkan makan malam. Jimin datang dengan membawa koper.
"Kau baik-baik saja?"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja."
"Kau pasti sangat kesepian di rumah."
"Aku sendirian." 나 훈자
"Nah sudah matang. Mari makan!"
"Terima kasih atas makan malamnya!", Jimin.
Hyosuk pulang. Jimin sedang menata tempat tidurnya.
"Itu koper siapa?"
"Punyaku. Kenapa?"
"Kau benar-benar pindah kesini?"
"Aku tidak punya orang tua saat ini, jadi aku kesepian di rumah."
(Minsuk selalu menjadi pelarian orang-orang kesepian.)
Minsuk baru keluar dari kamar mandi.
"Hyosuk, bagaimana dengan harimu?"
"Oh, menyenangkan. Tadi kami merayakan ulang tahun adik Daesung."
"Yeah~~ kau benar-benar teman mereka~", Jimin.
Tiga hari kemudian setelah mereka sibuk belajar bersama, Jongseok menginap di rumah Minsuk pada malam Minggu.
Sejam setelah Jongseok di rumah Minsuk, Sungjae belum datang.
Jimin: Sungjae, apa kau masih di rumah?
Sungjae: Aku sedang di dapur mangambil makanan untuk kita. Apa kalian
sudah makan malam?
Jimin: Belum, masakan Minsuk belum matang. Kami menunggumu!
Sungjae: Aku akan segera kesana!
Saat Sungjae hendak keluar rumah, ibunya baru saja pulang dari bekerja.
"Sungjae, kau mau kemana? Umma membawa makan malam untuk kita."
"Oh umma sudah pulang? Aku.. Aa... Umma mau makan malam denganku?"
"Hemm.."
"Baiklah, aku akan pergi setelah makan malam."
Sungjae pun mengirim pesan kepada jimin..
[Sungjae: Aku makan malam di rumah bersama umma. Jadi kalian bisa makan malam tanpa aku.]
Sungjae menikmati makan malam bersama ibunya.
"Jadi kau mau kemana malam-malam begini? Kau belum pamit kepada umma."
"Umm.. malam ini aku dan teman-teman akan menginap di rumah Minsuk dan besok kami akan jalan-jalan bersama."
"Sekali-kali ajak teman-temanmu bermain kesini. Jimin, umma ingin bertemu dengannya. Sejak kau masuh sekolah tinggi, kau tidak pernah mengajak Jimin ke rumah lagi."
"Sudah beberapa kali, tapi aku tidak memberi tahu umma. Lagi pula umma tidak pernah ada di rumah untuk waktu yang lama setiap harinya."
"Sungjae... umma sudah mengajukan surat pengunduran diri. Umma akan pergi ke Japan dan tinggal bersama ayah dan kakakmu."
"Lalu umma akan bekerja apa disana?"
"Tidak. Umma tidak akan bekerja seperti ini lagi. Umma ingin menjadi ibu rumah tangga dan menikwati waktu bersama keluarga."
"Bagaimana dengan sekolahku?"
"Sungjae, kau kan pernah les Bahasa Japan, ayo kita tinggal bersama disana?!"
Minsuk, Hyosuk, Jongseok dan Jimin menikmati makan malam sambil menonton TV. Mereka bercanda dan bercerita usai makan. :D
Sungjae pun datang membawa makanan ringan dan minuman kaleng.
"Nah, silahkan dinikmati!", Sungjae. :)
"Sungjae, kau tidak apa-apa?", tanya Jimin.
"Kenpa? Aku tidak apa-apa."
Menikmati malam Minggu sambil bernyanyi dan bercanda bersama teman-teman~~ Sungguh menyenangkan~~ :)
Siang harinya mereka melanjutkan bersenang-senang di rumah Sungjae.
Bermain game dan karoke~~
"Sudah cukup, aku lelah. Sekarang giliran Hyosuk untuk bernyanyi!", Jimin.
"Aku???"
"Iya cepat sana!!", kata Minsuk mendorong Hyosuk ke depan. Hyosuk menyanyikan satu lagu.
Minsuk merangkul bahu Jongseok ketika Hyosuk bernyanyi. (Jongseok merasa senang mempunyai teman yang perhatian kepadanya.)
Mereka pun bernyanyi bersama dan menghabiskan waktu hinggga sore di rumah Sungjae.
"Sungjae, hari Minggu kenapa ibumu tidak di rumah?", tanya Jongseok.
"Oh, ibuku ada urusan di luar jadi dia pergi sejak pagi."
Ibu Sungjae kembali ke rumah saat Minsuk dan lainnya hendak pulang. Mereka pun menyapa ibu Sungjae dan berterima kasih atas makananannya.
Jimin tinggal karena ibu Sungja eingin berbicara dengannya.
"Jimin, ku dengar dari Sungjae sekarang kau tinggal di rumah Minsuk. Apa terjadi sesuatu dengan ayahmu?"
Jimin dan Sungjae bertukar pandang.
"Tidak, aku hanya kesepian di rumah jadi aku tingga di rumah Minsuk."
"Umma, sudah cukup!", Sungjae.
"Jimin, bibi berterima kasih karena kau telah menjadi teman baik Sungjae selama ini. Sungjae, ambikan minum untuk Jimin dan umma!"
"Ah ya."
Sementara Sungjae mengambilkan minum, umma berbicara kepada Jimin.
Jongseok berjalan di tengan Hyosuk dan Minsuk.
"Mereka berdua sangat dekat. Mungkin seperti kalian berdua. Umm.. Jimin berhenti belajar bersama Sungjae saat ibunya meninggalkan rumah dan kakak Sungjae pergi ke luar negri. Umm.. kalau kalian berdua kenapa berpiisah?"
"Umm. hanya salah paham", jawab Minsuk santai.
"Bisa menjadi teman mereka berdua itu sangat menyenangkan. Aku sudah mengenal mereka sejak hari pertama sekolah, tapi baru berteman dengan mereka setelah setahun sekolah. Tidak lama setelah aku menjadi teman mereka, aku sudah tahu banyak tentang mereka."
"Mereka berteman baik tapi orang tua mereka tidak saling akrap?", Hyosuk.
"Hemm.. "Dan.. aku suka telah menjadi teman kalian berdua juga."
"Yaa!! Sudah dua tahun kita di kelas yang sama, tentu saja aku temanmu!", ujar Hyosuk merangkul bahu Jongseok.
"Tapi.. sejak dulu kau suka berkelahi!", keluh Jongseok.
"Aish~~ apa kau mau aku hajar?"
"Aaa tidak~ Minsuk, kehadiranmulah yang menyatukan kita semua!", ungkap Jongseok tersenyum senang.
Minsuk dan Hyosuk tersenyum.
"Apa kau tersenyum? Ahh iya~~", Jongseok melihat Hyosuk tersenyum.
"Aish~~"
"Yaa!! Kau harus banyak tersenyum supaya Nami semakin menyukaimu!"
"Kau ini bicara apa..?"
"Ahha apa kau juga menyukai Nami?"
Jongseok berlari menggoda Hyosuk, Hyosuk pun mengejarnya.
"Hei!! Tunggu aku!!", Minsuk.
Dasung tidak sengaja melihat mereka bertiga berkejaran saat dia keluar dari toko membeli es krim bersama adiknya.
"Oppa, apa itu Hyosuk oppa? Apa mereka juga teman-teman oppa?"
"Oh.. iya, mereka teman sekelas oppa. Ayo kita pulang. Apa kau suka? Habiskan es krimnya." :)
"Hemm.. ini manis sekali." :)
Hyosuk dan Minsuk pergi ke toko dan Jimin pulang ke rumahnya.
Jimin berusaha menghubungi ayahnya.
SMS ayah seminggu yang lalu.
[Jimin, apa kau sudah makan? Ayah akan segera pulang.]
[Ayah sedang di rumah sakit. Kau tidak perlu khawatir, ayah akan segera pulang. Belajarlah dengan rajin!]
[Jimin kau sedang apa nak? Bagaimana sekolahmu hari ini?]
"Ayah.. kenapa ayah tidak pernah menjawab telphonku? Apa yang sebenarnya terjadi pada ayah? Kapan ayah akan pulang?"
Jimin kembali mencari ayahnya di beberapa rumah sakit. Dia berlari dan terus berlari mencari keberadaan ayahnya.
Hyosuk diterima bekerja di toko paman Lee dan dia bisa bekerja mulai besok. Hari ini Minsuk datang untuk mengenalkan Hyosuk kepada beberapa karyawan yang bekerja di toko. Dia juga berkenalan dengan teman SD Jongseok.
"Dia top student di sekolah, sama dengan Sungjae. Beberapa kali dia juga membantuku memecahkan soal pelajaran."
"Iya kah? Apa kita bisa belajar bersama?", Hyosuk.
"Hemm.. kita harus luangkan waktu untuk belajar bersama", kata Minkyu. :)
"Kita harus belajar untuk ujain nanti. Walau sekolah kita beda, pelajarannya kan sama saja. Bagaimana?", Minkyu.
"Ah iya, pasti sangat menyenangkan!", Minsuk.
"Oke, aku setuju!", Hyosuk. :D
Jongseok mendapat hukuman dari ibunya karena dia pergi dan menginap di rumah teman tanpa izin dari ibunya.
"Sudah hentikan!! Jongseok anak yang baik tidak mungkin dia meminum alkohol atau pun pergi ke clup malam", ayah Jongseok melindungi Jongseok dari kemarahan ibunya.
"Jongseok, masuklah ke kamarmu. Istirahatlah!", ayah. :)
"Jongseok!! Ibumu belum selesai bicara!!", ayah.
"Masuklah!", ayah.
Jongseok masuk ke kamarnya. Dia mendengar orang tuanya bertengkar karena Jongseok pergi tanpa pamit.
Malam sebelum tidur ayah Jongseok pamit akan pergi ke luar kota karena tugas kantor.
"Kalau ibumu memarahimu lagi, katakan saja kepada ayah. Ayah akan segera pulang."
"Ayah.. kenapa ibu selalu marah kepadaku? Apa karena ibu begitu, Jonghoon hyung jadi pergi dari rumah?"
Ayah mendekap Jongseok.
"Sabar ya nak? Ibu hanya terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya."
Setelah ayah Jongseok pergi, ibu Jongseok pun ke kamar Jongseok dan menyita ponselnya. Ibu juga mengunci pintu kamar Jongseok.
Pagi hari.. ibu Jongseok pergi dengan adiknya. Ibu pergi tanpa membuka kunci pintu kamar Jongseok. Kamar Jongseok ada di atap lantai tiga.
"Umma.. buka pintunya?! Umma..!! Jongmi!! Umma!!", Jongseok memangil-manggil ibunya tapi tidak ada jawaban dari luar.
Jongseok terkunci di dalam kamarnya dan tidak bisa keluar karena jendela kamar di pagar besi.
Jongseok pun kembali tidur.
Jimin menghubungi Jongseok karena Jongseok belum tiba di sekolah.
"Bagaimana?", Sungjae.
"Dia tidak mengangkat telphonnya."
"Apa sudah telphon rumahnya?", Minsuk.
"Sudah, tapi tidak ada yang menjawab juga."
"Ayah Jimin juga tidak mengangkat telphonnya", Sungjae.
[Sungjae: Paman, saya Sungjae teman sekelas Jongseok. Apa Jongseok sakit?]
Ternyata Sungjae salah nomor. Itu bukan nomor ayah Jongseok.
[Paman? Aku seorang wanita dan aku belum menikah. Apa kau mengerjaiku?]
Hari berikutnya Jongseok tidak berangkat sekolah lagi. jimin dan lainnya mulai mengkhawatirkannya. Mereka pun berusaha menghubungi ibu Jongseok.
"Guru Hwang, kami ingin meminta nomor telphon ibu Jongseok. Sejak kemarin Jongseok tidak bisa dihubungi", Sungjae.
"Oh kemarin aku sudah menghubungi ibu Jongseok dan dia bilang Jongseok ada di rumah. Tunggu sebentar, aku ambilkan nomor telphonnya."
Sungjae pun berusaha menghubungi ibu Jongseok. Setelah hampir sejam menunggu, adik Jongseok yang menjawab telphonnya.
Sungjae: Hello..?
Jongmi: Hello..
Sungjae: Jongmi? Dimana ibumu?
Jongmi: Ibu sedang keluar dengan nenek.
Sungjae: Kau di rumah nenekmu? Apa Jongseok bersamamu?
Jongmi: Oppa? Tidak. Saat kemarin kita pergi, Jongseok oppa masih di kamarnya.
Ibu Jongseok masuk rumah.
Jongseok umma: Ini siapa?
Sungjae: Oh ajumma, ini Sungjae. Sejak kemarin Jongseok tidak berangkat sekolah, apa dia sakit?
Jongseok umma: Jongseok tidak sekolah? (Ibu Jongseok teringat kalau Jongseok masih di kamarnya saat dia pergi.) OMO, Jongseok masih di kamarnya."
Sungjae: What???
Ibu Jongseok pun memberi tahukan password rumahnya dan letak kunci kamar Jongseok.
Sungjae, Jimin dan Minsuk berlari ke rumah Jongseok.
"Jongseok, apa kau mendnegarku?!!", Sungjae berteriak memanggil Jongseok.
Jongseok sudah lesu dan lemas, dia bersandar di balik pintu.
"Aaahh!! Diaman kuncinya?!!", Jimin.
Mereka gelisah mencari kunci kamar Jongseok.
'Tok tok tok !!' Sungjae berusaha memanggil Jongseok.
"Jongseok!! Apa kau mendnegarku!! Jongseok kau tidak pa-apa?!!" Jongseok!!"
Minsuk dan Jimin berusaha membuka pintunya.
"Aaaahh!! Cepatlah!!", Minsuk.
Begitu pintu tebuka, Jongseok terjatuh karena duduk bersandar di balik pintu.
"Jongseok?!! Bangunlah!! Jongseok!!", Minsuk.
Sungjae berlari ke dapur mengambil air minum.
Jimin dan Minsuk mengangkat Jongseok ke tempat tidur.
"Jongseok!!"
Jongseok!!", Minsuk dan Jimin sangat cemas.
Jongseok membuka matanya.
"Kalian.. datang..", ucap Jongseok lemas.
"Ini minumlah!", Sungjae memberikan Jongseok air minum.
"Huh huh huh.."
"Aku..tidak.. apa-apa..sungguh..", Jongseok.
"Badanmu lemas sekali. Kau pasti lapar. Di dapur tidak ada makanan.", Sungjae.
"Tunggu sebentar, aku akan membelinya!", Minsuk keluar membeli makan.
Mata Jongseok masih berkunang-kunag dan dia pun menetestkan air mata.
"Jongseok? Kenapa?", Jimin.
"Apa perlu kita membawanya ke rumah sakit?", Sungjae.
"..Tidak.. aku baik-baik saja..", suara Jongseok gemetaran.
Jimin menunggu Hyosuk di depan rumah.
Ketika Minsuk kembali, dia bertemu seorang pria di pintu gerbang.
"Kau siapa?", tanya pria itu.
"Aku? teman Jongseok."
Jimn keluar. "Ahh Minsuk, cepat!! Oh.. Jonghoon hyung?"
"Jimin? Kenapa kalian disini?"
07.01
"Jongseok.."
"Kenapa dengan Jongseok?", Jonghoon khawatir dan langsung masuk
"Jonghoon, apa kau sakit? Dimana appa dan umma?"
"Aku tidak tahu.."
Jonghoon mendekap Jongseok.
"Maaf.. aku tidak pernah menanyakan kabarmu.."
"Hyung.. aku.. lapar.."
"Oh?"
Minsuk pun memberikan makan untuk Jongseok. Kakaknya yang menyuapinya.
Jonghoon menanyakan kejadian yang sebenarnya. Jimin pun menceritakannya.
"Apa ada dari kalian ada yang bisa menginap disini malam ini? Aku harus segera pergi lagi dan Jongseok akan sendiri di rumah."
"Aku! Aku bisa menemani Jongseok.", Sungjae.
"Sungjae? Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Aku akan bilang kepada umma kalau aku tidur di rumah Jongseok."
"Terima kasih."
Setelah kakak Jongseok pergi, Minsuk dan Jimin pun pamit pulang.
"Jongseok, ini ponselmu. Maaf, gara-gara kau tidur di rumahku kau jadi dihukum ibumu", Minsuk.
"Tidak. Tidak ada yang salah jadi tidak perlu minta maaf. Justru aku yang minta maaf karena membuat kalian cemas."
"Sungjae, kau harus menjaga Jongseok malam ini. Jangan tidur mendahului Jongseok", Jimin.
"Ah aku tidak yakin."
"Kami pergi dulu. Selamat malam!", Minsuk.
Minsuk pergi ke toko dan Jimin kembali mencari ayahnya.
"Minsuk, kau darimana?", paman Lee.
"Maaf paman, aku baru saja ke rumah temanku."
"Bagaimana dengan Jongseok?", tanya Hyosuk.
"Dia mengalami dehidrasi, tapi tidak apa-apa."
"Apa Jongseok, temanmu yang suka makan mie disini?", paman Lee.
"Oh, iya paman."
"Paman juga mengenal Jongseok?", Hyosuk.
Minkyu yang menjawab. "Dia sering makan mie disini sepulang sekolah. Kataya itu hobby dia."
"Dulu aku bekerja di gudang jadi aku tidak pernah melihat Jongseok sebelum aku aku pindah sekolah dan mengenalnya."
Jimin merasa lelah, dia istirahat sambil menunggu bus. Karena dia memejamkan matanya, dia pun tertinggal bus yang baru saja berhenti.
Daesung baru selesai makan malam bersama keluarganya. Dia melihat Jimin tertidur di tempat pemberhentian bus.
"Jimin! Jimin! Kau sedang apa disini?"
"Huh? Ahhh aku pasti tertinggal bus. Sebaknya aku jalan kaki saja, supaya tidak mengantuk."
*Daesung mengirim pesan kepada ummanya kalau dia akan pulang sendiri.*
Diam-diam Daesung mengikuti Jimin.
Di jalan yang sepi, Jimin bertemu dengan seseorang yang mencari ayahnya waktu itu.
"Ya! Dimana ayahmu?!! Katakan!!"
"Aku tidak tahu..", jawab Jimin lemas.
"Ponsel, dimana ponselmu?"
Orang itu merebut ponsel Jimin. Lalu membaca pesan dari ayahnya.
"Rumah sakit? Dimana? Dimana rumah sakitnya? Huh?!!!!"
Orang itu hampir saja menghajar Jimin, Daesung segera menolongnya. Ketika Daesung berkelahi, ada suara mobil polisi yang sedang patroli, orang itu pun memilih untuk pergi.
"Jimin, bangunlah! Kau tidak apa-apa?"
"Daesung? Kau menolongku? Haruskah aku mengucapkan terima kasih?"
Jimin berlari pulang (ke rumah Minsuk) dengan sisa tenaganya. Daesung mengikutinya sampai ke rumah Minsuk.
Jimin masuk lalu mengambil bonek Hello Kittynya di atas meja. Dia berbaring di tempat tidur Hyosuk.
"Yaa!! Kau tidak bisa tidur di sini!! Tidurlah di tempatmu!!", Hyosuk kesal.
Tangan Jimin gemetaran dan kepalanya berkeringat dingin. Hyosuk memperhatikannya sesaat. "Kenapa? Ada apa denganmu?"
"Oh My!! Badanmu panas.. Minsuk!! Minsuk!!"
Minsuk baru selesai mencuci piring.
"Kenapa?"
"Jimin sakit."
"Apa?!! Jimin... Ada apa denganmu?"
Hyosuk dan Minsuk menjadi gelisah.
"Kita bawa ke rumah sakit?", Hyosuk.
"Aku.. tidak apa-apa..", ucap Jimin lemas.
"Mm.. aku carikan obat dulu", Minsuk berlari keluar.
Di apotik, Minsuk bertemu Daesung.
"Daesung? Apa kau berkelahi lagi?"
"Tidak. Kau sedang apa disini?"
"Oh, Jimin sakit dan aku pergi dulu!" Minsuk terburu-buru.
(Daesung teringat saat Minsuk menemaninya di rumah sakit.)
Setelah Jimin meminum obatnya, dia pun tidur di tempat Hyosuk.
Hyosuk tidur di tempat tidur Jimin. Minsuk menunggu Jimin.
Tengah malam, Jimin terbangun karena ponsel yang dia kantongi bergetar.
Jimin: Hello..
Penelphon: Kami dari rumah sakit -- ingin memberi tahukan bahwa ayah anda..
Jimin menutu telphonnya lalu menyelimuti Minsuk yang tidur di dekatnya.
Jimin berusaha untuk tenang dan tabah.
Pagi di sekolah guru Hwang menanyakan dimana Jimin dan Minsuk.
"Dimana Jimin dan Minsuk? Apa ada yang tahu?"
Hyosuk yang menjawab. "Jimin sakit dan Minsuk menjaganya."
Sungjae terkejut mendengar Jimin jatuh sakit.
Usai pelajaran, Sungjae berlari ke rumah Minsuk.
Jimin sedang tidur berselimut dan Minsuk sedang belajar di depan TV.
*Sungjae tidak suka berlari, badannya akan sakit karena lelah.*
"Huh huh huh... Jimin?"
"Oh, Sungjae? Bukankah kau harusnya di sekolah?"
Mata Sungjaee berkuang-kunang setelah berlari.
"Jimin, bagaimana keadaan Jimin?"
"Masuklah. Ayo!", Minsuk membantu Sungjae berjalan.
"Jimin? Kenapa tidak bilang padaku kalau kau sakit?"
"Sungjae, dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia hanya butuh istirahat saat ini."
"Apa terjadi sesuatu? Kemana Jimin sepulang dari rumah Jongseok?"
"Aku tidak tahu karena dia berlari setelah keluar dari rumah Jongseok dan saat dia pulang badannya berkeringat dingin. Dia belum bicara apa-apa."
Sungjae duduk membaca buku di samping Jimin tidur "Minumlah!", Minsuk membuatkan Sungjae minum, lalu Minsuk kembali belajar di meja depan TV.
Suasana menjadi begitu hening dan terasa sepi.
Saat Minsuk mengantuk, dia meletakkan kepalanya di meja. Ponseol Jimin yang ditaruh di meja, bergetar.
Minsuk: Hello ?
Penelphon: Kami dari rumah sakit..
Minsuk terkejut mendengar keterangan penephon.
"Kenapa Minsuk?", tanya Sungjae.
Minsuk terdiam tak bisa menjawab.
Tiba-tiba Jimin memanggi-manggil ayahnya..
"Ayah.. ayah.. Ayah..."
Sungjae berusaha menenangkan Jimin.
"Jimin.. Jimin.. bangunlah!! Jimin!! Jimin...?!!"
Minsuk panik karena sudah tahu yang sebenarnya terjadi pada ayah Jimin.
"Jimin.. Jimin bangun.. Jimin!! tenangkan dirimu..", Sungjae berusaha membangunkan Jimin.
Jimin tersadar dan.. "Ayah..?"
Minsuk memberikan minum kepada Jimin tapi Jimin menolak dan menyambar gelasnya.
Sungjae semakin khawatir.
"Jimin, apa yang terjadi?", Sungjae.
"Ayahku.. ayah..", Jimin tak bisa berkata..
"Ayahmu.. sudah bisa dbawa pulang", Minsuk.
"Maksudnya apa?", Sungjae tidak mengerti.
"Siapa yang menelphon tadi?"
Jimin pun menangis tersedu memanggil-manggil ayahnya.
"Ayah Jimin telah tiada", bisik Minsuk di telinga Sungjae.
Sungjae menjadi lemas lalu mendekap Jimin.
Sungjae meneteskan air matanya dan menangis bersama Jimin.
Minsuk tak sanggup melihatnya, dia pun berlari keluar.
Minsuk tak sanggup menahan air matanya teringat orang tuanya. (Hari ini hari saat orang tua Minsuk akan kembali dari Australia 9th yang lalu.)
// Saat itu usia Minsuk 8 tahun, orang tuanya meninggalkannya bekerja ke luar negri. Minsuk pun dititipkan kepada ibu Hyosuk karena Minsuk tidak ingin pindah sekolah dan berpisah dengan Hyosuk. 6 bulan kemudian, orang tua Minsuk kembali tapi kecelakaan yang terjadi membuat Minsuk tak pernah bisa bertemu orang tuanya lagi. \\
*Semalam saat Jimin jatuh sakit, Minsuk menuggunya. Minsuk mendapat notif di ponselnya bahwa hari ini adalah hari orang tuanya pulang dari Australia. Minsuk membuka tanggalan yang dia simpan di kotak kenangan orang tuanya. Berisi foto dan beberapa benda hadiah dari orang tuanya. Setiap tanggal itu, Minsuk selalu menunggu di depan pintu, berharap orang tuanya datang.*
Jongseok, Hyosuk dan guru Hwang tiba di rumah Minsuk.
Hyosuk mendekati Minsuk.
"Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi?"
"...Ayah.. Ibu.. tidak ada.." 아버지.. 어머니.. 없어
"Apa? Apa maksudmu?" 뭐?
"Tidak ada disini.." 여기 없어
"Apa kau ingn menyalahkanku seperti aku menyalahkanmu? Huh?"
Guru Hwang menenangkan Hyosuk.
"Hyosuk, tenanglah! Minsuk, apa yang terjadi?" 무슨 일이야?
"Ayah Jimin.."
Mereka pun masuk dan melihat Jimin sedang menangis didekap Sungjae.
07.02
Jimin diantar guru Hwang dan ibu Sungjae bersama teman-temannya pergi ke makam ayah Jimin. Jimin berusaha menahan tangisnya.. sakit.. sangat sakit. Sungjae dan Jongseeok menopangnya.Minsuk pergi ke makan orang tuanya ditemani Jongseok.
"Minsuk, kau baik-baik saja?", Jongseok khawatir melihat Minsuk yang tampak lemas.
Minsuk tersenyum. "Kau lihat kan, aku masih bisa tersenyum? Aku baik-baik saja tapi aku akan menangis jika aku melihat Jimin menangi disana." :)
Jongseok tak sanggup membalas senyum Minsuk.
Hyosuk telah menunggu di tempat parkir sendiri.
Guru Hwang pun menyusul Hyosuk. Diapergi dahulu.
"Hyosuk,apa yang sedang kau pikirkan?"
"Oh guru."
"Apa benar orang tuamu meninggal bersama dengan orang tua Minsuk?"
"Hemm.."
"Kau tidak menjenguk orang tuamu?"
"Guru.. sebenarnya.. saat itu, hanya ada jasad ayahku di rumah sakit dan jasad ibuku tidak pernah ditemukan.."
*Minsuk telah berada di belakang Hyosuk.
"Apa?!! Katakan sekali lagi!!!", Minsuk tiba-tiba merasa kesal pada Minsuk.
"Oh Mnsuk? Aa.."
"Katakan sekali lagi!! Apa kau mau bilang kalau ibumu kemungkinan masih hidup?!! Huh?!!"
"Minsuk tenanglah! Biarkan Hyosuk menjelaskannya dulu..", guru Hwang.
"Minsuk.. walau jasad ibuku tidak ditemukan, aku dan Yeonsuk hyung tidak pernah mencarinya.. Kami hanya menunggunya dan menunggu.."
Minsuk pun berlari menjauh. Jongseok mengikutinya.
"Minsuk?!! Minsuk!!"
Jimin, Sungjae dan ibu Sungjae kembali.
"Oh dimana Minsuk dan Jongseok?", tanya Sungjae.
"Mereka sudah pulang dulu. Jimin, ayo ku antar kau pulang?", guru Hwang.
"Guru, aku juga mau ikut guru. Umma harus kembali ke kantor."
"Oh begitu.. Ayo!" :)
Minsuk dan Jongseok pulang naik bus.
Minsuk tertawa kecil. "Ya! Kenapa kau tertawa?", tanya Jongseok.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan. Tanggal pada hari ini selalu menjadi hari sunyi bagiku selama beberapa tahu yang lalu. Tapi hari ini aku tidak ingin banyak menangis.. Seandainya ibu Hyosuk masih hidup dan Hyosuk bertemu dengannya, aku akan bahagia. "
"Tadi kau tdak benar-benar marah?"
"Tentu saja tidak! Ayah selalu berpesan padaku untuk tidak marah kepada siapa pun. Dan ayah juga mengajariku untuk berlari. Bukan berlari menghindari masalah tapi menghilangkan rasa lelah dalam menghadapi masalah."
"Ayahmu pasti sangat bangga padamu."
07.04
Jongseok memasangkan satu sisi headset di telinga Minsuk.
"Mendengarkan musik akan membuatmu lebih tenang."
Di tengah perjalanan Minsuk mulai merasa mengantuk. Jongseok pun menyandarkan kepala Minsuk di bahunya.
"Minsuk tertawa kecil. "Haha.. Kita seperti couple." (-_-)
Hyosuk tidak berani untuk pulang ke rumah Minsuk. Dia hanya duduk melamun di playground. Hyosuk membayangkan Minsuk akan marah kepadanya~~~
Jimin tiduran di tempat tidurnya sambil mengusap-usap bonek Hello Kitty-nya.
"Adik.. apa aku benar-benar sendiri? Aku baik-baik saja.. iya.. aku akan baik-baik saja. Kau mendengarku kan adik?"
Minsuk sedang menyiapkan makan malam.
"Huh sudah selesai. Jimin, ayo makan!"
"Huh?"
"Ayo makan?"
"Oh iya.."
Jimin pun makan malam dengan Minsuk.
"Kau terlihat baik-baik saja. Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja!"
"Hemm.." :) (Jimin nampak tenang dan bisa tersenyum.)
"Oh ya, diamana Hyosuk? Kenapa dia belum pulang?
"Aaah, aku akan sms dia."
[Minsuk: Ya Hyosuk,cepat pulang sebelum ramen-nya habis!!]
"Sudah. Dia pasti akan segera pulang."
"Aku.. akan menual rumah ayahku untuk membeyar hutang ayahku dan aku akan segera mencari rumah kontrakan untukku."
"Yaa!! Apa kau tidak suka tinggal disini?"
"Buka begitu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu."
"Umm.. Apa kau tidak menghubungi ibumu?"
Jimin terdiam tak menjawab.
"Ahh baiklah, aku tidak akan bertanya. Teruskan makannya!" :)
Hyosuk mengetuk pintu.
"Minsuk, maafkan aku! Maaf..", ungkap Hyosuk mdengan memejamkan matanya.
". . . " "Kau ini kenapa? Massuklah!!"
Hyosuk bengong melihat Minsuk tidak marah sama sekali padanya.
Di meja makan. (Meja depan TV)
Hyosuk fokus melihat Jimin.
"Kau tidak ingin makan?", tanya Jimin. 먹고 싶지 않아?
"Oh.." 오..
"Yaa kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Um. apa kau baik-baik saja?" 음.. 괜찮아?
"Bagaimana denganmu?" 너는 어때?
"Kalian ini sedang apa? Cepat makanlah!", Minsuk. 빨리 먹어!
Beberapa hari kemudian..
Jimin membersihkan rumahnya dan dia berencana akan menjual rumah tempat dia dibesarkan sejak bayi.
Ibu Jimin sudah beberapa kali menghubungi Jimin tapi Jimin membiarkannya dan tidak peduli kepada ibunya.
Jongseok sedang belajar bersama adiknya sore itu.
"Oppa, ajari aku soal yang ini..", Jongmi.
"Yang mana? Ini? Begini..."
Ibu Jongseok sedang ada tamu, teman SMPnya dulu.
"Ini anakku yang kedua dan ketga."
"Dimana anak yang ooertama?"
"Oh, Jonghoon tinggal di asrama sekolahnya."
"Anak-anak, perkenalkan diri kalian kepada teman ibu."
"Hello bibi, namaku Jongmi. Senang bertemu bibi."
"Aku Jongseok anak kedua."
"Nama bibi, Song Jihui."
"Senang bertemu bibi Jihui."
Setelah teman ibu Jongseok kembali ke ruang tamu, Jongseok mangangan-angannya. "Sepertinya tidak asing..", pikir Jongseok.
Di sekolah, Jimin datang lebih dulu. Dia belajar sendiri di kelas sebelum teman-temannya datang.
Sungjae datang bersamaan dengan Eunyong.
"Yaa Sungjae, datanglah ke warung makan ayahku. Aku akan mentraktirmu lagi!"
"Benarkah? Terima kasih."
"Jimin, kau tidak berangkat bersama Minsuk dan Hyosuk?", Sungjae.
"Mereka sedang makan roti di kantin."
"Belakangan ini, kau rajin sekali belajar sendiri. Kenapa tidak datang ke perpustakaan untuk belajar bersama?"
"Aku mash sibuk dengan rumahku jadi aku harus segera pulang. Nanti kita bicara sepulang sekolah."
"Oh, baiklah."
Terdengar suara ramai-ramain dari luar kelas. Banyak siswa yang hendak keluar dari gdung sekolah.
"Eh, ada apa di luar? Kenapa ramai sekali?", Jimin.
"Coba aku cek!", Sungjae keluar untuk bertanya.
"Hei, ada apa ramai-ramai?", tanya Sungjae kepada salah seorang siswa
"Ada acctor datang ke sekolah kita. Katanya dia akan syuting adegan di sekolah dan sekolah kita akan menjadi lokasi syutingnya."
"Siapa actornya?"
"Aku tidak tahu."
Sungjae kembail ke kelas. Jimin sedang melihat luar jendela.
"Apa ada syuting di sekolah kita? Siapa artisnya?", Jimin.
"Iya ada syuting di sekolah kita tapi tadi aku tanya tidak ada yang tahu siapa pemainnya."
Salah seorang aktor yang akan syuting di sekolah sedang berada di atap untuk melihat-lihat sekolah dari atas.
Taehyung, Daesung dan Dongho ke atap untuk bolos pelajaran karena mereka sedang bosan di kelas.
Melihat kedatangan Daesung dkk, aktor itu pun berniat pergi.
"Tunggu sebentar!", Dasung menahan aktor itu.
Aktor itu sudah berusaha menutupi wajahnya dengan topi tapi Taehyung melepas topinya.
"Apa kau artis yang akan syuiting di sekolah ini?", tanya Tahyung.
Daesung memperhatikan aktor itu.
"Hemm.. Kembalikan topiku."
"Apa kau Jang Gyosong?", tanya Daesung.
"Oh.. iya.. Umm.. Daesung?"
"Ahh sudah lama kita tidak jumpa. Apa kabar?"
"Baik. Kau bagaimana?"
Dongho dan Taehyung bertukar pandang melihat Daesung akrap dengan aktornya.
"Ya, kenalkan, ini teman kecilku dulu di Incheon. Kalian pasti tidak percaya kalau temanku seorang star!"
Gyosong memperhatikan Taehyung, seperti dia pernah melihat wajah Taehyung sebelumnya.
"Kalian tidak masuk kelas?"
"Hehe kami sedang malas belajar jadi kami meninggakan pelajaran", terang Dongho.
"Kau sendiri sedang apa disini?", Daesung.
"Aku sedang menunggu paman yang akan menjadi ayahku di adegan hari ini."
"Berapa lama kau akan syuting disini?", Dongho.
"Oh hanya dua hari."
"Apa kau bersedia foto dengan kami?", Dongho.
"Tentu saja. Ayo?"
"Taehyung kemarilah!", ajak Daesung.
Mereka berempat pun berfoto bersama.
Selang beberapa menit, manager Gyosong datang bersama seorang guru.
"Yaa kalian bertiga kenapa disini? kembali ke kelas!!"
"Baik guru."
Manager Gyosong memperhatikan Taehyung sekilass.
"Gyoseong, apa mereka menganggumu?", tanya guru.
"Oh tidak. Daesung teman saya."
Daesung, Tahyung dan Dongho berdiri di belakang karena terlambat masuk ke kelas.
Aktor yang akan syuiting di sekolah sedang lewat di luar kelas Daesung. Semua teman-teman melihatnya.
"Apa dia aktornya?"
"Woah itu Im Jaehyun. Dia aktor fight yang keren!!"
"Aku mengidolakannya~~"
"Woah.. aku tidak percaya dia ada di sekolah kita.."
"Aku ingin berfoto dengannya.."
Taehyung terkejut melihatnya walau hanya sekilas.
"Anak-anak kembali ke pelajaran!!", guru Shi.
07.08
Ketika istirahat, anak-anak menonton syuiting Gyoseong dan aktor laganya di lapangan.
Daesung dan teman-temannya sedang makan siang di kantin.
"Daesung, kau tidak menonton temanmu syuting?", Dongho.
"Yaa!! Aku lapar."
"Ah kau ini. Oh Hyosuk?"
Hyosuk duduk semeja dengan mereka.
"Kenapa?"
"Kau tahu actor yang syuting di sekolah kita?"
"Umm.. Im Jaehyun? Jang Gyosong? Kenapa?"
"Gyosong, dia teman Daesung."
Taehyung hanya diam saja mendengar pembicaraan Dongho.
"Oh benarkah? Kalau begitu, kau bisa meminta fotonya dengan mudah."
Dongho menunjukkan fotonya di ponsel.
"Ini, kami sudah foto dengannya. Ah aku ingin foto dengan Im Jaehyun. Dia keren sekali dalam film."
Daesung menyambung, "Aku juga ingin. Aku suka menonton filmnya. Aku fansnya." :)
Hyosuk memperhatikan Taehyung yang hanya diam saja menikmati makannya.
"Taehyung, kenapa kau diam saja?"
"Huh? Aku suka sekali sausage ini. Aku sudah selesai. Aku mau cuci tangan dulu lalu ke kelas."
Taehyung pergi ke atap untuk menonton syuting yang masih berlangsung.
"Im Taehyung.. Im Jaehyun.. Umma. kau pasti akan memukulku jika aku menemui aktor itu.."
Sepulang sekolah, Dongho dan Daesung menemui Gyosong yang sedang istirahat. Mereka meminta Gyosong mengentar mereka minta tanda tangan Im Jaehyun. "Oh baiklah. Ayo!"
Mereka pun mendatangi Im Jaehyun di lokasi syuting.
"Paman, ini teman-temanku. Mereka mau meminta tanda tangan paman."
"Oh, mana kertasnya?" :)
"Ini.. Terima kasih..", Dongho.
"Siapa namamu?"
"Kim Daesung."
"Oke. Selanjutnya siapa namamu?"
"Lee Dongho. Umm.. kami juga meminta untuk dua teman kami."
"Siapa nama mereka?"
"Kim Hyosuk dan Im Taehyung."
"Im Taehyung?" Im Jaehyun memikirkan sesuatu begitu mendengar nama Tahyung.
"Ye? Im Taehyung"
"Sudah. Apa mau foto?"
"Pastinya paman. Cepat sana, aku yang akan memotret. Sini ponsel kalian!", Gosong.
Tahyung sedang duduk di dekat pintu gerbang sekolah menunggu Dongho dan Daesung. Dia sedang merengggangkan otot-ototnya.
"Hyosuk? Sedang apa kau disini?"
"Kau sendiri sedang apa disini?"
"Aku menunggu.. Dae-Ho."
"Haha kau ini."
Minsuk lewat ersama Jimin dan Sungjae.
"Hyosuk, ayo?!", ajak Minsuk.
"Tunggu sebentar! Kurang satu, Jongseok dimana?", tanya Taehyung.
"Dia dijemput ibunya", Sungjae.
Daesung dan Dongho datang.
Dongho memberikan tanda tangan Im Jaehyun kepada Taehyung dan Hyosuk.
"Ini untuk kalian! Aku berhasil meminta tanda tangan Im Jaehyun. Keren kan?"
"Yaa! Bagaimana kau bisa meminta tanda tangan ini?", Sungjae.
"Aku juga ingin tanda tangannya!", Jimin.
Taehyung memberikan kertasnya kepada Sungjae dan Hyosuk memberikan kertasnya kepada Jimin. Minsuk memperhatikan.
"Ah tidak!! Aku meminta ini untuk kalian. Kenapa kalian memberikannya kepada mereka?", Dongho.
"Kami tidak menerimanya!", Jimin.
"Terima kasih Hyosuk, tapi ini namamu bukan namaku. Jadi aku tidak bisa menerimanya."
Aktor Im Jaehyun lewat dengan mobilnya. Mereka memperhatikan mobl Im Jaehyun.
"Moblnya bagus sekali. Aku ingin naik mobil sport seperti itu", Dongho.
(Dari dalam mobil, Im Jaehyun memperhatikan Taehyung.)
"Aish~ kau ini bicara apa?", Daesung merangkul bahu Dongho. "Ayo pulang!"
"Aa leherku sakit!"
Taehyung pun berjalan di belakang mereka bersama Hyosuk.
Minsuk berjalan sendiri di belakang mereka karena Sungjae dan Jimin pulang naik bus bersama.
"Sepertinya kau sedang meikirkan sesuatu. Sejak pagi kau hanya diam saja", Hyosuk.
"Aku memikirkan ujian. Aku harus banyak belajar untuk mengerjakan soal-soalnya nanti."
"Kau harus mengurangi tidur di kelas. Maksudku, jangan tidur saat pelajaran."
"Yaa kau juga suka tidur!"
Minsuk berjalan sambil menikmati musiknya dengan headset kecilnya. Dia melihat Hyosuk bercanda dengan Taehyung. (Teringat saat Hyosuk marah kepada Taehyung karena membela Minsuk.) :)
Sungjae membantu Jimin membersihkan rumahnya dan memasang iklan penjualan rumahnya.
"Apa kau yakin akan menjual rumah ini?"
"Tentu saja. Aku akn mencari kontrakan yang kecil dan cukup untuk aku tinggali sendiri."
"Jimin.. Aku akan.."
"Jangan mengatakan apa pun. Kau sudah janji kalau kau, ah bukan! kita akan lulus bersama dan pergi ke universitas yang sama."
(Jimin mengerti maksud Sungjae yang hendak membicarakan keinginannya pergi ke Japan.)
Hyosuk dan Minsuk sedang bekerja di toko.
"Minsuk, apa Sungjae ikut ke rumah Jimin?"
"Oh, iya. Umm.. aku mengkhawatirkan Jimin. Seperinya dia masih lemas."
"Tadi aku mendengar Sungjae mual di kamar mandi. Sepertinya dia muntah. Apa dia juga sakit?"
"Benarkan? Tapi dia tidak terlihat sakit. Apa dia alergi makannya ya? Tapi dia biasa saja tadi di sekolah.."
Seorang pembeli akan membayar belanjaannya.
"Oh silahkan nyonya.Apa ada yang lain? Oh, baik. Totalnya..", Minsuk ramah kepada pelanggan.
"Terima kasih. Hati-hati menyetirnya!", Hyosuk.
Sungjae dan Jimin sedang berada di kamar ayah Jimin.
"Ayah bahkan tidak meninggalkan surat wasiat untukku.."
"Kau hanya belum menemukannya? Jangan menyerah!", Sungjae mnyemangati.
"Oh iya, sudah waktunya makan malam, kau bisa pulang dulu. Maaf aku tidak bisa membelikan makan malam setelah kau membantuku."
"Kalau begitu, ayo ke rumahku?! Kita makan malam bersama, bagaimana?"
"Sudah, kau pulang saja. Aku harus mencari surat dari ayahku dulu." :D
"Baiklah, aku akan bilang kepada Minsuk kalau kau belum makan. Aku pulang dulu!" :)
"Yaa~ Kau tidak perlu biang kepadanya karea aku akan makan makanan yang ada di dapurnya!"
Sungjae pun pulang.
Sungjae mengirim pesan kepada Jimin saat di perjalanan pulang.
[Sungjae: Aku senang bisa melihat kau tersenyum. Jangan pulang terlalu malam. Makanlah lalu belajar dan tidur! :p ]
"Aish~ Anak ini. Pulang? Ini kan rumahku.
[Jimin: Sungae! Kau juga makan lalu tidur! Tidak usah belajar agar aku bisa mengalahkanmu menjadi No.1 :p :p ]
Sungjae tersenyum membaca balasan dari Jimin. :)
Sungjae merasa sakit kepala dan matanya berkunang-kunang. Ketika dia masuk rumah lalu menutup pintu, Sungjae terjatuh pingsan.
Jimin mengunci pintu rumahnya setelah dia keluar. "Ayah.. kenapa aku harus meninggalkan rumah ini? Aku tidak akan sendiri kan ayah? Ayah mendengarku kan? Ayah.. aku sangat merindukanmu."
Beberaa langkah meninggalkan rumahnya, Jimin dihadang oleh dua orang penagih hutang.
Taehyung sedang berbicara dengan ibunya di meja makan.
"Jangan berangkat sekolah sampai orang itu pergi dari sekolahmu!"
"Umma! Dia ayahku dan aku tetap akan ke sekolah!"
"Kalau kau berani melawanku, aku akan.."
Tahyung pun melempar gelas yang sedang dia pegang lalu pergi meninggalkan rumah tanpa mempedulikan ibunya yang sedang marah.
Taehyung menghubungi Daesung dan Dongho.
Dongho: Maaf, aku sudah makan. Kakakku mabuk lagi..
Daesung sedang bersiap makan bersama keluarganya.
Daesung: Ada apa Taehyung?
Taehyung: Aku ada di luar. Bisakah kau menemaniku makan di luar?'
Daesung: Oh oke! Tunggu sebentar!
"Ada ada Daesung?", tanya ayah.
"Oh, temanku sedang ada di luar dan dia ingin makan malam denganku."
"Siapa?", umma.
"Taehyung."
Ibu Daesung melihat ayah.
"Perilah. Dia sudah menunggumu!", ayah.
"Jangan pulang terlalu malam!", umma.
"Hemm.. Aku pergi dulu.."
Ibu Sungjae terkejut begitu masuk rumah, dia mendapati Sungjae yang terkapar di lantai.
"Oh My.. Sungjae.. bangun nak.. ada apa denganmu?.. Sungjae.."
Sungjae pun dibawa ke rumah sakit.
Taehyung dan Daessung baru saja selesai makan dan mereka hendak pulang.
"Yaa aku baru saja dimarahi ibuku. Aku tidak yakin bisa pulang."
"Umm.. kalau begitu kita minum kopi di taman. Bagaimana?"
USai membeli kopi dan berjalan ke taman, Daesung dan Tahyung dikejutkan dengan seseorang yang..
"Jimin?", Dasung.
"Iya, dia Jimin."
"Jimin, bangunlah!"
Jimin perlahan membuka kedua matanya.
"Ayo kia bawa dia ke rumah sakit?", Daesung.
"Aku tidak membawa uang!", Taehyung.
"Aku juga tidak punya uang. Kita bawa ke apotik. Kita obati dulu lukanya."
Daseung dan Taehyung pun membawa Jimin ke apotik terdekat.
Jimin mulai tenang setelah mereka mengobati lukanya.
"Ini minumlah!", Taehyung.
"Terima kasih.."
"Apa orang-orang itu mencari ayahmu lagi?"
"Hemm.."
"Apa perlu kami membantumu mencari ayahmu?"
Jimin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?", tanya Daesung.
"Ayahku sudah tidak ada.."
"Apa??? Tapi.. kenapa tidak ada memberitahuan di kelas?"
"Aku meminta guru Hwang untuk tidak memberi tahukan siapa pun di sekolah."
"Maaf.. aku..", Taehyung.
"Aku mau pulang dulu. Terima kasih."
"Tunggu dulu. Kami akan mengantarmu! Ke rumah Minsuk kan?", Daesung.
Daesung dan Taehyung menuntun Jimin pulang ke rumah Minsuk.
Minsuk dan Hyosuk sedang menunggu Jimin di depan rumah.
"Kemana anak itu kenapa tidak mengangkat telphonku?"
"Coba telphon Sungjae", Hyosuk.
"Sungjae tadi sma aku, dia sudah pulang."
Hyosuk pun merebut ponsel Minsuk lalu menelphn Sungjae.
Ibu Sungjae: Minsuk?"
"Sepertinya ini Sumgjae umma. Cepat tanyakan!"
Minsuk: Hello.. Sungjae umma?
Ibu Sungjae: Iya, ada apa?
Minsuk: Kami hanya ingin menanyakan apakah Sungjae bersama Jimin?
Ibu Sungjae: Tidak.
Hyosuk pun merebut kembali ponselnya.
Hyosuk: Ajumma, tadi di sekolah Sungjae terlihat pucat. Apa dia sedang sakit?
Ibu Sungjae: Oh.. Sungjae..
Hyosuk dan Minsuk pun bergegas ke rumah sakit.
"Tunggu sebentar, aku ambil jaket dulu", Minsuk.
Jimin sudah tiba di tangga rumah Minsuk.
"Sudah, aku bisa naik sendiri."
"Yaa jalanmu saja tidak meyakinkan! Kami akan mengantarmu sampai di depan rumah", Daesung.
Di depan rumah, Daesung mengetuk pintu.
"Sepertinya tidak ada orang."
Daesung pun menelphon Minsuk.
"Hei, bagaimana kau bisa punya nomor Minsuk?", tanya Taehyung."Aku punya kontak teman sekelas!"
"Aigoo.. apa suara ponsel di dalam milik Minsuk?"
"Hemm.." Jimin. "Coba telphon Hyosuk?"
Ketika Minsuk dan Hyosuk datang, Sungjae belum sadarkan diri.
"Bibi, apa yang terjadi?", tanya Hyosuk.
"Tadi siang saat di sekolah, Sungjae sudah bilang kalau dia tidak enak badan. Aku sudah menghubungi guru Hwang tapi Sungjae tidak mau diantar pulang."
Mereka menunggu Sungjae bangun. Hyosuk keluar mengangkat telphon dari Dasung.
Ibu Sungjae membaca pesan tadi sore dari Jongseok di ponsel Sungjae.
(Saat Jongseok pulang bersama ibunya.)[Jongseok: Sungjae! Apa kau sakit? Wajahmu pucat. Jangan pulang terlalu malam dari rumah Jimin. Jangan lupa minum obat.]
(Dan pesan dari Jimin serta pesan Minsuk saat Sungjae di rumah Jimin.)
[Sungjae: Aku senang bisa melihat kau tersenyum. Jangan pulang terlalu malam. Makanlah lalu belajar dan tidur! :p ]
"Aish~ Anak ini. Pulang? Ini kan rumahku.
[Jimin: Sungae! Kau juga makan lalu tidur! Tidak usah belajar agar aku bisa mengalahkanmu menjadi No.1 :p :p ]
[Minsuk: Sungjae apa kau masih di rumah Jimin? Jangan pulang terlalu malam. Sepertinya hari ini kau sangat lelah.]
[Sungjae: Aku sudah keluar dari rumah Jimin. Oh iya, Jimin belum makan jadi nanti kau harus membuatkannya makan malam. Dia tidak mau makan di rumahku.]
Bahkan ada pesan dari Edison'
[Edison: Sungjae apa kau sudah makan malam? Jangan lupa minum obat lalu istirahat. Selamat malam. :) ]
"Minsuk, apa kau yang bernama Minsuk?"
"Iya."
".. Aku senang Sungjae punya teman-teman yang saling perhatian satu sama lain. Selain teman sekelas ada juga dari kelas lain yang engirim pesan kepada Sungjae menanyakan tentang soal pelajaran sekolah.
*Sesibuk apa pun Sungjae saat sedang belajar sendiri atau pun sedang bersantai dengan teman-temannya, dia selalu berusaha membalas pesan teman-teman yang bertanya soal pelajaran*Sungjae telah sadarkan diri.
"Umma.. umma... "
"Sungjae, kau sudah bangun? Maaf, umma terlambat pulang."
"Umma, apa ini di rumah sakit?"
"Hemm.."
Jimin datang bersama Daesung dan Taehyung.
"Sungjae!"
Sungjae dan Jimin saling menatap dan mengkhawatirkan satu sama lain.
"Yaa kenapa kau bisa disni?", Jimin.
"Yaa ada apa dengan wajahmu? Ap kau berkelahi?"
"Aish~ Harusnya kau bilang kalau kau sedang sakit.."
"Siapa bilang aku sakit? Aku baik-baik saja. Harunya kau yang berbaring disini!"
Ibu dan Minsuk heran melihat mereka berdua.
Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Sungjae. Malam itu juga Sungjae bisa pulang.
Sungjae berterima kasih kepada Daesung dan Taehyung karena sudah menolang Jimin. (Taehyung yang tahu sejak awal.)
"Ya sudah, aku akan mengatar kalian pulang. Sungjae, kau sungguh baik-baik saja kan?"
"Iya umma." :)
Minsuk membuatkan makan malam untuk Jimin.
"Tadi aku menelphonmu berulang kali tapi kau tidak mengangkatnya."
"Ponselku tertinggal di rumah."
Hyosuk yang sedang menonton TV bersandar meja, menghadap ke belakang.
"Oh iya, tumben sekali Tahyung keluar malam. Dia itu hampir seperti Jongseok. Ibunya sangat ketat mengawasinya."
"Tapi ku piir ibu Taehyung lebih galak", Jimin.
"Kalian ini berhentilah membicarakan ibu orang lain. Aku tidur dulu!", Minsuk beranjak dari tempat duduknya.
Keesokan harinya di sekolah..
Sungjae datang terlamat saat pelajaran pertama tengah berlangsung."Sungjae? Kenapa kau terlambat?", tanya guru Shi.
"Maaf guru, aku terlambat bangun."
"Berdiri di belakang."
"Baik guru."
"Guru!", Jimin."Semalam Sungjae sakit jadi dia pasti terlambat bangun." (over sleep)
"Ah, aku baik-baik saja kok guru." Sungjae pun tetap berdiri di belakang.
Minsuk menatap Sungjae.
"Sunguh kau baik-baik saja?", Minsuk.
"Kenapa? Apa ketampananku berkurang?"
"Aish~ jinjja~"
*Sungjae menikmati pelajaran walau dengan berdiri.*
Ibu Sungjae sedang berada di kantor untuk mengurus kepindahan Sungjae. Saat ibu Sungjae pulang, Jimin melihatnya dari jendela setelah guru Shi meninggalkan kelas.
Sungae kembali ke tempat duduknya.
"Sungjae, apa ibumu kesini?", Jimin.
"Oh, hemm." :)
"Apa kau benar-benar..?" (Jimin sudah mengetahui soal kepindahan Sungjae)
"Aku tidak tahu."
Jam istirahat, anak-anak kembali mengerumuni aktor Gyosong dan Im Jaehyun untuk meminta tanda tangan. Taehyung berusaha mendekati Im Jaehyun tapi dia tidak sanggup menyelip di kerumunan teman-temannya. Dia pun menunggu di tangga lapangan. Ketika aktor Im Jaehyun lewat bersam staffnya..
"Aboeji..", Tahyung.
Im Jaehyun terkekut lallu menoleh ke belakang. "Taehyung?"
Teman-teman dikejutan oleh Tahyung yang memanggil Im Jaehyun "ayah". "Ayah?" "Woah, apa benar dia naknya?" "Apa benar dia anak aktor Im Jaehyun?" "Ahh tidak bisa dipercaya.."
Tahyung pun bericara dengan ayahnya yang seorang aktor laga terkenal itu.
".. Apa aku boleh tinggal bersama ayah?"
"Apa?" Ayah Taehyung terdiam sesaat.
"Aku tahu ayah akan menolakku. Aku tidak tahu alasan ibu melarangku untuk menemui ayah tapi aku selalu berusaha mencari ayah.. Tapi sudah lama ayah tinggal di luar negri jadi aku tidak pernah bisa bertemu ayah.."
Ayah Taehyung merangkul bahunya.
"Tentu saja boleh. Ayah tiak tahu apa kesalahan ayah sampai ibumu sangat membenciku. Aku ingin sekali hidup bersama keluargaku seperti saat kau masih kecil dulu tapi entahlah apa yang sebenarnya terjadi.."
"Aku tahu.. Aku tahu ibu mecintai pria lain. Dan aku tahu ayah pernah menyukai wanita lain.. Aku tetap sayang ayah apa pun yang terjadi.."
Mereka pun berpelukan penuh kasih sayang.
Di kelas banyak yang memuji karena ternyata ayah Taehyung seorang aktor terkenal.
"Aku masih tidak percaya kalau kau anak seorang super star.."
"Ayahmu.. aku fans ayahmu..", Daesung.
"Aha! Berikan tanda tanganmu di samping tanda tangan ayahmu.. Disini.", Dongho.
"Yaaa aku bukan siapa-siapa!"
"Kau sahabat kami!", Hyosuk.
"Apa kau juga mau tanda tanganku? huh?" :p
"Taehyung, aku juga fans ayahmu. Aku ingin tanda tangan ayahmu!", Sungjae.
"Aku juga!", Jimin. "Ah Hyosuk sering menonton drama yang dibintangi ayahmu!"
"Ya kenapa kau bicara seperti itu?", Hyosuk mengelak.
"Dia menempelkan tanda tangan ayahmu di lemarinya", Jimin.
"Yaa diam kau!!" -Hyosuk malu-
Akhir pekan, Sungjae dan teman-temannya kembali belajar bersama di perpustakaan setelah selesai sekolah.
Sungjae menikmati kebersamaannya bersama teman-temannya. Eunyong tahu kalau Sungjae akan pergi dan dia berusaha bersikap manis di hadapan Sungjae.
Edison bertanya kepada Sungjae, "Apa kau benar-benar akan pindah?"
"Huh? Siapa yang bilang? Tidak. Tdak ada alasan untukku pindah."
"Syukurlah kalau itu tidak benar. Aku ingin bisa ada di buku kelulusan bersamamu." :)
"Iya." :)
Minsuk dan Hyosuk sedang belajar bersama di meja depan toko dengan Minkyu. Paman Lee senang melihat kebersamaan mereka.
"Yang ini bagaimana?", Hyosuk.
Minkyu dan Minsuk berdebat atas jawabannya.
"Bukan begitu! Ini saja yang lebih mudah!", Minsuk.
"Tapi ini lebih mudah!", Minkyu."
"Aish~ kalian mulai lagi~~", Hyosuk.
Malam Minggu, Sungjae tidur di rumah Minsuk lagi. Begitu juga dengan Jongseok.
Mereka menghabiskan malam dengan barbaque dan bersenang-senang di belakang rumah Minsuk.
Usai bersenag-senang mereka berlima pun tidur berjajar.
Tengah malam, Sungjae masih terjaga karena tidak bia tidur. Saat semua telah terelap, Sungjae bangun dan menulis sesuatu di buku tulis milik Jimin.
Pagi yang cerah~~ Sungjae dijemput oleh ibunya.
"Bibi, selamat ulang tahun..", Jimin.
"Oh terima kasih.
"Selamat ulang tahun bibi, Sunjae umma..", ucap yang lainnya bersama.
"Terima kasih anak-anak. Maaf Sungjae aku bawa dulu. Nanti malam, kami akan kesini lagi dan bibi akan membawa kue untuk kalian."
"Akau mau kencan dengan ibuku, jadi kalian jangan ganggu aku!", Sungjae. :)
"Iya-iya.. Selamat bersenang-senang~~!"
Sungjae pun pergi dengan ibunya.
Selain merayakan ulang tahun ibunya, Sungjae juga membeli oleh-oleh untuk ayah dan kakaknya di Japan. Sungjae tidak lupa membeli hadiah untuk teman-temannya.
"Umma, kaosnya bagus yang ini atau ini?", Sungjae memlilih kaos.
"Umma, jam tangannya untuk Jongseok. Apa ini keren?", Sungjae memilih jam tangan. "Yang ini lebh keren nak!"
"Umma.. Aku ingin membelikan sepatu untuk Jimin. Bagus yang mana? Yang ini atau yang itu?", Sungjae.
"Coba lihat dulu yang disana..", umma.
"Yang ini?..."
"Umma, aku ingin membeli sesuatu yang couple untuk Minsuk dan Hyosuk. Kira-kira apa?"
"Umm.. kita lihat-lihat dulu saja."
"Aku juga ingin membeli tiga benda untuk aku, Jimin dan Jongseok."
Usai berbelanja, mereka pun lanjut jalan-jalan sampai hari mulai gelap. Hari yang sangat menyenangkan bagi Sungjae dan ibunya yang jarang menghabiskan waktu bersama.
Malam, Sungjae dan ibunya datang ke rumah Minsuk.
Pesta ulang tahun ibu Sungjae pun berlangsung sederhana tapi penuh keceriaan. Sungjae juga memberikan hadiahnya untuk teman-temannya.
Jongseok pulnag diantar oleh ibu Sungjae.
"Bibi, maaf aku mengajak Jongseok sejak kemarin. Kami belajar bersama dan jalan-jalan."
"Oh tidak apa-apa. Silahkan masuk?"
"Tidak bibi. Terima kasih. Kami langsung pulang saja. Sampai jumpa Jongseok!"
Pagi di sekolah, Sungjae tidak berangkat. Pelajaran pertama, guru Hwang.
/ Guru, aku tidak sanggup berpamitan dengan teman-teman. Aku tidak ingin sedih dan aku ingin pergi tanpa memberi tahu mereka. Ku mohon guru jangan memberi tahu kepada mereka sampai aku tiba di Japan", Sungjae berbicara dengan guru Hwang.
"Sungjae, apa terjadi sesuatu antara kau dengan teman-temanmu?"
"Tidak. Kami baik-baik saja. Ini hari terakhirku di sekolah dan maaf guru, aku tidak bisa menunggu sampai kenaikan kelas."
"Kalau begitu, katakan kepada guru apa yang ingin kau sampaikan keada teman sekelasmu? Biar guru yang menyampaikanya kepada mereka."
"Umm.. aku tidak tahu bagaimana cara mengucapkan perpisahan.."
"Ketiklah di ponselmu dan kirimkan kepada guru." \
Guru Hwang membaca pesan dari Sungjae sebelum dia masuk ke kelas.
[Sungjae: Guru, aku sedang berangkat ke bandara. Sampaikan salamku kepada teman-teman kalau guru sudah selesai pelajaran. Guru Fighting!! I love you.]
Guru Hwang masuk dan anak-anak memberi salam kepadanya. Guru Hwang memperhatikan tempat duduk Sungjae yang kosong. "Baiklah, kita mulai pelajarannya. Buka buku kalian!"
Di tengah pelajaran Jimin menanyakan Sungjae kepada guru Hwang.
"Guru, apa guru tahu kenapa Sungjae tidak berangkat?"
"Oh..iya. Apa kalian tidak tahu dimana Sungjae?"
"Dimana?", Jongseok.
Di belakang Hyosuk bertanya kepada Minsuk. "Apa Sungjae benar-benar ke Japan?"
"Huh? Aku tidak tahu."
Ketika guru Hwang membacakan pesan Sungjae dari ponselnya, Jimin mendekati Minsuk lalu meninggalkan kelas.
"Hei kalian berdua mau kemana?"
Jimin dan Minsuk tak mendengarkan guru Hwang. Mereka keluar dari sekolah.
"Minsuk, pinjami aku uang?"
"Huh? Oh ini.. Kau mau kemana?"
"Kau hubungi Sungjae! Aku akan menyusulnya ke bandara. Aku harus bicara dengannya!"
Jimin mencari taksi lalu pergi ke bandara.
Sungjae sedang menunggu jadwal terbangnya. Minsuk beberapa kali menenphonnya tapi Sungjae tidak ingin mendengar suaranya.
"Minsuk? Kenapa kau tidak mengangkatnya?"
"Umma, aku tidak ingin menangis."
"Maaf jka kau berat meninggalkan teman-temanmu. Kau kan masih bisa menghubungi mereka via online."
"Tidak apa-apa umma.."
Sungjae melihat sekelilingnya begitu pesawat yang akan membawanya ke Japan..
"Sungja.. kenapa kau tidak angkat telphonku?", Minsuk di sekolah.
Jimin masih di jalan.
Sungjae pun telah berada di dalam pesawat. Dia mengirim foto jendela pesawat (dengan tangannya yang menyentuh kaca jendela) kepada Jimin, Sungjae dan Jongseok.
[Teman-teman, maaf jika aku pergi seperti ini. Aku merasa bodoh karna lebih memilih keluargaku daripada kalian teman-teman baikku. Kalian harus menggantikanku menjadi No.1 di kelas. Selamat belajar.. Fighting!!]
Jimin menghentika supir taksinya.
"Paman, berhenti! Temanku sudah pergi.. putar balik paman."
Kepergian Sungjae ke Japan lebih sakit dirasakan Jimin bila dibandingkan saat ayahnya meninggal. Jimin menangis..
Minsuk dan Jongseok di kelas, usai guru Hwang meninggalkan kelas. Jongseok menangis dan Minsuk meneteskan air matanya.. (Minsu duduk di tempat Sungjae.) "Jadi Sungjae benar-benar pergi ke Japan?", tanya Eunyong.
Minsuk menunjukkan pesan dari Sungjae di ponselnya.
Eunyong pun berlari keluar dan menangis di toilet.
07.09
Seminggu setelah Sungjae di Japan..
Jimin, Jongseok, Minsuk dan Hyosuk sering menghabiskan waktu bersama untuk belajar sebelum menghadapi ujian. Mereka bersungguh-sungguh belajar karena Sungjae tak henti-hentnya menyemangati mereka. Sungjae ingin mereka mendapat nilai-nilai yang bagus di ujian akhir nanti. Di sekolah, Minsuk juga mengajak Edison untuk belajar bersama mereka..
Setelah ujian akhir berakhir.. Niai ujian telah keluar..
"Yeeeeeeeeeeeeeess~~~ Nilai kita bagus semua!!", Jimin.
Mereka pun bersorak senang dan saling berpelukan..
Sungjae menanyakan hasil ujian saat mereka berpesta merayakan nilai ujian mereka yang baik.
Sungjae: Bagaimana nilai kaian? Siapa yang menjadi no.1 ?
Hyosuk: Saudaraku!
Sungjae: Minsuk? Selamat ya Minsuk!! :)
Minsuk: Sungjae! Aku tahu aku tidak bisa lebih top darimu.
Kau memang tidak bisa dikalahkan.
Sungjae: Kau harus lebih banyak catatan!! :p
Jongseok: Sungjae! Kami sedang menikmati ayam goreng dan apa perlu kami kirim ke Japan untukmu? haha
Sungjae: Hahaha aku akan menunggu ayam goreng untukku.
Jimin: Sungjae! Bagaimana dengan sekolahmu disana?
Sungjae: Aku punya teman yang bisa bahasa Korea jadi aku belajar banyak dengannya.
Jimin: Ahh kau memang tidak bisa diragukan.
Sungjae: Lalu kau mendapat peringkat berapa?
Jimin: Aku? Aku ada dibawah Jongseok.
Jongseok: Aku dibawah Minsuk.
Sungjae: Woah~~ kalain benar-benar belajar dengan baik. Bagaimana dengan Hyosuk dan Edison?
Jongseok: Pasti nanti kau akan menanyakan semua siswa sekelas.
Minsuk: Hyosuk..
07.10
Hyosuk menatap Minsuk. "Kenapa? Katakan saja!"
Minsuk: Hyosuk No.7
Sungjaee: Edison?
Jimin: Dia No.9 Tapi nilainya bagus..
---skip--- Taehyung tinggal bersama ayahnya. Dongho hidup tenang setelah kakak perempuannya memiliki suami.
Minsuk melihat ponsel Jimin berdering.
"Jimin, kenapa tidak kau angkat telphonmu?"
"Biarkan saja."
"Apa dia orang yang kau kenal?"
"Hemm.."
"Apa kau tdak suka padanya?", tanya Minsuk yang sibuk dengan bukunya.
"Kau banyak tanya seperti Sungjae."
Ketika Jimin sedang di kamar mandi, Minsuk pun mengangkat telphon Jimin.
Minsuk: Hello..
Jongseok: Minsuk? Dimana Jimin?
Minsuk: Apa kau ganti nomor?
Jongseok: Apa Jimin sedang keluar?
Minsuk: Oh Jimin sedang ada di kamar mandi.
Jongseok: Aku akan ke rumahmu..
/ Jimin teringat saat mengangkat telphon dari ibunya.
Umma: Jimin, kau dimana nak?
Jimin: Kenapa baru sekarang umma menanyakan dimana keberadaanku?
Umma: Maafkan umma, nak. Umma akan jeaskan semuanya. Beritahu umma dimana kau tinggal..
Jimin: Tidak akan!
Umma: Jimin.. Jimin..!! \
Ketika Jimin kembali, dia melihat minsuk sedang menaruh ponselnya d meja.
"Sedang apa kau?", Jimin mengambil ponselnya.
Dia mengecek ponselnya.
"Kenapa kau angkat telphonku tanpa seizinku?", Jimin kesal.
"Itu.. Jongseok. Apa kau sedang marah dengan Jongseok?"
"Jongseok??"
"Hemm"
Jimin terdiam lau kembali duduk membaca bukunya.
Beberapa menit kemudian Jongseok datang bersama seorang ibu yang mencari Jimin(teman ibu Jongseok).
Jongseok berniat membari kejutan untuk Jimin.
"Hei semuanya.." :)
Jimin tak sedikitmu melihat ke arah Jongseok yang baru saja datang.
Hyosuk baru pulang dari acara pernikahan kakak Dongho.
"Aku pulang! Ada ada ini?" Hyosuk.
"Jimin, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.. Bibi, silahkan masuk!"
Ibu Jimin masuk dan.. Jimin tidak suka akan kehadirannya.
"Tada~~ Ibumu teman baik ibuku ternyata." :)
"Kenapa?", tanya Jongseok melihat ekspresi wajah Jimin.
Jimin pun mendorong tubuh Jongseok.
"Siapa bilang aku ingin bertemu dia? Huh?", Jimin marah kepada Jongseok.
Jimin mengabaikan ibunya lalu berlari keluar. Ibu dan Minsuk pun mengejarnya.
*Hyosuk sedang mengambil minum.*
Jongseok merasa bersalah dan sedih. Dia terdiam kaku..
Hyosuk mendekatinya lalu menepuk pundak kirinya.
"Jimin hanya sedang kesal dengan ibunya.." (Maksud: Jimin bukan marah kepada Jongseok.)
"Harusnya kau bertanya dulu sebelum bertindak, Jongseok", ucap Jongseok.
"Jimin, umma mohon ayo bicara dulu! Hem?"
"Aku tidak mau!", tolak Jimin melepas tangan ibunya.
"Jimin, jangan begitu kepada ibumu!", Minsuk.
Jongseok keluar dan melihat Jimin sedang bertengkar dengan ibunya. Minsuk ada di tengah mereka.
Jimin memilih untuk pergi karena ibunya tidak mau pergi.
"Ajumma, nanti biar aku bicara dengan Jimin. Sebaiknya sekarang ajumma pulang dulu."
"Hemm.. Tolong bujuklah Jimin untuk menemuiku."
Ibu Jimin pun pergi. Ketika Minsuk hendak naik tangga, dia melihat Jongseok berjalan di persimpangan. Minsuk mengejarnya.
"Jongseok!! Hati-hati di jalan!!", teriak Minsuk kepada Jongseok di sebrang jalan.
Setelah kejadian itu, Jimin tidak suka bertemu Jongseok. Dia selalu menghindar setiap Jongseok menyapanya. Di sekolah, Minsuk jadi mengkhawatirkan mereka berdua. Jongseok dan Jimin makan siang sendiri-sendri di meja yang terpisah jauh. Minsuk bingung memilih duduk dengan siapa. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan Hyosuk yang sedang bersama Daesung cs.
"Ada apa dengan mereka berdua?", tanya Dongho.
"Mereka sedang konflik", terang Hyosuk.
"Rasanya aneh melihat mereka tidak bersatu", Daesung.
"Apa persahabatan mereka begitu erat?"
"Tentu saja! Sebelum kau menjadi teman mereka, Jimin dan Sungjae sudah sangat terkenal di sekolah ini sejak hari pertama sekolah dulu", Dongho.
"Itu Jongseok bukan Sungjae!", Taehyung.
"Ah Jongseok menjadi orang ketika di antara mereka berdua di kelas 2. Mereka bertiga sangat dekat dan lebih dekat dibanding kita berempat!"
"Apa sejak kelas satu kalian sekelas?", Minsuk.
"Tiak. Aku sekelas dengan Daesung dan Taehyung sekelas dengan Hyosuk. Tapi kami sudah bersatu sejak awal sekolah."
"Yaa!! Kenapa kau bicara sebanyak itu?!!", Hyosuk.
"Hehe.."
"Kalau kau dan Hyosuk?", tanya Taeehyung.
"Oh, sudah sejak bayi. Kami lahir selang satu bulan, jadi kami tumbuh besar bersama", Minsuk.
"Sudah diam", Hyosuk menyuapi sausage Minsuk.
Ketika Minsuk beranjak dari tempat duduknya dan hendak mengembalikan alat makannya, kakinya dijegal oleh Taehyung. Minsuk pun terjatuh.
"Aiya!!"
Hyosuk dan teman-temanya pergi meninggalkan Minsuk. Daesung mengedipkan matanya kepada Minsuk. (Sebagai tanda itu untuk mencari perhatian Jimin dan Jongseok.
Jimin dan Jongseok secara bersamaan berlari membantu Minsuk. Jimin lebih dulu membantu Minsuk. Jongseok pun hanya terdiam melihat Minsuk pergi dengan Jimin.
Hyosuk mendekat lalu merangkul bahu Jongseok. "Ayo!!" 가자! :)
Pulang sekolah, Jongseok makan mie instant di toko Minsuk.
Hyosuk memberikan minuman kotak kepada Jongseok.
"Kau baik-baik saja?"
"Oh.. hemm.."
Minsuk duduk di depan Jongseok.
"Nanti aku akan bicara dengan Jimin dan kau tidak usah khawatir."
"Aku tidak menyangka kalau dia akan semarah itu kepadaku.."
"Kau jangan menyalahkan dirimu seperti itu!" :)
Setelah Minsuk berbicara dengan Jimn, Jimin pun mau menemui ibunya.
"Maaf umma,. aku tidak bisa tinggal bersama umma. Aku akan tunjukkan kepada ayah kalau aku bisa mandiri. Aku akan tetap tinggal bersama teman-temanku sampai aku menemukan jati diriku.."
Ibu Jimin mengerti dengan keinginann anaknya, dia pun merelakan Jimin tidak ikut dengannya.
Jimn mendekap ibunya sebelum ibunya kembali ke kota tempatnya tinggal.
"Jaga dirimu baik-baik. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi umma ya?"
"Hemm.." :)
Jimin melihat taksi yang membawa ibunya pergihingga hilang dari pandangannya.
/ Teringat pesan Sungjae sebelum pergi.. "Teman-teman, maaf jika aku pergi seperti ini. Aku merasa bodoh karna lebih memilih keluargaku daripada kalian teman-teman baikku..."
Ucapan Minsuk yang meluluhkan hati Jimin, "Aku tidak pernah menyangka jika ibuku pergi sebelum melihatku sukses. Kau.. temuilah ibumu! Jangan membuatnya merasa sedih atau kau akan menyesal nanti."
"Jika aku menemui ibuku, apa kau akan mengusirku?"
"Apa maksudmu? Aaah~~ kau masih ingin tinggal disini?"
Jimin hanya diam.
"Yaa! Kenapa kau diam saja? Kalau kau memang ingin tinggal disini, ya silahkan! Terserah kau! Kita sudah janji akan menggapai cita-cita bersama kan? Lagi pula kau juga sudah bekerja." (Mengantar ayam goreng.) \
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Jimin pun pergi ke rumah Jongseok.
Jimin membawakan sekantong plastik jeruk untuk Jongseok.
"Jimin?"
"Ini untukmu! Aku tidak marah, aku hanya sedikit kesal. Maafkan aku..". :)
Jongseok mengulungkan tangannya. Mereka pun salaman.
"Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok! Selamat malam!"
"Hemm.. terima kasih. Hati-hati di jalan!"
Jimin pulang dan memberikan jeruk kepada Minsuk juga.
"Terima kasih!" Minsuk. 고마워
Hari demi hari mereka lalu bersama-sama dan mereka banyak menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Entah di erpustakaan atau pun di rumah.
Setahun kemudian..
Sebelum tidur, Jimin membaca catatan dari Sungjae sebelum dia pergi di bukunya.
"Aku ingin bertemu Sungjae.. Ternyata sudah setahun lebih aku tidak bertemu dengannya.."
Minsuk sedang menghitung uang tabungan dari tabungan kalengnya.
"Apa kau ingin ke Japan?"
Jimin melihat Minsuk dengan uangnya.
"Huh? Tidak.. Kalau dia merindukanku, dia pasti akan kesini.."
"Harusnya dia ikut pesta kelulusan kita besok.."
"Yaa kalau Sungjae datang di kelulusan kita, dia pasti akan sedih?", cela Hyosuk.
Pagi di sekolah.. Para siswa sedang bersiap-siap untuk acara kelulusan..
Acara berlangsung begitu menyenangkan..
Usai acara kelulusan, Jimin dkk pergi ke warung makan milik ayah Eunyong untuk merayakan kelulusan mereka. Daesung dkk juga ikut dengan mereka.
Malam.. Minsuk pulang dari toko sendiri. Jimin sedang chatting dengan Sungjae di tempat tidurnya.
"Kau sudah pulang?"
"Hyosuk belum sampai di rumah?"
"Belum. Bukankah tadi dia bersamamu?"
"Dia pulang lebih dulu. Harusnya dia sudah sampai.."
Minsuk mendapat sms dari Edison.
[Edison: Minsuk, aku melihat Edison berjalan sendiri di jembatan. Dia mau kemana malam-malam begini?]
[Minsuk: Kau sendiri sedang apa di jembatan?]
[Edison: Aku hanya lewat tadi. Aku baru pulang dari rumah kakakku.]
"Ada apa?", tanya Jimin.
"Hyosuk di jembatan?"
jimin melihat ke arah lemari pakaian Hyosuk.
"Oh? Lemarinya?"
Minsuk pun memeriksa lemari hyosuk yang tidak tertutup rapat.
Minsuk membaca surat kecil yang ditulis Hyosuk, "Yeonsuk hyung, seminggu yang lalu aku bertemu polisi yang menangani kasus kecelakaan itu. Polisi itu bilang umma amnesia saat ditemukan. Tapi umma meninggal karena kecelakaan setelah umma melarikan diri dari rumah sakit. Hari ini kelulusanku dan aku sendiri tanpa orang tua atau pun kau. Aku.. ", surat yang ditulis Hyosuk terpotong.
Minsuk berlari keluar untuk mencari Hyosuk. Ketika Jimin menyusulnya, Jongseok baru saja datang. Mereka bertiga pun bersama-sama mencari Hyosuk.
"Hyosuk!! Hyosuk kau dimana!!"
Minsuk, Jimin dan Jongseok berteriak memanggil-manggil Hyosuk.
"Apa kau melihat orang ini?", tanya Jimin kepada beberapa seorang yang ada di sekitar jembatan (sambil menunjukkan foto Hyosuk di ponselnya).
"Minsuk! Itu!!", Jongseok menunjuk seseorang yang sedang duduk dipagar jembatan.
Minsuk pun berlari untuk menarik Hyosuk turun dari pagar.
Hyosuk jatuh tersungur setelah Minsuk menariknya.
"Apa kau sudah gila? Huh? Apa kau ingin mati?" 미쳤어?
"Kenapa?", jawab Hyosuk dengan wajah polosnya. Dia duduk di pinggir jalan.
Jimin dan Jongseok membantu Minsuk berdiri.
Hyosuk melipat kakinya lalu menyandarkan kepalanya di kedua lututnya. Hyosuk pun menangis..
Seorang pria berjaket rapat sedang duduk di tangga depan rumah minsuk.
"Kenapa mereka masih di luar jam segini?" (pukul 11:49)
Jimin mendapat sms dari Sungjae.
[Sungjae: Apa kalian sudah tidur?]
Jimin tak menyadari jika Sunjae mengirim sms dari luar negri.
[Jimin: Kami sedang di jembatan. Terjadi drama mengharukan disini.]
Minsuk berusaha membujuk Hyosuk untuk tetap tingal di rumahnya.
Mereka pun bicara di taman dekat sungai.
"Berhentilah membuatku berlari mengejarmu..", Minsuk.
Jongseok ikut bicara, "Bukankah kita sudah berjanji akan mengerjar impian bersama-sama walau cita-cita kita berbeda? Huh?"
Jimin berdiri bersandar pohon. Dia hanya menjadi pendengar.
"Melihat Minsuk berlari karena mengkhawatirkanmu, rasanya seperti saat Sungjae berlari karena merindukan Jimin setiap saat. Kadang aku merasa sedih saat aku melihat kalian berpasangan. Saat pertama kali Minsuk menjadi teman baru kami, aku senang bisa punya teman ke 4 dari kami.. tapi ternyata Hyosuk adalah sahabat Minsuk. Dari kalian berempat.. hanya aku yang tinggal bersama keluarga utuh, tapi.. "
(Tanpa mereka sadari Sungjae sudah berdri di balik pohon Jimin bersandar.)
"Tapi aku tidak pernah punya kebebasan bermain-main seperti kalian. Meski aku terus menghabiskan waktu untuk belajar bersama adikku.. aku tidak pernah bisa mengalahkan Sungjae menjadi No.1 di kelas. Aku iri kepada kalian semua yang bisa belajar sambil bermain kesana-kemari.. Aku..", Jongseok meneteskan air mata yang tak terbendung lagi.
Jimin pun mendekat dan merangkul bahunya.
"Aku iri kepada kalian bertiga yang bisa bersenang-senang tanpa pengawasan orang tua. Aku sangat takut ketika kau(Jimin) marah kepadaku karena aku memberi tahukan ibumu dimana kau berada.. Aku selalu merasa senang ketika aku membeli sesuatu di toko dan bertemu Minsuk dan Hyosuk. Walau hanya sapaan kecil, aku senang kalian selalu menyapaku.. Sungjae, dia selalu bahagia bersama keluarganya walau dulu dia sering sendiri di rumah.. Aku juga merindukan Sungjae yang selalu banyak bertanya.. "
(Air mata Sungjae terus mengalir..)
Jongseok menangis tersedu.. Hyosuk hanya bisa terdiam. Semua mata telah meneteskan air mata.
Sungjae pun melangkah pelan mendekat dan mendekap Jongseok dari belakang.
"Sudah jangan bicara lagi!", Sungjae.
"Sungjae???", Minsuk, Jimin dan Hyosuk terkejut melihat Sungjae yang tiba-tiba datang.
Sungjae berdiri. "Yaa!! Kenapa kalian bermain drama tanpaku? Harusnya aku yang menulis script-nya!!"
Kelucuan Sungjae melebur perasaan sedih yang tercipta..
Mereka pun saling berpelukan ~~~
Taehyung bersama ayahnya sedang jalan-jalan dengan mobil sport ayahnya. Dia mengajak Dongho dan Daesung bersamanya. Hyosuk telah diajak tapi dia memilih bersama Mnsuk dkk.
Di pantai..
"Janji!!?" 약속!
"Kita akan berlari bersama menggapai imipan~~ Fighting!!!!!"
Minsuk, Hyosuk, Jongseok, jimin dan Sungjae berlomba lari di tepi pantai.. Menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dan menyapu lembutnya pasir pantai dengan pijakan kaki mereka.
"Berlari bersama teman itu lebih menyenangkan bukan?", Hyosuk.
"Jangan berlari menghindari masalah tapi berlarilah menghadapi semua.. ", Minsuk.
Hyosuk pergi ke kantor.
"Hyosuk!! Kau tidak mengerjakan tugas Math lagi? Sebelum pulang kau harus sudah menyelesaikannya. Mengerti?!!" guru Hwang.
"Ne"
"Kembalilah ke kelas"
Di kelas Taehyung duduk di kursi Hyosuk.
"Kau dari kantor?"
"Aku belum mengerjakan tugas Math. Nanti aku akan pulang setelah aku menyelesaikannya."
"Kalau begitu aku akan menemanimu! Bagaimana?"
"Tidak perlu, guru Hwang pasti akan mengawasiku. Aahhh~~"
Sepulang sekolah, Hyosuk telah ditunggu guru Hwang di perustakaan. Ia harus mengerjakan tugas Math sebelum meninggalkan sekolah.
Sungjae dan Jongseok segera pergi ke RS.
Minsuk baru saja makan setelah beberapa saat tersadar.
"Hay, kau sudah lebih baik?", Sungjae.
"Hmm" :)
"Semalam aku ingin keluar dari rumah tapi umma mengunci kamarku. Umma benar-benar mengawasiku", Jongseok. :(
"Karena kalian sudah disini, aku ingin keluar dulu untuk makan", Jimin.
"Oke, makanlah!", Sungjae. :D
Jimin pun keluar dan mengambil segelas kopi. Ia duduk untuk meminum kopinya. Karena mengantuk, Jimin pun tertidur di kursi itu.
Sungjae menanyakan apa yang terjadi semalam kepada Minsuk.
"Semalam Hyosuk yang menelphon Jimin. Apa dia yang membawamu kemari?"
"Aku tidak ingat apa-apa saat bangun tadi. Tapi sepertinya semalam aku tidur di sofa dan Hyosuk duduk di hadapanku. Ku pikir itu hanya mimpi.."
"Apa yang terjadi semalam? Kau kemana saja?", Jongseok.
Minsuk menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, ini aku bawakan jeruk. Kau suka jeruk kan?", Sungjae.
"Gomawo." :)
"Jongseok, kau juga suka kan? Ini makanlah!" :D
"Gomawo." :)
"Aku ambikan kopi dulu ya?"
"Okay!"
Sungjae pun keluar untuk mencari kopi. Ia tertawa kecil melihat Jimin yang tertidur duduk di kursi.
"Jimin, bangunlah! Ayo pindah ke kamar Hyosuk!"
Sungjae menuntun Jimin yang mengantuk untuk berbaring di ranjang kamar Hyosuk dirawat.
"Haha.. Jimin sangat mencemaskanmu tadi malam. Dia pasti tidak bisa tidur saat kau belum bangun", Sungjae.
"Maaf, aku jadi merepotkan kalian."
"Ahh tidak. Kau kan teman kami jadi kalau kau ada masalah katakan saja!"
"Kami pasti akan membantumu", sambung Jongseok.
06.20
Malam.. Jongsuk telah pulang karena harus tepat waktu di kamarnya. Sungjae menelpon ibunya kalau dia di RS menemani temannya. Jimin pulang untuk ganti baju dan akan kembali lagi.
"Minsuk, apa kau sungguh baik-baik saja? Apa lukamu ada yang sakit?", Sungjae bertanya keadaan Minsuk.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskanku."
"Apa teradi sesuatu? Hmm? Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya?"
"Kau pasti sudah dengar dari dokter kan? Perutku memang sakit tapi sekarang sudah tidak apa-apa seteah operasi."
"Ahh bukan itu maksudku.. Apa kau berkelahi dengan seseorang? Seorang suster bilang kau habis dipukuli orang. Siapa?", Sungjae sangat penasaran.
"Apa Hyosuk dan teman-temannya?"
"Ah, itu tidak benar. Kau tidak mengantuk?", Minsuk mengalihkan pembicaraan.
"Aish~ Baiklah, aku akan tidur kalau kau tidak mau bercerita."
Sungjae pun rebahan di tempat tidur sebelah.
"Sebelum tidur, umma selalu mengirim pesan kepadaku. 'Apa Sungjae sudah tidur? Selamat malam..' Walau umma sibuk, umma tetap perhatian keadaku. Bisa melihat wajah umma saat sarapan atau saat umma pulang kerja, itu sudah membuatku tenang. Eh tunggu sebentar, Jimin sms."
[Jimin: Aku akan terlambat ke RS. Aku harus menunggu ayah pulang dulu. Apa Hyosuk sudah tidur?]
[Sugjae: Hampir tidur.]
[Jimin: Kau juga harus segera tidur! Besok kan sekolah.]
[Sungjae: Ne :) ]
Sungjae pun melanjutkan ceritanya.
"Jimin sedang menunggu ayahnya pulang."
"..Aku dan Jimin berteman sejak aku pindah sekolah saat SD. Kami selalu bersama-sama kemana pun. Belajar bersama dan berpetualangan bersama. Dulu ada noona(kakak perempuan) yang menjadi guru kami saat belajar bersama, tapi setelah kakak pergi ke luar negri, aku dan Jimin tidak lagi belajar bersama."
"Kenapa?"
"Jimin harus merawat rumahnya karena orang tuanya berpisah. Sekarang Jimin tinggal bersama ayahnya. Dia anak tunggal."
"Ayahmu?"
"Ayah seorang diploma dan sekarang ayahku sedang bekerja di Japan."
"Apa ibumu sangat sibuk?"
"Umma sangat mencintai pekerjaanya sebagai seorang reporter. Bahkan ayah tidak bisa membujuk umma untuk ikut dengannya. Saat masuk SMA dan berteman dengan Jongseok, aku bersyukur, karena aku masih bisa bebas walau umma mengawasiku. Jongseok tidak bisa bebas bermain-main seperti aku dan Jimin. Dia sering dikurung di kamar jika ketahuan bermain sampai malam dengan aku dan Jimin. Tapi dia tidak pernah bosan dihukum oleh ibunya."
"Apa Jongseok punya saudara?"
"Jongseok punya adik perempuan dan (hyung)kakak laki-laki. Karena kakaknya sudah bekerja, dia bebas dari peraturan, itu kata Jongseok. Yaah itulah kami bertiga dan kami senang kau menjadi teman kami."
"Umm.. Orang tuaku meninggal saat aku berusia 9 tahun dan aku tinggal di Panti Asuhan sampai lulus SMP. Aku kembai kesini karena aku sangat merindukan orang tuaku. Aku bertemu paman pemilik mini market tempatku bekerja. Paman itu memberiku pekerjaan serta rumah di atap. Paman Seo menganggap semua karyawan sebagai anaknya sendiri. Dia sangat baik kepada kami semua."
Ketika Minsuk menceritakan kehidupannya, Hyosuk sedang ada di luar dan jadi mendengarkannya.
"Emm.. lalu kenapa.."
"Kenapa?"
"Ah tidak jadi. Aku lupa mau bertanya apa."
"Kenapa aku dikeluarkan dari sekolah? Aku sudah biasa mendapat perlakuan kasar dari kakak kelas saat di panti.. dan aku tidak menyangka kalau perlakuan itu berlanjut di SMA. Aku selalu meyakinkan diriku kalau aku akan baik-baik saja tapi akhirnya aku dikeluarkan dari sekolah. Ku pikir Daesung akan menjadi waspadaku tapi terima kasih karena kau Jimin dan Jongseok mau manjadi temanku. Ku rasa aku sungguh baik-baik saja.."
"Apa.. benar Daesung yang memukulimu?"
"Oh tidak. Bukan mereka."
"Ahh baiklah~ Jalja~~(Selamat malam)." (-_-)
Hyosuk masih di luar. Dia menunggu hampir sejam sebelum masuk untuk menjenguk Minsuk.
Hyosuk merapikan selimut dan menyelimuti tangan Minsuk. Ia memperhatkan wajah Minsuk beberapa saat. Ketika Hyosuk membuka pintu untuk keluar, Minsuk terbangun dan memanggil Hyosuk.
"Hyosuk.."
Hyosuk segera keluar. Jimin baru saja datang. Ia kesal melihat kehadiran Hyosuk.
"Apa yang kau lakukan disini?!! Huh?!! Kau yang telah membuat Minsuk celaka bukan??? Sedang apa kau disini huh?!!", Jimin hampir melayangan kepalan tangannya tapi Sungjae mencegahnya.
"Jimin, ini rumah sakit. Jangan membuat keributan disini. Hyosuk!! Sedang apa kau disini? Kalau mau menjenguk Minsuk, jangan masuk diam-diam."
Hyosuk pun bergegas pergi.
"Hei!! Kau mau kemana?!! Kau belum menjawabku!!", Jimin masih kesal.
"Jimin, cukup! Ayo masuklah~"
"Apa Hyosuk sudah pergi?", tanya Minsuk.
"Hemm", Sungjae.
"Anak itu sangat mencurigakan", Jimin.
Pagi harinya Jongseok tiba di kelas paling awal. Karena masih sepi, ia pun belajar sampai mengantuk. Jongseok menyandarkan kepadalanya dengan tangan dan matanya terpejam. Ia hampir jatuh ke belakang saat Nami masuk ke kelas. Nami membantunya.
"Aigoo.. Kenapa aku ngantuk begini.."
"Apa semalam kau kurang tidur?'
"Aku tidak bisa tidur nyenyak karena adikku sakit dan terus menangis. Tapi dia sudah baik-baik saja tadi pagi."
"Umm.. bagaimana keadaan Minsuk?"
"Oh, nanti malam dia sudah bisa tidur di rumah. Kalau kau ingin menjenguknya, nanti sepulang sekolah kau bisa pergi denganku dan Jimin Sungjae."
Taehyung dan Hyosuk baru datang.
"Baik, nanti sepulang sekolah aku ikut kalian menjenguk Minsuk." :)
"Okay!" :)
"Hyosuk!", Nami memanggil Hyosuk yang baru saja duduk.
"Apa?'
"Kau belum mengumpulkan tugas bahasa dan guru Shi menyuruhmu untuk menyelesaikannya nanti siang."
Hyosuk mulai kesal dengan tugasnya.
Jam istirahat siang, Hyosuk pergi ke perpustakaan utk menyelesaikan tugas bahasanya. Daesung, Dongho dan Taehyung menghampirinya.
Daesung memberikan contekan untuk tugas bahasa Hyosuk.
"Terima kasih", Hyosuk. :|
"Belakangan ini kau mulai berubah.. Apa terjdi sesuatu dengan kakakmu?"
Hyosuk terdiam.
"Kenapa kau diam saja?", Dongho.
"Kakakku masih belum ada kabarnya.."
Ketika jam makan siang, Hyosuk mendapat sms dari kakakknya (Yeonsuk).
[Yeonsuk: Aku ada di rumah. Jam berapa kau pulang sekolah?]
Hyosuk langsung berlari pulang meninggakan sekolah.
Setelah mengetuk pintu, Yeonsuk membukakan pintunya tapi ia terjatuh karena sedang sakit. Ada beberapa luka lebam di wajahnya.
"Hyung.. apa yang terjadi? Hyung.. Hyung..?"
Yeonsuk sangat lemas dan tidak bisa menjawab Hyosuk.
"Hyung.. kenapa kau jadi begini? Siapa... Hyung.."
Hyosuk pun membawa kakaknya ke Rumah Sakit yang sama dengan Minsuk dirawat.
06.22
"Hyung, apa yang terjadi?"
"..Aku menyaksikan sebuah pembunuhan.."
"Apa??"
"Mereka pasti sedang memburuku.."
"Hyung, aku akan mengantarmu ke kantor polisi. Bagaimana?"
"Tidak perlu.. Jangan khawtir."
Sepulang sekolah Nami ikut Jimin dkk menjenguk Minsuk di RS.
Ketika masuk ke RS, Hyosuk bertemu Nami di meja regristasi.
"Hey Hyosuk, kau sedang apa disini? Apa kau juga menjenguk Minsuk?"
"Tidak", jawab Hyosuk berlalu.
Nami pun ke ruang Minsuk dirawat. Hyosuk kembali ke ruang kakaknya.
Hyosuk ditelphon oleh guru Hwang.
Guru Hwang: Hyosuk, kau dimana? Kenapa membolos?
Hyosuk: Aku di Rumah Sakit.
Guru Hwang: Apa sama dengan Minsuk dirawat?
Hyosuk: Ne..
Guru Hwang: Baiklah, aku akan segera kesana!
Hyosuk: Guru.. guru!! (Guru Hwang telah menutup telphonnya.) Aish~~
Nami membawa jeruk untuk Minsuk.
"Ku dengar dari Jimin, kau suka buah jeruk. Jadi aku bawakan jeruk untukmu."
"Terima kasih."
"Apa kau sudah membaik?"
"Iya. Nanti malam aku sudah bisa pulang."
"Baguslah kalau begitu. Umm.. aku membawa tugas bahasa dari guru Shi dan aku akan membantumu mengerjakannya.."
"Terima kasih." :)
Nami tersenyum kepada Minsuk. Jongseok memperhatikan Nami dan Minsuk.
Nami mengelupas kulit jeruk untuk Minsuk. Ia juga memberikan jeruknya kepada Jongseok.
"Jongseok, apa kau sedang melamun?"
"Oh tidak.."
"Aaa kau melamun. Ini jeruk untukmu!"
"Terima kasih.."
Guru Hwang datang ke RS untuk menjenguk Minsuk tapi dia juga ingin bertemu Hyosuk terlebih dahulu.
"Hyosuk, apa kau sakit?"
"Tidak."
"Lalu, siapa yang sakit?"
"Umm.. kakakku."
Guru Hwang pun meminta Hyosuk mengantarnya bertemu kakak Hyosuk.
Yongsuk sedang tidur ketika guru Hwang menjenguknya.
"..Kalau kau butuh bantuan katakan saja!"
"Guru, apa anda bisa meminjami uang untuk membayar biaya perawatan kakakku? Aku pasti akan segera menggantinya."
"Tentu saja bisa. Apa.. terjadi sesuatu dengan kakakmu?"
"Aku tidak tahu.."
"Semua muridku adalah anakku dan kakakmu pernah menjadi muridku. Kalau ada apa-apa katakan saja padaku, aku akan pasti akan membantu kalian. Jangan sungkan." :)
"Terima kasih, guru."
Guru Hwang pun menjenguk Minsuk. Nami sudah pulang.
"Minsuk, bagaimana kabarmu?"
"Guru Hwang, aku baik-baik saja."
"Nanti malam, Minsuk sudah bisa pulang. Sekarang tinggal menghabiskan infusnya", terang Jimin.
"Baguslah kalau begitu. Tapi.. wajahmu tidak baik-baik saja. Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Ahh.. tidak, tidak apa-apa."
Setelah Guru Hwang pergi, Edison Choi yang pernah ditolong Minsuk dari Daesung datang menjenguk Minsuk. Dia senang karena Minsuk mau menjadi temannya.
Daesung sedang bersiap untuk pergi. Ketika hendak meninggalkan kamarnya, ia mendengar percakapan ayahnya dengan para pengawal.
"Cepat cari rumah orang itu dan tangkap dia sesegera mungkin!!!"
"Baik bos!!"
Setelah ayah dan para pengawal meninggalkan ruang tamu, Daesung pun keluar dari kamanya. Ia melihat sebuah foto di meja. Daesung sangat tercenga karena foto itu adalah kakak Hyosuk.
"Yeonsuk hyung?", batin Daesung.
Daesung pun mengirim sms kepada Hyosuk.
[Daesung: Kau diaman?]
[Hyosuk: Kenapa?]
[Daeung: Kau dimana?!!]
[Hyosuk: Aku menemani Yeonsuk hyung di Rumah Sakit. Ada apa?]
[Daeung: Ya sudah.]
"Ada apa dengan anak ini?", pikir Hyosuk.
Nami bertemu Eunyong di sebuah kafe. Dia sedang duduk sendirian menikmati secangkir kopi.
"Nami!!"
"Eunyong, ada apa?"
"Apa Sungjae masih di rumah sakit?"
"Hemm.. kenapa?"
"Ah tidak.. Dia hanya tidak membalas smsku."
"Sungjae.. Sepertinya dia tidak membawa ponsel. Tadi ku dengar ponselnya tertinggal di perpustakaan. Lalu Jimin menghubungi petugas perpustakaan."
"Ohh..begitu rupanya."
"Kau tidak menanyakan keadaan Minsuk yang sakit?"
"Aku kan tidak mengenalnya~"
"Aigoo.."
Guru Hwang memikirkan keadaan Minsuk dan Yeonsuk.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengan Yeonsuk tapi apa...? Dia anak yang baik dan rajin. Sangat berbeda dengan Hyosuk yang pemalas.. Minsuk.. aku harus mencari tahu tentang dia.."
Guru Hwang mencari tahu tentang Minsuk di sekolahnya yang dulu.
Malam itu juga Yeonsuk meninggalkan RS. Saat keluar dari RS, Yeonsuk dan Hyosuk berpapasan dengan Sungjae dan Minsuk di depan RS. Hyosuk bertatapan sesaat dengan Minsuk dan Sungjae.
"Hyosuk, seragam anak itu sama denganmu. Apa kau mengenalnya?"
"Tidak."
Hyosuk dan Yeonsuk masuk ke dalam taksi.
Minsuk memperhatikan mereka berdua.
"Yeonsuk hyung.."
"Apa?"
"Ahh tidak.."
Jimin dan Jongseok keluar.
"Kalian lama sekali!", Sungjae.
"Tadi antri dulu di toilet.", Jimin.
Mereka pun mengantar Hyosuk pulang dengan naik bus bersama-sama.
Untuk pertaman kalianya mereka masuk rumah Hyosuk.
"Rumahmu rapi sekali..", Jimin.
"Kau benar-benar tinggal sendiri?", jongseok.
"Sejak keluar dari panti, aku tinggal sendiri disini."
Paman Lee pemilik toko datang membawa makanan untuk Minsuk dan teman-temannya.
"Maaf, paman tidak sempat menjengukmu di rumah sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku sudah lebih baik setelah operasi. Terima kasih paman."
"Ya sudah, makanlah. Paman pergi dulu."
"Terima kasih atas makan malamnya paman!!!", Jimin, Sungjae dan Jongseok.
"Terima kasih paman!"
"Wah.. pama itu benar-benar baik. Aku percaya dengan ceritamu", Sungjae.
"Yaaa cerita apa?", Jimin.
"Paman itu pemilik toko tempat kau bekerja?", tanya Jongseok.
"Iya. Dia yang memberiku rumah atap ini. Dulu rumah ini ditinggali oleh karyawan sebelum aku. Karyawan itu pergi setelah dia lulus kuliahnya."
Jongseok ditelphon ibunya.
"Aish~~ aku belum selesai makan~ Umma pasti menyuruhku pulang."
'Umma: Jongseok!! Kau dimana?!! Cepat pulang!!'
'Jongseok: Aku massih di perpustakaan dengan Sungjae. Baik umma, aku akan segera pulang.'
"Kenapa kau berbohong?", Sungjae.
"Umma akan menghukumku jika aku bermain-main. Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok."
"Hati-hati di jalan", Jimin.
"Terima kasih Jongseok", Minsuk.
"Hemm.. Aku pulang dulu."
Sungjae, Jimin dan Minsuk makan malam bersama. Usai makan malam, Sungjae mendapat sms dari ibunya. Ia menunjukkan sms-nya kepada Jimin dan Minsuk.
[Sungjae umma: Sungjae, apa kau sudah makan? Kau dimana? Umma menunggumu di ruang security. Cepat pulang!]
"Kau tidak akan dihukum ibumu bukan?", Minsuk.
"Tidak. Setelah kakakku pergi ke luar negri, umma sangat memperhatikanku walau dia sangat sibuk. Umma membiarkan aku bermain keluar karena umma tahu aku kesepian jika di rumah sendirian."
"Aku juga harus pulang sekarang. Ayah pasti menungguku. Ayo Sungjae!", Jimin.
Sungjae berkata seperti itu untuk mendapat perhatian dari Jimin.
"Terima kasih guys! Sampai jumpa besok di sekolah!", Minsuk.
Hyosuk dan kakaknya baru saja selesai makan malam dengan mie ramen.
"Hyosuk, kita harus segera pindah dari rumah ini. Paman Jang akan pulang dari Eropa dan rumah ini akan ditempati olehnya bersama istri dan anaknya. Temanku sedang mencarikan pekerjaan untukku. Kalau aku sudah mendapat pekerjaan, kita akan pindah di tempat kos temanku."
"Terserah hyung, asal jangan pernah tinggalkan aku lagi!" :)
Yeonsuk mengusap kepala Hyosuk.
"Maaf, aku hanya sedang berpetualang~~" "Oh iya, tadi temanmu di rumah sakit, sepertinya dia tidak asing. Apa aku pernah bertemu dengannya?"
Hyosuk berpikir itu Minsuk.
"Ah banyak orang yang satu sekolah denganku sering lewat di depan rumah kita, tentu saja tidak asing."
"Mungkin. Ayo tidur!"
Esok harinya Daesung, Dongho dan Taehyung memalak seorang siswa di depan sekolah. Hyosuk baru saja datang tapi dia berlalu walau melihat Daesung.
"Ada apa dengan anak itu?", Dongho.
"Ayo pergi!", Daesung teringat foto kakak Hyosuk.
Di kelas Nami duduk di kursi Taehyung untuk menanyakan tugas kepada Hyosuk.
"Pasti kau tidak mengerjakannya lagi kan? Iya kan?"
"Aishhhh~~~ Pergilah!!", Hyosuk kesal.
"Tapi.. kau harus mengerjakannya!", Nami terus memaksa Hyosuk untuk mengerjakan tugasnya.
"Hah!! Pergilah!!", Hyosuk menyentak Nami.
Taehyung datang lalu melerai.
"Hey Nami, ada apa ini?'
"Hyosuk belum mengerjakan tugasnya dan guru Shi menyuruhku untuk mengingatkannya." Nami pun kembali duduk di kursinya.
Hyosuk menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Taehyung mendekatkan mukanya di muka Hyosuk.
"Oh! Kenapa??"
"Kalau kau butuh bantuan, aku siap membantumu! ?"
Daeusng mendekati Hyosuk.
"Apa kakakmu baik-baik saja?"
"Iya."
"Kemarin kau membawa kakakmu ke rumah sakit?", Taehyung.
"Darimana kau tahu?"
"Guru Hwang menghubungimu kan?", Taehyung.
"Yeon hyung baik-baik saja. Sekarang dia sedang istirahat di rumah."
Minsuk dan Jimin baru saja datang. Nami mendekati Minsuk.
"Minsuk, kau sudah mengerjakan tugasmu?', tanya Nami.
"Ada apa dengan gadis itu?", gumam Taehyung yang duduk di depan Hyosuk.
"Eung.. Semalam aku sudah mengerjakannya tapi belum selesai. Apa harus diselesaikan hari ini?", Minsuk.
"Tentu saja! Cepat selesaikan!" :)
"Oh.. baiklah.."
Minsuk tampak tidak semangat untuk mengerjakan tugasnya.
Usai waktu pulang sekolah, Hyosuk dan Minsuk dipanggil guru Shi untuk menyeelsaikan tugas mereka. Hyosuk dan Minsuk pun berada di satu ruang bersama untuk mengerjakan tugas mereka.
Hari sudah sore dan hampir gelap, Minsuk dan Hyosuk telah selesai.
Diam-diam Minsuk mengikuti Hyosuk pulang. Hyosuk menyadari ada seseorang yang mengikutinya saat dia berhenti di halte bus. Di sebuah tikungan, Hyosuk melihat Minsuk di belakangnya dari kaca spion sudut jalan. Saat dia menoleh ke belakang, Minsuk bersembunyi.
"Ya!!! Berhenti mengikutiku!!"
Hyosuk melanjutkan langkahnya. Minsuk kembali mengikutinya. Saat tiba di tangga, Hyosuk mendengar suara ramai di depan rumahnya. Ada beberapa orang yang menggedor-gedor pintu rumah Hyosuk. Hyosuk bersembunyi untuk memperhatikan mereka.
"Kenapa kau bersembunyi?", Minsuk muncul di belakang Hyosuk.
"Aish~ Kau mengagetkanku! Ayo pergi dari sini!", ajak Hyosuk menarik tangan Minsuk.
Hyosuk mengajak Minsuk menjauh dari rumahnya.
"Pulanglah!!", suruh Hyosuk kepada Minsuk.
Hyosuk berjalan membelakangi Minsuk, ia menghubungi kakaknya.
Hyosuk: Hyung, ada orang yang mencarimu di depan rumah. Apa mereka yang kau maksud?
Yeonsuk: Apa??? Kau diamana sekarang?
Hyosuk: Aku di jalan.
Yeonsuk: Kau jangan pulang dulu. Tunggulah di playground, aku akan segera kesana.
"Apa terjadi sesuatu?", tanya Minsuk. (Hyosuk terkejut.)
"Aahhh!!! Kau belum pergi? Kenapa kau mengikutiku?!!", Hyosuk sangat kesal kepada Minsuk. Ia pun langsung berlari menjauh dari Minsuk.
Minsuk sempat mengejar tapi dia kehilangan jejak karena Hyosuk telah bersembunyi.
"Hyosuk!!! Hyosuk kau dimana?!! Kenapa kau masih marah kepadaku?!! Sampai kapan kau akan menyalahkanku seperti ini?!!"
Hyosuk mendengar Minsuk karena dia ada di belakang Minsuk.
Minsuk pun pergi dari tempat itu.
Secara tidak sadar mata Hyosuk meneteskan air mata ketika ia melihat Minsuk pergi.
Hyosuk menunggu kakaknya di playground. Ia duduk di tempat bermain pasir.
Hyosuk mengingat kejadian masa lalunya saat dia marah kepada Minsuk karena orang tuanya meninggal.
/ Orang tua Hyosuk meninggal karena kecelakaan saat mereka kembali dari bandara setelah menjemput orang tua Minsuk. Saat itu usia Hyosuk dan Minsuk baru 9 tahun. Hyosuk menyalahkan Minsuk, karena jika orang tuanya tidak menjemput orang tua Minsuk, pasti mereka tidak akan mengalami kecelakaan. Sejak kejadian itu Hyosuk sangat mebenci Minsuk. Hyosuk dan kakaknya diasuh oleh paman dan bibi mereka. Sedangkan Hyosuk tinggal di panti asuhan karena tidak punya keluarga lain. Hyosuk bahkan tidak peduli kepada Minsuk yang selalu menunggu Hyosuk di depan rumahnya selama beberapa hari setelah orang tua mereka meninggal. \
"Hyosuk! Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak."
"Ayo pulang!"
"Begaimana kalau mereka masih di depan rumah?"
"Malam ini jangan ada cahaya di rumah. Kita pakai senter. Apa kau sudah makan?"
"Belum."
"Aku akan membautkan ramen untukmu. Ayo pulang!"
Ketika memasak ramen, Yeonsuk teringat seseorang yang ia lihat di mini market tempat dia membeli ramennya. (Hyosuk)
"Sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya. Dimana..?", pikir Yeonsuk.
"Aa!! Di rumah sakit! Apa Minsuk sungguh tidak mengenalnya?"
Hyosuk pergi ke dapur dengan senter ponselnya.
"Hyung, apa sudah matang? Aku lapar."
"Oh, sudah. Ambil mangkuknya, ayo makan!"
Minsuk sedang bekerja di toko.
"Yeonsuk hyung.. Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Aaah kenapa aku tidak menyapanya tadi? Pabo.."
Sungjae sedang sibuk menghitung uang tabungannya yang dia tabung di tabungan Kitty-nya. Besok adalah hati spesial untuknya. :D
"Aaa~~ syukurlah, tabungan tahun ini cukup banyak. Besok tambah Minsuk. Apa perlu aku mengajak Eunyong dan Nami juga? Umm.. tidak bisa! Ini adalah hari untuk namja! Sungaje, Jimin, Jongseok dan Minsuk.. Ya cukup kita berempat saja~"
Pagi harinya, umma menyiapkan soup rumput laut dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Sungjae dengan secarik kertas berwarna ungu. Umma juga meninggalkan sejumah uang di atas meja makan.
'Selamat ulang tahun Sungjae sayang~~ Hari ini bersenang-senanglah dengan teman-temanmu. Umma tinggalkan uang untukmu. Sebelum berangkat, nikamti dulu sarapanmu. Sampai jumpa nanti malam. \^o^/ '
Sungjae pun memakan sarapan yang telah disiapkan ibunya.
06.23
Disekolah tidak ada temannya yang mengngat hari ulang tahun Sungjae, dia juga bersikap biasa saja.
Kebetulan hari itu banyak tugas pelajaran karena sebulan lagi ada ujian dan mereka meninggalkan sekolah pada sore menjelang malam.
"Haaaahh~~ lelah sekali rasanya~", keluh Jimin saat keluar dari gerbang sekolah.
Jongseok disms ibunya karena belum pulang.
[Umma, aku masih di sekolah karena banyak tugas untuk pesiapan ujian. Aku akan terlambat pulang.]
"Apa kau mengirim pesan untuk ibumu?", tanya Minsuk.
"Hemm.. Aku ingin makan dengan kalian."
"Malam ini, aku akan traktir kalian! Ayo makan!", ajak Sungjae merangkul bahu Minsuk dan Jongseok.
Minsuk merangkul bahu Jimin yang berdiri di sampingnya.
"Let's go~!!", ucap Minsuk dan Jongseok bersama.
-Jimin-Minsuk-Sungjae-Jongseok pun pergi makan malam bersama. Mereka bercanda di jalan memilih makanan yang ingin mereka makan.
Ketika mereka makan malam di sebuah warung makan di luar, Minsuk melihat Hyosuk sedang duduk sendiri dengan memegang sekaleng kopi. Dia sibuk dengan ponselnya.
Hyosuk mendapat sms dari kakaknya kalau dia tidak boleh pulang. Orang-orang itu yang mencari Yeonsuk sedang berada di depan rumah mereka.
[Yeonsuk: Jangan pulang dulu, mereka masih di depan rumah kita. Kau dimana? Carilah tempat yang hangat dan belilah makan malam.]
Hyosuk mulai kedinginan dan kakinya telah gemetaran.
Minsuk masih menikmati makan malamnya dan Jimin telah membeli kue ulang tahun untuk Sungjae. Mereka pun merayakan ulang tahun Sungjae disana.
Minsuk tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada Hyosuk.
Minuman kaleng Hyosuk sudah habis dan ia pun menelphon kakaknya karena sudah mengantuk.
Hyosuk: Hyung, apa mereka masih..
Yeonsuk: Mereka masih disini. Apa kau sudah makan? Tidurlah di rumah temanmu. Jangan pulang malam ini. Aku akan tidur di rumah temanku. Kau jangan pulang!! (Yeonsuk menyuruh Hyosuk untuk tidak pulang malam ini.)
Hyosuk: Yaa!!!!! Aku tidur mana?!! (Hyosuk sudah sangat mengantuk.)
Ia menghubungi Dongho dan Taehyung tapi Taehyung tidak menjawab sedangkan Dongho tidak bisa memberi tumpangan pada Hyosuk. Hyosuk pun kembali menghubungi kakaknya.
Minsuk menghampiri Hyosuk.
Hyosuk: Hyung!! Yaaa!! Aku... Hyung!!!!!
"Hyosuk.."
"Aah!! Kau lagi!!", Hyosuk kesal bertemu Minsuk, ia pun memukul Minsuk hingga jatuh tersungkur .
Jimin berlari membalas Hyosuk. Jimin kesal karena Hyosuk telah menyakiti Minsuk. Sungjae membantu Minsuk bangun dan Jongseok melerai Jimin.
"Yaa!! Kau pikir kau siapa?!! Kenapa kau memukul Minsuk huh?!!"
Jimin memukul Hyosuk hingga Hyosuk jatuh tersungkur karena dia sudah sangat lelah dan mengantuk. Kepala Hyosuk berdarah karena terkena batu kecil saat tersungkur.
Telapak tangan Hyosuk berdarah setelah memegang kepalanya di dahi kiri.
"Aish!!", Hyosuk kesal tapi dia malas untuk membalas Jimin.
Hyosuk memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Dengan langkah sempoyongan Hyosuk berjalan menjauh.
"Ya kau kemana?!! Urusan kita belum selesai!!!", Jimin.
"Jimin, sudah hentikan!!", Jongseok menenangkan Jimin.
Minsuk mengejar Hyosuk.
"Ya Hyosuk kau mau kemana?!", teriak Jimin memanggil Hyosuk yang berlari.
"Jimin, jaga emosimu!", kata Sungjae.
Mereka bertiga pun mengejar Minsuk.
Setelah berlari beberapa saat, Hyosuk pun terjatuh dan duduk di jalan. Selain mengantuk dia juga pusing karena lapar.
"Apa kau sakit?", tanya Minsuk sangat mengkhawatirkan Hyosuk.
"Pergilah!", ucap Hyosuk lemas.
"Tidak. Kepalamu berdarah, ayo aku obati dulu!"
"Pergilah!", ucap Hyosuk berusaha bangkit tapi dia tidak kuat untuk berdiri.
Sungjae pun membantu Hyosuk berdiri.
"Minsuk hanya ingin mengobati lukamu. Hari ini ulang tahunku dan aku akan membelikanmu makan malam. Sepertinya kau lesu."
Hyosuk tidak bisa menolak ajakan Sungjae. Ia dibawa ke rumah Minsuk dan diobati lukanya. Jimin masih tidak suka melihat Hyosuk.
"Ayah menyuruhku untuk pulang, aku pergi dulu! Kau! Awas kalau kau macam-macam dengan Minsuk!!", Jimin.
"Aku juga harus segera pulang. Ini sudah sangat terlambat. Ayo Jimin!!", Jongseok.
"Selamat malam!!", ucap Sungjae kepada Jimin dan Jongseok yang keluar dari rumah Minsuk.
Sungjae sudah membelikan makan malam untuk Hyosuk ketika Minsuk mengobati luka Hyosuk tadi.
"Makanlah! Kau passti lapar kan?"
Hyosuk pun menikmati makan malamnya.
"Belakangan ini, kau tidak bersama Daesung. Apa kau punya masalah dengannya? Mmm.. malam-malam begini kenapa kau tidak pulang? Apa di rumahmu terjadi sesuatu?"
"Sungjae, sudahlah!", Minsuk menghentikan Sungjae terus bertanya.
Sungaje membaca sms dari ibunya. [Sungjae pulang!]
"Aku harus pulang dulu. Hyosuk! Awas jika terjadi sesuatu pada Minsuk."
"Aa sudah pualanglah!", Minsuk mengantar Sungjae keluar dari rumah Minsuk.
"Sampai juma besok di sekolah!", kata Minsuk lalu menutup pintu.
"Ya!! Minsuk~ hati-hati dengan orang itu!! Segera telphon aku jika dia menyakitimu!!!"
Hyosuk terdiam sesaat ketika hanya dia dan Minsuk di rumah Minsuk.
"..Apa aku boleh menginap untuk malam ini saja?"
"Oh denga senang hati. Aku akan siapkan selimut untukmu."
Hyosuk tidur di depan TV.
Minsuk ingin sekali mengobrol dengan Hyosuk tapi Hyosuk sudah berselimut dan memejamkan kedua matanya.
Pagi sebelum berangkat sekolah, Hyosuk pulang ke rumahnya. Ia melihat kakaknya tidur di depan rumah tetangganya.
"Hyung, kau tidur disini?"
"Ooh iya. Semalam aku malas untuk jalan jadi aku tertidur disini."
"Ayo pulang!"
Minsuk tiba di sekolah lebih dulu karena dia mengkhawatirkan Hyosuk.
"Kenapa dia belum berangkat?", pikir Minsuk.
Jimin dan Jongseok datang bersama-sama (rumah mereka bertetangga).
"Minsuk, apa anak itu belum berangat?"
"Aku tidak tahu."
Sungjae datang dan bertanya kepada Minsuk.
"Apa Hyosuk menginap di rumahmu?"
Ketika Sungjae bertanya itu, Daesung dan Dongho baru masuk kelas.
"Umm.. iya. Tapi dia pergi sebelum aku bangun."
"Apa ada barang yang hilang?", Jongseok bertanya secara spontan.
"Tidak."
Hyosuk datang, Dongho menyuruhnya untuk keluar menemui Daesung.
Daesung melihat bercak darah di kerah lengan kiri Hyosuk.
"Apa yang terjadi semalam? Apa benar kau menginap di rumah Minsuk?", Daesung.
"Aku terluka dan Minsuk menolongku. Aku sudah menghubungi Taehyung tapi dia tidak menjawabku. Dongho tidak bisa memeri tumpangan untukku tidur. Kau tidak boleh dihubungi jika malam sudah di rumah."
Tanpa berkata apa-apa Daesung pergi meninggalkan Hyosuk.
Taehyung menyibak poni yang menutupi kepala Hyosuk.
"Yaa, apa kepalamu sakit?"
"Aku tidak apa-apa", jawab Hyosuk menyingkirkan tangan Taehyung dari kepalanya.
Selama pelajaran berlangsung, Hyosuk melamun memikirkan kakaknya. Guru Hwang memperhatikannya. Usai pelajaran dan semua siswa meninggalkan kelas, guru Hwang menghampiri Hyosuk yang duduk sendiri di kelas. Guru Hwang melihat peban di kepala Hyosuk saat Hyosuk menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"Aduh.. aku pusing.."
Guru Hwang duduk di kursi depan Hyosuk.
"Apa kau sakit?" (Guru Hwang melihat bercak darah di lengan baju Hyosuk.)
"Ada apa dengan bajumu? Apa ini darah?" (Hyosuk langsung menyembungikan tangan kirinya.)
"Umm.. aku baik-baik saja. Sungguh!" :)
"Bagaimana kabar Yeonsuk?"
"Oh Yeonsuk hyung baik-baik saja."
Daesung menguping dari luar saat dia tidak sengaja melihat guru Hwang masuk ke kelas. Ia teringat foto Yeonsuk di meja rumahnya waktu itu.
Daesung berpapasan dengan guru Hwang di pintu.
"Oh Daesung, apa kabar?"
Daesung hanya menundukkan kepalanya.
"Hyosuk, kau tidak makan siang?"
"Aku baru mau ke kantin."
"Tunggu sebentar! Apa kau yakin.. kakakmu baik-baik saja?"
Hyosuk sudah berada di daun pintu membelakangi Daesung.
"Hemm.."
Malam~ Hyosuk melihat orang-orang itu di depan rumahnya lagi. Yeonsuk tidak membalas sms dan tidak menjawab telphonnya. Hyosuk pun berjalan mencari kakaknya.
Daesung selesai makan malam di sebuah warung makan pinggir jalan. Dia melihat seseorang berlari karena dikejar beberapa orang. Daesung baru menyadari orang yang dikejar itu adalah Yeonsuk saat dia baru naik bus. Daesung pun berlari turun dari bus dan mencari Yeonsuk yang tadi dikejar-kejar. Daesung berlari kesana-kemari mencari Yeonsuk.
Celaka! Daesung melihat Yeonsuk yang sudah babak belur dibawa paksa oleh orang-orang itu masuk ke dalam mobil.
Daesung berlari berusaha mengejar mobil itu "Hey!! Tunggu!! Berhenti!!!" tapi dia kehabisan tenaga dan tidak sanggup mengejar lagi.
Nafasnya tersengal-sengal usai berlari mengejar Yeonsuk yang dibawa pergi orang-orang suruhan ayahnya. "Yeonsuk hyung, bertahanlah!"
Daesung pun berjalan melewati tempat dimana Yeonsuk dipukuli. Dia melihat ponsel yang tergeletak di rumput.
Daesung mangambil ponsel itu lalu menghidupkannya. Ia pun membawa ponsel itu sampai di rumahnya.
Hyosuk lelah mencari kakaknya. Ia tidak bisa masuk rumah karena kuncinya dibawa Yeonsuk. Hyosuk pun pergi ke rumah Minsuk. Minsuk belum pulang karena masih bekerja di toko. Hyosuk menunggu di depan rumahnya hingga menggigil kedinginan. "Kenapa dia lama sekali~~"
Ketika Minsuk pulang, Hyosuk sudah duduk tertidur.
"OMO, Hyosuk, bangunlah! Kenapa kau disini? Aaa tanganmu dingin sekali. Kau menggigil. Ayo masuk!", Minsuk membantu Hyosuk berjalan masuk rumah.
Hyosuk dihangatkan dengan selimut oleh Minsuk, lalu Minsuk membuatkan teh coklat untuk Hyosuk.
"Kenapa kau lama sekali..", ucap Hyosuk yang masih kedinginan.
"Aku kan tidak tahu kalau kau menungguku. Ini minumlah!", Minsuk meletakkan kedua telapak tangan Hyosuk di cangkir supaya badannya lebih hangat.
"Aku tidak bisa masuk rumah karena kuncinya dibawa kakakku. Dan aku tidak punya tempat untuk tidur malam ini. Jadi aku kesini untuk menginap lagi."
"Silakan. Kau bisa tidur disini lagi. Aku mau mandi dulu."
"Hey.. aku lapar!"
"Aahh~ baiklah, kau bisa menyeduh mie ramen ini sendiri kan?. Aku sudah mengantuk. Hari ini aku sangat lelah."
Selesai mandi, Minsuk melihat Hyosuk sedang makan sambil nonton TV. Dia suka menonton drama sebelum tidur. Sampai-sampai Hyosuk terlelap dengan TVnya mash menyala. Minsuk sudah tidur sebelumnya.
Tengah malam Daesung belum bisa tidur karena memikirkan keadaan Yeonsuk. Ayahnya juga belum pulang.
Hyosuk terbangun karena dia bermimpi kakakknya. Dia pun bangun dan menganmbil minum di dapur. Minsuk terbangun mendengar suara Hyosuk menggonta-ganti channel TV. Minsuk tidak berangjak dari tempat tidurnya, dia hanya memperhatikan Hyosuk yang tampak gelisah. Hyosuk kembali menguhungi kakaknya.
Daesung baru saja mengaktifkan ponsel Yeonsuk.
"Umma?" (panggilan masuk dari Hyosuk)
Hyosuk: Hyung, angkat telphonnya..
Daesung teringat percakapan saat Hyosuk mendapat telphon dari ayahnya.
/ "Abeoji?", tanya Taahyung meihat layar ponsel Hyosuk.
"Kau bilang ayahmu sudah meninggal", Daesung.
"Ini kakakku. Yeonsuk hyung memakai nomor ayahku dan aku memakai nomor ibuku." \
Daesung ragu menjawab panggilan Hyosuk. Ia tak tahu harus berkata apa.
Daesung kembali me-nonaktif-kan ponsel Yeonsuk.
Pagi ketika Hyosuk sedang di kamar mandi, Minsuk melihat ponseol Hyosuk bergetar. Panggilan masuk dari 'Abeoji' (ayah).
"Abeoji?"
Minsuk: Hello.. Hello..
Daesung menyadari itu bukan suara Hyosuk. Ia pun memutuskan panggilannya.
Hyosuk keluar dari kamar mandi, Minsuk memberi tahunya bahwa ada telphon.
"Hyosuk, tadi ada yang menelphon tapi saat ku angkat, dimatikan."
Hyosuk segera mengecek ponselnya. Ia pun menelphon balik kakaknya.
Nomor Yeonsuk tidak aktif. Hyosuk tampak kecewa.
"Aku berangat dulu!", Hyosuk pamit pergi dahulu.
"Ne!"
Daesung ragu untuk berangkat sekolah. Ia ingin mencari dimana Yeonsuk.
Hyosuk memikirkan panggilan di ponsel Minsuk selama di dalam bus sampai tiba di sekolah.
"Ayah? Apa Hyosuk sudah punya ayah angkat? Baguslah kalau begitu..Tapi dimana Yeonsuk hyung? Apa yang ssebenarnya terjadi?"
Saat tiba di sekolah, Hyosuk juga baru saja tiba.
"Bukankah kau sudah berangkat dari tadi?", Minsuk manyapa Hyosuk.
Hyosuk berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Minsuk.
Dongho masuk kelas sendirian.
"Taehyung, Daesung belum berangkat?"
"Belum. Apa kau tidak menghampirinya?"
"Tadi aku sudah ke rumahnya, tapi tidak ada. Ku pikir dia sudah berangkat."
Hyosuk masuk dibelakangi Minsuk.
Taehyung dan Dongho menatapnya.
"Kenapa?" 왜??
"Apa kau berangkat dengan anak itu?", tanya Dongho menunjuk Minsuk.
"Tidak." 아나.
Sesekali Minsuk menatap Taehyung dan Dongho.
"Kenapa", ucap Dongho kepada Minsuk.
"Apa Daesung tidak berangkat?", tanya Hyosuk melihat bangku Daesung yang kosong.
"Dia tidak menjawab telphonku", Dongho.
"Kemana anak itu..?", pikir Taehyung.
Hingga pelajaran berlalu, Daesung tidak juga berangkat.
Hyosuk mencari kakaknya sepulang sekolah. Ia benar-benar tidak bisa masuk ke rumahnya karena tidak ada jalan lain untuk masuk.
Daesung merasa lapar dan ia pun menghubingi Dongho. Ia meminta Dongo untuk membelikannya makan malam.
Taehyung dan Dongho pun menemani Daesung makan malam di warung pnggir jalan.
"Kau kemana saja hari ini? Kenapa tidak berangkat sekolah?", Dongho.
"Aku malas mengerjakan tugas sekolah jadi aku memilih untuk jalan-jalan."
"Kau pasti sangat lapar. Makanlah yang banyak!", Taehyung.
"Kenapa kau tidak pulang?", Dongho.
"Aku sedang mencari seseorang.."
"Apa???", Taehyung dan Dongho.
"..dan aku tidak akan pulang sebelum aku menemukan orang itu."
"Siapa? Siapa yang kau cari?", Dongho dan Taehyung penasaran.
".. Ayahku.."
Dongho dan Taehyung terdiam sesaat.
"Apa kau mau menerima bantuan kami?", Dongho.
"Iya, kami akan membantumu mencari ayahmu. Bagaimana?"
"Tidak perlu. Aku sudah selesai makan. Aku akan pergi ke rumah ibuku.. mungkin ibu tahu dimana ayahku. Aku pergi dulu. Terima kasih makannya."
Dongho pun pergi ke rumah ibunya. (Orang tua Dongho telah bercerai dan ibunya telah memiliki suami dan anak-anaknya yang masih kecil.)
Ketika Daesung hendak menghampiri rumah ibunya, ia melihat ibunya bersama keluarganya turun dari mobil. Mereka terlihat keluarga yang bahagia.
"Oh Daesung!! Apa yang membuatmu kemari?"
"Oppa! :) ", sapa anak kecil saudara tiri Daesung.
Daesung pergi meninggalkan ibunya tanpa sepatah kata pun.
"Daesung! Ada apa? Ayo bicara sebentar!"
Daesung tetap pergi tanpa menghiraukan ibunya.
06.24
Hyosuk mulai lelah karena tidak menemukan kakaknya. Ia pun duduk melamun sendirian.
Nami dan ibunya sedang belanja di mini market tempat Minsuk bekerja.
"Annyeong Minsuk. Kau bekerja disini?"
"Hemm.."
"Siapa dia?", tanya ibu Nami.
"Dia Minsuk, teman sekelasku."
"Tapi dia tidak ada di album fotomu?"
"Dia siswa pindahan dan aku belum punya fotonya. Hehe.."
"Ya sudah, ambilkan snack untuk adikmu. Jangan lupa pesanan kakakmu! Ibu ambilkan keranjangnya dulu."
"Baik, umma."
Minsuk memperhatikan Nami dan ibunya yang sedang berbelanja. Minsuk merasa iri melihat senyum Nami dan senyum ibunya saat memilih-milih barang yang perlu dibeli.
Minsuk teringat masa kecilnya saat berbelanja di sebuah supermarket dengan Hyosuk dan ibunya. Minsuk merasa iri karena Hyosuk memiliki ibu yang selalu memberinya apa pun yang dia inginkan.
Nami sudah selesai berbelanja.
"Aku pergi dulu. Sampai jumpa di sekolah!" :)
Keluar dari mini market, Nami melihat Hyosuk di sebrang jalan sedang duduk sendri.
"Umma, umma pulang duluan. Aku ada perlu sebentar."
Nami kembali masuk ke dalam mini market untuk membeli rooti dan susu.
"Oh, apa ada yang tertinggal?"
"Tidak. Aku ingin membeli roti dan susu untuk Hyosuk", jawab Nami sambil berjalam mengambil rotinya.
"Ini. Berapa?"
Minsuk pun menghitung harganya.
"Untuk Hyosuk?"
"Hemm.. Itu dia orangnya", kata Nami sambil menunjuk Hyosuk di sebrang jalan.
"Oh tunngu sebentar."
Minsuk memberikan sekantong makanan dan minuman untuk Hyosuk.
"Ini, berikan ini untuknya juga. Jangan beri tahu dia kalau ini dariku."
"Oh, baiklah."
Nami menghampiri Hyosuk.
"Ini untukmu!"
"Oh Nami, sedang apa kau disini?"
Nami pun membukakan susu kotak untuk Hyosuk.
"Ini minumlah!"
"Terima kasih."
"Kenapa kau belum pulang?" (Hyosuk masih mengenakan seragam sekolah.)
"Aku baru saja jalan-jalan."
Nami duduk di samping Hyosuk. Ia membukakan roti untuk Hyosuk.
"Ini, makanlah!"
"Iya, terima kasih."
"Kalau kau ada masalah, jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain. Berlari bersama teman itu jauh lebih menyenangkan!" :)
"Pulanglah! Seduh mie ramen itu dan makanlah! Oh iya, Minsuk bekerja di mini market itu. (Nami menunjuk mini market) Aku pergi dulu." :)
Nami meninggalkan Hyosuk. Sesekali Hyosuk menatap Nami pergi. Hyosuk melihat isi kantong plastik yang diberikan Nami. Ada minuman dan snack kesukaannya.
"Dia masih ingat apa yang aku sukai.."
Minsuk berdiri di belakang Hyosuk ketika Hyosuk hendak meninggalkan tempat itu.
"Apa kau masih belum bisa masuk rumahmu?", Minsuk.
"..Ini, terima kasih. Ayo kita makan bersama!"
:D "Ayo!!", ucap Misnuk girang merangkul bahu Hyosuk.
Dari kejauhan Daesung melihat Hyosuk berjalan dengan Minsuk.
"Ku harap kakakmu akan baik-baik saja."
Daesung menunggu ayahnya di depan pintu rumah. Karena lama menunggu tidak jelas, Daesung tertidur bersandar pintu. Sekitar pukul 2 pagi dini hari, Daesung terbangun karena mendengar suara mobil masuk melewati gerbang.
Daesung segera bersembunyi.
Yeonsuk dibawa keluar dari mobil.
"Cepat kurung dia di gudang!", perintah ayah Daesung kepada anak buahnya.
Daesung tidak tega melihat keadaan Yeonsuk yang sudah tak berdaya.
Setelah ayahnya masuk rumah, Daesung memikirkan cara membebakan Yeonsuk. Beberapa menit memata-matai penjaga yang menjaga pintu gudang belakang rumah, Daesung pun beraksi melumpuhkan dua penjaga itu. Kunci gudang telah disapatkannya. Daesung membantu Yeosuk keluar dari gudang. Celaka! Ada penjaga lain yang mengetahui Yeonsuk akan kabur. Terjadilan perlawanan. Yeonsuk berusaha melawan para penjaga itu sampai ayah Daesung ikut memukulnya. Daesung berlari menolong dan ia pun tertendang kaki ayahnya saat mendekap Yeonsuk.
"Ayah.. ku mohon hentkan!" Daeung menghalau pengawal.
"Yeonsuk hyung.. kau tidak apa-apa?? Yeonsuk hyung.." 연석형 괜찮아?
"Singkirkan anak itu!", ayah menyuruh pengawal menyingkirkan Daeesung.
Daesung menggenggam erat tangan Yeonsuk.
"Ayah.. ku mohon hentikan! Aku.. Aku akan melaporkan ayah jika ayah masih menyakitinya!" Daesung berusaha membujuk ayahnya untuk melepaskan Yeonsuk. 제발 그만해!! ㅠ.ㅠ
Beberapa saat kemudian ayah Daesung melepaskan Yeonsuk.
"Lepaskan anak itu!"
Daesung pun membawa keluar Yeonsuk dari rumah. Yeonsuk bernafas lega karena bisa terlepas dari ayah Daesung.
"Kau teman Hyosuk? Terima kasih! 효석 친구? 김사해요!
"Hemm..Hyung pasti lapar, kita duduk disini dulu."
Tubuh Yeonsuk sudah sangat lemas, Daesung pun mengajaknya duduk. Sudah tidak ada restoran atau warung makan yang buka di sekitar situ. Yeonsuk tidur di tempat mereka duduk. Daesung ingin menghubungi Hyosuk tapi dia ragu-ragu. Sesaat kemudian, ada seorang petugas tanpa seragam yang sedang patroli melihat mereka berdua.
"Ya, apa kalian baru saja berkelahi?"
"Ah tidak!"
"Temanmu, dia penuh luka. Ayo ke ikut denganku, biar ku obati lukanya."
Petugas itu pun menolong Yeonsuk dan Daesung.
Petugas itu membawa mereka ke rumahnya. Yeonsuk dibaringkan di kamar anaknya. Luka Yeonsuk dibersihkan dan diobati.
"Ini kamar anakku. Istri dan anakku sedang pergi jadi kalian bisa tidur disini malam ini. Beristirahatlah!"
"Terima kasih paman." 감사합니다 아저씨.
Daesung menyelimuti Yeonsuk lalu tidur di sampingnya.
Hyosuk terbangun lalu menghangatkan tubuhnya dengan secangkir teh panas.
Minsuk juga terbangun karena ingin buang air kecil.
"Oh, kau terbangun lagi?"
Minsuk pun berbaring di dekat Hyosuk.
"Yaa!! Menjauhlah dariku!!", Hyosuk tidak suka Minsuk dekat dengannya.
Minsuk tetap tidur di dekat Hyosuk dengan membelakanginya.
/ Kejadian sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua Hyosuk dan Minsuk. Sembilan tahun yang lalu.
"Ayah mau kemana?", tanya Hyosuk yang tengah bermain dengan Minsuk.
"Ayah dan ibu akan menjemput orang tua Minsuk di bandara. Mereka pasti sudah sangat lelah setelah perjalan jauh."
(Orang tua Minsuk baru pulang dari Australia.)
"Tapi.. ayah dan ibukku kan bisa naik bus?", kata Minsuk.
"Sebenarnya mereka ingin naik bus tapi bibi tidak sabar untuk bertemu orang tuamu. Bibi sangat merindukan ibumu.
"Sampai jumpa anak-anak! Yeonsuk, jaga adik-adikmu, ayah dan ibu pergi dulu."
"Baik bu!" 네 엄마
Setelah dua jam orang tua mereka belum kembali, mereka mendapat kabar bahwa orang tua mereka mengalami kecelakaan sepulang dari bandara.
Begitu tiba di rumah sakit, kedua orang tua Hyosuk dan Minsuk sudah meninggal semua. Hyosuk pun kesal dan menyalahkan Minsuk.
"Pergi kau dari sini!! Jika saja umma dan appa tidak menjemput orang tuamu, mereka tidak akan kecelakaan!! Pergi kau!!", Hyosuk mengusir Minsuk. Ia tidak suka melihat wajah Minsuk.
Minsuk menangis sendirian di depan rumah sakit.
"Umm.. Appa..." T.T :'( \
"Kau terus saja menyalahkan aku dan kau tidak mau melihatku sekali pun setelah kejadian itu. Beberapa hari aku datang ke rumahmu tapi kau tidak mau bertemu denganku, kau juga melarang kakakmu menemuiku. Aku terus-terusan menunggumu di depan rumahmu tapi kau sama sekali tidak peduli.
/Hyosuk kedinginan di musim salju, menunggu Hyosuk keluar dari rumahnya untuk menemui Minsuk. Minsuk merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf. Terakhir Minsuk melihat Hyosuk dan Yeonsuk pergi dengan paman mereka, Hyosuk tetap tidak mau melihat Minsuk yang berlari mengejarnya.
"Hyosuk!! Kau mau kemana?!! Maafkan aku!!" (Hyosuk telah pergi dengan mobil yang dikendarai pamannya.) 효석아 어디가는거야? 미안해요!! 미안해.. :(
Minsuk menangis sendiri dan merasa sangat kesepian setelah Hyosuk pergi bersama kakaknya. Di rumah Minsuk hanya sendiri dan tidak punya keluarga selain Hyosuk dan Yeonsuk. Akirnya Minsuk dikirim ke sebuah panti asuhan oleh guru sekolahnya. \
"Di rumah aku hanya sorang diri. Tidak ada satu pun yang menemaniku menangis.. Aku melihat sekellingku dan aku berharap itu hanya mimpi buruk sesaat. Hampir setahun aku tidak bertemu ayah dan ibuku, aku tinggal sendiri. Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada orang tuanmu yang telah merawatku, selama orang tuaku pergi. Dan.. aku tidak mendapat kesempatan untuk melihat seyum orang tuaku seperti senyum orang tuamu kepadaku.. Apa aku pantas menyalahkan orang tuamu yang menjemput orang tuaku? Jika saja orang tuaku naik bus, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.."
Hyosuk merasa sangat bersalah dan ia pun meneteskan air matanya.
Minsuk pun memejamkan kedua matanya dan kembali tidur.
Hyosuk menyelimuti Minsuk lalu kembali tidur juga.
Pagi di sekolah.
"Daesung tidak ada di rumahnya kata seorang penjaga disana", Dongho.
"Lalu apa ayahnya sudah pulang?", Taehyung.
"Tadi aku melihat ada mobil paman Kwon di dalam. Kalau ayahnya sudah pulang kenapa Daesung tidak pulang ya?"
"Dia tidak menjawab telphonku." Taehyung.
"Aku juga tidak menjawab telphonku. SMS juga tidak dibaca."
"Kita harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Hyosuk dan Minsuk masuk kelas dengan berangkulan. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Yaa, sejak kapan kalian berteman?", Eunyong.
(Taehyung cemburu melihat Hyosuk sangat dekat dengan Minsuk.)
Nami tersenyum kepada Hyosuk. Hyosuk pun membalas senyumnya. :)
Taehyung menatap tajam ke mata Hyosuk.
"Apa sebelumnya kau sudah mengenal anak itu?"
Dongho mendekat.
"Hyosuk, aku ingin bicara denganmu sebentar. Ayo keluar!" 나와!
Hyosuk mengikuti Dongho. Taehyung menyusul di belakang mereka.
"Kenapa?" 왜?
"Kemarin Daesung tidak berangkat sekolah dan kau sama sekali tidak menanyakannya."
"Lalu kenapa?" 그래서 뭐?
"Apa kau sudah gila? Kau tidak peduli dengan temanmu dan kau berteman dengan.. anak pindahan itu?!" 미쳤어?
"Daesung bukan anak kecil dan dia bisa menjaga dirinya sendiri", ujar Hyosuk lalu pergi.
"Yaa!! Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!!" Dongho kesal.
Taehyung hanya melihat mereka berdua tanpa ikut campur.
"Ayo masuk kelas!", ajak Taehyung. 클래스에 가자! :)
Jimin, Sungjae dan Jongseok mengelilingi Hyosuk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?", Jimin. 무슨야?
"Apa terjadi sesuatu pada kalian berdua?", Jongseok.
Minsuk melihat Sungjae yang tidak tahu mau beratanya apa.
"Apa?", Sungjae. 뭐?
Hyosuk kembali. Mata Jimin, Jongseok dan Sungjae mengikuti langkah Hyosuk.
Hyosuk bersikap biasa saja tanpa mempedulikan mereka bertiga.
"Aigoo..", Jimin.
Paman yang menolong Daesung adalah seorang polisi.
"Panggil saja aku paman Kang. Jika di rumah aku bukan siapa-siapa. Umm.. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?"
"Umm.. bukan apa-apa."
"Aku harus pergi bekerja. Tinggallah dulu disini. Aku sudah siapkan sarapan untuk kalian. Bantu temanmu untuk makan. Ini aku tinggalkan uang kalau kau ingin membeli makanan ringan. Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Nomorku ada meja telphon."
"Tunggu.." 잠깐만..
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara sebentar." 잠깐 얘기하고 싶어.
Mereka pun duduk berdua.
"Apa yang ingin kau katakan?"
. . "Ayahku dan anak buahnya yang telah memukuli Yeonsuk hyung. Aku tidak tahu kenapa ayah menyekap Yeonsuk hyung tapi aku ingin melaporkan ayahku atas tindakan kekerasan. Aku mohon tolong aku!" 제발 도와주세요!
Paman Kim menepuk pundak Daesung.
"Aku melihat ada rasa takut di wajahmu. Baiklah, aku akan membantumu. Tetaplah disini sampai kau siap untuk melaporkan ayahmu dan Yeonsuk juga."
Polisi Kang menyuruh satpam untuk mengawasi CCTV pintu rumahnya.
"Jangan sampai ada orang yang masuk ke rumahku! Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Baik, pak."
"Aku titip mereka berdua kepadamu."
Di sekolah, istirahat siang.
Nami diberi tahu oleh guru Hwang bahwa ayahnya masuk rumah sakit.
Nami pun bersiap untuk pulang.
"Nami, apa yang terjadi?", tanya Minji yang duduk di belakang Nami.
"Ayahku masuk rumah sakit dan aku harus pulang menjemput adikku."
"Semoga ayahmu baik-baik saja.."
"Iya, terima kasih."
Nami melihat Hyosuk tersenyum kepadanya. (Senyum menyemangati.) Minsuk melihat itu.
"Nami, aku akan mengantarmu pulang."
"Terima kasih guru."
Guru Hwang mengantar Nami pulang karena Nami harus menunggu adiknya pulang sekolah sebelum pergi ke RS.
Daesung keluar untuk membeli makanan ringan. Satpam yang mengawasi CCTV, siaga menjaga pintu rumah polisi Kang. (Ada Yeonsuk sendiri di rumah)
Daesung bertemu guru Hwang saat keluar dari toko.
"Daesung! Sudah dua hari kau tidak berangkat sekolah. Kau juga tidak pamit."
"Guru Hwang.. aku.."
"Apa kau sakit?"
"Tidak.."
"Hei, aku melihat jalanmu pincang. Ayo kita bicara dulu!"
Guru Hwang membelikan kopi hangat dan mengajak Daesung untuk bicara.
"Minumlah!"
"Terima kasih."
Guru Hwang menatap Daesung dari kaki hingga kepala.
"Aku sungguh baik-baik saja." 난 진짜 괜찮아.
"Sungguh?" 진짜로?
"Hemm.."
"Wajahmu pucat, apa kau kurang tidur?"
Daesung terdiam.
"Hei, kenapa kau diam saja?"
"Semalam, ibumu menelphonku dan dia menanyakan kabarmu. Apa benar semalam kau menemui ibumu? Kenapa kau tidak bicara dengannya?"
Daesung menatap guru Hwang.
"Jangan menjadi gangster! Belajarlah yang baik dan bahagiakan orang tuamu. Walau mereka sudah berpisah, kau juga harus baik kepada ibumu. Besok kau harus berangkat ke sekolah!"
"Besok hari Minggu, guru."
"Oh iya. Ya sudah, aku harus kembali ke sekolah. AKu pergi dulu!"
Daesung ingin sekali menceritakan masalahnya kepada guru Hwang tapi dia bimbang. Daesung pun mengejar guru Hwang ketika guru Hwang pergi ke tempat memarkirkan mobilnya.
"Huh.. huh.. huh.. ", nafas Daesung ngos-ngosan mengejar guru Hwang.
"Oh Daesung, ada apa lagi?" Guru Hwang turun dari mobilnya.
"Tolong aku.." 도와주세요..
Daesung menceritakan apa yang terjadi selama dia tidak berangkat sekolah.
"Yeonsuk?"
"Guru mengenal kakak Hyosuk?"
"Iya. Dia muridku lima tahun yang lalu. Lalu bagaimana keadaannya?"
"Guru ikutlah denganku!" 선생님, 나와 함께!
Guru Hwang pun mengantar Daesung ke rumah polisi Kang. Sebelum masuk, seorang satpam menghentikan merkea.
"Tunggu sebentar. Siapa anda?'
"Hello, saya guru Hwang. Guru sekolah Daesung."
"Iya paman, dia guru kelasku."
(Saat Daesung keluar, ada orang yang berusaha masuk rumah polisi Kwon tapi berhasil dihalau oleh petugas.)
Yeonsuk sedang duduk di sofa dengan TV yang menyala. Ia bimbang mengaktifkan ponselnya.
"Yeonsuk, bagamana kabarmu?" 연석아, 어떻게 지내세요?
"Guru Hwang? Aku baik-baik saja."
"Ah lihatlah dirimu. Lagi-lagi kau penuh luka seperti ini. Apa kau berlarian kesana-kemari sendiri?"
Guru Hwang mengusap kepala Yeonsuk.
"Adikmu.. Apa kau sudah menghubungi Hyosuk?"
Yeonsuk menggelengkan kepalanya.
"Apa perlu aku menelphonnya?", Daesung.
"Jangan!! Aku tidak ingin memlihat dia mengkhawatirkanku dengan keadaanku yang begini."
"Tadi aku melihat Hyosuk berangkat dengan Minsuk, siswa pindahan. Dan.. Hyosuk tampak semangat belajar hari ini. "
"Kim Minsuk?", Yeonsuk.
"Hemm.. kau mengenalnya?"
"Aku belum pernah mendengar dia punya teman bernama Minsuk."
Guru Hwang menghubungi polisi Kang dan memberitahunya bahwa dia sedang di rumahnya untuk menjenguk kedua muridnya.
"Kalau kau tidak keberatan, masaklah makan siang untuk mereka berdua!"
"Oh, tentu saja!"
Guru Hwang pun menyiapkan makan siang untuk Dasung dan Yeonsuk.
"Terima kasih atas makannya~", Daesung.
"Maaf sudah merepotkan guru", Yeonsuk.
Setelah makan siang, guru Hwang pun pamit pulang. Sebelum pulang guru Hwang berbicara berdua dengan Yeonsuk. Daesung menguping dari pintu.
Daesung menceritakan alasan ayah Daesung menangkapnya.
"Aku tidak sengaja malihat ayah Daesung membunuh seseorang. Sebelumnya aku melihat orang itu berlari dikejar-kejar oleh sekelompok orang yang memakai masker. Sungguh aku tidak tahu kalau orang itu adalah ayah Daesung. Aku baru tahu saat Daesung menyelamatkanku dari ayahnya.."
Daesung terjatuh lemas. Ia berlari keluar dan menangis di taman depan apartemen.
Polisi Kwon sedang bertugas mencari tersangka pembunuhan. Ketika mengerebek rumah tersangka, ia terkejut melihat foto Daesung di kamarnya. Polisi Kwon pun bergegas pulang untuk menemui Daesung.
Guru Hwang sudah selesai bicara dengan Yeonsuk.
"Daesung, aku pergi dulu.. Daesung?.. Kemana anak itu?"
Pintu keluar terbuka.
"Ada apa guru?"
"Sepertinya Daesung sedang keluar. Aku pergi dulu!"
Guru Hwang melihat Daesung sedang duduk sendiri.
"Daesung!! Daesung!!"
Daesung menutup telinganya dengan telapak tangannya saat guru Hwang memanggilnya. Daesung tidak bisa menghentkan air matanya yang terus menetes.
Ketika hendak menghampiri Daesung, ada seorang pria yang duduk di samping Daesung (Polisi Kwon).
Polisi Kwon pun mendekap Daesung. Ia memahami perasaan Daesung atas kasus yang menimpa ayahnya.
Guru Hwang bertanya siapa yang disamping Daesung kepada seorang satpam. Tahu itu polisi Kwon, guru Hwang pun kembali ke sekolah.
Di sekolah, Hyosuk sedang duduk sendiri memandangi ponselnya.
"Hyung.. kau dimana sekarang? Aku ingin sekali melihatmu.."
형, 지금 어디있어? 난 정말 보고싶어요.. ㅠㅅㅠ
Hyosuk tiduran di tempat duduknya. Guru Hwang teringat Yeonsuk saat tiduran di sofa tadi.
"Hei, sedang apa kau disini?" 여기서 뭐하는거야?
"Aku mengantuk." 나는 졸려입니다.
"Hyung.. kau dimana?", keluh Hyosuk bercampur kantuk. 형.. 어디..???
Hyosuk pun memejamkan matanya dan tidur.
Guru Hwang meninggalkannya dan pergi ke kantor.
Daesung dan guru Kwon sedang mengejar orang yang membawa Yeonsuk pergi. (Ketika guru Hwang keluar, ada seseorang yang sudah siaga di luar untuk menyelinap dan membawa Yeonsuk pergi. Penjaga CCTV sedang berusaha mengejarnya karena satpam yang bertugas diluar sedang mengejar Daesung yang tadi berlari keluar. Satpam itu pun memberi tahukan polisi Kwon bahwa Yeonsuk diculik orang setelah itu mengecek ruang CCTV.)
Beberapa petugas dikerahkan untuk membantu polisi Kwon mengejar pelaku.
Terjadi pertarungan sengit saat satpam yeng mengejar tadi berhasil menangkap dua pelaku yang membawa Yeonsuk pergi. Daesung berusaha melindungi Yeonsuk sampai lengannya terluka karena seorang pelaku yang berusaha merebut Yeonsuk. Petugas tiba di tempat kejadian dan dua pelaku berhasil di amankan. Yeonsuk dan Daesung dilarikan ke rumah sakit.
Yeonsuk terbaring tak sadarkan diri. Daesung menunggunya di depan kamar dia dirawat.
Hyosuk masih tertidur di luar melewatkan pelajaran terakhir sebelum pulang.
"Kemana anak itu? Kenapa tidak masuk kelas?", pikir Taehyung.
Dongho dan Taehyung mencari Hyosuk di tempat biasanya mereka nongkrong.
"Kalian mencari Hyosuk?", tanya guru Hwang yang baru saja keluar dari kantor.
"Iya guru. Tadi dia tidak ikut pelajaran terakhir dan dia meninggalkan tasnya", Dongho.
Guru Hwang pun menunjukkan dimana Hyosuk tadi tidur. Dongho dan Taehyung berlari ke taman sekolah dimana Hyosuk tidur.
"Aigoo.. kenapa dia tidur disini?", Taheyung.
Dongho dan Taehyung pun berteriak mengageti Hyosuk.
"KIM HYO-SUK!!!!"
Hyosuk terbangun kaget sampai terjatuh dari tempatnya tidur.
"Hahaha.. ", Dongho dan Taehyung menertawakan Hyosuk.
"Auu.. Aduh.. pinggangku..", Hyosuk mengeluh kesakitan.
Mereka berdua pun membantu Hyosuk duduk.
(Minsuk sedang mencari Hyosuk dan melihat mereka bertiga sedang duduk bercanda bersama.)
"Aish~~ kenapa membangunkanku begitu?"
"Ya!! Ini sudah waktunya pulang, kenapa tadi kau tidak masuk kelas?", Dongho.
"Ahh~~ kenapa guru Hwang tidak membangunkanku?"
"Ya! Apa kau mau makan dengan kami?", ajak Taehyung.
"Aku tidak punya uang.."
"Taehyung yang akan membayarnya! Semalam aku sudah membayarnya."
"Apa maskudmu?", Hyosuk.
"Semalam Daesung menelphon Dongho dan meminta dia membelikan makan malam. Jadi kami bertiga makan bersama karena Dongho sedang di rumahku."
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Daesung?", tanya Hyosuk pelan.
"Dia bilang, dia sedang mencari ayahnya", ujar Dongho.
"Ayo kita makan?!!", Taehyung merangkul bahu Dongho dan Hyosuk.
Beberapa langkah kemudian, Daesung menelphon Hyosuk menggunakan pnsel Yeonsuk.
"Abeoji?", Taehyung melihat layar ponsel Hyosuk.
Hyosuk: Hyung? Kau dimana? Kenapa kau tidak mengangkat telphonku.. Hyung.. Hello.. Hello.. ? 여보세요?
Daasung: Datanglah bersama guru Hwang!
Hyosuk: .. Daesung? Hello..? Dasung kau dimana? Daesung!!
Hyosuk melepas tangan Taehyung yang merangkul bahunya lalu dia berlari ke kantor mencari guru Hwang.
Guru Hwang sudah berada di tempat parkir. Dia mendapat kabar dari Daesung kalau Yeonsuk sedang dirawat di RS.
[Guru, aku dan Yeonsuk hyung ada di rumah sakit. Datanglah bersama Hyosuk. Aku tidak bisa menjelaskan kepadanya.]
Minsuk menyapa Hyosuk saat Hyosuk keluar dari gedung sekolah.
"Ya! Hyosuk! Jangan pulang dulu, masih ada tugas yang harus kau selesaikan bersamaku!!"
Hyosuk melangkah mundur dan menarik lengan Minsuk. Ia mengajaknya berlari ke tempat parkir. "Ya!! Kau mau kemana?!!"
Taehyung kesal melihat Hyosuk berlarik mengajak Minsuk. Dia pun melampiaskan kekesalannya kepada Edison Choi yang baru turun dari tangga.
"Choi!! Berikan uangmu kepadaku!!!"
"Uangku sudah habis. Aku tidak punya uang lagi..", Choi ketakutan.
Taehyung pun melayangkan kepalannya kepada Choi.
"Taehyung!! Apa yang kau lakukan?", Dongho berusaha menghentikan Taehyung. Ia pun menahan Taehyung.
"Cepat pergi dari sini!! Pergilah!!", Dongho menyuruh Choi untuk pergi.
Choi pun berlari menjauh.
Taehyung terjatuh dan masih merasa kesal.
"Aish!!!"
"Ya! Ada apa denganmu? Apa kau kesal karena Hyosuk pergi dengan Minsuk?"
"Tidak."
"Ah pasti iya! Ayo kita pulang!"
Hyosuk dan Minsuk pergi ke rumah sakit bersama guru Hwang.
-Hyosuk teringat ucapan Daesung beberapa hari yang lalu.-
/ "Apa kakakmu sungguh baik-baik saja?" Daesung. \
/ "Aku tidak sengaja melihat pembunuhan dan .." Yeonsuk. \
/ "Dia bilang, dia sedang mencari ayahnya", ujar Dongho. \
Tiba di rumah sakit, Hyosuk marah kepada Daesung yang sedang duduk di depan kamar Yeonsuk.
"Apa yang kau lakukan kepada kakakku?!! Huh?!!"
Guru Hwang melerai mereka.
"Hyosuk hentikan! Ayo kita masuk!"
Minsuk hanya terdiam menyaksikan karena tidak tahu apa-apa.
Hyosuk dan guru Hwang masuk ke ruang Yeonsuk dirawat.
Minsuk melihat Daesung berjalan pincang masuk ke ruang sebelah.
Minsuk ingin melihat keadaan Yeonsuk tapi dia merasa kasihan dengan Daesung yang sedirian di ruang sebelah. Minsuk pun memilih untuk menjenguk Daesung.
Daesung sedang duduk di ranjang dan memijat kakinya.
"Apa sangat sakit?" 많이 아파?
Sesekali Daesung menatap Hyosuk dan memalingkan mukanya.
"Pergilah!!" 가!!
Minsuk keluar dan kembali mambawakan segelas kopi panas untuk Daesung.
"Ini minumah!", Minsuk menaruh gelasnya di meja.
"Apa perlu aku panggilkan dokter? Sepertinya itu sakit."
"Pergilah!!", Daesung mengusir Minsuk.
Minsuk pun meninggalkan Daesung. Dia memanggil suster untuk mengecek keadaan Daesung.
Yeonsuk belum sadarkan diri. Hyosuk terdiam menatap wajah kakaknya yang penuh luka.
"Kenapa jadi seperti ini? Kenapa kau berlari tanpa mengajakku? Hyung.. bangunlah!! Hyung..?"
Minsuk masuk untuk melihat Yeonsuk.
"Guru, bagaimana keadaan Yeonsuk hyung?", tanya Minsuk.
"Kau mengenalnya?"
/ "Kim Minsuk?", tanya Yeonsuk kepada guru Hwang saat di rumah polisi Kwon.\
"Hemm.."
"Kata dokter dia baik-baik saja."
"Hyosuk, kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku! Aku pulang dulu."
"Iya, pulanglah. Terima kasih."
Minsuk pamit kepada guru Hwang.
Minsuk melewati ruang Daesung. Ia melihat Daesung sudah tidur. Minsuk pun masuk sebentar untuk menyelimuti Daesung.
Guru Hwang melihat Minsuk keluar dari ruang sebelah. Ia pun mengecek ruang itu. Ternyata ada Daesung sendirian.
"Daesung.. kau sudah tidur?"
Daesung masih terjaga hanya saja dia malas membuka matanya jadi dia berpura-pura tidur. Seorang petugas datang untuk menjaga Daesung dan Yeonsuk. Guru Hwang pun pulang. Begitu tiba di tempat parkir apartemen, guru Hwang mendapat sms dari Daesung.
[Daesung: Guru, jangan beri tahu siapa pun kalau aku di rumah sakit.]
Taehyung adalah tetangga guru Hwang, dia baru saja pulang dari belajar di rumah Dongho.
"Oh Taehyung, kau darimana?", tanya guru Hwang di pintu masuk apartemen.
"Guru juga darimana?"
"Ya kenapa kau balik bertanya kepada gurumu?"
"Maaf, aku dari rumah Dongho. Aku dan Dongho sudah mnyelesaikan tugas Math besok. Ku harap tidak banyak yang salah seperti kemarin."
Mereka pun bicara sambil jalan.
"Benarkah? Coba ku lihat?!"
"Besok saja di kelas. Guru darimana? Kenapa pulang semalam ini?"
"Umm.. aku ada urusan di luar."
Guru Hwang tiba di depan rumahnya.
"Guru..", Tahyung memanggil guru Hwang yang hendak masuk rumah.
"Ada apa?"
"Daesung.."
"Ada apa dengan Daesung?"
"Apa guru bisa menghubungi ayahnya? Daesung, sedang mencari ayahnya karena itu dia tidak berangkat sekolah."
Ibu Taehyung berteriak memanggil Taehyung.
"Taehyung!!!"
"Eh, guru Hwang.. Taehyung kenapa baru pulang?"
"Dia baru saja mengerjakan tugas pelajaranku dengan Dongho", terang guru Hwang.
"Oh begitu.. Cepat pulang!"
Ibu Taehyung memukulnya dengan sapu setelah Taehyung masuk kamarnya.
"Jangan pernah berteman dengan Dongho dan Dasung lagi!!"
"Kenapa ibu memukulku?"
"Ayah Daesung sedang menjadi buronan polisi. Jangan pernah berteman dengan anak gangster itu lagi!!"
Taehyung terkejut mendengar perkataaan ibunya. Ia pun berlari keluar dan ingin mencari Daesung tapi rumahnya telah di kunci dan dia tidak bisa membujuk ibunya untuk membiarkannya keluar. Tahyung tidak bisa berbuat apa-apa. Ponselnya juga disita oleh ibunya.
Hari Minggu pagi. Minsuk pergi ke rumah sakit.
Yeonsuk sedang sarapan ditemani Minsuk dan polisi Kwon.
Yeonsuk terdiam menatap wajah Minsuk ketika Minsuk datang.
"Kim Minsuk?'
"Ne hyung.."
Yeonsuk pun mendekap Minsuk.
"Maaf Minsuk ya? Maafkan aku.."
"Tidak apa-apa hyung. Aku baik-baik saja."
"Hyosuk, sejak kapan kau bertemu Minsuk?"
"Umm.."
"Hyung, Hyosuk sangat mencemaskanmu. Aku senang bisa bertemu kalian lagi. Aku sangat merindukan kalian." :)
Polisi Kwon pun keluar untuk menemui Daesung.
Daesung sedang melamun menatap ponselnya.
"Kau tidak menghubungi temanmu atau ibumu?"
"Aku tidak ingin merepotkan mereka."
"Wartawan pasti akan mencarimu. Kau bisa ke rumahku untuk sementara waktu setelah kau membaik nanti."
"Terima kasih."
Yeonsuk senang bisa melihat adiknya kembali akrap dengan Hyosuk. Mereka bertiga bercanda seakan tidak terjadi apa-apa di masa lalu.
"Nami yang bilang kau sering tidur di kelas..", Minsuk mengejek Hyosuk.
"Ya!! Aku hanya tidak suka dengan pelajarannya~~"
"Sudah-sudah.. Aku tidak menyangka kalau kita bisa berkumpul kembali."
:)
"Oh iya, Bagaimana keadaan Daesung?"
"Dokter bilang kakinya terkilir, tapi tidak ada luka yang serius. Daesung akan baik-baik saja", Minsuk.
"Hyosuk! Kau harus menjenguknya! Dia pasti sedang sedih dan membutuhkan teman untuk bercerita. Walau ayahnya bersalah, Daesung yang telah menyelamatkanku. "
Saat makan siang, Hyosuk pun menjenguk Daesung.
"Kenapa kau baru datang? Silahkan pukul aku, jika kau marah kepada ayahku!"
Hyosuk terdiam.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku membenci ayahku.."
Hyosuk pun mendekap Daesung. Daesung tak sanggup membendung air matanya.
"Dongho dan Taehyung sangat mencemaskanmu. Aku akan menghubungi mereka."
"Jangan! Aku tidak ingin bertemu siapa pun."
"Bagaimana dengan ibumu? Ibumu pasti mengkhawatirkan keadaanmu."
"Sakit yang saat ini aku rasakan tidak lebih sakit dibandingkan aku melihat ibuku dengan kelaurga kecilnya yang bahagia. Bagaimana keadaan Yeonsuk hyung?"
"Terima kasih kau telah menyelamatkannya."
Minsuk kembali bekerja di mini market. Sungjae dan Jongseok menghampirinya.
"Sepertinya kau sedang sibuk?",ucap Jongseok melihat Minsuk yang sedang menata minuman di kulkas.
"Eh kalian, silahkan duduk."
"Sebentar, aku mau beli minuman kaleng dulu. Aku beli tiga kaleng. Berapa?", Sungjae.
Minsuk pun menghitungnya di meja kasir.
Sungjae dan Jongseok duduk di tempat duduk dalam toko dekat meja kasir.
"Dimana temanmu yang biasanya membersihkan gudang?", Jongseok.
Minsuk kembali menata minuman di kulkas.
"Oh, dia sedang merapikan gudang. Kenapa?"
"Dia temanku saat sekolah dasar. Haha.."
"Apa dia teman baikmu?", tanya Sungjae.
"Umm.. tidak. Tapi dia sering juara kelas."
"Siapa namanya?", tanya Sungaje lagi.
"Yaa!! Jangan menjadi wartawan kepadaku!!"
06.25
Taehyung bebas hari itu karena ibu sedang keluar kota ke rumah neneknya.
Dongho dan Taehyung bermain berdua di playground. Mereka berayun-ayunan.
"Dimana ya Daesung sekarang?", Dongho. (Dongho tahu rumah Daesung telah dipasangi garis polisi.)
"Dia pasti sedang sedih.", Taehyung.
"Ponselnya tidak aktif."
"Bagaimana kalau kita cari di rumah ibunya?"
Dongho dan Taehyung pun mancari Dasung ke rumah ibunya.
Sore, Sungjae dan Jongseok masih di mini market. Mereka bahkan membantu Minsuk melayani pembeli.
"Yaa mau sampai kapan kalian disini?", Minsuk.
"Aku sedang menikmati udara bebas karena keluargaku sedang pergi piknik. Aku dan Sungjae tidak ada tempat untuk bermain jadi kami kesini."
"Aku sudah selesai bekerja dan aku harus pergi ke suatu tempat", Minsuk.
"Kami tidak boleh iku?", Sungjae.
"Tidak boleh!"
"Kau mau kemana? Apa ke rumah Hyosuk? Sepertinya kau sudah sangat dekat dengan Hyosuk", Sungjae.
"Ya Sungjae! Ayo kita ke rumah Jimin! Kenapa anak itu tidak keluar(?)", Jongseok.
"Ah iya. Kami pergi dulu!", Sungaje pamit kepada Minsuk.
Minsuk berencana kembali ke RS tapi sebelumnya dia menanyakan makanan kesukan Daesung kepada Hyosuk.
[Hyosuk: Daesung suka kentang goreng.]
Minusk pun membawa kentang goreng untuk Daesung. Hari mulai gelap.
Tiba di RS, Daesung tidak ada di kamarnya.
"Suster, dimana Dasung?"
"Dia sedang keluar untuk jalan-jalan. Katanya bosan di dalam kamar."
Minsuk pun berlari keluar mencari Daesung.
Daesung sedang duduk melihat kolam ikan di taman.
"Disini kau rupanya. Ini aku bawakan kentang goreng. Makanlah!"
"Oh, terima kasih."
Minsuk duduk di samping Daesung.
"Tadi aku bertemu Dongho dan Taehyung di bus. Ku dengar mereka mau mencarimu ke rumah ibumu. Kau punya sahabat yang sangat menyayangimu, jangan sembunyikan rasa sedihmu dari sahabatmu. Sejauh mana pun kau menghindar, mereka akan terus berlari kepadamu."
"Hyosuk.. apa dia sahabat lamamu?"
"Hyosuk.. dia kakak sepupuku. Ayahku anak tunggal dan ibuku adik dari ibu Hyosuk. Kita berpisah setelah orang tua kita meninggal. Saat kau menyuruhnya untuk memukulku, dia benar-benar memukulku karena rasa dendam di masa lalu. Ah~ Apa kau perlu sesuatu?", Minsuk mengganti pembicaraan.
"Kau memberikanku makanan tapi tidak memberiku minuman. Belikan aku minuman."
"Aaa~ iya aku lupa. Tunggu sebentar, biar aku belikan."
"Aku tunggu kau di dalam."
Daesung masuk ke RS dan Minsuk pergi membeli minum.
Ketika membeli minum, Minsuk menyaksikan berita ayah Daesung di TV.
**Dongho dan Taehyung baru saja ke rumah ibu Daesung tapi ibunya tidak tahu keberadaan Daesung.
Mereka berdua tidak sengaja menonton berita ayah Daesung saat sebuah toko yang menyalakan TV menhadap luar. Para wartawan berusaha mewawancarai Daesung di RS.**
Minsuk berlari meninggalkan minuman pesanannya untuk menolong Daesung dari para reporter.
Kantong kentang goreng yang dibawa Daesung terjatuh ketika Daesung dikerumuni para wartawan.
Minsuk langsung berusaha membawa Daesung menjauhi reporter.
Mendengar suara ramai, Hyosuk melihat keluar. Ia melihat Minsuk menolong Daesung. *Ada kentang goreng berserakan di lantai dan terinjak-injak*
Dongho dan Taehyung bergegas ke RS. Tiba di RS, Daesung sudah pergi bersama Minsuk.
"Oh Hyosuk, kenapa kau disini?", Jongseok. 왜 여기에?
"Apa kau juga mencari Daesung?", Sungjae.
"Iya. Umm.. Daesung dibawa Minsuk saat reporter mengejarnya."
"Minsuk??!"
Dongho menelphon Jongseok dan menanyakan alamat rumah Minsuk.
Dongho, Taehyung, Jongseok dan Sungjae pergi ke rumah Minsuk.
Ibu Daesung mencarinya ke RS.
Kaki Daesung sakit usai berlari. Dia dan Minsuk beristirahat di taman.
"Apa kau sudah gila? Kenapa menarikku seprti itu?" 미쳤어?
"Maaf?" 죄송해요?
Minsuk melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Daesung.
"Antar aku ke rumah polisi Kwon."
"Baiklah."
Tiba di rumah polisi Kwon. Seorang anak lelaki sebaya dengan Daesung yang membukakan pintu.
"Kau mencari siapa?"
"Umm.."
"Siapa nak? Kau siapa?", tanya istri polisi Kwon kepada Daesung.
"Oh tidak, sepertinya aku salah rumah. Maaf."
Anak polisi Kwon mengangan-angan Daesung.
Setelah Daesung pergi, anak polisi Kwon menyadari wajah Daesung.
"Umma, bukankah tadi anak tersangka dari kasus yang sedang ayah tangani?"
"Oh, maksudmu anak yang menginap disini saat kita pergi?"
"Hemm.."
Anak polisi Kwano pun berlari mengejar Daseung. Tapi begitu di depan apartemen, sudah tidak terlihat.
"Aigoo.. aku lua siapa namanya~"
Dongho, Tahyung, Jongseok dan Dongho sedang menunggu Minusk di depan rumahnya.
"Apa dia tidak masih tidak mengangkat telphonnya?", tanya Taehyung.
"Hemm..", Sungjae.
"Kemana Minsuk? Kenapa belum pulang?", Jongseok.
Minsuk pulang dengan memapah Daesung. Dongho membantu Daesung menaiki naik tangga.
"Bukakan pintunya, ini kuncinya di kantongku. Ada di ponsel!", Minsuk.
Setelah masuk rumah Daesung duduk bersandar dengan meluruskan kakinya.
Sungjae segera membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.
"Ini minumlah!"
Daesung menggigil kedinginan.
Taehyung pun membantu Daesung meminum tehnya.
Minsuk menyelimuti kaki Daesung dengan sselimu.
Dongho melepas jaketnya untuk menghangatkan Daesung.
"Daesung, apa kau masih kedinginan?", tanya Jongseok.
Daesung menggelengkan kepalanya.
Dongho menyuruh Minsuk untuk keluar, dia ingin bicara kepadanya.
"Ya!! Kenapa tidak memberi tahukanku kalau kau tahu Daesung di rumah sakit?!!", tanya Dongho menarik kerah baju Minsuk.
*Jimin menyadari Minsuk dan Dongho tidak ada. Dia pun mencari mereka di luar.*
/ Melihat Dongho kesal pada Minsuk, dia teringat saat kesal kepada Hyosuk waktu Minsuk sakit. \
Taehyung datang melerai.
"Dongho hentikan! Sudahlah.."
Guru Hwang sedang di RS bersama ibu Daesung dan ayah tirinya.
Hyosuk menelphon Minsuk. Karena ponselnya di dalam rumah, Sungjae pun yang mengangkat telphonnya.
Sungjae: Hello.. Hyosuk? Ada apa?
Hyosuk: Apa Daesung di rumah Minsuk?
Sungjae: Kenapa?
Hyosuk: Guru Hwang dan polisi Kwon mencarinya.
Sungjae pun bertanya kepada Daesung.
"Daesung, apa boleh aku beritahu kepada guru Hwang kalau kau disini?"
Daesung menganggukkan kepalanya. "Hemm"
Hyosuk: Hello..
Sungjae: Iya, dia ada disini.
Hyosuk: Beritahu dia kalau guru Hwang akan kesana.
"Guru Hwang akan segera kesini."
"Ah~ Kenapa mereka semua keluar?", Sungjae.
"Apa kau sudah merasa lebih baik? Di sekolah Dongho dan Taehyung sangat mencemaskanmu. Oh iya, apa kakak Hyosuk di rumah sakit?"
"Iya", jawab Daesung singkat.
Guru Hwang, polisi Kwon dan ibu Daesung tiba di rumah Minsuk.
"Sedang apa kalian disini?", tanya guru Kwon bertemu Dongho dan lainnya di luar.
"Eh guru. Daesung ada di dalam", jawab Dongho.
Ibu Daesung melihat Daesung sedang berbicara dengan Sungjae.
".. Aku baik-baik saja."
"Sungguh? Wajahmu pucat, kau harus kembali ke rumah sakit untuk menghabiskan obatmu."
"Dasung..", ibu.
"Anda siapa?", Sungjae.
"Umma..", Daesung melihat ibunya datang.
"Umma? Oh, bibi silahkan duduk." Sungjae pun meninggalkan mereka berdua.
"Taehyung, sudah malam kenapa kau belum pulang?", tanya guru Hwang.
"Guru kan tahu aku.."
"Iya aku mengerti. Ayo ku antar kalian semua pulang?!"
"Rumahku tidak searah dengan guru", Dongho.
"Rumahku tidak jauh dari sini", Jongseok.
Ayah Daesung datang membawa makan malam.
"Sebelum pulang, ini makan bersama dulu?"
"Paman ini siapa?", Sungjae.
"Ayah Daesung", Taehyung menjawab.
"Ayah tiri..hehe", sahut Dongho.
"Terima kasih paman!", Dongho menerima makanannya.
Ayah Daesung dan polisi Kwano pun masuk ke dalam.
Guru Kwon menemani murid-muridnya makan malam di luar.
"Ya pelan-palan makannya!", guru Hwang memberikan minum kepada Sungjae yang tersedak.
Polisi Kwon menemui Daesung.
"Apa tad kau ke rumahku? Anakku mencarimu setelah kau pergi. Kenapa kau tidak masuk dan menungguku?"
"Tidak apa-apa paman."
"Sekarang lebih baik kau tinggal di rumah ibumu. Ayahmu masih menjadi buronan. Kau akan lebih aman bila bersama ayahmu yang ini."
"Nak, pulanglah bersama ibu.. Huh?"
"Adikmu pasti senang jika kau datang", ayah tiri Daesung.
"Iya, dia terus menanyakanmu seteah kemarin dia bertemu denganmu."
"Guru, bagaimana kedaan kakak Hyosuk?", tanya Taehyung.
"Oh baik-baik saja."
"Minsuk sangat dekat dengannya belakangan ini", ujar Taehyung.
Minsuk berhenti menguyah makannya sesaat.
"Kenapa?"
"Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?", Dongho.
"Saat kakaknya menghilang, Hyosuk tidur di rumah Minsuk", ujar Sungjae.
Minsuk menatap Sungjae.
"Aku benar kan?"
"Ya!! Apa berteman harus dengan orang yang dikenal lama saja?", Jongseok membela Minsuk.
"Kim Minsuk.. Kim Hyosuk.. Apa kalian saudara?", Dongho.
"Hyosuk.. ibu Hyosuk, kakak dari ibuku.."
"Apa? Berati dia sepupumu?", Sungjae.
"Hemm.."
Semua terdiam dan suasanya senyap sesaat.
Daesung keluar bersama ibunya. Dia memakai jaket ayahnya.
"Oh Daeung..", guru Hwang.
"Dongho..", Daesung mengembalikan jaketnya kepada Dongho.
"Minsuk, jaketmu ada di dalam. Aku pergi dulu."
Semua mata tertuju pada Dasung yang pergi bersama ibu dan ayah tirinya.
"Aku yakin, mereka adalah keluarga yang bahagia", Sungjae.
Dongho dan Taehyung pun bergegas pergi tanpa pamit.
"Minsuk, terima kasih telah membantu Daesung. Kalian berdua tidak pulang?"
Sungjae dan jongseok pun pamint pulang. Minsuk massuk ke rumahnya.
"Tadi kalian kemana saja sebelum kesini?", tanya guru Hwang.
"Seharian tadi kami bermain di toko tempat Minsuk bekerja. Kami juga membantunya melayani pembeli. Hari ini sangat menyenangkan! Sangat sangat menyenangkan~~", jelas Sungjae. :)
"Apa kalian sangat dekat dengan Minsuk?"
"Tentu saja. Sejak hari pertama Minsuk datang, kami yang menjadi teman pertamanya di sekolah", cerita Jongseok.
"Nah, kenapa Jimin tidak bersama kalian?"
"Jimin bilang dia ingin tidur di rumah jadi malas untuk keluar", Jongseok.
Taehyung berdiri di dekat mobil guru Hwang.
"Oh Taehyung, kau belum pulang?"
"Guru, apa aku boleh pulang denganmu? Uangku habis jadi aku tidak bisa naik bus."
"Apa hunbungan guru dengan Taehyung?", tanya Sungjae.
"Oh.. dia tetanggaku."
"Ya! Jangan bertanya kepada guru seperti itu!", Jongseok.
Taehyung pun pulang bersama guru Hwang. Jongseok dan Sungjae berpisah di jalan karena arah rumah mereka berlawanan.
Di perjalanan Sungjae memikirkan Daesung bersama keluarganya.
"Melihat Daesung bersama keluarganya mungkin Minsuk lebih merasa iri daripada aku. Kapan aku bisa hidup berempat lagi..? Setiap pagi umma menyiapkan sarapan untukku, unnie dan appa.."
Ibu Sungjae menunggunya di depan rumah.
"Apa kau bersenang-senang hari ini?"
Sungjae melepas jaketnya dan mengenakannya untuk umma.
"Kenapa menungguku di luar? Umma jadi kedinginan kan? Ayo masuk!"
"Terima kasih nak." :)
"Umma.. bisakah kita tinggal bersama ayah?"
"Kakakmu akan pergi ke Japan dan tinggal bersama ayah. Kalau kau juga ingin tinggal di Japan, umma akan mengundurkan diri. Bagaimana?"
"Tapi.. aku kan belum ujian kenaikan kelas."
"Umma mengerti. Oh iya, kau sudah makan?"
"Sudah, ayah temanku membelikan makan malam untuk kami di rumah Minsuk. Sayangnya Jimin tidak ikut karena dia tidak keluar hari ini."
"Kau tidak menghampiri ke rumahnya?"
"Jimin bilang dia malas keluar dan ingin tidur di rumah."
"Ya sudah, masuklah ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. Selamat tidur."
Jongseok tidak bisa masuk rumahnya karna keluarganya belum pulang.
Jongseok: Umma, kenapa belum pulang?
Umma: Malam ini tidurlah di rumah temanmu, umma akan tiba di rumah besok pagi. Jangan terlambat pulang ke rumah sebelum berangkat sekolah.
Jongseok: Kenapa tidak meninggalkan kunci rumahnya kepadaku?
Jongseok pun menghubungi Minsuk.
Jongseok: Minsuk, apa kau sudah tidur?
Minsuk: Baru mau tidur, kenapa?
Jongseok: Aku tidak bisa masuk rumah kaarena keluargaku belum pulang..
Jongseok pun kembali ke rumah Minsuk.
"Masuklah!"
"Huh.. kakiku lelah sekali. Aku berlari kesini karena di luar dingin."
"Lagi-lagi rumahku menjadi rumah singgah karena alasan yang sama.."
"Apa? Kau bilang apa?"
"Ahh tidak, bukan apa-apa."
"Yaa aku mendengarmu."
"Kau mau tidur di sampingku atau depan TV?"
"Depan TV saja."
Minsuk memberikan selimut dan alas tidur kepada Jongseok.
06.26
Bertemu pagi di sekolah~~
Minsuk berpapasan dengan Jimin dan Sungjae setelah turun dari bus.
"Apa kalian tidur nyenyak?", tanya Minsuk menengahi Jimin dan Sungjae.
"Kau ini bicara apa?", Sungjae.
"Aku bermimpi kau berangkat sekolah dengan Hyosuk", Jimin.
Hyosuk lewat di samping mereka. Sungjae dan Minsuk melihatnya berlalu.
"Woah.. mimpimu benar-benar terjadi. Daebak~", Sungjae.
"Ah Jimin, kau ketinggalan makan bersama tadi malam. Apa kau tahu berita tentang ayah Daesung?", Sungjae.
"Aku tahu. Aku juga melihat Minsuk di TV. Kau keren sekali!", Jimin memberikan tanda thumb kepada Minsuk.
**Ada beberapa reporter yang datang mencari Daesung di depan sekolah.**
Jimin menghentikan seorang siswa.
"Eh tunggu tunggu tunggu!!"
"Ne?"
"Siapa orang-orang itu?"
"Reporter"
"Woah.. Apa ada super idol di sekolah kita?", Sungjae.
"Mereka mencari Daesung."
Jimin dan Sungae bertukar pandang.
"Minsuk, dimana Daesung sekarang?", tanya Jimin.
"Daesung di rumah ibunya."
Taehyung ada di kantor guru. Ibu Edison telah melaporkan tindakan Taehyung yang memukul anaknya. Dia meminta agar Taehyung dihukum.
"..Besok, orang tuamu harus datang ke sekolah dan kau akan mendapatkan sangksi atas perbuatanmu", guru Hwang.
Ibu Taehyung datang ke sekolah pagi itu juga karena dihubungi oleh ibu Edison.
"Umma?"
"Ikut denganku!!"
Ibu Taehyung melayangkan tamparannya kepada Taehyung.
Taehyung hanya bisa pasrah saat ibu marah dan memukulnya.
"Dasar anak nakal!! Kenapa tidak mendengarkanku!! Jangan bermain dengan anak itu lagi!! Kenapa kau memukul anak orang?!!"
Minsuk tidak sengaja melihat Taehyung bersama ibunya dari bawah. (luar gedung sekolah)
Edison meminta maaf kepada Taehyung.
"Maakan aku.. aku tidak bermaksud mangadu tapi ibuku terus bertanya dan..", Edison berlutut di samping Taehyung duduk.
"Ya!! Menjauhlah dariku!", gertak Taehyung mendorong Edison hingga dia meja dibelakangnya tergeser. (meja depan tempat duduk Minsuk.)
Minsuk baru masuk kelas. Dia membantu Edison berdiri.
"Kau tidak apa-apa?", tanya Minsuk kepada Edison.
Edison menundukkan kepalanya.
"Duduklah." Minsuk mengantar Edison ke tempat duduknya.
(Edison duduk di belakang Sungjae.)
Sungjae menghadap ke belakang.
"Ya! apa yang terjadi? Apa kau dipukul Taehyung?", tanya Sungjae pada Edison.
Edison menggelengkan kepalang.
"Aaa kau hanya mengangguk dan menggelengkan kepalamu. Oh iya, kemarin kau bilang ada pelajaran yang ingin kau tanyakan. Nanti kita ketemu di perpustakaan, bagaimana?"
"Terima kasih." :)
"Oke." :)
Jimin dan Jongseok hanya menyaksikan pembicaraan mereka berdua.
"Kenapa?", tanya Sungjae pada Jongseok dan Jimin.
"Tidak.."
Guru Hwang pun tiba di kelas dan memulai pelajarannya.
Beberapa menit kemudian Daesung datang terlambat.
"Oh Daesung, kenapa kau datang terlambat? Lain kali jangan terlambat lagi!"
"Iya." 네
Jam istirahat setelah olah raga, ssemua siswa meninggalkan lapangan. Guru Hwang menyapa Hyosuk.
"Hyosuk, bagaimana keadaan kakakmu?"
"Yeonsuk hyung baik. Dia di rumah bersama pamanku."
Setelah guru Hwang pergi, Hyousk melihat Minsuk merangkul bahu Jimin, Jongseok dan Sungjae.
"Ya, aku kan punya hutang dengan kalian. Bagaimana kalau aku belikan minuman dan snack? Kita makan di taman."
"Hutang?", Sungjae.
"Ahh sudah ayo ke kantin!"
Taehyung dihukum membersihkan toilet selama 10 hari karena telah memukul Edison. Dongho membantunya dengan suka rela.
"Sedang apa kau disini?", Taehyung.
"Aku akan membantumu." :) Dongho tersenyum kepada Taehyung.
Minsuk, Jimin, Sungjae dan Jongseok bersantai di taman sekolah.
Hyosuk baru saja ganti baju dan hendak cuci tangan di luar. Ketika dia keluar dari gedung sekolah, dia ditabrak oleh seorang wanita yang membawa kopi cup.
Baju Hyosuk pun terkena kopi yang tumpah.
"Aish~!!", Hyosuk kesal.
"Maaf.. aku tidak sengaja. Maaf..", ucap wanita itu lalu pergi bersama temannya.
Ketika berjalan hendak menuruni tangga, Taehyung sengaja menjegal kakinya. Hyosuk pun terjatuh. (sebelum turun di tangga). Hyosuk tidak mau menanggapi Taehyung.
Minsuk dan lainnya melihat kejadian itu.
"Ya, ada apa dengan mereka?", Sungjae.
"Minsuk, apa sebenarnya hubunganmu dengan Hyosuk?", tanya Jimin.
Sungjae dan Jongseok menjawabnya. "Sepupu!" 남성 사촌.
"Sungguh?" 진짜?
"Hemm..", Minsuk.
*Hyosuk mencuci tangan dan membersihkan bajunya yang terkena tumpahan kopi. Ia sedikit kesal tapi berusaha untuk tetap tenang.*
Edison datang menghampiri Sungjae.
"Ah, sorry sorry sorry.. Ayo!", Sungaje mengajak Edison ke perpustakaan.
"Kau mau kemana?!!", Jimin.
"Aku mau ke perpustakaan!!", jawab Sungjae yang sudah berjalan menjauh.
Sungjae belajar dengan Edison di perpustakaan. Guru Hwang melihat mereka berdua ketika masuk perpus. (Sungjae siswa terpintar dan Edison siswa dengan nilai terendah di kelas.)
"Yaa kau salah disini.. Harusnya begini.." Sungjae dengan senang hati mengajari Edison.
Eunyong mendekat menyapa Sungjae.
"Sungjae, apa kau mau mengajariku juga?"
"Umm.. lain kali ya? Aku sedang belajar dengan Edison."
Eunyong pun pergi dengan rasa kecewa dan kesal.
Jimin berpapsan dengan Eunyong.
"Eunyong, apa kau bisa menemaniku mencari buku untuk ujian nanti?"
"Tidak mau!!"
"Ah menyebalkan!" Jimin pun masuk ke perpus.
Jimin melihat keseruan Sungjae dan Edison beajar bersama. Dia jadi teringat masa lalunya. / Belajar bersama Sungjae bersama kakak perempuan Sungjae. \
"Yaaa!! Ini salah lagi. Kau harus mengisinya dengan rumus yang ini.."
"Hehe maaf.."
Sungjae melihat Jimin sedang memilih buku di rak buku.
"Jimin!! Sedang apa kau disana? Kemarilah!!"
Jimin pun bergabung dengan Sungjae dan Edison.
"7 menit lagi sudah masuk. Cepat kerjakan yang ini", :) Sungjae menyuruh Edison untuk menyelesaikan soalnya.
Minsuk dan Jongseok sedang bermain bola di lapangan. (Hyosuk duduk sendiri sambil mendengarkan musik dengan headset. Dia melihat mereka berdua bermain.) Nami datang memberikan minum untuk Minsuk dan Jongseok.
"Hei, sudah hampir masuk. Berhentilah bermain! Ini aku bawakan minum!"
"Terima kasih", ucap Minsuk dan Jongseok.
Nami meninggalkan merekakemudia memberikan minum kepada Hyosuk.
"Ini untukmu!" 이거 가지세요.
Hyosuk melepas headset-nya.
"Kau baik-baik saja?" 괜찮아?
"Oh iya. Terima kasih." 오 괜찮아요, 고마워.
Nami pun duduk di samping Hyosuk.
"Sepertinya kau memang sudah baik-baik saja. Tapi kenapa kau tidak bermain dengan Minsuk?"
"Umm.. memang kenapa?'
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Ah, sudah waktunya kembali ke kelas. Ayo masuk!!", ajak Nami menarik tangan Hyosuk.
((Ada rasa di hatinya Hyosuk~~ hahaha))
Di kelas Minsuk dan Jongseok sedang merenggangkan otot-otot mereka.
"Perasaan kita bermain hanya 10 menit saja tapi kenapa rasanya pegal sekali..", Jongseok.
Jimin dan Sungjae datang berdua.
"Kalian bermain apa?", tanya Sungjae melepas tangan Jimin yang merangkul bahunya lalu duduk.
"Hanya sepak bola", Jongseok.
Hyosuk datang bersama Nami.
"Woah ada couple baru di kelas kita~~", ucap Sungjae melihat Nami yang masih menggandeng tangan Hyosuk.
Hyosuk pun melepas tangan Nami dan beranjak ke tampat duduknya.
Hyosuk melihat Minsuk sedang memijat-mijat kakinya.
"Ya, kenapa dengan kakimu?"
"Tidak, aku hanya lelah saja."
"Sepulang sekolah kau ingin bicara denganmu."
"Oh oke!"
Jimin menguap. Jongseok memasukan sedotan di mulutnya. (minuman dari Nami.)
"Hei apa kau mengantuk?"
"Hemm.", jawab Jimin sambil menyedot minumannya.
"Ya! Kenapa kau membawa minum di kelas? Hari ini aku yang bertugas membersihkan kelas!!", Jimin.
Jongseok pun menggoda Jimin.. :D
Seorang siswa mengumumlan bahwa hari ini seluruh dewan dan guru akan rapat mengenai sekolah. Para siswa pun pulang lebih awal.
Hyosuk dan Minsuk pulang bersama. Mereka mampir ke sebuah kafe.
"Minumlah!", Minsuk memberikan segelas kopi kepada Hyosuk.
"Kita kan bisa bicara di luar, kenapa kesini?"
"Sudah lama sekali kita tidak bermain bersama. Dulu aku berharap jika aku sudah sekolah tinggi aku ingin menikmati kopi di kafe bersamamu dan Yeonsuk hyung. Jadi, kau mau bicara apa?"
".. Yeonsuk hyung akan pergi militer dan rumahku akan ditinggali oleh paman bersama keluarganya lagi. Umm.. "
"Lalu?"
"Apa aku boleh tinggal denganmu?"
"Apa?!!"
"Ahh aku akan bekerja dan membayarnya.."
Minsuk terdiam berpikir. (Dia berpura-pura seperti menolak.)
"Aku tidak tahu harus kemana.. karena aku tidak mungkin tinggal dengan bibi yang tidak menyukaiku dan kakakku.."
"Kenapa kau tidak minta bantuan teman-temanmu?"
"Ya!! Baiklah kalau kau tidak mau!", Hyosuk beranjak dari tempat duduknya.
Minsuk mengejar Hyosuk yang keluar dari kafe.
"Aku hanya bercanda. Kapan kau akan mulai tinggal di rumahku?"
"Malam ini?"
"Oke. Kau bisa tidur di depan TV tapi kalau kau banyak menonton TV kau juga harus membayar listrik!"
"Iya iya~~"
"Aku ingin makan bersama Yeossuk hyung."
"Nanti malam aku akan ke rumahmu dengan Yeonsuk hyung, jadi kau siapkan makan malam untuk kami."
"Aish~ Oke!"
Sungjae dan Jimin belajar bersama di taman. Mereka menghabiskan sore bersama sambil belajar untuk persiapan ujian.
"Jimin, seandainya tanpa aku apa kau tetap mau belajar?"
"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku akan tetap belajar. Aku akan tunjukkan pada ayahku kalau aku anak yang pintar. Haha"
"Kau.. tidak merindukan ibumu?", tanya Sungjae sedikit ragu.
"Tidak."
"Ayah dan ibumu hanya berpisah tapi mereka masih suami istri kan? Harusnya kau menyatukan mereka..Kau kan anak satu-satunya."
"Aku bersyukur adikku kembali ke surga. Jika dia hidup, dia pasti tidak akan bahagia."
"Yaa kau ini bicara apa?"
"Aku tidak mengerti kenapa ibuku meninggalkan ayahku dan aku tapi aku akan bersama ayahku apa pun yang terjadi. Ah~ ayo kita lanjutkan belajarnya!!"
"Kita sudah menyelesaikan soal terakhir di bab ini."
"Ya kita lanjutkan pelajaran yang lain!!" Jimin membuka buku pelajaran yang lain.
"Orang tua Daesung sudah bercerai dan kemarin ibu Daesung datang bersama ayah tiri. Daesung telah melewati waktunya yang sulit ketika ayahnya menjadi buronan polis.i."
"Yaa!! Apa kau berharap ayahku menjadi buronan polisi juga?!!"
"Bukan begitu.. Aku salut Daesung tetap menerima keluarga barunya. Ku dengar dia punya adik tiri yang sangat menyukainya. Apa kau tidak peduli seandainya ibumu juga mempunyai keluarga baru? Huh? Kau bahkan tidak pernah menjawab telphon dari ibumu."
"Hentikan!! Kalau kau masih membicarakan keluargaku, aku akan pulang sekarang!!"
"Yaa!! kau janji akan mentraktirku makam malam setelah aku mengajarimu soal-soal yang tadi!!"
Jongseok disuruh ibunya untuk membeli beberapa makanan ringan karena akan ada tamu yang datang.
"Jongseok, kau belikan ini (ibu Jongseok memberinya catatan di kertas). Nanti ada teman umma yang mau datang."
Jongseok pun pergi ke mini market tempat Minsuk bekerja.
"Eh Jongseok, kau tidak belajar dengan Sungjae dan Jimin?"
"Tidak. Umma menyuruhku untuk tetap di rumah karena akan ada tamu. Teman umma. Hei, tolong aku. Ini yang mana?", tanya Jongseok menunjukkan tulisan di kertas catatan ibunya.
"Oh ini, ada di sebelah sana."
Makan malam.
Hyosuk datang ke rumah Minsuk bersama Yeonsuk. Mereka pun menikmati makan mlam bersama yang telah disiapkan oleh Minsuk. Suasana begitu menyenangkan.
Sungjae dan Jimin berencana makan malam di warung pinggir jalan tapi..
"Aduuh, dompetku tertinggal di toko dekat sekolah saat kita membeli snack sebelum belajar tadi", keluh Jimin.
"Yaaa aku tidak membawa uang. Ya sudah kita pulang saja."
Eunyong tiba-tiba menghampiri mereka.
"Apa kalian sudah makan?"
"Belum", jawab Sungjae.
Jimin menatap Sungjae.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama. Biar aku yang membayarnya!"
Eunyong pun membayarkan makan malam mereka berdua.
Eunyong senang bisa duduk di hadapan Sungjae. Dia senyum-senyum menatap Sungjae yang sedang makan. (Jimin cemburu.)
"Kenapa kau tidak makan? Berhentilah melihatku seperti itu!", Sungjae menegur Eunyong. "Jimin, ini makanlah, kau suka ini kan?!"
Yeonsuk berterima kasih karena Minsuk mau menerima Hyosuk di rumahnya.
"Terima kasih Minsuk ya? Aku tidak tahu harus bagaimana jika meninggalkan Hyosuk sendiri. Malam ini aku akan tidur di rumah temanku dan besok aku akan berangkat ke asrama. Hyosuk, kau harus ikuti peraturan Minsuk di rumahnya, dan jaga kebersihan!" :)
"Hyung, sering-seringlah mengirim kabar agar Hyosuk tidak kesepian", Minsuk.
"Baiklah!" :)
06.27
Sungjae dan Jimin selesai makan.
"Eunyong, terima kasih atas makannya", Jimin.
"Terima kasih", Sungjae menyambung.
"Iya."
"Apa perlu kamu mengantarmu pulang?", Jimin.
"Tidak perlu. Ayahku ada di warung makan ini dan aku bisa pulang dengan ayahku."
"Oh iyakah? Dimana ayahmu?", Jimin penasaran.
"Umm.."
Ayah Eunyong datang membawa barang belanjaan.
"Eunyong, bantu ayah membawa memindahkan kardus di mobil. Oh kalian teman Eunyong?"
"Iya ayah, mereka teman sekelasku dan ini Sungjae teman beprestasi."
"Jadi kamu yang juara kelas? Mohon bantu Eunyong untuk mempersiapkan ujiannya!" :)
"Oh baik paman."
((Jimin cemburu lagi.. hehe))
"Kami permisi dulu. Selamat malam", Sungjae.
Sungjae dan Jimin pun meninggalkan warung makan milik ayah Eunyong.
Mereka berdua berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah mereka berbeda. Rumah Sungjae masuk gang dan Jimin melanjutkan perjalanan.
"Tidurlah yang nyenyak, sampai jumpa besok!", Sungjae.
"Kau juga!", Jimin.
Sungjae berhenti dan kembali untuk melihat Jimin berjalan. Tiba-tiba dia melihat dua orang yang mencurigakan mengikuti Jimin.
"Siapa orang itu?", pikir Sungjae.
Ia pun berlari menyusul Jimin yang sudah berbelok arah.
Ketika di pertigaan sebuah gang, Sungjae menabrak seseorang yang tiba-tiba muncul dan hendak berjalan ke arah yang sama dengan Sungjae.
"Taehyung?"
"Auu.. sedang apa kau disini?"
"Aduh maaf. Ah, Jimin dalam bahaya!", Sungjae bergegas mengejar Jimin.
"Yaa!! Apa maksudmu?!!", teriak Taehyung.
Taehyung pun mengikuti Sungjae yang berlari ke arah rumah Jimin.
Di sebuah gang kecil yang sepi, Jimin sedang dihadang oleh kedua orang tadi.
"Katakan dimana ayahmu sekarang?!!"
"Aku tidak tahu", Jimin tidak bisa meawan.
Salah seorang dari mereka memukul Jimin.
"Apa kau mau mati?!!" 죽을래?
"Yaa!! Cepat hubungi ayahmu dan tanyakan dimana dia sekarang!!!"
"Aku tidak tahu.." 몰라..정말..
Jimin pun mendapat pukulan lagi. Jimin berusaha melawan tapi dia tetap kalah.
Sungjae kebingungan melihat Jimin dipukuli.
"Aduh.. bagaimana ini.." 아야.. 어떻게?"
Sungjae pun menghubungi Minsuk.
Yeonsuk baru saja berpamitan dan Minsuk hendak masuk rumah.
Minsuk: Hello.. Sungae?
Sungjae: Minsuk! jimin dipukuli orang.. Cepat kesini!!..
Taehyung menolong Sungjae (yang hendak menolong Jimin) dan Jimin.
Taehyung mendapat pukulan dari dua orang itu. Mereka pergi setelah Jimin tidak memberi tahu dimana ayahnya.
Jimin, Sungjae dan Taehyung bernafas lega dan cukup kesakitan.
Sungjae membantu Jimin berdiri lalu membantu Taehyung.
Mereka bertiga duduk di pinggir jalan.
"Terima kasih telah membantuku", ucap Jimin.
"Aku suka mumukul orang karena aku sering mendapat perlakuan kasar dari orang di rumahku, jika aku melakukan kesalahan walau hanya kecil..", ujar Taheyung.
"Kau tidak apa-apa? Apa ada sangat sakit? Bagaimana kalau ibumu marah?"
"Tidak perlu khawatir! Kalau ibuku datang ke sekolah, kalian tinggal menjelaskan padanya. Jangan meminta maaf seperti Edison! Aku pergi dulu."
Taehyung pergi, Minsuk datang dengna nafas ngos-ngosan.
"Huh huh huh.. Apa kalian baik-baik saja?"
"Hemm..", Sungjae.
Minsuk pun duduk di samping Jimin.
"Ada apa lagi ini?"
"Kita sedang beranjak dewasa. Berlari.. dan berlari..", ucap Jimin memandang langit.
"Yaa, kau ini bicara apa?", Sungjae.
"Ayahku meninggalkan rumah sejak malam Minggu dan aku malas mencarinya. Ayah tidak membawa ponsel jadi aku tidak bisa menghubunginya. Ayahku punya hutang kepada orang-orang tadi dan aku baru tahu setelah menemukan bukti pembayaran pengobatan ayah dari rumah sakit. Ayahku sakit.."
Sungjae merangkul bahu Jimin. Minsuk pun demikian.
"Kalau kau tidak keberatan, aku akan membantumu. Aku bisa mminta bantuan kepada ayahku. Bagaimana?", Sungjae.
"Terima kasih Sungjae."
"Malam ini tidurlah di rumahku. Bagaiamana?", Minsuk.
"Hei lain kali, aku juga ingin tidur di rumahmu!", Sungjae.
"Jimin, menginaplah di rumah Minsuk."
Tiba di rumah Minsuk, Jimin terkejut dengan Hyosuk yang membukakan pintu. Dia baru selesai mandi dan mengenakan kaos dalam (singlet).
"OMO! Sedang apa kau disini?" 여기서 뭐하는거야?!
"Aaaish~~ Kenapa tidak bilang kalu kau membawa teman?", Hyosuk.
Minsuk menepuk dahinya.
"Aku lupa kalau ada kau di rumah. Ayo masuk Jimin!"
Hyosuk pun memakai jaketnya dan menata tempat tidurnya di depan TV.
Minsuk menyiapkan tempat tidur untuk Jimin.
"Kau tidur disini denganku. Umm.. mulai malam ini Hyosuk tinggal disini."
Hyosuk berkata pada Jimin. "Kau sudah tahu kan kalau aku sepupunya?!!"
Hyosuk menyalakan TV dan duduk bersandar meja.
Jimin pun rebahan dan memjamkan matanya. "Selamat malam." 잘자
"Hyosuk, kecilkan volume TVnya!", Minsuk.
Pagi bangun tidur, Sungjae merasa haus lalu dia beranjak ke dapur.
Sungjae membaca memo dari ibunya di meja makan.
"Sungjae, ayo kita ke Japan dan tinggal bersama ayah dan kakakmu?!"
Sungjae megacak-acak rambutnya.
"Ahhh~~~ Aku kan belum kenaikan kelas? Aduh, apa yang harus aku lakukan? Argh~~~~"
Sungjae pun tidak semangat berangkat sekolah.
Hyosuk membangunkan Minsuk.
"Minsuk bangunlah!!"
"Hmm.. Dimana Jimin?", tanya Minsuk begitu membuka matanya.
"Dia pulang. Katanya harus mengambil buku pelajaran hari ini."
Jongseok datang lebih awal. Sungjae kemudian dan Jimin datang sebelum Hyosuk dan Minsuk.
"Sungjae, kenapa dengan wajamu? Apa tidurmu tidak nynyak?", tanya Jongseok duduk di meja Sungjae.
Sungjae hanya menjawab "Ah" lalu meletakkan kepalanya di meja.
"Apa kau sakit?"
"Tidak."
"Apa kau sudah sarapan?"
"Tidak!!!", Sungjae menyentak Jongseok.
"Ah, maaf aku hanya sedang.. Ah sudahlah~", Sungjae.
Nami dan Eunyong kaget mendengar Sungjae terdengar marah.
"Woah.. ternyata Sungjae bisa marah?", Nami.
"Apa dia sedaang kesal dengan seseorang?", Eunyong.
Jimin datang.
"Yaa Jimin! Kenapa denganmu?", tanya Jongseok melihat sebam di mata Jimin.
"Tidak apa-apa."
Sungjae bangun dan melhat Jimin sejenak, lalu kembali tidur.
"Kenapa dengan anak ini?", tanya Jimin duduk di tempat duduknya.
"Tidak tahu." 몰라 :/
Hyosuk sedang tertawa terbahak saat dia masuk bersama Minsuk. Semua mata terheran melihatnya.
"Yaa Hyosuk! Sekarang kau bisa tertawa?", Eunyong.
Hyosuk terdiam lalu duduk.
Minsuk mendekati Sungjae.
"Sungjae, kau baik-baik saja?"
Sungjae bangun mendengar Minsuk bertanya kepadanya.
"Yaa~ nanti malam aku ingin tidur di rumahmu bersama Jimin!"
Jongseok bertanya pada Jimin.
"Kau menginap di rumah Minsuk? Apa ada masalah di rumahmu?"
"Nanti saja aku jelaskan."
Eunyong dan Nami mendengar pembicaraan mereka berempat.
"Woah kalian sudah seperti keluarga saja~", Eunyong.
"Hyosuk dan Minsuk, mereka saudara sepupu", terang Jongseok.
Ketika Jongseok mengatakan itu, Daesung baru masuk kelas bersama Dongho.
(Nami cukup terkejut karena sebenarnya dia menyukai Hyosuk dan Minsuk.)
"Hei Dongdo, Taehyung tidak berangkat dengan kalian?", tanya Minsuk.
"Kenapa?"
Tahyung datang dengan rambut acak-acakan. Dia baru saja menyelesaikan hukumannya merapikan buku di perpustakaan.
"Huft.."
"Kau darimana?", tanya Dongho.
"Hukuman."
Guru Shi datang dan memulai pelajarannya.
Sungjae tampak lesu dan tidak semangat belajar. Ia bahkan tertidur di tengah pelajaran. Guru Shi mengetuk mejanya.
Tok tok tok .. "Sungjae!! Sungjae!!
Sungjae tidak peduli guru Shi memarahinya karena tidur saat pelajaran.
"Bangunlah!! Kalau kau tidur, keluar!!"
Jimin merasa ada masalah pada Sungjae.
Jam istirahat, Sungjae meninggalkan kantin sebelum memakan makan siangnya. Dia pergi ke lapangan untuk menonton siswa-siswa yang sedang bermain sepak bola.
Minsuk, Jongseok dan Jimin sedang makan siang.
"Kenapa Sungjae tidak makan?", Jongseok.
"Ku rasa dia sedang memikirkan sesuatu. Biarkan dia sendiri dulu", Jimin.
"Jimin, kau kan teman dekatnya, bicaralah dengannya!", Minsuk.
"Iya, baru kali ini aku melihat Sungjae menjadi pendiam", Jongseok.
Suasanya sunyi di meja makan Hyosuk, Daesung, Dongho dan Taehyung.
"Kenapa kalian tidak ada yang bicara?", Dongho.
Semua diam tidak ada yang menjawab Dongho.
"Baiklah kalau kalian tidak mau bicara!", Dongho pun membawa makannya dan pindah ke meja lain.
"Yaa", mereka bertiga memulai bicara secara bersamaan setelah Dongho pindah.
Dongho mendengarnya.
06.28
"Hyosuk, bagaimana keadaan kakakmu?", tanya Daesung.
"Yeonsuk hyung pergi ke asrama dan dia akan wajib militer."
"Jadi benar kau tinggal di rumah Minsuk?", Taehyung.
"Hemm.."
"Kau mau bicara apa?", tanya Daesung kepada Minsuk.
"Daesung, bagaimana denganmu? Pasti menyenangkan tinggal bersama adikmu?"
"Oh iya. Dia anak yang rajin belajar jadi aku harus menemaninya saat belajar."
Dongho pergi ke lapangan. Dia pun duduk di di belakang Sungjae menyaksikan sepak bola.
Eunyong mendekati Sungjae dan memberinya sekotak kue.
"Ini dari ayahku. Ayah berterima kasih kalau kau mau mengajariku untuk ujian nanti."
"oh iya", ucap Sungjae tanpa menatap Eunyong. Dia asyik menyaksikan sepak bola.
"Goal!! Hampir.. Aish~ kiper itu oke juga!"
Eunyong merasa kesal karena dianggurkan.
"Lalu kapan kita akan belajar bersama?"
"Nanti aku sms kalau aku sudah menentukan waktunya. Kau bisa pergi sekarang."
Eunyong pergi meninggalkan Sungjae dengan raut kecewa atas sikap cuwek Sungjae.
Ada seorang adik kelas yang menyapa Sungjae.
"Sungjae oppa?!!"
"Oh Soae. Duduklah!"
Soae merangkul bahu Sungjae. "Oppa, tidak biasanya kau sendirian. Kemana teman-temanmu?"
"Mm.. mereka sedang makan. Apa kau sudah makan?"
"Sudah."
(Donho melihat Eunyong yang kesal dengan adik kelas yang dekat dengan Sungjae.) "Hiiih menyebalkan!!"
"Ini makanlah."
"Terima kasih. Oppa, kata Sungah unnie, oppa mau ke Japan. Apa itu benar?"
"Entahlah~" "Sudah, makanlah!", kata Sungjae menyuapi Soae kuenya. (Eunyong semakin cemburu melihatnya.)
Hyosuk memberikan sebotol minuman jeruk kepada Dongho.
"Sedang apa kau disini?"
"Melihat romance drama. Apa kau hanya membeli satu botol?"
"Daesung yang membelinya untukmu."
Hyosuk melihat Sungaje bersama adik kelas.
"Bukankah itu Sungjae? Siapa gadis itu?"
"Romance Drama", ujar Dongho menunjukkan Eunyong di atas.
Hyosuk pun menertawakan sikap Eunyong. Haha..
"Yaa apa kau menertawakan Eunyong?" "Comedy Romance Drama!"
Ketika Soae pergi, Minsuk mendekati Sungjae.
"Hei, apa gadis itu pacarmu?"
"Kenapa? Dia cantik kan?"
"Hemm.." :)
"Malam ini umma tidak pulang karena ada tugas di luar kota. Jadi aku ingin menginap di rumahmu."
"Yaa, aku juga ingin!!", sahut Jongseok yang baru datang.
"Kau harus izin ibumu dulu", Sungjae.
"Aku ingin kabur untuk semalam saja."
"Yaaa!! Bagaimana kalau ibumu menghukummu? Kau jagan menyusahkan dirimu sendiri", Sungjae telah menjadi dirinya kembali.
"Yaa~ kau sudah kembali reporter Sungjae!"
"Hahaha.. kalian lucu sekali..", Minsuk.
Mereka pun bercanda dan kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Di kelas saat pelajaran, Sungjae menulis pesan untuk Eunyong di bukunya.
{Kalau kau mau belajar denganku, temui aku di perpustakaan sepulang sekolah.}
Eunyong senang membaca pesan Sungjae di secarik kertas.
Pelajaran terakhir telah usai dan bel tanda pulang sudah berbunyi.
Jimin mengajak Sungjae pulang bersama.
"Ayo pulang?!"
"Yaa hari ini kita belajar dulu seperti kemarin. Ayo!"
Jongseok merasa diabaikan. Dia pun pulang bersama Minsuk.
"Hei!! Kalaian berdua mau kemana?", tanya Sungjae kepada Jongseok dan Minsuk.
"Aku? Bekrja di toko", jawab Minsuk.
"Aku mau pulang ke rumah. Kenapa?", Jongseok.
"Aku dan Jimin akan belajar di perpustakaan sebelum pulang. Apa kalian mau bergabung?"
"Aku harus bekerja. Kau saja Jongseok!!"
"Aku? Umm.. baiklah!"
Minsuk pun pulang dan Jongseok ikut Sungjae belajar bersama.
Jimin dan Edison telah berada di perpus. Sungjae dan Jongseok pun tiba.
"Minsuk?", Edison.
"Dia harus bekerja. Nah, sekarang kita bisa mulai belajar. Kalau belajar disini kita bisa mengambil buku yang kita butuhkan."
Semuanya membuka buku pelajaran masing-masing.
Nami datang bersama teman sekelasnya (Danbi). Mereka berapasan dengan Eunyong sebelum masuk perpustakaan.
"Eunyong, kenapa kau masih disini?", Nami.
"Kalian juga kenapa disini?"
"Kami akan belajar bersama Sungjae dan teman-teman."
"Apa?!! Sungjae"
"Hemm.. Kenapa kau terkejut?"
"Ah tidak, masuklah!"
Nami dan Danbi pun masuk.
"Kami datang. Apa kami terlambat?"
"Tidak, baru mau mulai", jawab Edison.
*Sebelumnya Eunyong sudah berdandan cantik demi belajar bersama Sungjae. Tapi ternyata mereka tidak berdua.*
Eunyong pun masuk dan bergabung dengan mereka. Belajar bersama yang menyenangkan pun berlangsung.
Beberapa menit berlalu, tiga teman sekelas Sungjae (2 perempuan & 1 laki-laki) pun datang.
Sungjae mengajari temannya satu persatu tapi dia juga meminta bentuan temannya di soal yang dia tidak bisa dikerjakannya.
"Edison, kau salah lagi yang ini. Yaa! kau harus mengingat rumusnya~", Sungjae.
"Ah iya aku lupa. Yang ini bukan?"
"Hemm.."
"Sungjae, yang ini bagaimana?", tanya Eunyong cari perhatian.
"Oh ini mudah sekali. Kau ini bagaimana sih? Rumusnya yang ini."
"Ah baiklah."
"Jimin, kau sedang apa? Kerjakan yang ini!!", suruh Sungjae melihat Jimin hanya memainkan pensilnya.
"Sungjae yang ini bagaimana?"
"Sungjae!"
"Sungjae ini benar atau tidak?"
Teman-teman bertanya satu persatu keppada Sungjae.
"Danbi, kau sealu benar di soal yang ini. Ajari aku yang ini!" :)
"Ah ini soal yang paling sulit tapi aku berhasil menghafal rumusnya. Sini!"
Eunyong kesal melihat kedekatan Danbi dan Sungjae. Jimin memerhatikan Eunyong yang duduk di sampingnya.
"Jimin, yang ini bagaimna?", tanya Jongseok. (Duduk di depan Jimin.)
"Oh, yang mana?"
Mereka belajar sambil bercanda dan suasana menjadi sangat menyenangkan dengan penuh tawa dan senyum.
70 menit berlalu, ada soal yang belum dipahami Sungjae dan teman-tamannya. Dia pun menghubungi guru Hwang untuk meminta bantuan.
Sungjae: Guru, apa guru masih di sekolah?"
Guru Hwang: Aku baru saja keluar dari kantor. Kenapa?
Sungjae: Bisa kah guru mengajari kami sebentar di perpustakaan?
Guru Hwang pun ke perpus dan mengajari murid-muridnya.
10 menit kemudian Sungjae mulai merasa mengantuk. Ia pun tertidur sampai guru Hwang selesai menerangkan pelajarannya.
"Anak-anak, kalian bisa pulanglah. Guru ingin berbicara pada Sungjae dulu."
Teman-teman Sungjae meninggalkan sekolah termasuk Jimin. Eunyong menunggu Sungjae di luar. Guru HWang membangunkan Sungjae.
"Sungjae! Bangunlah!"
Sungjae bingung ketika terbangun teman-temannya sudah pergi semua.
"Aa kemana teman-teman?"
"Mereka baru saja pulang. Kenapa kau tidur?"
"Umm.. maaf guru, aku benar-benar ngantuk."
"Tadi di kelas kau juga tidur kan? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Guru ini bicara apa? Aku pulang dulu guru."
"Hey, katakan dulu ada masalah apa?"
"Guru, sepertinya aku tidak bisa mengikuti ujian."
"Apa kau ingin ke Japan?", tanya guru Hwang saat Sungjae hendak keluar.
"Bagaimana guru tahu tentang itu?", jawab Sungjae membalikkan badannya.
"Ibumu sudah membicarakannya kepadaku. Kau tidak bisa mengikuti ujian karena akan pindah ke Japan?"
(Eunyong mendengar pembicaraan mereka dari luar.)
"Aku.. tidak ingin pindah", kata Sungjae membungkukkan bahunya (pamit).
Keluar dari gedung sekolah, Eunyong menhadang Sungjae.
"Sungjae!!" :)
"Kenapa kau masih disini?"
"Aku menunggumu. Ayo aku traktir makan malam!"
Sungjae ingin menolak tapi dia sudah merasa lapar.
"Baiklah. Ayo!'
Eunyong senang bisa jalan berdua dengan Sungjae.
(Jimin telah menunggu Sungjae di kafe. Ia mengirim pesan kepada Sungjae saat tadi Sungjae masih bersama guru Hwang.)
Sungjae makan malam dengan Eunyong di restoran kecil.
"Enak kan?", Eunyong.
"Hemm..Cepat habiskan makanmu. Ayahmu pasti sudah menunggumu."
"..Dulu aku sering kesini bersama ibuku. Hari ini hari meninggalnya ibuku dan hari lahirku."
"Ha? Kau ulang tahun? Umm.. selamat ulang tahun!", ucap Sungjae mengulurkan tangannya. (salaberjabat tangan)
"Oh terima kasih." :)
"Aku tidak bisa memberimu hadiah. Bagaimana?"
"Bisa bersamamu itu sudah cukup untukku."
*Jimin mengirim sms kepada Sungjae lagi. Dia telah berada di warung makan milik ayah Eunyong.*
Saat Sungjae hendak membuka pesan dari Eunyong, Eunyong bertanya.. "Apa benar kau akan ke Japan?" Sungjae pun tidak jadi membaca sms-nya.
"Huh? Tidak. Itu tidak benar. Sudah, makanlah!":)
Selesai makan, Sungjae mengantar Eunyong ke warng makan ayahnya.
Ayah Eunyong menyapa Jimin.
"Kau teman Eunyong, kan?"
"Oh iya paman. Saya sedang menunggu teman."
"Masuklah! Minum penghangat biar badanmu hangat."
Jimin pun masuk dan ayah Eunyong memberinya minuman hangat.
"Terima kasih paman."
"Eunyong belum kemari. Apa kau menunggu teman yang bernama Sungjae itu?"
"Oh? Iya." (Jimin merasa sedikit kecewa karena ayah Eunyong hanya mengingat nama Sungjae.)
Karena Sungjae tidak membalas sms-nya, Jimn pun keluar dari warung. Jimin melihat Sungjae bersama Eunyong.
"Sungjae!", panggil Eunyong menarik lengan Sungjae dari belakang.
"Ada apa? Kau sudah sampai. Aku akan pulang."
"Sungjae.. aku.. menyukaimu!" 내가.. 좋아해!
Jimin sangat terkejut mendengarnya. (Jimin bersembunyi di balik pintu.)
"Ahh~ terima kassih kau sudah menjadi fans-ku" :) , Sungjae tidak menanggapi ucapan Eunyong dengan serius.
"Yaa!! Aku.. sungguh menyukaimu sejak tahun lalu." 난 정말 좋아해..
Jimin pun keluar.
"Oh Jimin, kau makan disini?", tanya Sungjae.
"Apa kau sudah makan?"
"Hemm sudah."
"Baguslah kalau begitu." 좋아.
Jimin pun pergi berlalu.
"Hei!! Kau mau kemana?" 야 어미가?!!
"Aku akan ke toko Minsuk!", kata Jimin lalu berlari.
"Yaa!! tunggu aku Jimin!!!" 지민아 기다려!!
"Eunyong, aku pergi dulu. Sampai jumpa!" :)
Eunyong kesal karena Sungjae tidak menanggapi ungkapan perasaan dia kepadanya.
Sungjae teringat akan tidur di rumah Minsuk, dia pun pulang untuk ganti baju dan membawa keperluan untuk sekolah besok.
Jimin sedang di toko Minsuk.
"Kau belum pulang? Dimana Sungae?"
"Tadi aku keluar lebh dulu. Minsuk, bisakah kau membelikanku makan malam?"
"Oke. Jam kerjaku sudah selesai jadi aku bisa bersantai."
"Kalau begitu kita masak di rumahmu saja. Apa Hyosuk sudah makan?"
"Ah iya. Ayo!"
Sungjae menelphon Minsuk.
Sungjae: Kau sudah pulang?
Minsuk: Aku sedang berjalan pulang dengan Jimin.
Sungjae: Aku akan ke rumahmu sekarang.
Sungjae membuka sms dari Jimin.
[Jimin: Sungjae aku tunggu kau di kafe. Kau harus minum kopi kalau mau tidur di rumah Minsuk. Pasti kau akan meng-interview Minsuk.]
[Jimin: Sungjae!!]
[Jimin: Aigoo~~ kenapa belum kesini? Aku tunggu kau di warung makan ayah Eunyong! Cepat balas pesanku!!]
"Huft~~" Sungjae merasa bersalah karena tidak membuka pesan Jimin.
*Sungjae membawa kotak berisi memo/catatan-catatan kecil dari ibunya.*
Sungjae keluar dari rumahnya lalu berlari ke rumah Minsuk.
Sungjae mengatur nafasnya sebelum emngetuk pintu.
Hyosuk hendak keluar mengambil handuk yang dia jemur di luar.
Hyosuk terdiam menatap Sungjae yang kecapekan setelah berlari.
"Huft.. huh huh huh.. Minsuk sudah pulang?"
"Oh Minsuk sedang makan dengan Jimin. Masuklah!"
Sungjae hampir terjatuh lalu Hyosuk membentunya berdiri.
"Yaa ada apa dengan?"
"Berlari itu melelahkan!", jawab Sungjae menepuk bahu Hyosuk.
Sungjae masuk dan mengucap "Aku datang!"
Karena masih lelah, Sungjae tersandung setelah melepas sepatunya. Kotak yang dia bawa terjatuh dan isinya berserakan.
Jimin dan Minsuk membantunya duduk.
"Kau ini kenapa?", tanya Jimin.
"Aku merindukanmu, jadi aku berlari."
"Aish~~ kau ini~~"
Minsuk memberekan isi kotak yang dibawa Sungjae.
"Ini apa?", tanya minsuk menyerahkan kotaknya kepada Sungjae.
"Memo. Hampir setiap hari umma menulisnya untukku, tapi sering malas membacanya. kalian mau membantuku membacanya?"
Hyosuk tersenyum teringat Yeonsuk yang pernah menulis memo seperti itu saat Yeonsuk pergi dari rumah.
"Yaa Hyosuk! Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa kau juga mau membacanya?"
"Oh.."
Sementara Minsuk, Jimin dan Sungjae sibuk membaca memo dari ibu Sungae, Hyosuk menata tempat tidurnya di depan TV lalu menyalakan TV.
Sungjae pun duduk di samping Hyosuk. (Bersandar meja.)
"Hei, kau suka menonton drama? Aku juga menonton drama kalau menunggumu ibuku pulang larut malam."
Hyosuk hanya diam saja.
"Aigoo.. kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?"
"Diamlah! Aku sedang menonton."
Jimin membaca memo yang lucu lalu tertawa sendiri.
"Hahaha.. Ahjumma lucu sekali.."
Minsuk membaca satu memo dengan bersuara.
"Sungjae, ayo ke Japan?!!"
Sungjae merebut memo yang dibaca oleh Minsuk.
"Yaa! Kau akan ke Japan?", tanya Jimin.
"Tidak!!! Maksudku, ibu hanya mengajakku berlibur ke Japan."
"Woah~ itu pasti akan sangat menyenangkan!", Minsuk. :)
(Jimin mulai curiga dengan sikap Sungjae.)
Sungae mengeluarkan selimut dari tasnya.
"Minsuk, apa ada bantal? Aku ingin tidur disini."
"Yaaa kau tidak bisa tidur disini. Sana ke tempat Minsuk!"
"Tidak mau!"
Sungjae menaruh beberapa memo yang dia pegang di meja. Lalu berbaring di depan Hyosuk.
"Hyosuk.."
"Jangan banyak bertanya padaku. Tidurlah!!"
"Aah aku kan hanya memanggil namamu. Selamat tidur!"
Jimin dan Minsuk masih asyik membaca memo ibu Sungjae.
'Sungjae,good luck!'
'Hari ini umma akan pulang terlambat jadi jangan menunggu umma. Tidurlah di kamarmu.'
'Bagaimana hari ini di sekolah? Maaf, umma tidak bisa menyiapkan makan malam'
'Selamat menikmati sarapanmu. Fighting!!'
'Happy Birthday Sungjae ya~~ Hari ini bersenang-senanglah dengan teman-temanmu..'
'Sungjae, kalau kau kesepian di rumah tidurlah di rumah temanmu. Jangan lupa telphon umma. :) '
'Sungjae, hari ini ulang tahun ayah. Jangan lupa mengucapkan selamat kepada ayahmu.'
'Sungjae, ajaklah Minsuk belajar di rumah!!"
'Sungjae, selamat makan! Jika kau ingin makan sesuatu, sms umma. Besok umma akan memasaknya untukmu!
'Sungjae Umma mencintamu ~~'
Minsuk meneteskan air mata. Tiba-tiba dia merindukan ibunya.
"Minsuk, apa kau menangis?"
"Sungjae pernah bilang padaku kalau dia sanat menyayangi ibunya. Walau ibunya sangat sibuk tapi tetap perhatian kepada Sungjae.."
"Aku sudah berteman dengan Sungjae sejak SD. Dulu kami sering belajar bersama dengan kakaknya tapi aku tidak pernah mengenal orang tua Sungjae. Aku tidak pernah berpikir kalau Sungjae kesepian setelah kakaknya pergi ke luar negri, karena Sungjae anak yang ceria. Dia perhatian dan banyak bertanya tentang apa pun kepada siapa pun di sekitarnya, tapi aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dan.. dia selalu menjadi siswa juara di kelas kita."
"Sungjae pernah bercerita kepadaku, tentang persahabatannya denganmu dan Jongseok. Dia merindukan saat-saat kalian berdua belajar bersama."
Teringat di benak Jimin.. / "..Jika tanpa aku, apa kau masih tetap belajar?', tanya Sungja waktu itu. \
Hyosuk membaca memo yang ada di atas meja.
'Umma sudah siapkan makan malam. Setelah makan, belajarlah lalu tidur. Jangan tidur arut malam!'
'Hari ini umma akan pulang sore jadi kita bisa makan malam bersama'
'Sungjae, sms umma kalau kau ada masalah di sekolah.'
'Jangan lupa matikan TV sebelum tidur!'
'Sungjae, katakan I Love You kepada umma!!!!!'
'Sungjae, Ayo ke Japan?!!"
06.29
Jimin dan Minsuk sudah tetidur dngan memonya yang masih berserakan di lantai. Hyosuk pun merapikannya sebeum tidur. Ia menaruh kotak memo itu di atas meja (depan TV) lalu membacanya beberapa sambil tiduran.
Alarm di ponesel Sungjae berbunyi pukul 05:30, Sungjae terbangun memanggil ibunya.
"Umma!", ucap Sungjae duduk lalu membuka matanya.
"Oh.. aku tidak di rumah.."
Sungjae melihat Hyosuk yang tidur di belakangnya, masih menggenggam memo di tangannya. Sungjae mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam kotak.
Minsuk duduk membawa buku (mengantuk) di samping Jimin yang masih tidur.
*Minsuk berpura-pura tidur melihat Sungjae terbangun memanggil ibunya.*
Minsuk terbangun mendengar Sungjae masuk ke kamar mandi.
"Aduh.. kenapa aku masih ngantuk?"
Minsuk pun ke dapur untuk membuat kopi.
Sungjae keluar dari kamar mandi.
"Oh Sungjae, kau sudah bangun?"
"Hemm.."
"Tidak tidur lagi?"
Sungjae duduk di kursi.
"Buatkan aku kopi juga."
"Oh baiklah~ Ini!"
"Aku sering tebangun mendengar alarm berbunyi. Menunggu umma di ruang tamu sampai tertidur."
"Kau selalu memanggil ibumu saat terbangun?"
"Ha? Kau mendengarku tadi?"
"Hemm.."
"Aku ingin bangun pagi, supaya aku bisa sarapan dengan umma. Tapi umma hanya menyiapkan sarapan lalu pergi bekerja. Umma bekerja bukan karena uang tapi karena sangat menyukai pekerjaannya."
"Kau beruntung, masih ada orang yang selalu kau tunggu di rumah. Sejak orang tuaku meninggal tidak pernah ada yang bisa ku tunggu di panti asuhan. Saat aku kesini, aku berharap bisa bertemu Hyosuk dan Yeonsuk hyung. Tapi ternyata alamat yang diberikan Yeonsuk hyung adalah alamat rumah kosong. Saat itu juga aku berhenti berharap dan berhenti berlari mencari mereka. Aku pikir lebih baik takdir yang mempertemukan kami kelak. Tidak ku sangka, sekarang aku tinggal bersama Hyosuk." :)
"Hyosuk yang tinggal bersamamu."
"Sama saja. Ayo bersiap ke sekolah!"
"Kalau kau yang tinggal bersama Hyosuk itu artinya kau di rumah Hyosuk..", kata Sungjae yang terhenti melihat Hyosuk berdiri di hadapannya.
"Kau sudah bangun?"
"Kau sedang membicarakan aku?"
"Umm.."
Hyosuk pun masuk ke kamar mandi.
Jimin masih berselimut rapat. Sungjae tidur di depannya lalu membangunkannya.
"Jimin! Sudah pagi, ayo sekolah!! Jimin, bangunlah!"
Jimin malas-malasan untuk bangun.
Sungjae pun membangunkan Jimin dengan memeluknya dari belakang lalu mendudukkannya. "Cepat bangun!!"
"Yaa lepaskan aku!"
Mereka pun perang bantal.
Minsuk (sedang menyiapkan buku di tasnya) tersenyum melihat mereka berdua bercanda di pagi hari.
Hyosuk keluar dari kamar mandi. Bantal yang Jimin lempar mengenai muka Hyosuk.
"Upps. Maaf Hyosuk.."
"Bangunlah! Apa kau sudah menyiapkan buku pelajaran hari ini?"
"Ahh sudah!"
Jimin pun merapikan selimutnya.
Jongseok berangkat lebih awal. Dia pun meletakan kepalanya di meja dan memejamkan kedua matanya.
Danbi menaruh susu kotak di meja Jongseok.
"Kau sendirian?" 너 혼자?
"Kenapa?" 왜?
"Sepertinya kau kesepian?"
"Tidak", jawab Jongseok membuka matanya. 아니요.
"Ini apa?" 이게 뭐야?
"Minumlah!"
"Terima kasih!", Jongseok mengambil susu kotak dari Danbi lalau keluar dari kelas.
Jongseok melihat Jimin bersama Sungjae, Minsuk dan Hyoseok berangkat bersama-sama. Mereka sedang bercanda dan tertawa.
"Aku sendirian. Sendiri.." 혼자
Hyoseok melihat Jngseok di atas.
"Hei!! Ada Jongseok diatas!", kata Hyosuk.
"Dimana?", tanya Jimin.
Mereka pun melambaikan tangan kepada Jongseok.
"Jongseok!! Hey!!" 안녕!! Jimin, Sungjae dan Minsuk melambaikan tangan kepada Jongseok. Sesekali Hyosuk juga melambaikan tangannya.
Jongseok membalas dengan senyuman kepada mereka.
Edison melihat Jongseok yang tersenyum sendiri, lalu dia melihat ke bawah dan melihat Jimin dkk.
"Jongseok!"
"Ada apa?"
"Ini penghapusmu. Kemarin tertinggal di perpustakaan ssaat belajar bersama. Aku mau memberikannya kepadamu tapi kau berlari setelah keluar dari perpus. Sepertinya kau sedang terburu-buru."
"Oh, terima kasih."
Edison pun meninggalkan Jongseok. "Penghapus.."
*Jimin berlari menghampiri Jongseok.*
"Jongseok! Oo apa itu?"
"Penghapus."
"Yaa!! Katanya kau ingin tidur di rumah Minsuk. Kapan?", tanya Jimin merangkul bahu Jongseok.
"Umm.. malam Minggu saja. Jadi kita bisa menghabiskan malam sambil berbagi certia dan.. foto-foto."
"Aha, ide yang bagus!"
Mereka pun berjalan ke kelas.
"Jongseok!", Minsuk duduk di tempat Jimin.
"Ada apa?"
"Kemarin aku bertemu ibumu di toko. Aku bilang padanya kalau kau sedang belajar bersama di sekolah, jadi kau terlambat pulang."
"Pantas saja ibu tidak marah padaku. Terima kasih. Tapi bagaimana kau tahu ibuku?"
"Dia menyapa teman SDmu. Minwook mengatakan pada ibumu kalau aku teman sekelasmu. Kata ibumu kau belum pulang sore itu. Oh iya, adikmu lucu sekali."
"Jongmi?", tanya Sungjae.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu adikmu", Jimin.
"Berapa usinya?", tanya Minsuk.
"7 tahun."
"Pertama kita bertemu Jongmi saat dia pertama kali masuk sekolah dan dia menceritakan hari pertamanya di sekolah", kenang Jimin.
"Jongmi menggemaskan dan dia mirip oppa-nya saat tersenyum", Sungjae.
"Manis..", Jimin.
"Itu artinya senyumku juga manis?", Jongseok. :)
"Aigoo~~ kau ini~~", Jimin.
Minsuk kembali ke tempat duduknya. Taehyung sengaja menjegal Minsuk saat dia lewat di samping tempat dudknya. "Aduh.."
Hyosuk sedang membaca buku pelajaran.
"Taehyung!!? Apa maumu?!!", Hyosuk marah melihat Minsuk terjatuh.
Hyosuk hendak memukul Taehyung.
Jimin mencegah Hyosuk dan Jongseok mencegah Taehyung. Sungjae membantu Minsuk berdiri. Daesung yang baru datang pun ikut mencegah Taehyung.
Daesung membawa Taehyung keluar.
"Yaa apa yang kau lakukan?", tanya Daesung kepada Taehyung.
"Apa kau masih kesal karena Hyosuk bersama Minsuk?", Dongho.
Daesung pun duduk di samping Taehyung lalu memerangkul bahunya.
"Hari ini makan malamlah di rumahku. Dongho, kau juga!"
"Sepertinya kau hidup dengan baik bersama ibumu", Taehyung.
"Tentu saja! Hari ini adikku ulang tahun dan dia ingin aku membelikannya hadiah. Jadi kalian harus menemaniku membeli hadiah. Bagaimana?"
"Oke!! Taehyung, kau juga kan?", Dongho menyetujui.
"Oh..?"
"Sudah ikut saja! Ayo kembali ke kelas!", Daesung merangkul Dongho dan Taehyung.
06.30
Di kelas, Daesung mengirim pesan kepada Hyosuk, mengajaknya jalan.
[Daesung: Nanti sepulang sekolah ikutlah hang put denganku, Dongho dan Teahyung. Sudah lama kita tidak jalan bersama. kau harus datang!]
[Hyosuk: Ne.]
Sepulang sekolah, Minsuk mengajak Hyosuk ke toko.
"Aku sudah bicara dengan paman Lee. Sekarang ikutlah denganku, kalau kau ingin bekerja di mini market."
"Baiklah!"
"Minsuk!", Jimin mendekati Minsuk yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Kenapa?"
"Apa.. aku.. boleh tinggal di rumahmu?"
"Kenapa?!", Hyosuk.
"Yaa aku bicara dengan Minsuk bukan denganmu!"
"Umm.. oke. Apa ayahmu belum pulang?"
"Ayah ada di rumah sakit dan aku tidak boleh menjenguknya."
*Daesung yang duduk di depan Minsuk mendengar pembicaraan mereka.*
"Kenapa tidak boleh?", tanya Hyosuk.
"Kata ayah, dia akan segera pulang. Ya sudah aku pulang dulu. Nanti malam aku akan ke rumahmu. Sampai jumpa!"
"Oh, makanlah di rumahku. Sampai jumpa nanti malam!"
Jimin pun pulang.
(Sungjae kembali ke perpustakaan untuk belajar bersama lagi. Jongseok ikut bersamanya.)
"Kau tahu ayahnya sakit apa?"
"Aku tidak tahu. Ayo pergi!"
*Taehyung teringat malam saat dia menolong Jimin.*
Hyosuk dan Minsuk pergi ke toko bersama.
Saat turun dari bus, Minsuk merasakan sakit perut.
"Aduh.. perutku.."
"Kau kenapa?", tanya Hyosuk khawatir.
"Aku tidak apa-apa."
"Apa perutmu sakit lagi?"
"Aku tiidak apa-apa.."
"Ayo ku antar kau ke rumah sakit!"
Awalnya Minsuk menolak tapi karena perutnya benar-benar sakit, dia pun bersedia diantar Hyosuk ke rumah sakit.
Sementara menunggu Minsuk diperiksa dokter, Hyosuk jalan-jalan sebentar. Dia melihat seorang pria yang dibawa ke ruang ICU. (Hyosuk teringat terakhir kalianya melihat orang tuanya di ruang ICU.) Beberapa saat kemudian Hyosuk melihat Jimin di meja pendataran.
"Apa ada orang yang bernama..?" (Jimin sedang mencari ayahnya.)
"Mohon tunggu sebentar.."
"Adakah?"
"..Maaf, tidak ada."
"Oh, terima kasih."
Saat Hyosuk hendak mengejar Jimin, Daesung menelphonnya.
Daesung: Kau dimana? Cepat kesini!!
Hyosuk: Oh, tunggu sebentar.
Minsuk berbaring setelah dokter memeriksanya. Hyosuk menemuinya.
"Bagaimana? Kau sudah baik-baik saja?"
"Hemm.. terima kasih."
"Kau harus menjaga kesehatanmu dan kata dokter kau harus menjaga pola makanmu. Jangan sakit lagi!!"
"Hyosuk, aku masih berhutang padamu.." (Biaya operasi Minsuk waktu itu.)
"Lupakan! Ayo pulang?"
Hyosuk pulang dengan Minsuk. Setelah ganti baju, Hyosuk keluar untuk menemui Daesung. "Aku akan pergi bersama Daesung dan lainnya. Kau istirahat saja di rumah dan telphon paman Lee kalau kau tidak bisa bekerja. Aku pergi dulu!"
Minsuk tersenyum mendengar Hyosuk akan pergi bersama teman-temannya.
Daesung, Dongho dan Taehyung sedang minum kopi di kafe mall. Hyosuk pun tiba. Taehyung tidak menyangka kalau Hyosuk akan datang.
"Maaf aku terlambat!", Hyosuk. :)
"Kau sudah datang, ayo kita mencari kado untuk adikku!"
Mereka berempat pun jalan-jalan dan memilih kado untuk adik Daesung.
Moment yang sangat menyenangkan karena sudah lama mereka tidak jalan-jalan seperti itu. Usai mendapatkan kado yang dicari, Dasung mengajak bermain bowling. Mereka berempat telah bersenang-senang.
Waktunya makan malam~ Daesung mengajak Dongho, Taehyung dan Hyosuk ke rumahnya makan malam bersama keluarganya untuk merayakan ulang tahun adik Daesung ke-7.
"Adik, ini hadiah dari kakak-kakak(oppadeul)! Kau pasti menyukainya!"
"Hello Kitty?", tanya adik Daesung sebelum membuka hadiah yang dibuskus kotak besar.
"Hemm.." :)
"Terima kasih Daesung oppa, Taehyung opa, Donghoo opa dan.. Hyosuk oppa."
"Oh kau sudah menghafal nama kami?", Dongho.
"Daesung oppa sering bercerita tentang teman-temannya."
"Ya sudah, ayo kita makan!?" ibu Daesung.
Ayah Daesung berterima kasih atas kehadiran teman-teman Daesung.
"Terima kasih, kalian sudah meluangkan waktu untuk datang di ulang tahun adik Daesung."
"Iya paman."
Minsuk sedang menyiapkan makan malam. Jimin datang dengan membawa koper.
"Kau baik-baik saja?"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja."
"Kau pasti sangat kesepian di rumah."
"Aku sendirian." 나 훈자
"Nah sudah matang. Mari makan!"
"Terima kasih atas makan malamnya!", Jimin.
Hyosuk pulang. Jimin sedang menata tempat tidurnya.
"Itu koper siapa?"
"Punyaku. Kenapa?"
"Kau benar-benar pindah kesini?"
"Aku tidak punya orang tua saat ini, jadi aku kesepian di rumah."
(Minsuk selalu menjadi pelarian orang-orang kesepian.)
Minsuk baru keluar dari kamar mandi.
"Hyosuk, bagaimana dengan harimu?"
"Oh, menyenangkan. Tadi kami merayakan ulang tahun adik Daesung."
"Yeah~~ kau benar-benar teman mereka~", Jimin.
Tiga hari kemudian setelah mereka sibuk belajar bersama, Jongseok menginap di rumah Minsuk pada malam Minggu.
Sejam setelah Jongseok di rumah Minsuk, Sungjae belum datang.
Jimin: Sungjae, apa kau masih di rumah?
Sungjae: Aku sedang di dapur mangambil makanan untuk kita. Apa kalian
sudah makan malam?
Jimin: Belum, masakan Minsuk belum matang. Kami menunggumu!
Sungjae: Aku akan segera kesana!
Saat Sungjae hendak keluar rumah, ibunya baru saja pulang dari bekerja.
"Sungjae, kau mau kemana? Umma membawa makan malam untuk kita."
"Oh umma sudah pulang? Aku.. Aa... Umma mau makan malam denganku?"
"Hemm.."
"Baiklah, aku akan pergi setelah makan malam."
Sungjae pun mengirim pesan kepada jimin..
[Sungjae: Aku makan malam di rumah bersama umma. Jadi kalian bisa makan malam tanpa aku.]
Sungjae menikmati makan malam bersama ibunya.
"Jadi kau mau kemana malam-malam begini? Kau belum pamit kepada umma."
"Umm.. malam ini aku dan teman-teman akan menginap di rumah Minsuk dan besok kami akan jalan-jalan bersama."
"Sekali-kali ajak teman-temanmu bermain kesini. Jimin, umma ingin bertemu dengannya. Sejak kau masuh sekolah tinggi, kau tidak pernah mengajak Jimin ke rumah lagi."
"Sudah beberapa kali, tapi aku tidak memberi tahu umma. Lagi pula umma tidak pernah ada di rumah untuk waktu yang lama setiap harinya."
"Sungjae... umma sudah mengajukan surat pengunduran diri. Umma akan pergi ke Japan dan tinggal bersama ayah dan kakakmu."
"Lalu umma akan bekerja apa disana?"
"Tidak. Umma tidak akan bekerja seperti ini lagi. Umma ingin menjadi ibu rumah tangga dan menikwati waktu bersama keluarga."
"Bagaimana dengan sekolahku?"
"Sungjae, kau kan pernah les Bahasa Japan, ayo kita tinggal bersama disana?!"
Minsuk, Hyosuk, Jongseok dan Jimin menikmati makan malam sambil menonton TV. Mereka bercanda dan bercerita usai makan. :D
Sungjae pun datang membawa makanan ringan dan minuman kaleng.
"Nah, silahkan dinikmati!", Sungjae. :)
"Sungjae, kau tidak apa-apa?", tanya Jimin.
"Kenpa? Aku tidak apa-apa."
Menikmati malam Minggu sambil bernyanyi dan bercanda bersama teman-teman~~ Sungguh menyenangkan~~ :)
Siang harinya mereka melanjutkan bersenang-senang di rumah Sungjae.
Bermain game dan karoke~~
"Sudah cukup, aku lelah. Sekarang giliran Hyosuk untuk bernyanyi!", Jimin.
"Aku???"
"Iya cepat sana!!", kata Minsuk mendorong Hyosuk ke depan. Hyosuk menyanyikan satu lagu.
Minsuk merangkul bahu Jongseok ketika Hyosuk bernyanyi. (Jongseok merasa senang mempunyai teman yang perhatian kepadanya.)
Mereka pun bernyanyi bersama dan menghabiskan waktu hinggga sore di rumah Sungjae.
"Sungjae, hari Minggu kenapa ibumu tidak di rumah?", tanya Jongseok.
"Oh, ibuku ada urusan di luar jadi dia pergi sejak pagi."
Ibu Sungjae kembali ke rumah saat Minsuk dan lainnya hendak pulang. Mereka pun menyapa ibu Sungjae dan berterima kasih atas makananannya.
Jimin tinggal karena ibu Sungja eingin berbicara dengannya.
"Jimin, ku dengar dari Sungjae sekarang kau tinggal di rumah Minsuk. Apa terjadi sesuatu dengan ayahmu?"
Jimin dan Sungjae bertukar pandang.
"Tidak, aku hanya kesepian di rumah jadi aku tingga di rumah Minsuk."
"Umma, sudah cukup!", Sungjae.
"Jimin, bibi berterima kasih karena kau telah menjadi teman baik Sungjae selama ini. Sungjae, ambikan minum untuk Jimin dan umma!"
"Ah ya."
Sementara Sungjae mengambilkan minum, umma berbicara kepada Jimin.
Jongseok berjalan di tengan Hyosuk dan Minsuk.
"Mereka berdua sangat dekat. Mungkin seperti kalian berdua. Umm.. Jimin berhenti belajar bersama Sungjae saat ibunya meninggalkan rumah dan kakak Sungjae pergi ke luar negri. Umm.. kalau kalian berdua kenapa berpiisah?"
"Umm. hanya salah paham", jawab Minsuk santai.
"Bisa menjadi teman mereka berdua itu sangat menyenangkan. Aku sudah mengenal mereka sejak hari pertama sekolah, tapi baru berteman dengan mereka setelah setahun sekolah. Tidak lama setelah aku menjadi teman mereka, aku sudah tahu banyak tentang mereka."
"Mereka berteman baik tapi orang tua mereka tidak saling akrap?", Hyosuk.
"Hemm.. "Dan.. aku suka telah menjadi teman kalian berdua juga."
"Yaa!! Sudah dua tahun kita di kelas yang sama, tentu saja aku temanmu!", ujar Hyosuk merangkul bahu Jongseok.
"Tapi.. sejak dulu kau suka berkelahi!", keluh Jongseok.
"Aish~~ apa kau mau aku hajar?"
"Aaa tidak~ Minsuk, kehadiranmulah yang menyatukan kita semua!", ungkap Jongseok tersenyum senang.
Minsuk dan Hyosuk tersenyum.
"Apa kau tersenyum? Ahh iya~~", Jongseok melihat Hyosuk tersenyum.
"Aish~~"
"Yaa!! Kau harus banyak tersenyum supaya Nami semakin menyukaimu!"
"Kau ini bicara apa..?"
"Ahha apa kau juga menyukai Nami?"
Jongseok berlari menggoda Hyosuk, Hyosuk pun mengejarnya.
"Hei!! Tunggu aku!!", Minsuk.
Dasung tidak sengaja melihat mereka bertiga berkejaran saat dia keluar dari toko membeli es krim bersama adiknya.
"Oppa, apa itu Hyosuk oppa? Apa mereka juga teman-teman oppa?"
"Oh.. iya, mereka teman sekelas oppa. Ayo kita pulang. Apa kau suka? Habiskan es krimnya." :)
"Hemm.. ini manis sekali." :)
Hyosuk dan Minsuk pergi ke toko dan Jimin pulang ke rumahnya.
Jimin berusaha menghubungi ayahnya.
SMS ayah seminggu yang lalu.
[Jimin, apa kau sudah makan? Ayah akan segera pulang.]
[Ayah sedang di rumah sakit. Kau tidak perlu khawatir, ayah akan segera pulang. Belajarlah dengan rajin!]
[Jimin kau sedang apa nak? Bagaimana sekolahmu hari ini?]
"Ayah.. kenapa ayah tidak pernah menjawab telphonku? Apa yang sebenarnya terjadi pada ayah? Kapan ayah akan pulang?"
Jimin kembali mencari ayahnya di beberapa rumah sakit. Dia berlari dan terus berlari mencari keberadaan ayahnya.
Hyosuk diterima bekerja di toko paman Lee dan dia bisa bekerja mulai besok. Hari ini Minsuk datang untuk mengenalkan Hyosuk kepada beberapa karyawan yang bekerja di toko. Dia juga berkenalan dengan teman SD Jongseok.
"Dia top student di sekolah, sama dengan Sungjae. Beberapa kali dia juga membantuku memecahkan soal pelajaran."
"Iya kah? Apa kita bisa belajar bersama?", Hyosuk.
"Hemm.. kita harus luangkan waktu untuk belajar bersama", kata Minkyu. :)
"Kita harus belajar untuk ujain nanti. Walau sekolah kita beda, pelajarannya kan sama saja. Bagaimana?", Minkyu.
"Ah iya, pasti sangat menyenangkan!", Minsuk.
"Oke, aku setuju!", Hyosuk. :D
Jongseok mendapat hukuman dari ibunya karena dia pergi dan menginap di rumah teman tanpa izin dari ibunya.
"Sudah hentikan!! Jongseok anak yang baik tidak mungkin dia meminum alkohol atau pun pergi ke clup malam", ayah Jongseok melindungi Jongseok dari kemarahan ibunya.
"Jongseok, masuklah ke kamarmu. Istirahatlah!", ayah. :)
"Jongseok!! Ibumu belum selesai bicara!!", ayah.
"Masuklah!", ayah.
Jongseok masuk ke kamarnya. Dia mendengar orang tuanya bertengkar karena Jongseok pergi tanpa pamit.
Malam sebelum tidur ayah Jongseok pamit akan pergi ke luar kota karena tugas kantor.
"Kalau ibumu memarahimu lagi, katakan saja kepada ayah. Ayah akan segera pulang."
"Ayah.. kenapa ibu selalu marah kepadaku? Apa karena ibu begitu, Jonghoon hyung jadi pergi dari rumah?"
Ayah mendekap Jongseok.
"Sabar ya nak? Ibu hanya terlalu mengkhawatirkan anak-anaknya."
Setelah ayah Jongseok pergi, ibu Jongseok pun ke kamar Jongseok dan menyita ponselnya. Ibu juga mengunci pintu kamar Jongseok.
Pagi hari.. ibu Jongseok pergi dengan adiknya. Ibu pergi tanpa membuka kunci pintu kamar Jongseok. Kamar Jongseok ada di atap lantai tiga.
"Umma.. buka pintunya?! Umma..!! Jongmi!! Umma!!", Jongseok memangil-manggil ibunya tapi tidak ada jawaban dari luar.
Jongseok terkunci di dalam kamarnya dan tidak bisa keluar karena jendela kamar di pagar besi.
Jongseok pun kembali tidur.
Jimin menghubungi Jongseok karena Jongseok belum tiba di sekolah.
"Bagaimana?", Sungjae.
"Dia tidak mengangkat telphonnya."
"Apa sudah telphon rumahnya?", Minsuk.
"Sudah, tapi tidak ada yang menjawab juga."
"Ayah Jimin juga tidak mengangkat telphonnya", Sungjae.
[Sungjae: Paman, saya Sungjae teman sekelas Jongseok. Apa Jongseok sakit?]
Ternyata Sungjae salah nomor. Itu bukan nomor ayah Jongseok.
[Paman? Aku seorang wanita dan aku belum menikah. Apa kau mengerjaiku?]
Hari berikutnya Jongseok tidak berangkat sekolah lagi. jimin dan lainnya mulai mengkhawatirkannya. Mereka pun berusaha menghubungi ibu Jongseok.
"Guru Hwang, kami ingin meminta nomor telphon ibu Jongseok. Sejak kemarin Jongseok tidak bisa dihubungi", Sungjae.
"Oh kemarin aku sudah menghubungi ibu Jongseok dan dia bilang Jongseok ada di rumah. Tunggu sebentar, aku ambilkan nomor telphonnya."
Sungjae pun berusaha menghubungi ibu Jongseok. Setelah hampir sejam menunggu, adik Jongseok yang menjawab telphonnya.
Sungjae: Hello..?
Jongmi: Hello..
Sungjae: Jongmi? Dimana ibumu?
Jongmi: Ibu sedang keluar dengan nenek.
Sungjae: Kau di rumah nenekmu? Apa Jongseok bersamamu?
Jongmi: Oppa? Tidak. Saat kemarin kita pergi, Jongseok oppa masih di kamarnya.
Ibu Jongseok masuk rumah.
Jongseok umma: Ini siapa?
Sungjae: Oh ajumma, ini Sungjae. Sejak kemarin Jongseok tidak berangkat sekolah, apa dia sakit?
Jongseok umma: Jongseok tidak sekolah? (Ibu Jongseok teringat kalau Jongseok masih di kamarnya saat dia pergi.) OMO, Jongseok masih di kamarnya."
Sungjae: What???
Ibu Jongseok pun memberi tahukan password rumahnya dan letak kunci kamar Jongseok.
Sungjae, Jimin dan Minsuk berlari ke rumah Jongseok.
"Jongseok, apa kau mendnegarku?!!", Sungjae berteriak memanggil Jongseok.
Jongseok sudah lesu dan lemas, dia bersandar di balik pintu.
"Aaahh!! Diaman kuncinya?!!", Jimin.
Mereka gelisah mencari kunci kamar Jongseok.
'Tok tok tok !!' Sungjae berusaha memanggil Jongseok.
"Jongseok!! Apa kau mendnegarku!! Jongseok kau tidak pa-apa?!!" Jongseok!!"
Minsuk dan Jimin berusaha membuka pintunya.
"Aaaahh!! Cepatlah!!", Minsuk.
Begitu pintu tebuka, Jongseok terjatuh karena duduk bersandar di balik pintu.
"Jongseok?!! Bangunlah!! Jongseok!!", Minsuk.
Sungjae berlari ke dapur mengambil air minum.
Jimin dan Minsuk mengangkat Jongseok ke tempat tidur.
"Jongseok!!"
Jongseok!!", Minsuk dan Jimin sangat cemas.
Jongseok membuka matanya.
"Kalian.. datang..", ucap Jongseok lemas.
"Ini minumlah!", Sungjae memberikan Jongseok air minum.
"Huh huh huh.."
"Aku..tidak.. apa-apa..sungguh..", Jongseok.
"Badanmu lemas sekali. Kau pasti lapar. Di dapur tidak ada makanan.", Sungjae.
"Tunggu sebentar, aku akan membelinya!", Minsuk keluar membeli makan.
Mata Jongseok masih berkunang-kunag dan dia pun menetestkan air mata.
"Jongseok? Kenapa?", Jimin.
"Apa perlu kita membawanya ke rumah sakit?", Sungjae.
"..Tidak.. aku baik-baik saja..", suara Jongseok gemetaran.
Jimin menunggu Hyosuk di depan rumah.
Ketika Minsuk kembali, dia bertemu seorang pria di pintu gerbang.
"Kau siapa?", tanya pria itu.
"Aku? teman Jongseok."
Jimn keluar. "Ahh Minsuk, cepat!! Oh.. Jonghoon hyung?"
"Jimin? Kenapa kalian disini?"
07.01
"Jongseok.."
"Kenapa dengan Jongseok?", Jonghoon khawatir dan langsung masuk
"Jonghoon, apa kau sakit? Dimana appa dan umma?"
"Aku tidak tahu.."
Jonghoon mendekap Jongseok.
"Maaf.. aku tidak pernah menanyakan kabarmu.."
"Hyung.. aku.. lapar.."
"Oh?"
Minsuk pun memberikan makan untuk Jongseok. Kakaknya yang menyuapinya.
Jonghoon menanyakan kejadian yang sebenarnya. Jimin pun menceritakannya.
"Apa ada dari kalian ada yang bisa menginap disini malam ini? Aku harus segera pergi lagi dan Jongseok akan sendiri di rumah."
"Aku! Aku bisa menemani Jongseok.", Sungjae.
"Sungjae? Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Aku akan bilang kepada umma kalau aku tidur di rumah Jongseok."
"Terima kasih."
Setelah kakak Jongseok pergi, Minsuk dan Jimin pun pamit pulang.
"Jongseok, ini ponselmu. Maaf, gara-gara kau tidur di rumahku kau jadi dihukum ibumu", Minsuk.
"Tidak. Tidak ada yang salah jadi tidak perlu minta maaf. Justru aku yang minta maaf karena membuat kalian cemas."
"Sungjae, kau harus menjaga Jongseok malam ini. Jangan tidur mendahului Jongseok", Jimin.
"Ah aku tidak yakin."
"Kami pergi dulu. Selamat malam!", Minsuk.
Minsuk pergi ke toko dan Jimin kembali mencari ayahnya.
"Minsuk, kau darimana?", paman Lee.
"Maaf paman, aku baru saja ke rumah temanku."
"Bagaimana dengan Jongseok?", tanya Hyosuk.
"Dia mengalami dehidrasi, tapi tidak apa-apa."
"Apa Jongseok, temanmu yang suka makan mie disini?", paman Lee.
"Oh, iya paman."
"Paman juga mengenal Jongseok?", Hyosuk.
Minkyu yang menjawab. "Dia sering makan mie disini sepulang sekolah. Kataya itu hobby dia."
"Dulu aku bekerja di gudang jadi aku tidak pernah melihat Jongseok sebelum aku aku pindah sekolah dan mengenalnya."
Jimin merasa lelah, dia istirahat sambil menunggu bus. Karena dia memejamkan matanya, dia pun tertinggal bus yang baru saja berhenti.
Daesung baru selesai makan malam bersama keluarganya. Dia melihat Jimin tertidur di tempat pemberhentian bus.
"Jimin! Jimin! Kau sedang apa disini?"
"Huh? Ahhh aku pasti tertinggal bus. Sebaknya aku jalan kaki saja, supaya tidak mengantuk."
*Daesung mengirim pesan kepada ummanya kalau dia akan pulang sendiri.*
Diam-diam Daesung mengikuti Jimin.
Di jalan yang sepi, Jimin bertemu dengan seseorang yang mencari ayahnya waktu itu.
"Ya! Dimana ayahmu?!! Katakan!!"
"Aku tidak tahu..", jawab Jimin lemas.
"Ponsel, dimana ponselmu?"
Orang itu merebut ponsel Jimin. Lalu membaca pesan dari ayahnya.
"Rumah sakit? Dimana? Dimana rumah sakitnya? Huh?!!!!"
Orang itu hampir saja menghajar Jimin, Daesung segera menolongnya. Ketika Daesung berkelahi, ada suara mobil polisi yang sedang patroli, orang itu pun memilih untuk pergi.
"Jimin, bangunlah! Kau tidak apa-apa?"
"Daesung? Kau menolongku? Haruskah aku mengucapkan terima kasih?"
Jimin berlari pulang (ke rumah Minsuk) dengan sisa tenaganya. Daesung mengikutinya sampai ke rumah Minsuk.
Jimin masuk lalu mengambil bonek Hello Kittynya di atas meja. Dia berbaring di tempat tidur Hyosuk.
"Yaa!! Kau tidak bisa tidur di sini!! Tidurlah di tempatmu!!", Hyosuk kesal.
Tangan Jimin gemetaran dan kepalanya berkeringat dingin. Hyosuk memperhatikannya sesaat. "Kenapa? Ada apa denganmu?"
"Oh My!! Badanmu panas.. Minsuk!! Minsuk!!"
Minsuk baru selesai mencuci piring.
"Kenapa?"
"Jimin sakit."
"Apa?!! Jimin... Ada apa denganmu?"
Hyosuk dan Minsuk menjadi gelisah.
"Kita bawa ke rumah sakit?", Hyosuk.
"Aku.. tidak apa-apa..", ucap Jimin lemas.
"Mm.. aku carikan obat dulu", Minsuk berlari keluar.
Di apotik, Minsuk bertemu Daesung.
"Daesung? Apa kau berkelahi lagi?"
"Tidak. Kau sedang apa disini?"
"Oh, Jimin sakit dan aku pergi dulu!" Minsuk terburu-buru.
(Daesung teringat saat Minsuk menemaninya di rumah sakit.)
Setelah Jimin meminum obatnya, dia pun tidur di tempat Hyosuk.
Hyosuk tidur di tempat tidur Jimin. Minsuk menunggu Jimin.
Tengah malam, Jimin terbangun karena ponsel yang dia kantongi bergetar.
Jimin: Hello..
Penelphon: Kami dari rumah sakit -- ingin memberi tahukan bahwa ayah anda..
Jimin menutu telphonnya lalu menyelimuti Minsuk yang tidur di dekatnya.
Jimin berusaha untuk tenang dan tabah.
Pagi di sekolah guru Hwang menanyakan dimana Jimin dan Minsuk.
"Dimana Jimin dan Minsuk? Apa ada yang tahu?"
Hyosuk yang menjawab. "Jimin sakit dan Minsuk menjaganya."
Sungjae terkejut mendengar Jimin jatuh sakit.
Usai pelajaran, Sungjae berlari ke rumah Minsuk.
Jimin sedang tidur berselimut dan Minsuk sedang belajar di depan TV.
*Sungjae tidak suka berlari, badannya akan sakit karena lelah.*
"Huh huh huh... Jimin?"
"Oh, Sungjae? Bukankah kau harusnya di sekolah?"
Mata Sungjaee berkuang-kunang setelah berlari.
"Jimin, bagaimana keadaan Jimin?"
"Masuklah. Ayo!", Minsuk membantu Sungjae berjalan.
"Jimin? Kenapa tidak bilang padaku kalau kau sakit?"
"Sungjae, dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dia hanya butuh istirahat saat ini."
"Apa terjadi sesuatu? Kemana Jimin sepulang dari rumah Jongseok?"
"Aku tidak tahu karena dia berlari setelah keluar dari rumah Jongseok dan saat dia pulang badannya berkeringat dingin. Dia belum bicara apa-apa."
Sungjae duduk membaca buku di samping Jimin tidur "Minumlah!", Minsuk membuatkan Sungjae minum, lalu Minsuk kembali belajar di meja depan TV.
Suasana menjadi begitu hening dan terasa sepi.
Saat Minsuk mengantuk, dia meletakkan kepalanya di meja. Ponseol Jimin yang ditaruh di meja, bergetar.
Minsuk: Hello ?
Penelphon: Kami dari rumah sakit..
Minsuk terkejut mendengar keterangan penephon.
"Kenapa Minsuk?", tanya Sungjae.
Minsuk terdiam tak bisa menjawab.
Tiba-tiba Jimin memanggi-manggil ayahnya..
"Ayah.. ayah.. Ayah..."
Sungjae berusaha menenangkan Jimin.
"Jimin.. Jimin.. bangunlah!! Jimin!! Jimin...?!!"
Minsuk panik karena sudah tahu yang sebenarnya terjadi pada ayah Jimin.
"Jimin.. Jimin bangun.. Jimin!! tenangkan dirimu..", Sungjae berusaha membangunkan Jimin.
Jimin tersadar dan.. "Ayah..?"
Minsuk memberikan minum kepada Jimin tapi Jimin menolak dan menyambar gelasnya.
Sungjae semakin khawatir.
"Jimin, apa yang terjadi?", Sungjae.
"Ayahku.. ayah..", Jimin tak bisa berkata..
"Ayahmu.. sudah bisa dbawa pulang", Minsuk.
"Maksudnya apa?", Sungjae tidak mengerti.
"Siapa yang menelphon tadi?"
Jimin pun menangis tersedu memanggil-manggil ayahnya.
"Ayah Jimin telah tiada", bisik Minsuk di telinga Sungjae.
Sungjae menjadi lemas lalu mendekap Jimin.
Sungjae meneteskan air matanya dan menangis bersama Jimin.
Minsuk tak sanggup melihatnya, dia pun berlari keluar.
Minsuk tak sanggup menahan air matanya teringat orang tuanya. (Hari ini hari saat orang tua Minsuk akan kembali dari Australia 9th yang lalu.)
// Saat itu usia Minsuk 8 tahun, orang tuanya meninggalkannya bekerja ke luar negri. Minsuk pun dititipkan kepada ibu Hyosuk karena Minsuk tidak ingin pindah sekolah dan berpisah dengan Hyosuk. 6 bulan kemudian, orang tua Minsuk kembali tapi kecelakaan yang terjadi membuat Minsuk tak pernah bisa bertemu orang tuanya lagi. \\
*Semalam saat Jimin jatuh sakit, Minsuk menuggunya. Minsuk mendapat notif di ponselnya bahwa hari ini adalah hari orang tuanya pulang dari Australia. Minsuk membuka tanggalan yang dia simpan di kotak kenangan orang tuanya. Berisi foto dan beberapa benda hadiah dari orang tuanya. Setiap tanggal itu, Minsuk selalu menunggu di depan pintu, berharap orang tuanya datang.*
Jongseok, Hyosuk dan guru Hwang tiba di rumah Minsuk.
Hyosuk mendekati Minsuk.
"Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi?"
"...Ayah.. Ibu.. tidak ada.." 아버지.. 어머니.. 없어
"Apa? Apa maksudmu?" 뭐?
"Tidak ada disini.." 여기 없어
"Apa kau ingn menyalahkanku seperti aku menyalahkanmu? Huh?"
Guru Hwang menenangkan Hyosuk.
"Hyosuk, tenanglah! Minsuk, apa yang terjadi?" 무슨 일이야?
"Ayah Jimin.."
Mereka pun masuk dan melihat Jimin sedang menangis didekap Sungjae.
07.02
Jimin diantar guru Hwang dan ibu Sungjae bersama teman-temannya pergi ke makam ayah Jimin. Jimin berusaha menahan tangisnya.. sakit.. sangat sakit. Sungjae dan Jongseeok menopangnya.Minsuk pergi ke makan orang tuanya ditemani Jongseok.
"Minsuk, kau baik-baik saja?", Jongseok khawatir melihat Minsuk yang tampak lemas.
Minsuk tersenyum. "Kau lihat kan, aku masih bisa tersenyum? Aku baik-baik saja tapi aku akan menangis jika aku melihat Jimin menangi disana." :)
Jongseok tak sanggup membalas senyum Minsuk.
Hyosuk telah menunggu di tempat parkir sendiri.
Guru Hwang pun menyusul Hyosuk. Diapergi dahulu.
"Hyosuk,apa yang sedang kau pikirkan?"
"Oh guru."
"Apa benar orang tuamu meninggal bersama dengan orang tua Minsuk?"
"Hemm.."
"Kau tidak menjenguk orang tuamu?"
"Guru.. sebenarnya.. saat itu, hanya ada jasad ayahku di rumah sakit dan jasad ibuku tidak pernah ditemukan.."
*Minsuk telah berada di belakang Hyosuk.
"Apa?!! Katakan sekali lagi!!!", Minsuk tiba-tiba merasa kesal pada Minsuk.
"Oh Mnsuk? Aa.."
"Katakan sekali lagi!! Apa kau mau bilang kalau ibumu kemungkinan masih hidup?!! Huh?!!"
"Minsuk tenanglah! Biarkan Hyosuk menjelaskannya dulu..", guru Hwang.
"Minsuk.. walau jasad ibuku tidak ditemukan, aku dan Yeonsuk hyung tidak pernah mencarinya.. Kami hanya menunggunya dan menunggu.."
Minsuk pun berlari menjauh. Jongseok mengikutinya.
"Minsuk?!! Minsuk!!"
Jimin, Sungjae dan ibu Sungjae kembali.
"Oh dimana Minsuk dan Jongseok?", tanya Sungjae.
"Mereka sudah pulang dulu. Jimin, ayo ku antar kau pulang?", guru Hwang.
"Guru, aku juga mau ikut guru. Umma harus kembali ke kantor."
"Oh begitu.. Ayo!" :)
Minsuk dan Jongseok pulang naik bus.
Minsuk tertawa kecil. "Ya! Kenapa kau tertawa?", tanya Jongseok.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang ku rasakan. Tanggal pada hari ini selalu menjadi hari sunyi bagiku selama beberapa tahu yang lalu. Tapi hari ini aku tidak ingin banyak menangis.. Seandainya ibu Hyosuk masih hidup dan Hyosuk bertemu dengannya, aku akan bahagia. "
"Tadi kau tdak benar-benar marah?"
"Tentu saja tidak! Ayah selalu berpesan padaku untuk tidak marah kepada siapa pun. Dan ayah juga mengajariku untuk berlari. Bukan berlari menghindari masalah tapi menghilangkan rasa lelah dalam menghadapi masalah."
"Ayahmu pasti sangat bangga padamu."
07.04
Jongseok memasangkan satu sisi headset di telinga Minsuk.
"Mendengarkan musik akan membuatmu lebih tenang."
Di tengah perjalanan Minsuk mulai merasa mengantuk. Jongseok pun menyandarkan kepala Minsuk di bahunya.
"Minsuk tertawa kecil. "Haha.. Kita seperti couple." (-_-)
Hyosuk tidak berani untuk pulang ke rumah Minsuk. Dia hanya duduk melamun di playground. Hyosuk membayangkan Minsuk akan marah kepadanya~~~
Jimin tiduran di tempat tidurnya sambil mengusap-usap bonek Hello Kitty-nya.
"Adik.. apa aku benar-benar sendiri? Aku baik-baik saja.. iya.. aku akan baik-baik saja. Kau mendengarku kan adik?"
Minsuk sedang menyiapkan makan malam.
"Huh sudah selesai. Jimin, ayo makan!"
"Huh?"
"Ayo makan?"
"Oh iya.."
Jimin pun makan malam dengan Minsuk.
"Kau terlihat baik-baik saja. Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja!"
"Hemm.." :) (Jimin nampak tenang dan bisa tersenyum.)
"Oh ya, diamana Hyosuk? Kenapa dia belum pulang?
"Aaah, aku akan sms dia."
[Minsuk: Ya Hyosuk,cepat pulang sebelum ramen-nya habis!!]
"Sudah. Dia pasti akan segera pulang."
"Aku.. akan menual rumah ayahku untuk membeyar hutang ayahku dan aku akan segera mencari rumah kontrakan untukku."
"Yaa!! Apa kau tidak suka tinggal disini?"
"Buka begitu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu."
"Umm.. Apa kau tidak menghubungi ibumu?"
Jimin terdiam tak menjawab.
"Ahh baiklah, aku tidak akan bertanya. Teruskan makannya!" :)
Hyosuk mengetuk pintu.
"Minsuk, maafkan aku! Maaf..", ungkap Hyosuk mdengan memejamkan matanya.
". . . " "Kau ini kenapa? Massuklah!!"
Hyosuk bengong melihat Minsuk tidak marah sama sekali padanya.
Di meja makan. (Meja depan TV)
Hyosuk fokus melihat Jimin.
"Kau tidak ingin makan?", tanya Jimin. 먹고 싶지 않아?
"Oh.." 오..
"Yaa kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Um. apa kau baik-baik saja?" 음.. 괜찮아?
"Bagaimana denganmu?" 너는 어때?
"Kalian ini sedang apa? Cepat makanlah!", Minsuk. 빨리 먹어!
Beberapa hari kemudian..
Jimin membersihkan rumahnya dan dia berencana akan menjual rumah tempat dia dibesarkan sejak bayi.
Ibu Jimin sudah beberapa kali menghubungi Jimin tapi Jimin membiarkannya dan tidak peduli kepada ibunya.
Jongseok sedang belajar bersama adiknya sore itu.
"Oppa, ajari aku soal yang ini..", Jongmi.
"Yang mana? Ini? Begini..."
Ibu Jongseok sedang ada tamu, teman SMPnya dulu.
"Ini anakku yang kedua dan ketga."
"Dimana anak yang ooertama?"
"Oh, Jonghoon tinggal di asrama sekolahnya."
"Anak-anak, perkenalkan diri kalian kepada teman ibu."
"Hello bibi, namaku Jongmi. Senang bertemu bibi."
"Aku Jongseok anak kedua."
"Nama bibi, Song Jihui."
"Senang bertemu bibi Jihui."
Setelah teman ibu Jongseok kembali ke ruang tamu, Jongseok mangangan-angannya. "Sepertinya tidak asing..", pikir Jongseok.
Di sekolah, Jimin datang lebih dulu. Dia belajar sendiri di kelas sebelum teman-temannya datang.
Sungjae datang bersamaan dengan Eunyong.
"Yaa Sungjae, datanglah ke warung makan ayahku. Aku akan mentraktirmu lagi!"
"Benarkah? Terima kasih."
"Jimin, kau tidak berangkat bersama Minsuk dan Hyosuk?", Sungjae.
"Mereka sedang makan roti di kantin."
"Belakangan ini, kau rajin sekali belajar sendiri. Kenapa tidak datang ke perpustakaan untuk belajar bersama?"
"Aku mash sibuk dengan rumahku jadi aku harus segera pulang. Nanti kita bicara sepulang sekolah."
"Oh, baiklah."
Terdengar suara ramai-ramain dari luar kelas. Banyak siswa yang hendak keluar dari gdung sekolah.
"Eh, ada apa di luar? Kenapa ramai sekali?", Jimin.
"Coba aku cek!", Sungjae keluar untuk bertanya.
"Hei, ada apa ramai-ramai?", tanya Sungjae kepada salah seorang siswa
"Ada acctor datang ke sekolah kita. Katanya dia akan syuting adegan di sekolah dan sekolah kita akan menjadi lokasi syutingnya."
"Siapa actornya?"
"Aku tidak tahu."
Sungjae kembail ke kelas. Jimin sedang melihat luar jendela.
"Apa ada syuting di sekolah kita? Siapa artisnya?", Jimin.
"Iya ada syuting di sekolah kita tapi tadi aku tanya tidak ada yang tahu siapa pemainnya."
Salah seorang aktor yang akan syuting di sekolah sedang berada di atap untuk melihat-lihat sekolah dari atas.
Taehyung, Daesung dan Dongho ke atap untuk bolos pelajaran karena mereka sedang bosan di kelas.
Melihat kedatangan Daesung dkk, aktor itu pun berniat pergi.
"Tunggu sebentar!", Dasung menahan aktor itu.
Aktor itu sudah berusaha menutupi wajahnya dengan topi tapi Taehyung melepas topinya.
"Apa kau artis yang akan syuiting di sekolah ini?", tanya Tahyung.
Daesung memperhatikan aktor itu.
"Hemm.. Kembalikan topiku."
"Apa kau Jang Gyosong?", tanya Daesung.
"Oh.. iya.. Umm.. Daesung?"
"Ahh sudah lama kita tidak jumpa. Apa kabar?"
"Baik. Kau bagaimana?"
Dongho dan Taehyung bertukar pandang melihat Daesung akrap dengan aktornya.
"Ya, kenalkan, ini teman kecilku dulu di Incheon. Kalian pasti tidak percaya kalau temanku seorang star!"
Gyosong memperhatikan Taehyung, seperti dia pernah melihat wajah Taehyung sebelumnya.
"Kalian tidak masuk kelas?"
"Hehe kami sedang malas belajar jadi kami meninggakan pelajaran", terang Dongho.
"Kau sendiri sedang apa disini?", Daesung.
"Aku sedang menunggu paman yang akan menjadi ayahku di adegan hari ini."
"Berapa lama kau akan syuting disini?", Dongho.
"Oh hanya dua hari."
"Apa kau bersedia foto dengan kami?", Dongho.
"Tentu saja. Ayo?"
"Taehyung kemarilah!", ajak Daesung.
Mereka berempat pun berfoto bersama.
Selang beberapa menit, manager Gyosong datang bersama seorang guru.
"Yaa kalian bertiga kenapa disini? kembali ke kelas!!"
"Baik guru."
Manager Gyosong memperhatikan Taehyung sekilass.
"Gyoseong, apa mereka menganggumu?", tanya guru.
"Oh tidak. Daesung teman saya."
Daesung, Tahyung dan Dongho berdiri di belakang karena terlambat masuk ke kelas.
Aktor yang akan syuiting di sekolah sedang lewat di luar kelas Daesung. Semua teman-teman melihatnya.
"Apa dia aktornya?"
"Woah itu Im Jaehyun. Dia aktor fight yang keren!!"
"Aku mengidolakannya~~"
"Woah.. aku tidak percaya dia ada di sekolah kita.."
"Aku ingin berfoto dengannya.."
Taehyung terkejut melihatnya walau hanya sekilas.
"Anak-anak kembali ke pelajaran!!", guru Shi.
07.08
Ketika istirahat, anak-anak menonton syuiting Gyoseong dan aktor laganya di lapangan.
Daesung dan teman-temannya sedang makan siang di kantin.
"Daesung, kau tidak menonton temanmu syuting?", Dongho.
"Yaa!! Aku lapar."
"Ah kau ini. Oh Hyosuk?"
Hyosuk duduk semeja dengan mereka.
"Kenapa?"
"Kau tahu actor yang syuting di sekolah kita?"
"Umm.. Im Jaehyun? Jang Gyosong? Kenapa?"
"Gyosong, dia teman Daesung."
Taehyung hanya diam saja mendengar pembicaraan Dongho.
"Oh benarkah? Kalau begitu, kau bisa meminta fotonya dengan mudah."
Dongho menunjukkan fotonya di ponsel.
"Ini, kami sudah foto dengannya. Ah aku ingin foto dengan Im Jaehyun. Dia keren sekali dalam film."
Daesung menyambung, "Aku juga ingin. Aku suka menonton filmnya. Aku fansnya." :)
Hyosuk memperhatikan Taehyung yang hanya diam saja menikmati makannya.
"Taehyung, kenapa kau diam saja?"
"Huh? Aku suka sekali sausage ini. Aku sudah selesai. Aku mau cuci tangan dulu lalu ke kelas."
Taehyung pergi ke atap untuk menonton syuting yang masih berlangsung.
"Im Taehyung.. Im Jaehyun.. Umma. kau pasti akan memukulku jika aku menemui aktor itu.."
Sepulang sekolah, Dongho dan Daesung menemui Gyosong yang sedang istirahat. Mereka meminta Gyosong mengentar mereka minta tanda tangan Im Jaehyun. "Oh baiklah. Ayo!"
Mereka pun mendatangi Im Jaehyun di lokasi syuting.
"Paman, ini teman-temanku. Mereka mau meminta tanda tangan paman."
"Oh, mana kertasnya?" :)
"Ini.. Terima kasih..", Dongho.
"Siapa namamu?"
"Kim Daesung."
"Oke. Selanjutnya siapa namamu?"
"Lee Dongho. Umm.. kami juga meminta untuk dua teman kami."
"Siapa nama mereka?"
"Kim Hyosuk dan Im Taehyung."
"Im Taehyung?" Im Jaehyun memikirkan sesuatu begitu mendengar nama Tahyung.
"Ye? Im Taehyung"
"Sudah. Apa mau foto?"
"Pastinya paman. Cepat sana, aku yang akan memotret. Sini ponsel kalian!", Gosong.
Tahyung sedang duduk di dekat pintu gerbang sekolah menunggu Dongho dan Daesung. Dia sedang merengggangkan otot-ototnya.
"Hyosuk? Sedang apa kau disini?"
"Kau sendiri sedang apa disini?"
"Aku menunggu.. Dae-Ho."
"Haha kau ini."
Minsuk lewat ersama Jimin dan Sungjae.
"Hyosuk, ayo?!", ajak Minsuk.
"Tunggu sebentar! Kurang satu, Jongseok dimana?", tanya Taehyung.
"Dia dijemput ibunya", Sungjae.
Daesung dan Dongho datang.
Dongho memberikan tanda tangan Im Jaehyun kepada Taehyung dan Hyosuk.
"Ini untuk kalian! Aku berhasil meminta tanda tangan Im Jaehyun. Keren kan?"
"Yaa! Bagaimana kau bisa meminta tanda tangan ini?", Sungjae.
"Aku juga ingin tanda tangannya!", Jimin.
Taehyung memberikan kertasnya kepada Sungjae dan Hyosuk memberikan kertasnya kepada Jimin. Minsuk memperhatikan.
"Ah tidak!! Aku meminta ini untuk kalian. Kenapa kalian memberikannya kepada mereka?", Dongho.
"Kami tidak menerimanya!", Jimin.
"Terima kasih Hyosuk, tapi ini namamu bukan namaku. Jadi aku tidak bisa menerimanya."
Aktor Im Jaehyun lewat dengan mobilnya. Mereka memperhatikan mobl Im Jaehyun.
"Moblnya bagus sekali. Aku ingin naik mobil sport seperti itu", Dongho.
(Dari dalam mobil, Im Jaehyun memperhatikan Taehyung.)
"Aish~ kau ini bicara apa?", Daesung merangkul bahu Dongho. "Ayo pulang!"
"Aa leherku sakit!"
Taehyung pun berjalan di belakang mereka bersama Hyosuk.
Minsuk berjalan sendiri di belakang mereka karena Sungjae dan Jimin pulang naik bus bersama.
"Sepertinya kau sedang meikirkan sesuatu. Sejak pagi kau hanya diam saja", Hyosuk.
"Aku memikirkan ujian. Aku harus banyak belajar untuk mengerjakan soal-soalnya nanti."
"Kau harus mengurangi tidur di kelas. Maksudku, jangan tidur saat pelajaran."
"Yaa kau juga suka tidur!"
Minsuk berjalan sambil menikmati musiknya dengan headset kecilnya. Dia melihat Hyosuk bercanda dengan Taehyung. (Teringat saat Hyosuk marah kepada Taehyung karena membela Minsuk.) :)
Sungjae membantu Jimin membersihkan rumahnya dan memasang iklan penjualan rumahnya.
"Apa kau yakin akan menjual rumah ini?"
"Tentu saja. Aku akn mencari kontrakan yang kecil dan cukup untuk aku tinggali sendiri."
"Jimin.. Aku akan.."
"Jangan mengatakan apa pun. Kau sudah janji kalau kau, ah bukan! kita akan lulus bersama dan pergi ke universitas yang sama."
(Jimin mengerti maksud Sungjae yang hendak membicarakan keinginannya pergi ke Japan.)
Hyosuk dan Minsuk sedang bekerja di toko.
"Minsuk, apa Sungjae ikut ke rumah Jimin?"
"Oh, iya. Umm.. aku mengkhawatirkan Jimin. Seperinya dia masih lemas."
"Tadi aku mendengar Sungjae mual di kamar mandi. Sepertinya dia muntah. Apa dia juga sakit?"
"Benarkan? Tapi dia tidak terlihat sakit. Apa dia alergi makannya ya? Tapi dia biasa saja tadi di sekolah.."
Seorang pembeli akan membayar belanjaannya.
"Oh silahkan nyonya.Apa ada yang lain? Oh, baik. Totalnya..", Minsuk ramah kepada pelanggan.
"Terima kasih. Hati-hati menyetirnya!", Hyosuk.
Sungjae dan Jimin sedang berada di kamar ayah Jimin.
"Ayah bahkan tidak meninggalkan surat wasiat untukku.."
"Kau hanya belum menemukannya? Jangan menyerah!", Sungjae mnyemangati.
"Oh iya, sudah waktunya makan malam, kau bisa pulang dulu. Maaf aku tidak bisa membelikan makan malam setelah kau membantuku."
"Kalau begitu, ayo ke rumahku?! Kita makan malam bersama, bagaimana?"
"Sudah, kau pulang saja. Aku harus mencari surat dari ayahku dulu." :D
"Baiklah, aku akan bilang kepada Minsuk kalau kau belum makan. Aku pulang dulu!" :)
"Yaa~ Kau tidak perlu biang kepadanya karea aku akan makan makanan yang ada di dapurnya!"
Sungjae pun pulang.
Sungjae mengirim pesan kepada Jimin saat di perjalanan pulang.
[Sungjae: Aku senang bisa melihat kau tersenyum. Jangan pulang terlalu malam. Makanlah lalu belajar dan tidur! :p ]
"Aish~ Anak ini. Pulang? Ini kan rumahku.
[Jimin: Sungae! Kau juga makan lalu tidur! Tidak usah belajar agar aku bisa mengalahkanmu menjadi No.1 :p :p ]
Sungjae tersenyum membaca balasan dari Jimin. :)
Sungjae merasa sakit kepala dan matanya berkunang-kunang. Ketika dia masuk rumah lalu menutup pintu, Sungjae terjatuh pingsan.
Jimin mengunci pintu rumahnya setelah dia keluar. "Ayah.. kenapa aku harus meninggalkan rumah ini? Aku tidak akan sendiri kan ayah? Ayah mendengarku kan? Ayah.. aku sangat merindukanmu."
Beberaa langkah meninggalkan rumahnya, Jimin dihadang oleh dua orang penagih hutang.
Taehyung sedang berbicara dengan ibunya di meja makan.
"Jangan berangkat sekolah sampai orang itu pergi dari sekolahmu!"
"Umma! Dia ayahku dan aku tetap akan ke sekolah!"
"Kalau kau berani melawanku, aku akan.."
Tahyung pun melempar gelas yang sedang dia pegang lalu pergi meninggalkan rumah tanpa mempedulikan ibunya yang sedang marah.
Taehyung menghubungi Daesung dan Dongho.
Dongho: Maaf, aku sudah makan. Kakakku mabuk lagi..
Daesung sedang bersiap makan bersama keluarganya.
Daesung: Ada apa Taehyung?
Taehyung: Aku ada di luar. Bisakah kau menemaniku makan di luar?'
Daesung: Oh oke! Tunggu sebentar!
"Ada ada Daesung?", tanya ayah.
"Oh, temanku sedang ada di luar dan dia ingin makan malam denganku."
"Siapa?", umma.
"Taehyung."
Ibu Daesung melihat ayah.
"Perilah. Dia sudah menunggumu!", ayah.
"Jangan pulang terlalu malam!", umma.
"Hemm.. Aku pergi dulu.."
Ibu Sungjae terkejut begitu masuk rumah, dia mendapati Sungjae yang terkapar di lantai.
"Oh My.. Sungjae.. bangun nak.. ada apa denganmu?.. Sungjae.."
Sungjae pun dibawa ke rumah sakit.
Taehyung dan Daessung baru saja selesai makan dan mereka hendak pulang.
"Yaa aku baru saja dimarahi ibuku. Aku tidak yakin bisa pulang."
"Umm.. kalau begitu kita minum kopi di taman. Bagaimana?"
USai membeli kopi dan berjalan ke taman, Daesung dan Tahyung dikejutkan dengan seseorang yang..
"Jimin?", Dasung.
"Iya, dia Jimin."
"Jimin, bangunlah!"
Jimin perlahan membuka kedua matanya.
"Ayo kia bawa dia ke rumah sakit?", Daesung.
"Aku tidak membawa uang!", Taehyung.
"Aku juga tidak punya uang. Kita bawa ke apotik. Kita obati dulu lukanya."
Daseung dan Taehyung pun membawa Jimin ke apotik terdekat.
Jimin mulai tenang setelah mereka mengobati lukanya.
"Ini minumlah!", Taehyung.
"Terima kasih.."
"Apa orang-orang itu mencari ayahmu lagi?"
"Hemm.."
"Apa perlu kami membantumu mencari ayahmu?"
Jimin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?", tanya Daesung.
"Ayahku sudah tidak ada.."
"Apa??? Tapi.. kenapa tidak ada memberitahuan di kelas?"
"Aku meminta guru Hwang untuk tidak memberi tahukan siapa pun di sekolah."
"Maaf.. aku..", Taehyung.
"Aku mau pulang dulu. Terima kasih."
"Tunggu dulu. Kami akan mengantarmu! Ke rumah Minsuk kan?", Daesung.
Daesung dan Taehyung menuntun Jimin pulang ke rumah Minsuk.
Minsuk dan Hyosuk sedang menunggu Jimin di depan rumah.
"Kemana anak itu kenapa tidak mengangkat telphonku?"
"Coba telphon Sungjae", Hyosuk.
"Sungjae tadi sma aku, dia sudah pulang."
Hyosuk pun merebut ponsel Minsuk lalu menelphn Sungjae.
Ibu Sungjae: Minsuk?"
"Sepertinya ini Sumgjae umma. Cepat tanyakan!"
Minsuk: Hello.. Sungjae umma?
Ibu Sungjae: Iya, ada apa?
Minsuk: Kami hanya ingin menanyakan apakah Sungjae bersama Jimin?
Ibu Sungjae: Tidak.
Hyosuk pun merebut kembali ponselnya.
Hyosuk: Ajumma, tadi di sekolah Sungjae terlihat pucat. Apa dia sedang sakit?
Ibu Sungjae: Oh.. Sungjae..
Hyosuk dan Minsuk pun bergegas ke rumah sakit.
"Tunggu sebentar, aku ambil jaket dulu", Minsuk.
Jimin sudah tiba di tangga rumah Minsuk.
"Sudah, aku bisa naik sendiri."
"Yaa jalanmu saja tidak meyakinkan! Kami akan mengantarmu sampai di depan rumah", Daesung.
Di depan rumah, Daesung mengetuk pintu.
"Sepertinya tidak ada orang."
Daesung pun menelphon Minsuk.
"Hei, bagaimana kau bisa punya nomor Minsuk?", tanya Taehyung."Aku punya kontak teman sekelas!"
"Aigoo.. apa suara ponsel di dalam milik Minsuk?"
"Hemm.." Jimin. "Coba telphon Hyosuk?"
Ketika Minsuk dan Hyosuk datang, Sungjae belum sadarkan diri.
"Bibi, apa yang terjadi?", tanya Hyosuk.
"Tadi siang saat di sekolah, Sungjae sudah bilang kalau dia tidak enak badan. Aku sudah menghubungi guru Hwang tapi Sungjae tidak mau diantar pulang."
Mereka menunggu Sungjae bangun. Hyosuk keluar mengangkat telphon dari Dasung.
Ibu Sungjae membaca pesan tadi sore dari Jongseok di ponsel Sungjae.
(Saat Jongseok pulang bersama ibunya.)[Jongseok: Sungjae! Apa kau sakit? Wajahmu pucat. Jangan pulang terlalu malam dari rumah Jimin. Jangan lupa minum obat.]
(Dan pesan dari Jimin serta pesan Minsuk saat Sungjae di rumah Jimin.)
[Sungjae: Aku senang bisa melihat kau tersenyum. Jangan pulang terlalu malam. Makanlah lalu belajar dan tidur! :p ]
"Aish~ Anak ini. Pulang? Ini kan rumahku.
[Jimin: Sungae! Kau juga makan lalu tidur! Tidak usah belajar agar aku bisa mengalahkanmu menjadi No.1 :p :p ]
[Minsuk: Sungjae apa kau masih di rumah Jimin? Jangan pulang terlalu malam. Sepertinya hari ini kau sangat lelah.]
[Sungjae: Aku sudah keluar dari rumah Jimin. Oh iya, Jimin belum makan jadi nanti kau harus membuatkannya makan malam. Dia tidak mau makan di rumahku.]
Bahkan ada pesan dari Edison'
[Edison: Sungjae apa kau sudah makan malam? Jangan lupa minum obat lalu istirahat. Selamat malam. :) ]
"Minsuk, apa kau yang bernama Minsuk?"
"Iya."
".. Aku senang Sungjae punya teman-teman yang saling perhatian satu sama lain. Selain teman sekelas ada juga dari kelas lain yang engirim pesan kepada Sungjae menanyakan tentang soal pelajaran sekolah.
*Sesibuk apa pun Sungjae saat sedang belajar sendiri atau pun sedang bersantai dengan teman-temannya, dia selalu berusaha membalas pesan teman-teman yang bertanya soal pelajaran*Sungjae telah sadarkan diri.
"Umma.. umma... "
"Sungjae, kau sudah bangun? Maaf, umma terlambat pulang."
"Umma, apa ini di rumah sakit?"
"Hemm.."
Jimin datang bersama Daesung dan Taehyung.
"Sungjae!"
Sungjae dan Jimin saling menatap dan mengkhawatirkan satu sama lain.
"Yaa kenapa kau bisa disni?", Jimin.
"Yaa ada apa dengan wajahmu? Ap kau berkelahi?"
"Aish~ Harusnya kau bilang kalau kau sedang sakit.."
"Siapa bilang aku sakit? Aku baik-baik saja. Harunya kau yang berbaring disini!"
Ibu dan Minsuk heran melihat mereka berdua.
Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Sungjae. Malam itu juga Sungjae bisa pulang.
Sungjae berterima kasih kepada Daesung dan Taehyung karena sudah menolang Jimin. (Taehyung yang tahu sejak awal.)
"Ya sudah, aku akan mengatar kalian pulang. Sungjae, kau sungguh baik-baik saja kan?"
"Iya umma." :)
Minsuk membuatkan makan malam untuk Jimin.
"Tadi aku menelphonmu berulang kali tapi kau tidak mengangkatnya."
"Ponselku tertinggal di rumah."
Hyosuk yang sedang menonton TV bersandar meja, menghadap ke belakang.
"Oh iya, tumben sekali Tahyung keluar malam. Dia itu hampir seperti Jongseok. Ibunya sangat ketat mengawasinya."
"Tapi ku piir ibu Taehyung lebih galak", Jimin.
"Kalian ini berhentilah membicarakan ibu orang lain. Aku tidur dulu!", Minsuk beranjak dari tempat duduknya.
Keesokan harinya di sekolah..
Sungjae datang terlamat saat pelajaran pertama tengah berlangsung."Sungjae? Kenapa kau terlambat?", tanya guru Shi.
"Maaf guru, aku terlambat bangun."
"Berdiri di belakang."
"Baik guru."
"Guru!", Jimin."Semalam Sungjae sakit jadi dia pasti terlambat bangun." (over sleep)
"Ah, aku baik-baik saja kok guru." Sungjae pun tetap berdiri di belakang.
Minsuk menatap Sungjae.
"Sunguh kau baik-baik saja?", Minsuk.
"Kenapa? Apa ketampananku berkurang?"
"Aish~ jinjja~"
*Sungjae menikmati pelajaran walau dengan berdiri.*
Ibu Sungjae sedang berada di kantor untuk mengurus kepindahan Sungjae. Saat ibu Sungjae pulang, Jimin melihatnya dari jendela setelah guru Shi meninggalkan kelas.
Sungae kembali ke tempat duduknya.
"Sungjae, apa ibumu kesini?", Jimin.
"Oh, hemm." :)
"Apa kau benar-benar..?" (Jimin sudah mengetahui soal kepindahan Sungjae)
"Aku tidak tahu."
Jam istirahat, anak-anak kembali mengerumuni aktor Gyosong dan Im Jaehyun untuk meminta tanda tangan. Taehyung berusaha mendekati Im Jaehyun tapi dia tidak sanggup menyelip di kerumunan teman-temannya. Dia pun menunggu di tangga lapangan. Ketika aktor Im Jaehyun lewat bersam staffnya..
"Aboeji..", Tahyung.
Im Jaehyun terkekut lallu menoleh ke belakang. "Taehyung?"
Teman-teman dikejutan oleh Tahyung yang memanggil Im Jaehyun "ayah". "Ayah?" "Woah, apa benar dia naknya?" "Apa benar dia anak aktor Im Jaehyun?" "Ahh tidak bisa dipercaya.."
Tahyung pun bericara dengan ayahnya yang seorang aktor laga terkenal itu.
".. Apa aku boleh tinggal bersama ayah?"
"Apa?" Ayah Taehyung terdiam sesaat.
"Aku tahu ayah akan menolakku. Aku tidak tahu alasan ibu melarangku untuk menemui ayah tapi aku selalu berusaha mencari ayah.. Tapi sudah lama ayah tinggal di luar negri jadi aku tidak pernah bisa bertemu ayah.."
Ayah Taehyung merangkul bahunya.
"Tentu saja boleh. Ayah tiak tahu apa kesalahan ayah sampai ibumu sangat membenciku. Aku ingin sekali hidup bersama keluargaku seperti saat kau masih kecil dulu tapi entahlah apa yang sebenarnya terjadi.."
"Aku tahu.. Aku tahu ibu mecintai pria lain. Dan aku tahu ayah pernah menyukai wanita lain.. Aku tetap sayang ayah apa pun yang terjadi.."
Mereka pun berpelukan penuh kasih sayang.
Di kelas banyak yang memuji karena ternyata ayah Taehyung seorang aktor terkenal.
"Aku masih tidak percaya kalau kau anak seorang super star.."
"Ayahmu.. aku fans ayahmu..", Daesung.
"Aha! Berikan tanda tanganmu di samping tanda tangan ayahmu.. Disini.", Dongho.
"Yaaa aku bukan siapa-siapa!"
"Kau sahabat kami!", Hyosuk.
"Apa kau juga mau tanda tanganku? huh?" :p
"Taehyung, aku juga fans ayahmu. Aku ingin tanda tangan ayahmu!", Sungjae.
"Aku juga!", Jimin. "Ah Hyosuk sering menonton drama yang dibintangi ayahmu!"
"Ya kenapa kau bicara seperti itu?", Hyosuk mengelak.
"Dia menempelkan tanda tangan ayahmu di lemarinya", Jimin.
"Yaa diam kau!!" -Hyosuk malu-
Akhir pekan, Sungjae dan teman-temannya kembali belajar bersama di perpustakaan setelah selesai sekolah.
Sungjae menikmati kebersamaannya bersama teman-temannya. Eunyong tahu kalau Sungjae akan pergi dan dia berusaha bersikap manis di hadapan Sungjae.
Edison bertanya kepada Sungjae, "Apa kau benar-benar akan pindah?"
"Huh? Siapa yang bilang? Tidak. Tdak ada alasan untukku pindah."
"Syukurlah kalau itu tidak benar. Aku ingin bisa ada di buku kelulusan bersamamu." :)
"Iya." :)
Minsuk dan Hyosuk sedang belajar bersama di meja depan toko dengan Minkyu. Paman Lee senang melihat kebersamaan mereka.
"Yang ini bagaimana?", Hyosuk.
Minkyu dan Minsuk berdebat atas jawabannya.
"Bukan begitu! Ini saja yang lebih mudah!", Minsuk.
"Tapi ini lebih mudah!", Minkyu."
"Aish~ kalian mulai lagi~~", Hyosuk.
Malam Minggu, Sungjae tidur di rumah Minsuk lagi. Begitu juga dengan Jongseok.
Mereka menghabiskan malam dengan barbaque dan bersenang-senang di belakang rumah Minsuk.
Usai bersenag-senang mereka berlima pun tidur berjajar.
Tengah malam, Sungjae masih terjaga karena tidak bia tidur. Saat semua telah terelap, Sungjae bangun dan menulis sesuatu di buku tulis milik Jimin.
Pagi yang cerah~~ Sungjae dijemput oleh ibunya.
"Bibi, selamat ulang tahun..", Jimin.
"Oh terima kasih.
"Selamat ulang tahun bibi, Sunjae umma..", ucap yang lainnya bersama.
"Terima kasih anak-anak. Maaf Sungjae aku bawa dulu. Nanti malam, kami akan kesini lagi dan bibi akan membawa kue untuk kalian."
"Akau mau kencan dengan ibuku, jadi kalian jangan ganggu aku!", Sungjae. :)
"Iya-iya.. Selamat bersenang-senang~~!"
Sungjae pun pergi dengan ibunya.
Selain merayakan ulang tahun ibunya, Sungjae juga membeli oleh-oleh untuk ayah dan kakaknya di Japan. Sungjae tidak lupa membeli hadiah untuk teman-temannya.
"Umma, kaosnya bagus yang ini atau ini?", Sungjae memlilih kaos.
"Umma, jam tangannya untuk Jongseok. Apa ini keren?", Sungjae memilih jam tangan. "Yang ini lebh keren nak!"
"Umma.. Aku ingin membelikan sepatu untuk Jimin. Bagus yang mana? Yang ini atau yang itu?", Sungjae.
"Coba lihat dulu yang disana..", umma.
"Yang ini?..."
"Umma, aku ingin membeli sesuatu yang couple untuk Minsuk dan Hyosuk. Kira-kira apa?"
"Umm.. kita lihat-lihat dulu saja."
"Aku juga ingin membeli tiga benda untuk aku, Jimin dan Jongseok."
Usai berbelanja, mereka pun lanjut jalan-jalan sampai hari mulai gelap. Hari yang sangat menyenangkan bagi Sungjae dan ibunya yang jarang menghabiskan waktu bersama.
Malam, Sungjae dan ibunya datang ke rumah Minsuk.
Pesta ulang tahun ibu Sungjae pun berlangsung sederhana tapi penuh keceriaan. Sungjae juga memberikan hadiahnya untuk teman-temannya.
Jongseok pulnag diantar oleh ibu Sungjae.
"Bibi, maaf aku mengajak Jongseok sejak kemarin. Kami belajar bersama dan jalan-jalan."
"Oh tidak apa-apa. Silahkan masuk?"
"Tidak bibi. Terima kasih. Kami langsung pulang saja. Sampai jumpa Jongseok!"
Pagi di sekolah, Sungjae tidak berangkat. Pelajaran pertama, guru Hwang.
/ Guru, aku tidak sanggup berpamitan dengan teman-teman. Aku tidak ingin sedih dan aku ingin pergi tanpa memberi tahu mereka. Ku mohon guru jangan memberi tahu kepada mereka sampai aku tiba di Japan", Sungjae berbicara dengan guru Hwang.
"Sungjae, apa terjadi sesuatu antara kau dengan teman-temanmu?"
"Tidak. Kami baik-baik saja. Ini hari terakhirku di sekolah dan maaf guru, aku tidak bisa menunggu sampai kenaikan kelas."
"Kalau begitu, katakan kepada guru apa yang ingin kau sampaikan keada teman sekelasmu? Biar guru yang menyampaikanya kepada mereka."
"Umm.. aku tidak tahu bagaimana cara mengucapkan perpisahan.."
"Ketiklah di ponselmu dan kirimkan kepada guru." \
Guru Hwang membaca pesan dari Sungjae sebelum dia masuk ke kelas.
[Sungjae: Guru, aku sedang berangkat ke bandara. Sampaikan salamku kepada teman-teman kalau guru sudah selesai pelajaran. Guru Fighting!! I love you.]
Guru Hwang masuk dan anak-anak memberi salam kepadanya. Guru Hwang memperhatikan tempat duduk Sungjae yang kosong. "Baiklah, kita mulai pelajarannya. Buka buku kalian!"
Di tengah pelajaran Jimin menanyakan Sungjae kepada guru Hwang.
"Guru, apa guru tahu kenapa Sungjae tidak berangkat?"
"Oh..iya. Apa kalian tidak tahu dimana Sungjae?"
"Dimana?", Jongseok.
Di belakang Hyosuk bertanya kepada Minsuk. "Apa Sungjae benar-benar ke Japan?"
"Huh? Aku tidak tahu."
Ketika guru Hwang membacakan pesan Sungjae dari ponselnya, Jimin mendekati Minsuk lalu meninggalkan kelas.
"Hei kalian berdua mau kemana?"
Jimin dan Minsuk tak mendengarkan guru Hwang. Mereka keluar dari sekolah.
"Minsuk, pinjami aku uang?"
"Huh? Oh ini.. Kau mau kemana?"
"Kau hubungi Sungjae! Aku akan menyusulnya ke bandara. Aku harus bicara dengannya!"
Jimin mencari taksi lalu pergi ke bandara.
Sungjae sedang menunggu jadwal terbangnya. Minsuk beberapa kali menenphonnya tapi Sungjae tidak ingin mendengar suaranya.
"Minsuk? Kenapa kau tidak mengangkatnya?"
"Umma, aku tidak ingin menangis."
"Maaf jka kau berat meninggalkan teman-temanmu. Kau kan masih bisa menghubungi mereka via online."
"Tidak apa-apa umma.."
Sungjae melihat sekelilingnya begitu pesawat yang akan membawanya ke Japan..
"Sungja.. kenapa kau tidak angkat telphonku?", Minsuk di sekolah.
Jimin masih di jalan.
Sungjae pun telah berada di dalam pesawat. Dia mengirim foto jendela pesawat (dengan tangannya yang menyentuh kaca jendela) kepada Jimin, Sungjae dan Jongseok.
[Teman-teman, maaf jika aku pergi seperti ini. Aku merasa bodoh karna lebih memilih keluargaku daripada kalian teman-teman baikku. Kalian harus menggantikanku menjadi No.1 di kelas. Selamat belajar.. Fighting!!]
Jimin menghentika supir taksinya.
"Paman, berhenti! Temanku sudah pergi.. putar balik paman."
Kepergian Sungjae ke Japan lebih sakit dirasakan Jimin bila dibandingkan saat ayahnya meninggal. Jimin menangis..
Minsuk dan Jongseok di kelas, usai guru Hwang meninggalkan kelas. Jongseok menangis dan Minsuk meneteskan air matanya.. (Minsu duduk di tempat Sungjae.) "Jadi Sungjae benar-benar pergi ke Japan?", tanya Eunyong.
Minsuk menunjukkan pesan dari Sungjae di ponselnya.
Eunyong pun berlari keluar dan menangis di toilet.
07.09
Seminggu setelah Sungjae di Japan..
Jimin, Jongseok, Minsuk dan Hyosuk sering menghabiskan waktu bersama untuk belajar sebelum menghadapi ujian. Mereka bersungguh-sungguh belajar karena Sungjae tak henti-hentnya menyemangati mereka. Sungjae ingin mereka mendapat nilai-nilai yang bagus di ujian akhir nanti. Di sekolah, Minsuk juga mengajak Edison untuk belajar bersama mereka..
Setelah ujian akhir berakhir.. Niai ujian telah keluar..
"Yeeeeeeeeeeeeeess~~~ Nilai kita bagus semua!!", Jimin.
Mereka pun bersorak senang dan saling berpelukan..
Sungjae menanyakan hasil ujian saat mereka berpesta merayakan nilai ujian mereka yang baik.
Sungjae: Bagaimana nilai kaian? Siapa yang menjadi no.1 ?
Hyosuk: Saudaraku!
Sungjae: Minsuk? Selamat ya Minsuk!! :)
Minsuk: Sungjae! Aku tahu aku tidak bisa lebih top darimu.
Kau memang tidak bisa dikalahkan.
Sungjae: Kau harus lebih banyak catatan!! :p
Jongseok: Sungjae! Kami sedang menikmati ayam goreng dan apa perlu kami kirim ke Japan untukmu? haha
Sungjae: Hahaha aku akan menunggu ayam goreng untukku.
Jimin: Sungjae! Bagaimana dengan sekolahmu disana?
Sungjae: Aku punya teman yang bisa bahasa Korea jadi aku belajar banyak dengannya.
Jimin: Ahh kau memang tidak bisa diragukan.
Sungjae: Lalu kau mendapat peringkat berapa?
Jimin: Aku? Aku ada dibawah Jongseok.
Jongseok: Aku dibawah Minsuk.
Sungjae: Woah~~ kalain benar-benar belajar dengan baik. Bagaimana dengan Hyosuk dan Edison?
Jongseok: Pasti nanti kau akan menanyakan semua siswa sekelas.
Minsuk: Hyosuk..
07.10
Hyosuk menatap Minsuk. "Kenapa? Katakan saja!"
Minsuk: Hyosuk No.7
Sungjaee: Edison?
Jimin: Dia No.9 Tapi nilainya bagus..
---skip--- Taehyung tinggal bersama ayahnya. Dongho hidup tenang setelah kakak perempuannya memiliki suami.
Minsuk melihat ponsel Jimin berdering.
"Jimin, kenapa tidak kau angkat telphonmu?"
"Biarkan saja."
"Apa dia orang yang kau kenal?"
"Hemm.."
"Apa kau tdak suka padanya?", tanya Minsuk yang sibuk dengan bukunya.
"Kau banyak tanya seperti Sungjae."
Ketika Jimin sedang di kamar mandi, Minsuk pun mengangkat telphon Jimin.
Minsuk: Hello..
Jongseok: Minsuk? Dimana Jimin?
Minsuk: Apa kau ganti nomor?
Jongseok: Apa Jimin sedang keluar?
Minsuk: Oh Jimin sedang ada di kamar mandi.
Jongseok: Aku akan ke rumahmu..
/ Jimin teringat saat mengangkat telphon dari ibunya.
Umma: Jimin, kau dimana nak?
Jimin: Kenapa baru sekarang umma menanyakan dimana keberadaanku?
Umma: Maafkan umma, nak. Umma akan jeaskan semuanya. Beritahu umma dimana kau tinggal..
Jimin: Tidak akan!
Umma: Jimin.. Jimin..!! \
Ketika Jimin kembali, dia melihat minsuk sedang menaruh ponselnya d meja.
"Sedang apa kau?", Jimin mengambil ponselnya.
Dia mengecek ponselnya.
"Kenapa kau angkat telphonku tanpa seizinku?", Jimin kesal.
"Itu.. Jongseok. Apa kau sedang marah dengan Jongseok?"
"Jongseok??"
"Hemm"
Jimin terdiam lau kembali duduk membaca bukunya.
Beberapa menit kemudian Jongseok datang bersama seorang ibu yang mencari Jimin(teman ibu Jongseok).
Jongseok berniat membari kejutan untuk Jimin.
"Hei semuanya.." :)
Jimin tak sedikitmu melihat ke arah Jongseok yang baru saja datang.
Hyosuk baru pulang dari acara pernikahan kakak Dongho.
"Aku pulang! Ada ada ini?" Hyosuk.
"Jimin, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.. Bibi, silahkan masuk!"
Ibu Jimin masuk dan.. Jimin tidak suka akan kehadirannya.
"Tada~~ Ibumu teman baik ibuku ternyata." :)
"Kenapa?", tanya Jongseok melihat ekspresi wajah Jimin.
Jimin pun mendorong tubuh Jongseok.
"Siapa bilang aku ingin bertemu dia? Huh?", Jimin marah kepada Jongseok.
Jimin mengabaikan ibunya lalu berlari keluar. Ibu dan Minsuk pun mengejarnya.
*Hyosuk sedang mengambil minum.*
Jongseok merasa bersalah dan sedih. Dia terdiam kaku..
Hyosuk mendekatinya lalu menepuk pundak kirinya.
"Jimin hanya sedang kesal dengan ibunya.." (Maksud: Jimin bukan marah kepada Jongseok.)
"Harusnya kau bertanya dulu sebelum bertindak, Jongseok", ucap Jongseok.
"Jimin, umma mohon ayo bicara dulu! Hem?"
"Aku tidak mau!", tolak Jimin melepas tangan ibunya.
"Jimin, jangan begitu kepada ibumu!", Minsuk.
Jongseok keluar dan melihat Jimin sedang bertengkar dengan ibunya. Minsuk ada di tengah mereka.
Jimin memilih untuk pergi karena ibunya tidak mau pergi.
"Ajumma, nanti biar aku bicara dengan Jimin. Sebaiknya sekarang ajumma pulang dulu."
"Hemm.. Tolong bujuklah Jimin untuk menemuiku."
Ibu Jimin pun pergi. Ketika Minsuk hendak naik tangga, dia melihat Jongseok berjalan di persimpangan. Minsuk mengejarnya.
"Jongseok!! Hati-hati di jalan!!", teriak Minsuk kepada Jongseok di sebrang jalan.
Setelah kejadian itu, Jimin tidak suka bertemu Jongseok. Dia selalu menghindar setiap Jongseok menyapanya. Di sekolah, Minsuk jadi mengkhawatirkan mereka berdua. Jongseok dan Jimin makan siang sendiri-sendri di meja yang terpisah jauh. Minsuk bingung memilih duduk dengan siapa. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan Hyosuk yang sedang bersama Daesung cs.
"Ada apa dengan mereka berdua?", tanya Dongho.
"Mereka sedang konflik", terang Hyosuk.
"Rasanya aneh melihat mereka tidak bersatu", Daesung.
"Apa persahabatan mereka begitu erat?"
"Tentu saja! Sebelum kau menjadi teman mereka, Jimin dan Sungjae sudah sangat terkenal di sekolah ini sejak hari pertama sekolah dulu", Dongho.
"Itu Jongseok bukan Sungjae!", Taehyung.
"Ah Jongseok menjadi orang ketika di antara mereka berdua di kelas 2. Mereka bertiga sangat dekat dan lebih dekat dibanding kita berempat!"
"Apa sejak kelas satu kalian sekelas?", Minsuk.
"Tiak. Aku sekelas dengan Daesung dan Taehyung sekelas dengan Hyosuk. Tapi kami sudah bersatu sejak awal sekolah."
"Yaa!! Kenapa kau bicara sebanyak itu?!!", Hyosuk.
"Hehe.."
"Kalau kau dan Hyosuk?", tanya Taeehyung.
"Oh, sudah sejak bayi. Kami lahir selang satu bulan, jadi kami tumbuh besar bersama", Minsuk.
"Sudah diam", Hyosuk menyuapi sausage Minsuk.
Ketika Minsuk beranjak dari tempat duduknya dan hendak mengembalikan alat makannya, kakinya dijegal oleh Taehyung. Minsuk pun terjatuh.
"Aiya!!"
Hyosuk dan teman-temanya pergi meninggalkan Minsuk. Daesung mengedipkan matanya kepada Minsuk. (Sebagai tanda itu untuk mencari perhatian Jimin dan Jongseok.
Jimin dan Jongseok secara bersamaan berlari membantu Minsuk. Jimin lebih dulu membantu Minsuk. Jongseok pun hanya terdiam melihat Minsuk pergi dengan Jimin.
Hyosuk mendekat lalu merangkul bahu Jongseok. "Ayo!!" 가자! :)
Pulang sekolah, Jongseok makan mie instant di toko Minsuk.
Hyosuk memberikan minuman kotak kepada Jongseok.
"Kau baik-baik saja?"
"Oh.. hemm.."
Minsuk duduk di depan Jongseok.
"Nanti aku akan bicara dengan Jimin dan kau tidak usah khawatir."
"Aku tidak menyangka kalau dia akan semarah itu kepadaku.."
"Kau jangan menyalahkan dirimu seperti itu!" :)
Setelah Minsuk berbicara dengan Jimn, Jimin pun mau menemui ibunya.
"Maaf umma,. aku tidak bisa tinggal bersama umma. Aku akan tunjukkan kepada ayah kalau aku bisa mandiri. Aku akan tetap tinggal bersama teman-temanku sampai aku menemukan jati diriku.."
Ibu Jimin mengerti dengan keinginann anaknya, dia pun merelakan Jimin tidak ikut dengannya.
Jimn mendekap ibunya sebelum ibunya kembali ke kota tempatnya tinggal.
"Jaga dirimu baik-baik. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi umma ya?"
"Hemm.." :)
Jimin melihat taksi yang membawa ibunya pergihingga hilang dari pandangannya.
/ Teringat pesan Sungjae sebelum pergi.. "Teman-teman, maaf jika aku pergi seperti ini. Aku merasa bodoh karna lebih memilih keluargaku daripada kalian teman-teman baikku..."
Ucapan Minsuk yang meluluhkan hati Jimin, "Aku tidak pernah menyangka jika ibuku pergi sebelum melihatku sukses. Kau.. temuilah ibumu! Jangan membuatnya merasa sedih atau kau akan menyesal nanti."
"Jika aku menemui ibuku, apa kau akan mengusirku?"
"Apa maksudmu? Aaah~~ kau masih ingin tinggal disini?"
Jimin hanya diam.
"Yaa! Kenapa kau diam saja? Kalau kau memang ingin tinggal disini, ya silahkan! Terserah kau! Kita sudah janji akan menggapai cita-cita bersama kan? Lagi pula kau juga sudah bekerja." (Mengantar ayam goreng.) \
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Jimin pun pergi ke rumah Jongseok.
Jimin membawakan sekantong plastik jeruk untuk Jongseok.
"Jimin?"
"Ini untukmu! Aku tidak marah, aku hanya sedikit kesal. Maafkan aku..". :)
Jongseok mengulungkan tangannya. Mereka pun salaman.
"Aku pulang dulu. Sampai jumpa besok! Selamat malam!"
"Hemm.. terima kasih. Hati-hati di jalan!"
Jimin pulang dan memberikan jeruk kepada Minsuk juga.
"Terima kasih!" Minsuk. 고마워
Hari demi hari mereka lalu bersama-sama dan mereka banyak menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Entah di erpustakaan atau pun di rumah.
Setahun kemudian..
Sebelum tidur, Jimin membaca catatan dari Sungjae sebelum dia pergi di bukunya.
"Aku ingin bertemu Sungjae.. Ternyata sudah setahun lebih aku tidak bertemu dengannya.."
Minsuk sedang menghitung uang tabungan dari tabungan kalengnya.
"Apa kau ingin ke Japan?"
Jimin melihat Minsuk dengan uangnya.
"Huh? Tidak.. Kalau dia merindukanku, dia pasti akan kesini.."
"Harusnya dia ikut pesta kelulusan kita besok.."
"Yaa kalau Sungjae datang di kelulusan kita, dia pasti akan sedih?", cela Hyosuk.
Pagi di sekolah.. Para siswa sedang bersiap-siap untuk acara kelulusan..
Acara berlangsung begitu menyenangkan..
Usai acara kelulusan, Jimin dkk pergi ke warung makan milik ayah Eunyong untuk merayakan kelulusan mereka. Daesung dkk juga ikut dengan mereka.
Malam.. Minsuk pulang dari toko sendiri. Jimin sedang chatting dengan Sungjae di tempat tidurnya.
"Kau sudah pulang?"
"Hyosuk belum sampai di rumah?"
"Belum. Bukankah tadi dia bersamamu?"
"Dia pulang lebih dulu. Harusnya dia sudah sampai.."
Minsuk mendapat sms dari Edison.
[Edison: Minsuk, aku melihat Edison berjalan sendiri di jembatan. Dia mau kemana malam-malam begini?]
[Minsuk: Kau sendiri sedang apa di jembatan?]
[Edison: Aku hanya lewat tadi. Aku baru pulang dari rumah kakakku.]
"Ada apa?", tanya Jimin.
"Hyosuk di jembatan?"
jimin melihat ke arah lemari pakaian Hyosuk.
"Oh? Lemarinya?"
Minsuk pun memeriksa lemari hyosuk yang tidak tertutup rapat.
Minsuk membaca surat kecil yang ditulis Hyosuk, "Yeonsuk hyung, seminggu yang lalu aku bertemu polisi yang menangani kasus kecelakaan itu. Polisi itu bilang umma amnesia saat ditemukan. Tapi umma meninggal karena kecelakaan setelah umma melarikan diri dari rumah sakit. Hari ini kelulusanku dan aku sendiri tanpa orang tua atau pun kau. Aku.. ", surat yang ditulis Hyosuk terpotong.
Minsuk berlari keluar untuk mencari Hyosuk. Ketika Jimin menyusulnya, Jongseok baru saja datang. Mereka bertiga pun bersama-sama mencari Hyosuk.
"Hyosuk!! Hyosuk kau dimana!!"
Minsuk, Jimin dan Jongseok berteriak memanggil-manggil Hyosuk.
"Apa kau melihat orang ini?", tanya Jimin kepada beberapa seorang yang ada di sekitar jembatan (sambil menunjukkan foto Hyosuk di ponselnya).
"Minsuk! Itu!!", Jongseok menunjuk seseorang yang sedang duduk dipagar jembatan.
Minsuk pun berlari untuk menarik Hyosuk turun dari pagar.
Hyosuk jatuh tersungur setelah Minsuk menariknya.
"Apa kau sudah gila? Huh? Apa kau ingin mati?" 미쳤어?
"Kenapa?", jawab Hyosuk dengan wajah polosnya. Dia duduk di pinggir jalan.
Jimin dan Jongseok membantu Minsuk berdiri.
Hyosuk melipat kakinya lalu menyandarkan kepalanya di kedua lututnya. Hyosuk pun menangis..
Seorang pria berjaket rapat sedang duduk di tangga depan rumah minsuk.
"Kenapa mereka masih di luar jam segini?" (pukul 11:49)
Jimin mendapat sms dari Sungjae.
[Sungjae: Apa kalian sudah tidur?]
Jimin tak menyadari jika Sunjae mengirim sms dari luar negri.
[Jimin: Kami sedang di jembatan. Terjadi drama mengharukan disini.]
Minsuk berusaha membujuk Hyosuk untuk tetap tingal di rumahnya.
Mereka pun bicara di taman dekat sungai.
"Berhentilah membuatku berlari mengejarmu..", Minsuk.
Jongseok ikut bicara, "Bukankah kita sudah berjanji akan mengerjar impian bersama-sama walau cita-cita kita berbeda? Huh?"
Jimin berdiri bersandar pohon. Dia hanya menjadi pendengar.
"Melihat Minsuk berlari karena mengkhawatirkanmu, rasanya seperti saat Sungjae berlari karena merindukan Jimin setiap saat. Kadang aku merasa sedih saat aku melihat kalian berpasangan. Saat pertama kali Minsuk menjadi teman baru kami, aku senang bisa punya teman ke 4 dari kami.. tapi ternyata Hyosuk adalah sahabat Minsuk. Dari kalian berempat.. hanya aku yang tinggal bersama keluarga utuh, tapi.. "
(Tanpa mereka sadari Sungjae sudah berdri di balik pohon Jimin bersandar.)
"Tapi aku tidak pernah punya kebebasan bermain-main seperti kalian. Meski aku terus menghabiskan waktu untuk belajar bersama adikku.. aku tidak pernah bisa mengalahkan Sungjae menjadi No.1 di kelas. Aku iri kepada kalian semua yang bisa belajar sambil bermain kesana-kemari.. Aku..", Jongseok meneteskan air mata yang tak terbendung lagi.
Jimin pun mendekat dan merangkul bahunya.
"Aku iri kepada kalian bertiga yang bisa bersenang-senang tanpa pengawasan orang tua. Aku sangat takut ketika kau(Jimin) marah kepadaku karena aku memberi tahukan ibumu dimana kau berada.. Aku selalu merasa senang ketika aku membeli sesuatu di toko dan bertemu Minsuk dan Hyosuk. Walau hanya sapaan kecil, aku senang kalian selalu menyapaku.. Sungjae, dia selalu bahagia bersama keluarganya walau dulu dia sering sendiri di rumah.. Aku juga merindukan Sungjae yang selalu banyak bertanya.. "
(Air mata Sungjae terus mengalir..)
Jongseok menangis tersedu.. Hyosuk hanya bisa terdiam. Semua mata telah meneteskan air mata.
Sungjae pun melangkah pelan mendekat dan mendekap Jongseok dari belakang.
"Sudah jangan bicara lagi!", Sungjae.
"Sungjae???", Minsuk, Jimin dan Hyosuk terkejut melihat Sungjae yang tiba-tiba datang.
Sungjae berdiri. "Yaa!! Kenapa kalian bermain drama tanpaku? Harusnya aku yang menulis script-nya!!"
Kelucuan Sungjae melebur perasaan sedih yang tercipta..
Mereka pun saling berpelukan ~~~
Taehyung bersama ayahnya sedang jalan-jalan dengan mobil sport ayahnya. Dia mengajak Dongho dan Daesung bersamanya. Hyosuk telah diajak tapi dia memilih bersama Mnsuk dkk.
Di pantai..
"Janji!!?" 약속!
"Kita akan berlari bersama menggapai imipan~~ Fighting!!!!!"
Minsuk, Hyosuk, Jongseok, jimin dan Sungjae berlomba lari di tepi pantai.. Menikmati hembusan angin sepoi-sepoi dan menyapu lembutnya pasir pantai dengan pijakan kaki mereka.
"Berlari bersama teman itu lebih menyenangkan bukan?", Hyosuk.
"Jangan berlari menghindari masalah tapi berlarilah menghadapi semua.. ", Minsuk.
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar